Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Al&El


__ADS_3

Edward berjalan gagah memasuki kedai es krim yang tidak terlalu besar itu. Pria dewasa itu segera memesan dan duduk di bangku kosong sambil memainkan ponselnya. Sesekali melirik keluar melihat keberadaan istri dan anaknya yang masih betah didalam mobil.


Keadaan kedai yang tidak begitu ramai, membuat Edward menjadi pusat perhatian. Para wanita yang sedang duduk dan menikmati sajian di kedai itu terpana dan menatap takjub akan ciptaan Tuhan yang satu ini. Padahal Edward hanya menyunggingkan senyum tipisnya.


"Bukan kaleng kaleng. Pria itu kenapa bisa terlihat sangat berkharisma. Oh dia sangat menyilaukan mataku. Wanita mana yang beruntung menjadi istrinya. Daebak. Andai masih ada pria seperti itu, aku bahkan rela jadi istri keduanya. Oh my Prince, tunggu aku dewasa." celetuk seorang gadis di dekat tempat Edward duduk. Yang langsung dihadiahi tonyoran dikepala oleh teman laki-laki disebelahnya.


"Jangan mimpi! Akan aku buktikan padamu, kelak jika aku dewasa, aku akan lebih gagah dan lebih hebat dari pria itu. Dan kamu tak akan bisa berpaling dengan pesonaku! Bahkan kamu akan melupakan omongan konyolmu itu!"


Edward yang mendengar pembicaraan mereka tersenyum geli. Ia tak menyangka jika pesonanya diminati gadis remaja.


Setelah beberapa saat menunggu, Edward mendapatkan apa yang dipesannya. Ia berjalan santai dan berhenti ditempat dua remaja itu saling membicarakannya. Ia mengulas senyum tipis.


"Kecantikan dan ketampanan itu berasal dari sini." Edward menunjukkan dadanya.


"Dan kamu.." Edward memandang anak laki-laki disebelah gadis itu.


"Aku menunggu pembuktianmu. Aku menunggu saat itu tiba. Jadilah pria yang sukses dan kalahkan aku. Setelah itu datanglah padaku. Aku akan memberimu hadiah." ucap Edward dengan senyum menawannya.


Edward kemudian melepaskan jam tangan yang dipakainya, lalu memberikannya pada remaja laki-laki itu. "Simpanlah dan kembalikan jika saat itu tiba." Ucap Edward dan berlalu pergi. Anak itu hanya melongo menatap jam tangan mahal itu. Mereka menggelengkan kepalanya tak percaya.


Edward segera menuju ke parkiran dimana istri cantiknya sedang menunggu. Sedangkan Aurora didalam mobil menatap datar Edward. Logikanya sedang berusaha menerima jika pria itu bukan Edward suaminya, tapi hati kecilnya berharap jika dia memang suaminya. Otaknya masih berpikir keras kenapa ada manusia dengan postur dan suara yang sama tapi tidak dengan wajahnya.


Edward menampakkan senyum lebarnya ketika masuk kedalam mobil lagi. "Maaf menunggu lama, dan ini pesananmu anak manis." Edward mengulurkan box es krim pada Brian.


Brian tersenyum saat menerimanya."Terima kasih Uncle."


Mobil kemudian berjalan melaju menuju rumah Aurora yang setahun ini ditempati. Padatnya jalan dan teriknya siang itu tak membuat Brian mengeluh karena terlalu lama dalam mobil, anak itu justru dengan asiknya memakan es krim yang tadi dibelinya. Sesekali bocah itu melirik pada Edward yang diam saja tak merespon.


"Aih, kenapa pria itu diam saja saat aku memakan begitu banyak es krim. Aku bahkan sudah mengorbankan kesehatanku. Apa dia benar bukan daddyku? Ah kacau, aku harus segera menghubungi dokter Rian jika begini." gumam Brian. Ia mengerucutkan bibirnya sebal.


"Jangan terlalu banyak. Cuacanya sedang tidak baik . Kasihan tubuhmu." ucap Edward tersenyum saat melirik kaca spion tengah.


Aurora menoleh kebelakang, matanya membulat melihat kotak es krim yang isinya sudah hampir tandas. "Apa yang kau lakukan! oh astaga Brian.. Kau memakan semuanya!!" pekik Aurora kesal.


"Hehe sorry mom. Brian khilaf. Ini sangat enak. Asisten baru mom pandai memilih rasa." Brian hanya meringis menatap Aurora sambil mengedipkan dua matanya merasa tidak bersalah sama sekali.

__ADS_1


"Lain kali jangan membelikan anak itu jumbo es krim. Dia tidak bisa makan banyak es krim. Hah aku pikir tadi mau berbagi sama adiknya. Huh. ternyata.." omel Aurora


Edward hanya mengangguk pelan. Edward jadi merasa bersalah. Ia sama sekali tidak ingat jika putra sulungnya tidak bisa makan banyak es krim. "Apa kita perlu ke dokter sekarang?"


