Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Carlton, Sang Pengacara.


__ADS_3

Aurora duduk di ruang tunggu IGD bersama Edward. Wanita itu tampak memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing setelah insiden penembakan yang hampir saja melukainya jika saja saat itu Edward tak menariknya, tapi sialnya peluru itu malah mengenai lengan Alex hingga mengakibatkan perdarahan hebat.


Edward yang tau kecemasan Aurora, mengusap pelan punggung istrinya. Pria itu mengatakan jika semua akan baik-baik saja. Alex bukan orang yang lemah, dia bahkan sudah pernah berkali-kali merasakan timah panas itu mengoyak dagingnya. Jadi kejadian seperti ini pasti bukan hal besar baginya.


Aurora mengangguk. Sebenarnya bukan Alex yang ada dalam pikiran wanita cantik itu, tapi ia lebih menghawatirkan keadaan putranya. Brian bahkan sampai berkeringat dingin saat melihat kejadian yang begitu cepat itu terjadi. Ia pikir akan melakukan hipnoterapi untuk menghilangkan trauma itu.


.


.


Flasback:


Aurora masih dengan langkah tergesa menuju tempat dimana mobil jemputannya terparkir. Orang yang mengikuti dibelakangnya hanya mengikuti langkah Aurora tanpa mau bertanya alasan kenapa wanita itu berjalan tergesa.


Sampai ditempat parkir, Aurora segera menarik tangan Brian yang saat itu berada dibelakang tubuhnya, sengaja anak itu berjalan ditengah tengah orang dewasa, agar jika terjadi sesuatu, tidak langsung mengenainya.


Alex langsung memberi instruksi pada anggotanya untuk segera masuk mobil lain dan mengikuti mereka di belakangnya. Sedangkan dirinya dan Max akan semobil dengan Edward.


Naas, bersamaan dengan perginya barisan pengawal, sebuah tembakan terdengar memuntahkan pelurunya.


DOR


Tidak sempat menghindar, Edward bahkan menarik kasar tangan Aurora yang menggandeng Brian untuk bersembunyi dibalik mobil yang terparkir disana hingga membuat dua orang itu jatuh tersungkur di aspal jalan. Aurora dan Brian meringis dibuatnya.


"Lex!" teriak Edward begitu mengetahui lengan Alex sudah mengeluarkan darah.


"Oh Sial! dia terkena." umpat Edward pelan.


Aurora dan Brian membulatkan matanya mendengar penuturan Edward, mereka penasaran tapi mereka juga tidak bisa mengintipnya, keadaan begitu gawat. Salah salah malah mereka yang akan menjadi korban selanjutnya.


Anggota GL dan DQ segera berlari menghampiri Alex dan sebagian menghampiri Aurora yang masih berjongkok dengan mendekap kepala Brian, khawatir traumanya tiba-tiba kambuh.


Alex mendesis, lukanya terasa sangat nyeri. Kurang ajar sekali mereka menyerangnya dari belakang. Ini tidak bisa dibiarkan, awas saja jika ketemu pelakunya, ia pastikan akan menghajarnya tanpa ampun.


Petugas keamanan Bandara yang mendengar suara tembakan, bergegas keluar dan mengamankan area Bandara. Alex yang melihat itu membulatkan matanya, bukan takut pada mereka, tapi pasti kasusnya akan berbuntut panjang, dan itu yang membuatnya sebal setengah mati.


"Anda baik-baik saja Tuan." ujar Max langsung berjongkok melihat luka tembak itu yang terus mengucurkan darah. Ia tahu ini bukan perkara yang baik.


"Sebaiknya anda tenang, saya akan mencoba menghentikan darahnya."


Max langsung melepas dasi yang dikenakannya dan ia gunakan untuk membebat luka itu. Ia harap ini bisa menghentikan darah yang keluar.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Sebaiknya kamu urusi polisi itu."


Alex melihat petugas keamanan semakin mendekat ke arahnya. Mau menghindar juga sudah terlambat, mereka sudah mengetahui keberadaannya. Sial sekali hari ini pikirnya.


"Anda tenang saja. Kita jawab apa adanya. Bos Yudha akan mengurus mereka jika menyulitkan kita."


Alex memicingkan matanya, batinnya meremehkan. Memangnya sebesar apa kekuasaan pria itu. Dia hanya pria kasihan yang terpaksa dikasihani oleh Aurora dan Brian, dia saja dulunya juga hanya seorang asisten. Lalu apa yang membuatnya punya kekuasaan untuk menutup mulut polisi itu. Alex hanya diam, tidak ingin menanggapi karena disini juga bukan zona amannya, ia jadi ingin tahu seberapa kuat kekuasaan Yudha.


Aurora melepaskan dekapan pada Brian saat wanita itu menyadari jika putranya tiba-tiba bernafas pendek pendek.


