
Brian menggenggam erat tangan Selly tanpa menoleh kebelakang lagi. Hatinya begitu terluka melihat tatapan benci dari orang yang dulu menyayanginya.
Walaupun begitu, ia tetap mengulas senyum agar Selly pun tak mengetahui isi hatinya yang sebenarnya. Ia tak ingin membuat orang disekitarnya khawatir. Ia terus mengoceh kesana kemari seperti layaknya anak kecil lainnya. Anak manis itu rupanya memiliki pengendalian diri yang baik.
Saat ini, Brian dan Selly berada di ruang Edward. Awalnya Selly bingung kenapa setelah dari kamar mandi tidak kembali ke tempat Aurora berada, tapi malah keruang Edward. Setelah tau alasannya, ia hanya menghela nafasnya.
"Aunty, aku ingin tidul belsama Dad, aku lindu pelukannya, Aunty bisa kembali. Ada paman Kevin disini. Jaga mom, beli tau Blian jika adik Blian sudah lahil. Bilang sama mom, aku sangat menyayanginya. Jangan khawatil, aku bersama Daddy akan baik baik saja. Kami beldua akan mendoakannya dali sini." ucap Brian.
"Baiklah, Aunty akan membelikanmu makanan sebentar, kamu pasti belum makan sejak turun dari pesawat. Tidurlah dengan nyaman, tapi jangan sampai melukai daddymu. Aunty tinggal ya."
Selly tersenyum sebelum meninggalkan Brian. Ia menitipkan Brian pada Kevin yang menunggu diluar sebelum meninggalkan tempat itu. Ia tetap saja merasa khawatir jika meninggalkan Brian sendiri.
Setelah kepergian Selly, Brian naik keranjang Edward. Ia mengecup pipi daddynya sebentar sebelum merebahkan badannya dibawah ketiak Edward. Itu adalah tempat ternyaman bagi Brian sedari dulu.
Brian kembali meneteskan air matanya, ia terbayang masa masa bersama Edward sebelum kejadian naas menimpa mereka. Kebahagiaan sebentar itu terenggut begitu saja dari hidupnya. Ia begitu sedih kenapa harus dirinya yang mengalami ini semua.
"Dad, apa kau mendengalku..? Hali ini adik adik Blian akan segela lahil. Apa dad senang mendengal belita ini ,?"
"Ah tentu saja senang,, tahukah dad? Mommy tadi menahan kesakitannya sendiri. Aku tak tega melihatnya. Halusnya dad yang ada disisinya. Kenapa dad tidak bangun dan membantu mom? Apa yang membuatmu terjebak dalam ruang mimpimu Dad..?"
"Apa disana dad beltemu dengan mama, apa mama bahagia disana? Katakan pada mama, disini Blian baik baik saja."
Brian terus saja mengajak Edward berbicara walaupun tak mendapat respon. Ia sampai ketiduran memeluk tubuh Edward. Kevin yang melihat itu hanya tersenyum tipis. Ia malah menyelimuti keduanya.
"Segeralah sadar Tuan.."
.
.
Di ruang bersalin Aurora.
Wanita yang masih berbaring miring itu sudah merasa tak nyaman dengan keadaannya. Ruang ber AC itu rasanya masih saja terasa panas untuknya. Keringat bercucuran membasahi dahi dan wajahnya karena menahan rasa sakit yang timbul tenggelam. Ini adalah persalinan pertamanya dan tidak ditunggui suami ataupun mamanya. Ia harus berjuang sendiri melawan rasa itu. Tekatnya sudah bulat, ia tidak akan menyerah dengan ujian kali ini.
Dokter dan perawat saling memandang dalam diam,mereka selalu memantau secara berkala kondisi Aurora . Salah satu perawat mencoba membantu mengusap punggung Aurora. Mereka hanya tidak menyangka jika Aurora bisa setenang itu, tidak seperti ibu ibu yang lain walaupun sering terdengar suara lenguhan kecil dari bibirnya.
"Nona anda sudah siap. Anda ingin ditemani keluarga atau tidak, biar kami panggilkan jika anda ingin." ucap Dokter itu bersiap melakukan tindakan.
"Tidak, saya ingin sendiri saja. Apa mereka sudah ingin keluar? Rasanya... rasanya seperti..Apakah sudah boleh.. ?" Aurora memejamkan matanya menahan diri untuk tidak mendorong keluar sebelum diberi aba aba.
Dokter itu tersenyum. "Seperti keinginan anda."
__ADS_1
.
.
Diluar ruangan itu, Bunda Yuli , Tuan Admaja , David Kiran dan Selly menatap datar ruang bersalin itu. Mereka sudah duduk lima jam dikursi tunggu itu. Mereka semua menantikan lahirnya sang pewaris dua keluarga besar itu. Sayangnya mama dan papa Aurora belum bisa datang karena masih dalam perjalanan dari London.
Banyak perasaan yang muncul dalam benak mereka, antara takut, khawatir sekaligus bahagia dalam waktu bersamaan.
"Kenapa mereka lama sekali, apa terjadi sesuatu?" gumam Bunda Yuli pelan.
Tuan Admaja mengusap punggung tangan istrinya, ia tau betul kecemasan istrinya. Karena dirinya juga pernah merasakan hal yang sama.
"Tenanglah, semua akan baik baik saja, dua cucumu akan terlahir dengan selamat." ucap Tuan Admaja menenangkan.
"Bukan itu, kenapa mantu kita tidak memilih operasi saja? kenapa harus lewat jalan lahir, apa lagi dua, aku merasa jika bayi yang dikandungnya juga cukup besar. Ah bagaimana kalau.."
