
Ditempat lain, Lukas sedang berada di tempat kejadian perkara dimana Nyonya Elda meninggal. Pria itu memantau anggotanya yang sedang melakukan ivestigasi.
"Oh lihatlah!" seru seorang anggota GL yang sontak mengejutkan yang lain.
Lukas seketika menoleh dan tampak terkejut dengan penemuan anak buahnya. Sebuah dinding yang tertempel cermin tiba-tiba bergerak dan menampakkan sebuah lorong gelap yang ujungnya dapat dipastikan jika terdapat pintu keluar.
"Cepat, kalian periksa dan segera laporkan padaku. Aku akan menghubungi markas untuk memeriksa cctv diluar gedung ini." Perintah Lukas dan langsung diangguki anak buahnya.
"Sial, bagaimana aku tidak pernah tahu menahu tentang hal ini." gumamnya seraya mengambil ponsel untuk mengabarkan penemuannya.
.
.
Di tempat lain,
Seorang pria paruh baya duduk dengan tak berdaya. Tangannya diikat kebelakang dengan kepala tertutup kain hitam, serta mulutnya disumpal dan ditutup plester tampak meronta bak cacing kepanasan. Rupanya efek serum yang telah disuntikkan padanya sedang menguasai tubuhnya.
"Bagaimana keadaannya." Tanya seorang pria sambil menyalakan rokok yang entah sudah keberapa kalinya.
Anak buahnya hanya meringis. Bingung bagaimana mengatakannya. Dibilang baik, tentu bukan seperti itu kenyataannya.
"Sudah kalian suntikkan penawarnya. Dia harus tetap hidup sampai aku menemukan waktu yang pas untuk melakukan pertukaran dengan madam Yora." ujarnya seraya mengepulkan asap ke udara.
"Maaf bos, tapi sepertinya serum itu sama sekali tak mengefek di tubuhnya. Sepertinya memang hanya madam Yora yang bisa menyembuhkan dia."
Pria itu berdecak. Jika madam Yora melakukan itu, pasti wanita itu memang menginginkan kematiannya. Lalu ia bisa apa.
"Kenapa kita harus repot-repot mengeluarkan madam Yora. Dia wanita berbahaya, dia pantas untuk dihabisi. Kekuasaan kita juga akan aman dengan tidak adanya madam Yora. Untung apa anda dengan pertukaran ini. Saya hanya mengingatkan untuk tak terlibat dengan mereka. Mereka kelompok berbahaya."
Diam sejenak. Morgan melirik anak buahnya dengan tatapan tajam. Mata kelamnya seakan ingin menguliti mulut anak buahnya yang terlihat tak takut padanya.
"Maaf bos."
Morgan memejamkan matanya sejenak. Sebenarnya dia sedang dilema dengan pemikirannya sendiri.
"Apa ini tentang adik anda bos. Jika iya, kita bisa bicarakan hal ini baik-baik. Kita bisa minta mereka menginterogasi madam Yora sebelum dihabisi, tapi menyekap pria itu, sepertinya juga tidak akan baik."
Morgan langsung membuka mata ketika mendengar ucapan anak buahnya. Apa dipikir mudah seperti membalikkan telapak tangan.
"Oke, kita ubah rencananya. Kita tak perlu membebaskan madam Yora. Kita tukar pria itu dengan informasi saja. Siapkan semuanya, besok aku ingin bertemu mereka." putus Morgan.
Anak buahnya tersenyum simpul. Bukan apa-apa, tapi ia masih terlalu sayang dengan nyawanya. Beruntung Morgan mau menyetujui idenya.
Seperti yang menjadi rencana Morgan. Pria itu beserta empat anak buahnya bertandang ke mansion Tuan Erick dimana menurut informasi, Alex menginap di mansion itu.
Dengan setelan eksklusif, Morgan tampak tenang menunjukkan kartu identitasnya. Tak timbul kecurigaan dari anggota GL karena mereka berlima tak terdeteksi membawa senjata berbahaya.
__ADS_1
Alex yang diberi tahu mendapat tamu dengan nama Morgan mengerutkan dahi. Pasalnya ia seperti tak pernah memiliki rekan dengan nama itu.
"Persilahkan mereka masuk." ujar Alex pada akhirnya.
"Siapa Morgan?" tanya Edward. Pria itu sudah sedari tadi duduk disana membahas perihal temuan Lukas semalam.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu."
Derap langkah tegas masuk kedalam mansion terdengar, membuat Alex berdiri dari duduknya. Edward ikut melihat siapa gerangan yang datang.
Edward dan Alex saling melirik. Sebuah kode jika diantara mereka tak ada yang mengenal lima pria yang berdiri didepannya.
