Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Menyusup


__ADS_3

"Benarkah Laura punya kembaran?"


Itu yang dipikirkan Aurora saat ini. Ia benar benar tidak mengerti, tapi bagaimana dengan bukti bukti penemuannya. Sepertinya ia harus melakukan pertemuan dengan Mira dan Yudha setelah ini. Tiba-tiba saja teringat jika Yudha saat ini masih berada di rumah sakit.


"Al, bagaimana kamu bisa yakin jika ibumu melahirkan bayi kembar. Ini sedikit tidak masuk akal. Maksudku, dalam penyelidikan kami tak menemukan bukti yang mengarah ke sana. Kami hanya menemukan satu anak yang telah diadopsi oleh keluarga Ying. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?"


Aurora mengutarakan pemikirannya. Tidak percaya jika pencariannya selama tiga tahun belakangan ini ternyata belum menemui titik terang.


"Tentu saja aku yakin. Aku melihatnya sendiri saat itu, seorang perawat menunjukkan bayi itu pada ku bergantian."


Jingmi memicingkan matanya, tapi pria itu tampak masih memilih bungkam dan menjadi pendengar yang baik.


"Tidak mungkin. Bagaimana itu bisa terjadi." Aurora menggeleng tak percaya.


"Apanya yang tidak mungkin! Oh God!! Aku berani bersumpah Aurora. Ibuku melahirkan dua bayi. Aku melihat dengan dua mataku ini. Mana mungkin aku keliru!"


Aldi berbicara dengan menggebu-ngebu menyakinkan Aurora. Ia sudah bicara jujur tapi Aurora seakan tak mempercayainya. Ia bingung sebenarnya ada apa. Ia datang menemui Aurora hari ini karena ingin melihat catatan hasil penyelidikan yang di dapat Aurora dan mencocokkanya dengan yang di dapatnya. Ia jadi berpikir seharusnya Aurora bertanya padanya sebelum melakukan pencarian.


"Aurora bisakah kamu mengambil hasil itu? Boleh aku melihatnya? Terus terang saja, aku mendengar berita ini dari papamu. Dan seseorang menghubungiku jika kamu dalam bahaya. So, aku akan tinggal sementara di sini dan kamu tidak boleh menolak." ujar Aldi menatap lekat Aurora, entah mengapa wanita itu tampak semakin cantik saja di matanya.


Aurora menghela nafasnya, ia pikir jika ini kerjaan suaminya. Apa suaminya tidak tahu jika putra kembarnya sangat menginginkan Aldi jadi papanya. Ia pikir, suaminya telah salah mengambil keputusan kali ini.


"Aku akan memberikan hasil itu, tapi tidak jika kamu ingin tinggal di sini. Tolong jangan merusak nama baikku. Aku sudah lelah Al. Tolong kamu mengerti. Aku tidak ingin namaku terseret seret lagi."


"Hei, sebenarnya apa masalahmu! Kenapa kamu bisa selemah ini,hah...! Kenapa kamu jadi mendengar kata orang. Selama kita dijalan yang benar, untuk apa pedulikan nitizen. Kau tidak seperti biasanya Aurora, ada apa?" tanya Aldi tampak begitu perhatian.


"Tentu saja aku takut suamiku cemburu. Aku ingin menjaga perasaannya, walau ini keinginannya sendiri. Aku sudah lelah dengan banyak masalah, aku sedang tidak ingin berurusan dengan media Al." jawab Aurora dalam hati.


Jingmi menaikkan dua alisnya, ia pikir jika kalimat 'janda lebih menggoda patut disematkan pada Aurora. Ia kadang merasa kasihan melihat berita miring tentang wanita itu. Hebatnya, wanita itu terlihat tak mempedulikan semua itu, tapi ternyata ia salah besar. Aurora hanyalah manusia biasa yang bisa sakit hati ketika mendengar ucapan buruk orang lain walau terlihat tak peduli. Ah seandainya Aurora bukan milik Edward, ia dengan senang hati akan berebut cintanya.

__ADS_1


"Jangan pikirkan aku. Aku baik baik saja. Aku akan ambilkan berkas yang kamu inginkan dan kau bisa mempelajarinya. Tunggu sebentar." Aurora bangkit berdiri, dan meninggalkan dua pria itu.


Ditempat lain.


