
Usai dari Markas, Alex mengendarai mobilnya menemui Edward kembali. Dia ingin mencari pertimbangan untuk menyelesaikan masalahnya. Ia tidak bisa berpikir harus mencari kemana dulu putranya saat ini.
Didalam rumah mewah bercat putih itu, Edward saat ini sedang bersama Lukas. Mereka akan membicarakan sesuatu yang sangat serius, hingga mengharuskan mereka berdua di dalam ruang bawah tanah yang merupakan gudang senjata.
"Ada masalah apa. Kenapa kita kemari." ujar Edward yang sudah duduk di salah satu sofa.
Lukas menghidupkan macbook lalu mengangsurkan benda itu kepada Edward. Pria itu langsung melihat apa yang sedang ditunjukkan oleh Lukas.
"Apa yang sebenarnya kamu ingin tunjukkan padaku."
Edward hanya melihat nomor registrasi helikopter, asal pembuatan, serta data pemilik helikopter. Pria itu masih menebak nebak.
"Anda ingat nama yang tertera disini. Anda mengingat pemilik nama ini? Beliau adalah pemilik Helikopter yang membawa dua putra anda."
Diam sejenak. Dibacanya sekali lagi data itu.
'Ericxander'
Edward terbelalak.
"Bukankah!"
Lukas mengangguk membenarkan.
"Dia ayah Alex."
Edward seketika mengurut pelipisnya. Kepalanya mendadak pusing. Pikirannya cuma dua, semoga pria itu tidak terlibat dalam aksi madam Yora dan helikopter itu memang sengaja disewakan pada wanita itu, tapi bagaimana jika memang benar adanya.
"Tunggu apa Alex sudah tau tentang hal ini."
Lukas menggeleng. Mana berani dia mengungkapnya.
"Saya diam-diam menyelidikinya. Beliau memang tidak ada dirumah semenjak dua hari yang lalu. Kata pembantunya, Tuan Erick tidak pulang setelah mengantar Nyonya Elda ke Bandara."
"Bisa jadi dia ikut istrinya." timpal Edward yang masih berpikir positif.
Lukas menggeleng.
"Saya sudah menelfon Nyonya Elda. Dan itu dibenarkan olehnya. Suaminya memang sedang tidak bersamanya." kata Lukas.
"Sudah kamu lacak dari ponselnya?"
"Sudah. Ponselnya berada di rumahnya sendiri. Mungkin lupa membawa atau memang sengaja ditinggalkan."
"Bagaimana dengan heli itu. Aku tak menyangka jika ayah Alex juga mempunyai benda terbang itu." kata Edward mengutarakan keganjilannya.
__ADS_1
"Saya juga baru tahu. Alex juga tidak pernah cerita atau memang ia tidak tahu dan tidak diberi tahu."
"Tapi jika dia dalang penculikan ini, apa motifnya coba. Bukankah hubungan kami baik-baik saja. Tidak ada masalah bukan?"
Lukas menggeleng tidak tahu. Memangnya hati manusia siapa yang tahu.
"Anda sudah tahu berita heboh hari ini Tuan? Zanitha sekarang sedang mendekam di penjara."
Edward mengangguk. Ia sudah diberitahu sekilas oleh Alex sebelum pria itu pergi meninggalkan rumah.
"Dan putranya juga dilaporkan hilang. Tuan Haidar membenarkan hal itu, tapi berita yang ini memang belum mencuat keluar, entah sengaja disembunyikan atau apa saya juga tidak tahu. Yang jelas polisi terus bergerak mencarinya."
"Bagaimana bisa!" seru Edward kaget.
Lukas menaikkan kedua bahunya.
"Saya juga belum tahu kronologinya. Yang jelas dua pria yang digambarkan Zanitha itu sedang menjadi buronan mereka. Lebih tragisnya, di dalam situs dewasa telah beredar video syur milik Zanitha yang telah diunduh dan dibagikan ratusan kali oleh akun robot."
"Kamu sudah melihatnya!?" Edward melotot tak percaya.
Lukas menggeleng.
"Hanya sekilas. Saya takut digampar Alex." ungkapnya jujur.
