Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Kemarahan Aurora


__ADS_3

"Hei, ada apa dengan wajahmu boy. Apa ada masalah." tanya Aurora menatap Brian. Kemudian mengalihkan tatapannya pada Selly yang berdiri dibelakang anak itu.


"Aku tak apa mom." Brian mencoba untuk tersenyum.


"Benarkah!? Sepertinya ada yang kamu sembunyikan dari mom."


"Tidak ada mom."


Aurora mengangguk tidak percaya. "Baiklah, mom tidak akan memaksamu, ceritakan pada mom jika sudah ingin bercerita. Mom tau jika kamu tengah bersedih, mom harap kamu tidak memendamnya sendiri. Baiklah naiklah ke kamarmu. Mom ingin bicara dengan Auntymu."


"Baik mom." Brian menunduk dan berlalu meninggalkan dua wanita itu. Ia pikir, biar auntynya saja yang menceritakan kejadian tadi. Ia hanya tidak ingin melihat Aurora menangis lagi. Rasanya sudah cukup melihat wajah sedih mommynya.


Selly yang melihat Brian pergi kekamarnya tanpa mengatakan apapun padanya hanya bisa menghela nafasnya. Ia tidak tau apa yang harus ia katakan pada Aurora. Apalagi tatapan Aurora yang begitu butuh penjelasan membuatnya tak bisa menutupi lagi dari nonanya.


"Begini nona ___" Selly menceritakan kejadian di markas tanpa ada yang ditutupi. Ia rasa, Aurora juga sudah mengetahui sedikit banyaknya masa lalu Brian.


"Siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini.! Kenapa tidak ada yang memberi tahuku sebelumnya. Kenapa bertindak semau kalian sendiri! Apa aku tak lagi berharga dimata kalian.! Aku ibunya! Lancang!" seru Aurora. Matanya memerah karena marah.


Selly begitu terkejut melihat perubahan suasana hati Aurora. Ia merasa bersalah telah mengatakan kebenaran ini.


"Maaf nona, tapi ini memang permintaan Tuan Alex, dia bilang ini perintah Tuan Edward sebelum kejadian naas yang menimpanya. Tuan Edward meminta Tuan Alex untuk membantu mengungkap jati diri Brian jika dirinya pergi dan tak kembali. Tuan merasa jika akan ada kejadian buruk yang menimpanya. Maafkan saya nona."


"Apa kalian tidak memikirkan imbas dari tindakan yang lakukan hah! Brian masih anak-anak yang tak mempunyai kemampuan melindungi dirinya sendiri. Kalian mau mencelakakannya!" amuk Aurora.


Selly membisu. Tidak tau harus menjawab apa.


"KEVAN!!!" Teriak Aurora.


Selly terperangah mendengar teriakan Aurora. Ia yang biasanya mendengar nada bicara Aurora yang lemah lembut menatap tak percaya. Bahkan Bunda Yuli sampai keluar dari kamarnya untuk melihat apa yang terjadi.


"Saya nona." Kevan menatap Selly, dalam hatinya bertanya tanya ada apa kenapa Aurora bisa berteriak sekencang itu saat memanggilnya.


"Antarkan aku ke markas GL sekarang!" ucapnya dingin.


"Baik nona." Kevan bergegas menyiapkan mobil untuk Aurora. Ia tidak ingin membuat Aurora menunggunya terlalu lama.


"Bunda titip Al dan El. Maaf membuatmu terkejut."


"Selly, jaga anak anak sebentar." Setelah mengatakan itu, Aurora melangkah lebar kedalam kamarnya untuk mengambil ponsel, kacamata dan jaketnya. Ia sudah tidak ada waktu untuk mengganti kaos tipisnya.

__ADS_1


"Baik nona."


.


.


Aurora berjalan tergesa ingin segera menemui Alex. Ia begitu marah padanya hingga mengabaikan salam hormat dari anggota GL yang berpapasan dengannya.


"Kau tunggu disini. Jangan biarkan orang lain masuk sebelum aku keluar." perintahnya pada Kevan yang sedari tadi mengikutinya.


"Baik."


Aurora masuk ke dalam ruang kerja Alex tanpa mengetuk pintu. Ia mengeraskan rahangnya , tangannya mengepal sudah ingin menghajar Alex hingga babak belur.


"Nona, apa ada masalah?" tanya Alex. Ia juga menyadari jika Aurora tengah marah. Ia berjalan mendekat untuk mempersilahkan Aurora untuk duduk disofa. Belum sempat Alex membuka mulutnya lagi, ia sudah tersungkur kebelakang dan menabrak meja kaca.


BRAK!


PRANG!


Aurora tersenyum miring setelah melayangkan tendangan mautnya.


Aurora membisu. Ia malah mencengkeram kerah Alex dan memukul sekali lagi rahang Alex.


BUGH!


