Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Semua bertambah rumit


__ADS_3

Sampai di kediaman Jingmi. Lukas dicegat oleh beberapa anak buah Jingmi yang berjaga. Sempat terjadi perdebatan diantara mereka karena Lukas yang bersikukuh ingin menemui Jingmi yang pada akhirnya pria itu membuat sedikit keributan hingga Jingmi keluar dan menemuinya.


"Ada masalah apa, kenapa membuat keributan di mansionku. Aku harap kamu tidak lupa mengenai etika bertamu. Ini waktunya orang istirahat jika kamu lupa." ujar Jingmi dengan nada datarnya. Berani sekali asisten Edward ini mengganggu waktunya.


"Saya minta maaf. Harusnya saya malam ini juga istirahat dengan tenang di kasur empuk saya, tapi ini urgent. ALEL menghilang sejak pemadaman terjadi. Kami tidak bisa menghubungi siapapun, karena sinyal jaringan juga tidak muncul sama sekali. Kami harus memberi tahu Tuan Edward atau Alex, bisakah anda membantu saya?"


Jingmi terbelalak kaget. Irama jantungnya bahkan sampai tak beraturan mendengar kabar itu. Edward pasti akan marah marah jika tau hal ini.


"Bagaimana mungkin ini terjadi. Bukankah kalian menempatkan banyak pengawal disana. Apa mereka mati semua!" Jingmi mengusap wajahnya. Kenapa anggota GL akhir akhir ini menjadi bodoh. Memang bodoh atau musuhnya yang terlalu cerdik.


Pria itu kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Sedikit mengernyit, benar yang dikatakan Lukas, tidak ada jaringan. Bagaimana bisa seperti ini.


"Lalu sekarang kau akan kemana setelah ini." tanya Jingmi cepat.


"Saya akan melihat keadaan dulu disana, baru melakukan tindakan. Saya tidak bisa berbuat banyak dalam hal ini." Lukas tertunduk lesu.


"Emm begini saja, sekarang kita ke rumah Aurora dulu. Aku akan memerintahkan anggotaku untuk mencari tau sebab pemadaman ini agar jaringan bisa segera di pulihkan, setelah itu baru kita mencari jejak Al dan El. Tenang saja, didalam tubuhnya terdapat chip implan GPS. Aku yakin mereka juga akan baik-baik saja, tapi sebelum itu kita harus mencari sesuatu dulu." ujar Jingmi serius.


"Sesuatu?"


Jingmi mengangguk.


Di rumah Aurora sudah ramai orang. Anggota DQ juga sedang berkumpul disana menunggu perintah. Selly tampak duduk termangu didepan layar laptopnya. Sepintar apapun kemampuannya, jika tidak ada jaringan internet, semua tidak akan ada gunanya. Ia sudah seperti seekor keledai dungu.


Wanita itu menghela nafasnya. Haruskah dirinya membuat satelit sendiri. Tapi mana mungkin, itu hal mustahil untuk dilakukan.


"Aku tidak bisa berdiam diri begini. Sepertinya aku harus ke luar dari kota ini. Aku akan menghubungi mereka dari sana dan membantu memulihkan jaringan jika benar perusahaan mereka disabotase. Ya itu lebih baik dari pada aku tidak melakukan apapun bukan. Lagi pula, tidak mungkin jika seluruh negeri ini mengalami pemadaman." gumamnya pelan.


Baru saja selesai membereskan alat yang akan dibawanya, wanita itu melongok melihat mobil siapa yang baru saja tiba.


Selly mengerutkan dahi, ia tidak kenal dengan sosok laki-laki yang bersama Lukas. Hanya samar samar ia mengenali postur tubuh itu. Siapa batinnya.


"Kamu mau kemana." tanya Lukas.


Selly melirik Jingmi sebentar.


"Aku akan ke luar kota. Aku tidak bisa bekerja jika tidak ada internet. Aku harus segera menghubungi nona Aurora. Dia harus segera tau kejadian ini. Hanya dia yang bisa melacak Al dan El." ujar Selly serius.

__ADS_1


"Tunggu sebentar." cegah Jingmi.


"Sebaiknya kamu carikan jam tangan digital warna silver milik Aurora. Dengan begitu kita akan lebih mudah terhubung dengan mereka dan mencari jejak Al dan El dalam satu waktu." ujar Jingmi.


"Jam digital?" beo Selly.


Jingmi menggangguk mengiyakan.


"Cepatlah jangan membuang waktu. Jika memang sedang di sabotase, mereka juga akan dengan mudah memulihkannya. Brian, Yudha, Aurora dan Felix, keempat orang itu, kau bahkan tau keahlian mereka." ujar Jingmi lagi.


Bagaimana orang itu bisa tau. Sebenarnya siapa dia?


"Selly, minta Kevan membantumu untuk mencarinya." ujar Lukas menginterupsi.