Edward menarik nafasnya dalam dalam. Musibah yang datang beruntun membuatnya kesal setengah hidup. Galau, masalah mana yang harus ia prioritaskan lebih dulu. Putranya penting, ayahnya penting, apalagi Alex. Hah, rasanya ingin memakan orang saja.
Lukas menganggukkan kepalanya.
"Aku harus bertemu dengan Alex. Panggil dia kemari sebentar."
Lukas mengangguk dan segera menekan panggilan ke nomor Alex. Mudah mudahan pria itu tidak sedang sibuk pikirnya.
Brian dan Selly masuk ke dalam ruang pusat komando. Mereka mengusir petugas yang sedang bekerja disana agar fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya. Dua manusia berbeda generasi itu langsung duduk dan mengenakan headphone dikepalanya.
Monitor yang tadinya berisi rekaman cctv rumah langsung beralih fungsi menjadi tampilan ruas jalan yang akan dilalui Aurora dan anggota DQ yang akan melakukan misi penyelamatan.
Brian yang berhasil membobol jaringan satelit mengacungkan jempolnya pada Selly. Selly mengangguk tanda sudah siap melakukan tugasnya.
Selly segera melakukan pemetaan. Wanita itu mencoba menganalisa tempat yang digunakan menyekap ALEL. Terlihat seperti berpikir keras mencari tempat aman untuk mendaratkan helikopter tanpa keberadaannya diketahui pihak madam Yora.
Sebuah rumah mewah mirip semacam Village pribadi yang letaknya berada sebuah pulau yang luasnya mungkin hanya setengah hektare berdiri kokoh dikelilingi lautan. Tidak mungkin kedatangan helikopter yang ditumpangi Aurora tidak diketahui musuh pikirnya.
Selly masih mengamati lokasi itu.
"Kita daratkan di pesisir pantai saja. Lagi pula mereka menyamar sebagai wisatawan bukan." ujar Brian ikut menganalisa.
__ADS_1
"Hem. Sedikit beresiko, tapi tidak ada pilihan." tukas Selly.
"Mommy tau yang harus dilakukan. Kita hanya disuruh memberitahu jika ada bahaya yang tiba-tiba mengancam. Mommy ahli membuat strategi."
Selly diam saja. Sepintar apapun itu, Aurora tetaplah seorang wanita yang tenaganya tidak sebanding dengan seorang pria.
Ditempat Al dan El.
Dua anak itu terlihat sedang duduk diam memandangi hamparan laut dari kaca kamarnya. Mereka berdua dilanda kebosanan tingkat tinggi di tempat yang begitu tenang itu.
"Apa kamu menyukai lautan." tanya Al pada adiknya.
"Harusnya begitu. Bahkan aku bermimpi ingin bermain disana bersama mom and dad, tapi disini menyebalkan. Aku tidak suka laut!"
Al terkekeh.
"Ayo kita kabur Kak."
Al melotot pada adiknya.
"Jangan! Nanti mom bingung mencari kita. Lagi pula bagaimana cara kita kabur dari sini. Kita tunggu saja mereka menjemput kita. Ini lama karena mom and dad waktu itu sedang di luar negeri. Mungkin sebentar lagi datang." ujar Al walau hatinya tak yakin.
El mendengus. Kakaknya saja tidak yakin, bagaimana dengan dirinya.
Madam Yora saat ini bersama seorang pria yang notabene adalah ayah dari Alex sedang duduk bersama dengan posisi madam Yora yang bergelayut manja, sedikit membusungkan dada, dan mencoba memancing keadaan yang tak seharusnya.
Pria itu terlihat memejamkan mata dibuatnya. Menggeram dan melenguh tak berkesudahan. Pesona madam Yora memang tidak bisa dilewatkan begitu saja.
"Ayo." ajak madam Yora tapi pria itu menggeleng.
"Ini hanya ungkapan terima kasih ku padamu. Setelah ini aku harus segera pergi."
"Tak perlu menjeratku Yora. Aku tahu siapa kamu. Kenapa tiba-tiba menghubungiku. Apa yang kau inginkan dariku."
Sialan. Tentu saja akan menumbalkanmu jika rencana yang sudah aku susun sampai meleset.
"Aku hanya ingin bermain denganmu. Apa ini masih berfungsi dengan baik. Ah aku merindukannya."
Sialan! Dasar wanita ular!
.
.
.
__ADS_1
#####