
πΊπΊπΊ
Ajeng hanya dua hari di rumah, ia tidak mengambil cuti panjang karena sebentar lagi akan ada event besar, perusahaannya sebagai brand ambasador nya, Ajeng terpilih menjadi salah satu design yang akan mengisi acara itu, ia harus bisa membuat minimal dua design baju pesta.
Setelah sampai di kampung halamannya, Ajeng segera menemui kakaknya.
"Mbak Diah ....!" teriak Ajeng yang barus saja turun dari dalam mobil. Ia tidak peduli lagi dengan pria membosankan di sampingnya tadi.
"Ajeng ....!" Diah memeluk Ajeng dengan sangat eratnya, banyak sekali yang ingin ia ceritakan oleh Ajeng.
Mereka pun berpelukan saling meluapkan kerinduannya. Ajeng benar-benar kegirangan melihat kakak perempuannya, karena mereka sudah lama tak bertemu.
"Mbak Diah beneran mau nikah ya?" tanya Ajeng setelah melepaskan pelukannya. Ia tak percaya dengan keputusan mbaknya.
Diah memundurkan tubuhnya, ia meregangkan tangannya, memutar badannya.
"Iya dek .....! Nih liat mbakmu ...., sudah dandan kayak gini." ucap Diah dengan penuh senyum.
Ajeng mulai berpikir ulang, ada pria asing itu, ada pernikahan. Apa dugaannya benar.
"Sama siapa? Sama mas Anwar ya?" tanya Ajeng dengan suara kerasnya, ia tidak menyadari jika calon suami kakaknya itu sudah berdiri di belakang kakak perempuannya.
"Hust ....!" ucap Diah sambil menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya untuk memberi isyarat pada Ajeng untuk berhenti bicara.
"Ayo ikut mbak ....!"
Diah pun segera menarik tangan Ajeng menjauh dari tempat itu, Diah mengajak Ajeng masuk ke dalam kamar.
"Mbak ..., ada apa sih sebenarnya?" tanya Ajeng. Ia tidak mengerti kenapa mbaknya malah mengajak masuk.
"Ajeng ...., kamu lihat pria itu ....!" Diah menunjuk ke arah pria tampan yang masih berdiri di luar bersama dengan pria yang telah menjemput Ajeng tadi.
__ADS_1
"Iya ....?" Ajeng memperhatikan pria tampan itu, pria itu sangat tampan dengan wajah blasteran, sangat berwibawa.
"Dia calon suami mbak ....!" ucap mbaknya Ajeng lagi.
"Hah ...., apa? apa dia Bule ....?" mata Ajeng terlihat begitu mengagumi, wajah dengan garis wajah yang tegas.
"Bukan, dia cuma blesteran aja ...!"
Lalu jika mbak Diah nikah sama dia, lalu bagaimana dengan mas Anwar ....?
"Hei ...., kenapa malah bengong?" Diah mengibas-kibaskan tangannya di depan wajah Ajeng.
"Lalu bagaimana dengan mas Anwar, dia cinta mati lo sama mbak Diah ....?"
Diah memegang tangan Ajeng, mengelus punggung tangannya.
"Kita nggak berjodoh dek ...!"
"Benarkah ....? Dia itu namanya Dion, dia Sekertaris kompleks sama Adrian ....!"
"Setia banget ya sama calonnya mbak Diah?"
"Iya ...., lihat saja...., sampai segala sesuatunya tentang mas Adrian di urusin ....!"
"Keren juga ternyata dia ....!"
Mereka pun membicarakan banyak hal berdua, seakan tak ada yang sedang menunggunya di luar.
Akhirnya acara pernikahan benar-benar berlangsung, hanya beberapa orang saja satu kampung yang di undang dan keluarga besar dari Adrian. Diah sengaja tidak mengundang teman-teman nya termasuk Al, temannya yang datang hanya Anwar karena memang rumah Meeka berdekatan.
Setelah acara pernikahan kakaknya, paginya ia sudah harus kembali, ia beralasan memiliki banyak tugas kampus, walaupun benar tapi itu tidak sepenuhnya benar. Tugasnya banyak tapi tidak sebanyak itu.
__ADS_1
Awalnya ia ingin berangkat sendiri, tapi ternyata kakak iparnya menawarinya untuk mengantar sampai di kampus. Sepanjang perjalanan banyak sekali yang mereka obrolkan, ternyata kakak iparnya tipe pria yang mudah untuk di ajak bicara. Walaupun belum terlalu kenal, setidaknya Ajeng tahunjika suami kakaknya adalah pria yang baik.
Ajeng lupa jika ia belum menceritakan kehidupannya di Malang, ia meminta kakak iparnya untuk mengantar sampai di tempat kosnya, hal itu menjadi pertanyaan pada kakak iparnya, akhirnya Ajeng terpaksa menceritakan semuanya.
Ia meminta kakak iparnya untuk tidak menceritakan semuanya pada kakak dan kedua orang tuanya. Ia tidak mau membuat mereka cemas.
"Aku berjanji kak, nggak akan mengesampingkan pendidikanku!"
"Baiklah aku percaya, jangan pernah mengecewakan kepercayaan mereka!"
"Baik, aku janji, terimakasih ya kak!"
"Ya sudah aku pulang, jaga dirimu dengan baik!"
Ajeng melambaikan tangannya saat Adrian , kakak iparnya itu sudah masuk kembali ke dalam mobil dan meninggalkannya. Ajeng tidak menyadari sedari tadi ternyata ada sepasang mata yang sudah mengawasinya, ia berdiri di balik mobilnya agar Ajeng tidak bisa melihatnya.
"Siapa lagi dia?" Al sudah mengepalkan tangannya, pria itu bukan pria yang di foto dua hari lalu dan juga bukan rekan ketja Ajeng.
Ajeng yang tidak menyadari keberadaan Al segera masuk ke dalam tempat kosnya, ia ingin segera menyelesaikan designnya, tidak membiarkan siapapun menggangunya.
Al masih berdiri di depan tempat kos Ajeng, ia ingin sekali masuk rumah itu dan memeluk Ajeng dan mengatakan jika ia merindukannya. Tapi itu hanya sekedar angan, ia berkali-kali mendesah, rasanya sudah sangat frustasi.
Al masuk kembali ke dalam mobilnya, ia ingin merencanakan rapat luar biasanya besok, ia ingin menemui Ajeng di sana. Ia sudah tidak tahan berlama-lama menunggu seperti ini, apalagi semakin banyak pria yang berusaha mendekati Ajeng, membuatnya semakin gusar.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading ππππ