Morgan tersenyum tipis dan sedikit membungkukkan tubuhnya memberi salam.
"Saya Morgan. Bisa kita bicara berdua Tuan Alex."
Alex melirik Edward yang diam saja. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu.
"Tidak. Jika tidak mau silahkan anda pergi dari sini sebelum kalian menyesalinya. Silahkan duduk." Tegas Alex.
"Oke tidak masalah." ujar Morgan santai. Duduk dengan tenang lalu mengeluarkan Ipadnya.
"Saya kemari karena ingin membuat penawaran. Anda harus melihat ini dulu."
Morgan meletakkan Ipad nya diatas meja.
Alex hanya melirik benda itu, sama sekali tidak tertarik.
"Ini."
Edward seketika langsung menodongkan pistol ke arah Morgan.
"Apa maumu!" tegas Edward.
Morgan hanya tersenyum sinis. Sama sekali tak terintimidasi dengan gertakan Edward.
"Berani menembak, aku pastikan Pria itu juga akan terbujur kaku." ujar Morgan santai.
Alex segera meraih benda pipih itu. Matanya seketika melotot melihatnya.
Rupanya itu adalah Video call dengan anak buah Morgan lainnya yang menampakkan Tuan Erick sedang disandera dan todong pistol dibelakang kepalanya. Pria itu terlihat meronta ingin dibebaskan tapi tak bisa berbuat apapun.
"Apa maumu!" tegas Alex. Matanya menatap nyalang Morgan masih saja terlihat santai. Rasanya ingin sekali memukul kepala pria itu.
Morgan tersenyum miring. Pria itu dengan santainya menyalakan rokok didepan Edward dan Alex.
Benar-benar tak tau diri.
__ADS_1
"Tadinya aku membawanya pergi untuk ditukar dengan madam Yora." Morgan mengepulkan asap ke udara.
"Tapi aku berubah pikiran. Silahkan kalian habisi wanita itu, tapi berikan aku satu informasi. Ya aku hanya butuh satu informasi. Aku akan kembalikan ayahmu seperti semula, tapi maaf, aku tidak bisa menyembuhkan ayahmu. Aku tidak tahu racun apa yang sudah diberikannya." ujar Morgan santai.
Edward langsung menurunkan senjatanya, tapi ganti anggota GL yang melakukannya.
Memang dasar Morgan. Pria itu hanya melirik sekilas sambil menghisap rokok yang masih belum habis terbakar.
"Informasi apa yang kamu butuhkan, tapi lepaskan dulu dia." ujar Alex datar.
"Tenang saja Tuan Alex. Dia akan baik-baik saja. Malah lebih baik dia seperti itu." ujar Morgan santai.
"Apa maksudmu!"
"Dia sudah seperti monster." bisik Morgan.
"Kau!" tuding Alex.
Morgan terkekeh. "Aku berkata apa adanya. Anda nanti bisa membuktikannya sendiri. Jadi bagaimana penawaranku."
"Informasi apa yang ingin anda punya. Aku tidak bisa berjanji jika itu melawan kode etikku." tegas Alex.
"Oke. Tenang saja, ini sama sekali tidak berhubungan dengan organisasimu."
Diam sejenak.
"Tolong tanyakan pada madam Yora tentang keberadaan adikku- Wolfin. Dan kalian harus mendapatkan jawabannya." ujar Morgan tegas sembari meletakkan sebuah foto seorang anak laki-laki.
Edward dan Alex saling berpandangan. Mungkinkah dia Wolfin yang sama pikir mereka.
"Ok, itu mudah." Alex terlihat begitu tak keberatan.
"Aku telah menyuntikkan sesuatu pada dia. Jika kamu melanggar perjanjian ini, kau akan tahu akibatnya. Karena hanya aku yang punya penawar itu. Aku akan memberikan jika anda sudah mendapatkan jawaban dari madam Yora."
Alex menggertakkan giginya. Bisa bisanya ia diancam seperti ini. Memangnya siapa dia.
"Oke. Sepertinya pembicaraan ini sudah selesai. Aku pastikan Pria itu pulang dengan selamat. Jangan macam-macam atau kalian tak akan mendapat informasi apa pun tentang masa lalunya bersama madam Yora. Satu lagi, bukan kami yang membunuh ibumu. Tanyakan pada Ayahmu sendiri." tersenyum devil.
Morgan langsung berdiri dan berjalan keluar diikuti anak buahnya, tapi langkahnya dihentikan anggota GL yang seakan mengerti dengan keadaan didalam mansion.
"Bos." panggil anggota GL meminta persetujuan dari Alex.
"Biarkan mereka pergi."
.
.
__ADS_1
.
#####