Roxi tampak mengintai rumah Aurora dari jarak yang cukup jauh. Dari bangunan tinggi itu, ia bisa melihat siluet rumah besar bercat putih yang terlihat menonjol dari rumah lainnya.


Wanita itu terlihat begitu serius dengan dengan teropong di tangannya. Ia melihat banyak pergerakan di luar rumah tapi ia tak menemukan sosok yang sedang dicarinya.


Ck..sebenarnya kemana wanita itu, kenapa ia tak jua keluar rumah, gumamnya pelan.


Wanita itu tampak kesal dan terus berdecak. Ini sudah kesekian kalinya ia meneropong tapi ia tak mendapatkan hasil apapun.


Wanita itu memilih masuk ke dalam dan memerintahkan seseorang untuk meretas cctv yang berada di rumah itu. Ini sedikit berbahaya, tapi ia yakin jika seseorang ini mampu melakukan tugas ini dengan baik.


"Lauren." panggil Roxi dan membuat wanita itu seketika menoleh ke belakang.


Lauren masih dengan santainya mengunyah permen karet dan menggembungkannya.


Lauren adalah salah satu tim IT wanita yang dibawa Madam Yora dari Honduras. Dia ditugaskan menjadi mata mata bersama Roxi.


Wanita ini berdandan layaknya seorang bad girl dengan tindik di hidung dan sebuah tato burung gagak di bahu hingga lehernya. Matanya terlihat tajam karena penggunaan eyeliner hitam. Wanita itu memutar bola matanya malas ketika Roxi mendekatinya.


Roxi duduk di sebelah Lauren dan memasang wajah serius. "Aku harap kau bisa membantuku."


"Jangan katakan kau memintaku untuk meretas cctv di rumah Aurora. Ingat Roxi! ini sangat berbahaya jika mereka menemukan lokasi kita. Minta saja anak buah lainnya mengintai dari jarak yang lebih dekat. Kau tau risikonya bukan."


Roxi terdiam begitu mendengar penolakan dari kawannya, ia memicingkan mata, menatap kesal pada wanita berambut pendek itu.


"Aku bahkan belum mengutarakan maksudku, kau dengan beraninya menolak permintaanku. Apa kau sudah bosan hidup! tapi sayangnya tebakanmu benar." Roxi menatap malas Lauren.

__ADS_1


"Wow. Aku tak menyangka."


"Roxi dengarkankan aku. Apa yang aku katakan tadi benar adanya. Jangan bertindak bodoh yang akan merugikan kita sendiri. Mereka bukan orang sembarangan yang bisa mudah kita sentuh. Kau tidak tau betapa bahayanya mereka."


"Cobalah sekali saja. Apa kau mau membiarkan aku jamuran menunggu wanita itu keluar! Oh ini sangat membosankan." keluhnya kesal.


"Wow, aku pikir kau sedang jatuh cinta. Apa tebakanku benar?" tanya Lauren serius.


"Hei! apa yang kau katakan! aku tidak jatuh cinta. Memang siapa yang bisa aku cintai! Ck. Menyebalkan! Apa yang membuatmu berpikir seperti itu!"


"Calm down baby. Ku pikir kau menjadi bodoh. Dari pada kamu memintaku meretas cctv di rumahnya, sebaiknya kita mengacaukan perusahaan Eternal Glory, mungkin itu bisa membuat wanita itu keluar. Aku rasa Lukas adalah pria bodoh diantara mereka. Ia hanya pandai mengurus perusahaan." Senyum licik terukir jelas di bibir Lauren.


"Kau benar. Aku setuju jika begitu. Cepat! segera selesaikan tugasmu!" Roxi terlihat bersemangat.


Lauren memutar bola matanya malas, tapi ia tetap menyalakan komputer untuk melakukan aksinya. Ia harap keamanan di perusahaan EG tak sekuat milik GL.


Sedangkan Roxi tampak bersemangat. Itu terlihat dari wanita itu menepuk kedua tangannya.


"Lauren, kita curi datanya dan kita jual pada musuhnya. Ini pasti akan sangat menguntungkan kita."


"Wow. Kau licik Roxi, tapi aku setuju denganmu. Mungkin kita akan jadi milyader setelah ini."


Keduanya terkekeh membayangkan. Mereka tidak tau saja jika masih ada Brian di belakang mereka. Semoga saja komputer mereka tidak terkena masalah besar setelah ini.


.


.


.

__ADS_1


######


__ADS_2