"Tidak. Biar saja, biar anak itu tau rasa." ketus Aurora. Matanya melirik Edward yang menunjukkan wajah cemasnya.


"Tapi,"


"Tidak ada tapi tapian!" ketus Aurora.


Brian diam diam tersenyum menyeringai. Mommynya benar benar paham betul dengannya. Kini dirinya merasa mempunyai patner untuk diajak kerja sama.


Edward menatap kasihan pada Brian. Lalu melirik wajah Aurora yang nampak jutek. Ia tidak bisa melakukan apapun kecuali menuruti kemauan wanita itu.


Tak lama kemudian, mobil sudah sampai di pelataran rumah besar bercat serba putih itu. Edward turun dan membukakan pintu untuk Aurora.


"Ayo, masuklah, aku harus mengambil berkas penting di dalam." kata Aurora.


Edward mengangguk dan mengekori dua manusia didepannya.


"Mommy!"


"Kak ian..!" seru keduanya.


Aurora hanya tersenyum lalu mengecup pipi mereka bergantian. "Kalian temani om itu dulu ya, mom mau keatas sebentar. Oke boys."


"Oke mom."


"Kak ian, apa om itu asisten mom yang baru" tanya El.


"Ya, namanya Om Felix." Jawab Brian dan diangguki Edward.


"Sepelti nama daddy." celetuk Al.


Brian menoleh melihat Edward yang diam saja menatap dua adik adiknya . Mata Edward nampak sendu seperti terharu.

__ADS_1


"Di dunia ini banyak nama yang sama adik. Jangan pikirkan. Ayo kita ajak Uncle Felix duduk."


Al dan El langsung menarik kedua tangan Edward. Mereka mengajak Edward duduk disofa ruang tamu.


"Al, El, kakak ganti baju sebentar ya." Brian mengangguk memberi salam pada Edward yang masih diam belum bersuara sejak masuk rumah. Entah apa yang terjadi pada pria itu.


Sepeninggal Brian, Edward mengusap kepala dua anak itu lalu tersenyum lembut. "Wajah kalian seperti daddy. Kalian berdua terlihat sangat tampan."


"Ya, itu benar Uncle. Semua orang mengatakan hal itu. Kakek dan nenek bahkan sangat gemas pada kami. Katanya kami seperti daddy sewaktu kecil. Daddy memang sangat tampan, begitu juga mommy yang sangat cantik. Jadi wajar saja jika kami tampan." jawab El dengan bangga. Al hanya mengangguki ucapan El yang terdengar cerewet pada pria asing disebelahnya.


"Om Felix kenal daddy?" tanya El lagi.


Edward mengangguk.


"Seperti apa daddy itu? Kami hanya bisa membayangkan lewat fotonya saja. Ah andai kami bisa bertemu dengannya. Pasti kami sangat bahagia apalagi bisa digendong olehnya." celoteh El.


Edward tersenyum mengusap puncak kepala El. "Daddy kalian adalah orang yang sangat mencintai mom kalian. Seberapa kuat orang lain memisahkan cinta mereka, nyatanya mereka akan bersatu kembali. Dia pria penyayang dan mencintai keluarganya terlebih anak anaknya." ungkap Edward, entah dua anak itu mengerti atau tidak.


"Hah sayang sekali kami belum pernah bertemu dengannya. Daddy sudah pergi saat kami masih bayi. Kenapa dia jahat sekali pada kami. Dia membuat kami yatim, dan parahnya mommy gak mau menikah dengan papi. Padahal papi sangat baik pada kami." kata El.


"Adik, kenapa bicala sepelti itu? Mom akan malah jika mendengal apa yang balu El katakan. Apa El mau dihukum ? Daddy tidak jahat. Bahkan dia lela mengolbankan hidupnya untuk kita. Daddy mempeltaruhkan nyawanya untuk melindungi mom dan Kak Ian. Jika daddy tak beltaluh waktu itu, mungkin kita juga tidak lahil ke dunia ini. Jadi, Kak Al minta jangan belbicala buluk tentang daddy. Adik paham.."


El mengerutkan dahinya. "Kak Al tau dari mana?"


"Tentu saja dali mommy. Kamu sih, mom belum selesai celita kamunya udah tidul." kata Al , tangannya menjitak pelan kepala El.


Edward tersenyum mendengar cerita kedua anaknya. Hatinya bahkan menghangat. Aurora mendidik putranya dengan sangat baik. Tapi tiba tiba hatinya merasa perih mengingat kata papi yang diucapkan El. "Siapa papi yang mereka maksud? apa itu Aldi? Seberapa dekat dia dengan mereka? " batin Edward dipenuhi dengan penuh pertanyaan.


.


.


.


#####

__ADS_1


__ADS_2