Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
S2-4


__ADS_3

Pagi harinya, Alex terbangun dari tidurnya ketika mendengar ponsel pribadinya berdering dan bergetar diatas meja. Pria itu mengerjap sebentar sebelum meraih benda pipih itu.


"Ya." Suara serak memenuhi indra dengar Edward begitu Alex menjawab panggilan.


"Are you oke?" tanya Edward diseberang sana.


Alex langsung duduk dengan tegak seraya meneguk air putih yang berada di dekatnya. Matanya memicing ketika melihat ayahnya tak berada diatas ranjang pasien.


"Alex." panggil Edward ketika tak mendapat sahutan dari seberang.


"Yes. I'm okey. Tunggu, aku akan menghubungimu nanti."


Alex langsung mematikan sambungan telepon dan bergegas mencari keberadaan ayahnya. Pikirkan buruk tiba-tiba menghampirinya.


Digedornya pintu kamar mandi dengan tergesa. Jantungnya ikut berpacu tat kala pintu itu tak kunjung dibuka. Tidak mungkin tidak mendengar gedorannya bukan?


"Ayah! Cepat buka pintunya!" Seru Alex entah yang keberapa kali. Pria itu jelas mendengar gemercik air dari dalam, tapi sama sekali tak mendapat sahutan.


Alex yang merasa ini terlalu lama, langsung menendang pintu kamar mandi hingga rusaklah engsel pintu itu yang memang hanya berbahan plastik.


BRAK


Alex menyapukan netranya kesemua penjuru dan seketika matanya terbelalak kaget.


"Tidak!Ini tidak mungkin!"


Alex berjalan tergopoh saat mendapati Nyonya Elda terbaring kaku didalam bathtub dengan air yang sampai melebar keluar.


"Mama!"


Alex langsung membopong tubuh Nyonya Elda keluar dan ia letakkan di ranjang pasien. Pria itu berlari keluar dan berteriak minta pertolongan pada dokter dan perawat untuk segera memeriksa keadaan Nyonya Elda.


Dokter Rian yang saat itu ingin pulang, mendadak mengurungkan niatnya karena mendengar keributan di ruang rawat Tuan Erick. Ada apa pikirnya.


"Alex ada apa? Apa yang terjadi?"


"Mama." ujar Alex menahan tangis. Walaupun Alex adalah pria tangguh, tetap saja jika berhubungan dengan Nyonya Elda, pria itu merasa lemah.


Belum mengerti dan mencerna kejadian apa didalam sana, rekan sejawatnya tiba-tiba keluar ruangan dengan pandangan suram. Dokter Rian masih berusaha berpikir positif. Lagi pula yang kemarin dirawat adalah Tuan Erick bukan Nyonya Elda bukan.


"Nyonya dinyatakan meninggal dunia Tuan."


Ucapan dokter itu bagai sambaran petir disiang bolong. Alex bahkan sampai terhuyung ke belakang saking syoknya.

__ADS_1


Tidak percaya dengan apa yang didengar, pria itu langsung menerobos masuk diikuti dokter Rian dibelakangnya.


Pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan seumur hidupnya. Dirinya harus kehilangan salah satu orang yang sangat ia sayangi.


"Mama, ada apa ini. Kenapa mama harus pergi dengan cara seperti ini. Siapa yang sudah melakukan ini padamu Ma."


Dokter Rian menundukkan pandangannya sedih. Ia tidak tahu ada masalah apa dengan mereka, tapi melihat Nyonya Elda meninggal mendadak juga membuatnya terkejut.


"Saya akan meminta untuk dilakukan otopsi." ujar dokter Rian.


Alex diam saja. Sebenarnya tidak rela tubuh mamanya dibedah, tapi ia sendiri harus mengetahui penyebab kematian mamanya.


"Ayah. Dimana ayahku!" tanya Alex seraya menatap dokter Rian yang tak tahu apapun.


"Saya akan mencari tahu. Tunggu sebentar."


.


.


Berita meninggalnya Nyonya Elda secara mendadak akhirnya terdengar di keluarga Edlyn. Edward yang mengetahui berita itu langsung menuju ke rumah sakit dimana jenazah Nyonya Elda masih dilakukan otopsi.


Pria itu langsung merengkuh tubuh Alex begitu ia melihat pria itu duduk dengan pandangan gamang. Ia ikut berduka atas kepergian Nyonya Elda yang terbilang mendadak itu.