Selly mengganguk pelan, tapi matanya masih melirik Jingmi penasaran.


Jingmi diam saja, pria itu juga tidak ingin memperkenalkan diri dengan wujud aslinya. Biar saja wanita itu penasaran. Pasalnya ia saat ini menggunakan wajah lain dari biasanya. Ia tidak ingin gaya mengelabuhi musuhnya diketahui banyak orang.


Selly membuka kamar Aurora. Ini pertama kalinya wanita itu melihat penampakan kamar Aurora di rumah barunya.


Sebuah kamar yang luas dengan banyak barang tersusun rapi disana. Ia harus memulainya dari mana pikirnya.


Selly mengangguk. Wanita itu membuka seluruh laci dan almari, tapi tak juga menemukan barang yang dicarinya.


Wanita itu berkacak pinggang. Tempat mana yang belum ia periksa pikirnya. Apa di dalam ruang ini ada ruang rahasia? mana mungkin, model bangunannya saja sudah bisa ditebak jika memang ada ruang rahasia, apa lagi kamar ini ada di lantai atas.


Nona, anda letakkan dimana jam tangan itu? apa sedang anda memakainya?


"Nona, sepertinya saya tau." ujar Kevan tiba-tiba.


Selly menyatukan alisnya. Pria ini. Mengejutkan saja pikirnya.


"Brankas."


Brankas? sedari tadi mencari, ia tidak menemukan brankas pikir Selly. Dimana pula letak benda itu.


Kevan tiba-tiba menunjuk buku buku tebal di sebuah rak buku. Selly mengerutkan dahi. Apa maksud pria itu. Bagaimana bisa ada brankas di rak buku. Memangnya brankas sekecil itu.

__ADS_1


"Lihatlah nona!" seru Kevan.


Selly mendekat dan melihat. Astaga benar, ini brankas. Selly tampak cengo melihatnya. Banyak brankas di kamuflase buku. Selly menggeleng tak percaya. Nonanya ini unik sekali pikirnya.


"Anda pecahkan kode itu. Aku akan menunggu di luar. Rasanya tidak etis melihat barang rahasia." ujar Kevan sebelum melenggang pergi. Pria itu tidak ingin terlibat jika ada barang yang hilang dari tempatnya.


Memangnya hanya dia yang merasa sungkan. Selly mendengus dan segera melakukan tugasnya.


"Kapan Edward akan pulang. Apa dia tidak memberitahu kapan kepulangannya?" tanya Jingmi tiba-tiba.


Lukas memainkan rahangnya. Pria itu sebenarnya juga tidak tahu. Pasalnya kemarin ia melihat berita jika di sana sedang terjadi cuaca buruk dan penundaan banyak penerbangan. Mereka juga tidak mungkin pulang pada hari itu bukan.


"Saya hanya tau ijin Aurora sampai hari ini. Jadi kemungkinan, pagi ini sampai disini atau malah baru terbang dari sana. Saya tidak tau benar soal itu. David, asistennya yang harusnya tau hal itu."


Jingmi terdiam. Apa ini ada hubungannya dengan kejadian di Jepang? Mungkinkah madam Yora yang melakukannya.


Pembicaraan mereka tiba-tiba dikejutkan dengan suara pintu mobil yang dibanting cukup keras. Kevin sedikit berlari masuk ke dalam rumah.


"Bos. Gawat bos. Anggota kita yang dibawa kerumah sakit kritis! mereka diduga menghirup gas berbahaya!" ujar Kevin dengan nafas terengah engah. Harusnya jika telepon bisa digunakan, ia tak perlu mengabari kesana kemari. Apa lagi dengan jarak yang tidak bisa dikatakan dekat itu.


Lukas terperanjat. Pria itu meremas rambutnya. Masalah apa lagi ini. Bagaimana jika sampai mereka mati bersamaan. Baru membayangkan saja sudah engap.


"Kabari Tuan besar tentang kejadian ini. Kamu urus mereka saja disana. Aku akan meminta dokter markas membuatkan serum anti racun. Gunakan serum yang ada untuk mencegah racunnya menyebar. Minta dokter Rian bekerja sebisa mungkin menyelamatkan mereka!"


"Baik. Kalau begitu saya pamit."


Lukas mengangguk. Pria itu melirik Jingmi yang diam saja. Bukankah pria itu,..


"Aku tidak punya banyak. Sebagian besar sudah dibawa dokter Jun ke Hong Kong bersama mereka. Jadi keputusanmu sudah benar. Dokter markas pasti bisa melakukannya dengan baik." ujar Jingmi seakan tau jika Lukas hendak tentang menanyakan serum miliknya.


Lukas hanya bisa menarik nafasnya dalam dalam untuk mengisi paru parunya yang tiba-tiba terasa sesak. Ia butuh istirahat. Ia sudah lelah dengan semua rentetan kejadian hari ini.


.


.


.

__ADS_1


######


__ADS_2