"Jangan berpikiran buruk. Kita doakan saja. Aurora wanita yang kuat. Kita harus percaya itu."
Suara tangisan bayi memecah khawatiran mereka semua. Tak berselang lama disusul tangisan bayi berikutnya. Semua mengusap air matanya haru. Bahagia itu yang mereka rasakan saat ini. Mereka semua dengan sabar menunggu Aurora keluar dari ruang itu. Ingin segera memberi ucapan selamat pada ibu muda itu serta melihat dua wajah bayi yang pastinya imut dan menggemaskan.
Harapan hanyalah sebuah anganan belaka, nyatanya sejak dua jam setelah mendengar suara tangisan dua bayi itu, Aurora juga belum dikeluarkan dari ruang bersalin itu. Bertambah cemaslah pula Bunda Yuli. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada menantunya.
Pintu ruangan terbuka kasar, dua perawat berjalan tergesa. David yang saat itu sedang berdiri disamping pintu terlonjak kaget. Ia berlari mengikuti dua perawat itu sebelum pergi jauh.
"Nona Aurora perdarahan. Maaf saya tergesa gesa." ucap perawat itu dan meninggalkan David begitu saja.
David mengusap wajahnya. Ia kembali menemui keluarga nona mudanya untuk menyampaikan berita mengejutkan itu.
"Ada apa, apa baik-baik saja?" tanya Tuan Admaja khawatir.
"Nona bermasalah setelah kelahiran bayinya. Nona perdarahan." ucap David.
Bunda Yuli sontak membungkam mulutnya tak percaya. Apa yang ditakutkannya terjadi lagi.
"Bagaimana keadaan anak anaknya.." sahut Bunda Yuli
David menggeleng lemah, ia juga belum sempat menanyakan perihal itu.
"Kita tunggu dokternya saja. Tenanglah." ucap Tuan Admaja
"Anak pembawa sial.. pasti ini karena anak itu.!"batin Bunda Yuli geram
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka kembali, dua orang perawat membawa dua bayi dalam inkubator portabel. Bunda Yuli langsung menghentikan dua orang itu.
"Tunggu apa ini dua cucuku?" tanyanya dengan mata berkaca kaca.
"Benar nyonya. Kami akan membawanya ke ruang NICU." kata perawat itu.
Tuan Admaja, David, Selly dan Kiran ikut melihat bayi tampan itu.
"Wah, tampan sekali. Mirip Tuan Edward semua.." celetuk Kiran dengan senyum merekahnya.
Hal itu sontak mendapat anggukan dari yang lainnya. Tuan Admaja tersenyum lebar, ia mengusap sudut matanya yang tampak basah karena saking terharunya.
"Cucu kakek.. kamu tampan sekali..sehat sehat ya didalam sana. Kami menyayangimu." ungkapnya.
Dua perawat itu tersenyum, "Maafkan kami Tuan, nyonya, nona, kami harus membawanya."
"Baiklah. Jaga cucuku dengan baik." ucap Tuan Admaja dan diangguki dua perawat itu.
David segera memberi tanda anak buahnya untuk mengikuti dua orang perawat itu. Ia tak ingin kecolongan dan menimbulkan masalah baru. Ia sudah lelah jika harus berurusan dengan para pecundang yang suka bermain dibelakang layar. Bikin pusing, karena seperti main petak umpet, mereka pikir kita ini tidak punya pekerjaan lain, pikirnya.
Selang satu jam, brankar Aurora didorong keluar. Aurora nampak tertidur dan dilengan kanan dan kirinya terdapat dua cairan merah dan putih yang menggantung dan disangga dua perawat.
Selly mengusap dadanya, prihatin akan kondisi nona mudanya. "Sebegitukah sakitnya orang melahirkan," batinnya. Pikirannya jadi membayang ke Yuna kakak kandungnya, ia tak bisa membayangkan betapa menderitanya Yuna waktu itu. Ditengah sakitnya , ia juga harus mengandung anak dari pria yang tak dikenalnya.
"Beruntung sekali Brian masih bisa bertemu kak Yuna walau hanya enam bulan. Padahal sakitmu tak pernah diobati selama tujuh bulan. Tuhan sayang sekali padamu Kak, Kau memang wanita tangguh. Andai kau masih hidup, aku yakin jika kau akan cocok jika berteman dengan nona Aurora. Aku seakan melihat dirimu dalam jiwa nona Aurora kak." Batin Selly sendu.
"Dokter apa yang terjadi,.!" Tanya David cemas. Padahal ia sudah memberi perintah untuk melakukan hal terbaik untuk Aurora, nyatanya harapan tak sesuai kenyataan.
"Kami akan memindahkan keruang ICU. Nona Aurora perlu mendapat perawatan intensif. Doakan semoga lekas membaik. Kami sudah melakukan yang terbaik. Ini juga diluar kuasa kami." ucap Dokter wanita itu.
"Kami mengerti. Terima kasih atas kerja keras anda dokter." ucap Tuan Admaja.
"Sama sama Tuan."
"Kau sudah mengabaikan peringatanku anak badung. Aku akan memberimu pelajaran." Batin Bunda Yuli dan melirik sinis Selly. Sayangnya yang dilirik pun tak mengetahui karena sedang menatap sendu brankar Aurora yang didorong.
Tapi gerakan mata itu disadari oleh David yang memang sedang berdiri didepannya. Ia mengerutkan dahinya, "Ada masalah apa mereka, kenapa aku merasa ada yang aneh. Tatapan apa itu." batinnya.
.
.
__ADS_1
.
######