Edward hanya bisa menepuk punggung Alex yang bergetar menahan tangis.


"Kita pasti bisa melalui ini. Bersihkan dirimu. Sebentar lagi kita harus membawa pulang mamamu. Tegar. Aku yakin kamu bisa melalui hari ini. Kuat."


Alex hanya bisa mengangguk.


Lukas yang baru sampai juga ikut memeluk kawan seperjuangannya. Ia juga ikut empati atas musibah yang datang bertubi tubi menimpa Alex.


Setelah menunggu beberapa jam para dokter melakukan otopsi, akhirnya jenazah Nyonya Elda siap untuk dibawa pulang.


Di mansion Tuan Erick, disana sudah ramai orang yang datang takziah. Aurora dan yang lainnya menatap iba Alex yang tampak tak berdaya. Padahal baru kemarin pria itu sangat bersemangat membantai anggota madam Yora.


Edward yang mengetahui istrinya menatap dengan banyak pertanyaan dalam hatinya, langsung menghampiri dan mengajaknya ke tempat yang lebih sepi.


"Apa yang terjadi Kak?"


"Aku belum tahu. Dokter belum mengatakan apapun. Tapi aku curiga dengan Paman Erick yang melakukan itu. Pria itu juga ikut menghilang. Cctv rumah sakit terakhir hanya menangkap visual Tuan Erick yang masuk kedalam kamar mandi dan setelah itu tak muncul keluar. Ini aneh. Lalu bagaimana pria itu bisa keluar tanpa terlihat cctv dan tak merusak apapun didalam kamar mandi."


Aurora diam sejenak. Kenapa harus ada hal ganjil yang mengharuskan otaknya bekerja keras.

__ADS_1


"Aku harus melihat sendiri rekaman cctv itu untuk memastikan sesuatu. Aku hanya merasa jika sudah ada orang yang berhasil memanipulasinya. Jika memang seperti itu, berarti paman masih memiliki sekutu."


Edward menghela nafas beratnya. "Aku harap bukan seperti itu. Kita harus menemui ayah setelah ini. Orang tua itu harus menjelaskan apa yang sudah terjadi dimasa lalu."


"Jangan. Ayah sedang sakit. Kakak tidak ingin hal buruk terjadi bukan?"


"Kamu benar, tapi aku tak bisa membiarkan masalah ini semakin berlarut larut. Kita harus segera membereskan dan memberi hukuman pada mereka atas apa yang mereka lakukan pada kita. Lalu bagaimana dengan Kiran?"


Aurora menaikkan bahunya. Ia tidak tau, bahkan David pun tiba-tiba tidak bisa dihubungi. Entah pergi kemana pria itu.


"Mungkinkah David yang membawa Paman Erick?"


Aurora terbelalak. "Mana mungkin!"


"Kamu jangan melindungi anak buahmu. Bisa jadi dia yang melakukannya."


"Tuduhanmu tidak berdasar. Atas dasar apa David melakukan itu. Dia tidak akan bertindak tanpa sepengetahuanku." bela Aurora.


"Kamu lupa kejadian sebelum kita pulang? Kejadian saat David menyeret Paman Erick? Apa kamu tau kenapa asistenmu melakukan itu? Dia marah karena Kiran telah dinodai Paman. Ya walaupun Paman sedang dalam pengaruh obat."


"Serius!!"


"Tentu saja."


Aurora memijat keningnya. Kenapa tidak ada yang lebih dulu memberitahu perihal Kiran padanya.


"Sebaiknya setelah dari sini kamu pulang. Jaga anak anak dirumah. Aku akan ikut ke pemakaman. Ingat! jangan melakukan apapun tanpa seijinku. Kita sudah bicarakan ini semalam, aku tak ingin kita ribut lagi. Kamu mau mendengarkanku bukan?"


Aurora hanya bisa mengangguk. Padahal hatinya ingin menemui banyak orang hari ini, tapi mendengar ultimatum suami posesifnya, ia harus bersabar dan menahan diri.


"Aku pergi dulu."


"Okey. Pulanglah setelah urusan diluar selesai."


Aurora memandang punggung Edward yang kian menjauh. Wanita itu segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Mira agar segera datang menemuinya. Ia yakin tangan kanannya itu pasti sudah tau apa yang terjadi, tapi belum mau mengatakan padanya.


.


.


.


######

__ADS_1


Ingat! Istirahatlah jika lelah.


__ADS_2