"Lancang! Siapa kau! Berani beraninya kau mengambil keputusan tanpa persetujuan dariku! Kau lupa siapa aku! Aku bahkan lebih berhak memimpin GL ini dari pada kau!" Tuding Aurora


"Apa maksud anda!." Alex masih bingung dengan keadaan yang tiba tiba.


"Cih! kau lupa, Suamiku yang bilang sendiri jika aku bisa menggantikan posisinya. Perintahku dan perintahnya adalah sama. Aku berhak memimpin GL ini."


Alex melotot mendengar pengakuan Aurora. Ia bahkan tidak percaya dengan perubahan dalam diri istri Kingnya. Ia mencoba untuk berdiri sambil menahan sakit di perut dan punggungnya.


"Katakan apa masalahmu nona. Kenapa anda bersikap seperti tadi." tanya Alex dingin.


"Kau!" Tuding Aurora


"Kenapa kau begitu lancang dengan percaya diri mengungkap jati diri putraku Brian. Kau tidak tau masalah apa yang akan ditimbulkan suatu hari nanti hah! Siapa kau! Apa jabatanmu hingga kau berani memutuskan sendiri tanpa memberi tahu ku! Aku adalah ibunya!!" seru Aurora tidak terima.

__ADS_1


Alex membisu. Ia masih mendengarkan luapan amarah istri Edward.


"Apa kau sudah kehilangan kepandaianmu hah! Kau melibatkan putraku terlalu jauh! Bahkan dia masih terlalu kecil. Dia belum bisa melindungi dirinya sendiri jika ada yang ingin mencelakainya! Musuh kita saja sudah banyak ! kenapa harus menambah daftar musuh baru. Bagaimana jika pria itu juga mempunyai banyak musuh. Bagaimana!! Agggghhh kenapa kau tak membiarkanku hidup tenang!!!!"


"Nona, sebaiknya anda duduk sebentar. Saya ingin menunjukkan sesuatu. Setelah ini saya akan pergi. Saya memang tidak berhak dari pada anda untuk memimpin GL. Maaf karena saya sudah lancang. Saya hanya tidak ingin menambah beban pikiran anda saat itu dan tidak ada maksud lain."


"Apa kamu pikir dengan minta maaf masalah akan selesai begitu saja! Mimpi!"


Alex menghembuskan nafas kasarnya. Ia frustasi jika harus menghadapi wanita, apalagi wanita itu adalah istri Kingnya. Jika saja wanita didepannya adalah Zanitha, ia sudah pastikan akan membungkam mulut wanita itu dengan ciuman mautnya.


"Okey. Jadi anda mau apa." tanya Alex tenang.


"Cih! cepat tunjukkan apa yang ingin kau perlihatkan padaku!" ucap Aurora ketus.


"Okey tunggu sebentar."


Alex berjalan mengambil flasdisk dalam brankas pribadinya dan menghubungkan pada laptop miliknya. Ia berharap setelah melihat ini, Aurora bisa mengerti kenapa ia melakukan hal tersebut.


"Kau benar Ed, istrimu akan berubah menjadi singa betina jika ada yang mengusik ketenangannya. Aku tak menyangka jika wanitamu membentengi hatinya dengan sikapnya yang angkuh. Istrimu sudah berubah. Padahal baru beberapa hari kau tinggal. Bagaimana nasib kami jika kamu tak kunjung sembuh. Baru memikirkannya saja aku sudah bergidik ngeri. Memang benar jika hanya kamu saja yang bisa menaklukkan hatinya." Batin Alex


"Lihatlah. Ini adalah rekaman milik Edward, direkam sehari sebelum kalian pergi ke Singapura. Maaf aku baru menunjukkannya padamu hari ini, karena memang kau tau sendiri keadaannya."


Aurora menatap sinis Alex. "Lain kali jangan melakukan tindakan seperti ini lagi jika belum mengkonfirmasi padaku, apalagi jika itu menyangkut keluargaku. Jika tidak, kau akan tau akibatnya Alex!." ancam Aurora.


Alex hanya mengangguk pelan. Percuma saja membantah ucapan Aurora, ia juga tidak mungkin menang. Di iyain saja biar cepet kelar pikirnya.


Dengan ragu ragu Aurora menekan tombol play.


"Hai sayang__ kau merindukanku hem..."


Deg.


Jantung Aurora berdebar debar ketika mendengar suara suaminya. Ia memegang dadanya. Ia begitu merindukan suara itu hingga air matanya meluncur bebas tanpa diminta. Ia menatap lekat wajah suaminya yang tampak tersenyum pada kamera yang merekamnya. Hatinya tiba tiba mencelos ketika mengingat kematian suaminya yang tiba tiba. Ia tak menyangka jika suami sudah pergi meninggalkan dirinya.


.


.


.

__ADS_1


######


__ADS_2