"Boy, are you oke?" cemas Aurora.


Brian mengangguk cepat. Ia tidak ingin orang tuanya khawatir terhadapnya.


Brian sudah berkeringat dingin. Jelas anak itu trauma dengan keadaan ini.


"Ada apa!" tanya Edward menyentuh dahi Brian yang memunculkan banyak keringat.


"Sepertinya traumanya kambuh kak."


Trauma?


"Ayo, kita ke rumah sakit!"


Brian tampak mengatur pernapasannya. Ia tidak ingin menambah beban masalah mommy dan daddynya seperti kata Nyonya Yuli kala itu. Sampai kapan pun ingatan itu akan tetap melekat di pikirannya walau ia berkata sudah memaafkannya.


Kenyataan jika dirinya bukan anak pembawa sial juga tidak bisa dipatahkan begitu saja, hari ini terbukti lagi. Anak itu tersenyum kecut ketika menyadarinya, seberapa kuat ia menghilangkan anggapan itu, nyatanya kejadian itu terulang kembali. Entahlah. Ia tidak ingin memikirkan apapun saat ini.


Edward dan Aurora saling memandang. Entah mereka membicarakan apa lewat tatapan mata itu. Yang jelas itu kekhawatiran tentang kondisi psikis Brian.


Flasback off.


.


.


"Sebaiknya kamu istirahat di hotel bersama Brian setelah anak itu kembali dari kantin, ajak Selly juga, dia terlihat lelah entah apa yang dikerjakan wanita itu hingga tidak tidur dengan baik. Lagi pula Kimura juga belum bisa dijenguk saat ini. Jangan khawatirkan Alex. Dia pasti baik-baik saja."


Belum sempat Aurora menjawab permintaan Edward, mereka dikejutkan seseorang yang tiba-tiba duduk disebelah Aurora. Apa maunya coba. Ingin sekali Edward menegur dan memakinya, tapi Aurora segera menggenggam tangan suaminya dan menggeleng pelan. Bisa bisa suami posesifnya akan membuat keributan di negeri orang jika tidak segera dicegah.


"Perkenalkan nama saya Carlton." Pria itu mengulurkan tangan dan berbicara dengan bahasa inggris yang begitu fasih.

__ADS_1


Aurora mengerutkan dahi, untuk apa pria ini memperkenalkan diri. Edward yang melihat itu langsung menjabat tangannya.


"Felix." ujar Edward datar. Bahkan pria itu sedikit meremas tangan Carlton. Satu sinyal peringatan darinya.


Pria itu tersenyum. "Tenang saja, saya sudah punya istri."


Aurora terdiam melirik suaminya yang berwajah ketat.


"Saya kemari atas perintah Tuan Yudha. Saya akan menyelesaikan kasus ini dengan baik sehingga anda bisa pulang dengan tenang. Perkenalkan, saya pengacara yang ditunjuk Tuan Yashimoto sebelum beliau meninggal. Saya ditugaskan beliau untuk membantu orang yang berhubungan dengan Kenta. Anda walinya Kenta bukan."


Aurora semakin menyatukan dua alisnya. Sebenarnya apa inti pembicaraan pria itu.


"Benar." jawab Aurora lugas.


"Baiklah, saya hanya ingin menyampaikan itu saja. Mungkin Tuan Yudha akan menemui anda esok hari Nyonya Aurora. Beliau sedang sibuk saat ini. Saya permisi."


Pria itu mengembangkan senyum sebelum beranjak dari duduknya. Sepertinya dia pria yang murah senyum.


Edward menaikkan alisnya. Tidak ingin menanggapi terlalu serius omongan pria itu. Ia pikir kekuasaannya saja bisa mengatasi kasus ini dengan mudah, toh ia disini juga hanya sebagai korban.


"Tuan tunggu!" cegah Aurora sebelum pria itu pergi jauh.


Carlton menghentikan langkahnya sesaat. Menyipitkan mata ketika wanita itu berjalan menghampirinya.


"Terima kasih. Dan tolong hubungi saya jika sudah mendapatkan pelakunya." Aurora menyerahkan kartu namanya.


Pria itu tersenyum dan mengangguk. "Saya pikir anda akan mentraktir saya makan siang. Oke saya terima, terima kasih."


Pria itu memberikan dua jarinya pada Edward dengan senyum penuh kemenangan. Senang sekali membuat pria itu cemburu padanya.


Edward yang melihat itu melotot tak percaya. Bagaimana bisa ada orang yang begitu berani padanya.


Sial! disini juga ada kera menyebalkan. Bagaimana bisa ada banyak kera berkeliaran.


Edward berdecak tak suka.


.


.


.

__ADS_1


######


Semoga suka 😉


__ADS_2