Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Pengumuman kelulusan


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺🌺


Mereka kembali ke rumah, banyak hal yang belum bisa Al katakan pada Ajeng, ia ingin sekali mengatakan kalau ia begitu mencintainya, tapi rasa takut akan di jauhi Ajeng membuatnya tak bisa mengatakan yang sejujurnya.


Hari pengumuman kelulusan buat Ajeng, bersama dengan Ajeng hanya tinggal beberapa hari saja, acara perpisahan juga tinggal beberapa hari, sedangkan Ajeng harus menjawab tantangan dari Sisil.


Ajeng meminta bantuan dari Rita dan Dika. Mengenai lagu dan segala macam, ia sampai harus les vokal hanya untuk persiapan acara perpisahan, ia tidak mau Sisil menang, untuk beberapa hal Sisil memang sering menang darinya, tapi untuk Al, Ajeng tidak mau berkompromi.


🌺🌺🌺🌺


Pagi ini semua siswa kelas 12 sudah berkumpul di depan papan pengumuman, melihat nama mereka di jajaran yang mana, yang L atau yang TL, walaupun hanya dua pilihan, hal itu berhasil membuat semua siswa kelas 12 yang jumlahnya hampir tiga ratus itu tidak bisa tidur semalaman, hanya untuk menunggu pengumuman itu.


"Rit ...., Bagaimana?" Teriak Ajeng yang berada di belakang, sedang Rita dan Dika sudah berada tepat di depan papan pengumuman.


Ajeng datang terlambat, ia tidak bisa menyusup ke depan karena terlalu berjejal.


"Bentar ...., Aku liat dulu ....!" Rita tampak membaca semua daftar dari atas ke bawah.


"Jeng ...., Aku lulus ...!" Teriak Rita kemudian.


"Syukurlah .....!" Ajeng tersenyum senang mendengar sahabatnya itu lulus.


"Aku bagaimana?" Ajeng semakin cemas, karena sudah terlalu lama sahabatnya itu berada di depan papan itu, tapi tak juga menemukan namanya.


Rita sudah keluar dari kerumunan, ia menemui Ajeng,


"Kenapa namamu tidak ada ya!"


"Tidak ada!?" Kaki Ajeng terasa lemas mendengar pernyataan Rita, namanya tidak ada di jajaran daftar L, lalu namanya di mana?


"Dik ...., Apa kau juga tidak menemukannya?" Tanya Ajeng bergantian pada Dika.

__ADS_1


Dika pun juga menggeleng, Dika sudah menemukan namanya sedari tadi, kini Dika keluar dari kerumunan, begitupun dengan Rita, mereka menghampiri Ajeng yang sudah terduduk lemas.


"Kenapa nama aku nggak ada ya?" Ajeng benar-benar sudah sangat sedih, ia tidak bisa membayangkan wajah-wajah kecewa dari orang-orang yang ia sayangi, bapak, ibu, mbak Diah, dan mas Al.


Prok prok prok


Tiga gadis pengganggu datang, mereka gengnya Sisil, Sisil yang berada di tengah tersenyum puas melihat Ajeng yang sedih.


"Kenapa jeng, nggak lulus ...., Sayang banget ya ...., Padahal pak Al sudah bekerja keras loh buat kamu ...!" Sisil berkata dengan nada yang mengejek dan ganjen ala Sisil


"Kamu bisa diam nggak Sil, mau aku sobek mulutmu itu!"


"Cek cek cek ....!" Sisil berdecak sambil menggelengkan kepalanya. "Aduh kasihan banget sih kamu Dik, nggak usah segitunya kali belain ajeng ya, dia itu nggak suka sama kamu, sukanya sama kakak kamu!"


"Sisil ....!" Teriak Rita.


"Kenapa? Kutu buku ...., Mau bela sahabat kamu yang nggak lulus ini ...., Lihat nama aku, masuk ke posisi 20 besar, luar biasa kan...., Sudah cantik, pintar lagi. Aku sampai nggak tahu apa sih yang di lihat pak Al dari cewek udik kayak kamu ini jeng ...., Sudah udik, urakan lagi!"


"Permisi ...., Permisi ....!" Pak TU tiba-tiba memecah kerumunan siswa yang sedang melihat papan pengumuman dengan membawa selembar kertas yang hendak di tempel ke papan pengumuman.


"Itu apa pak?" Tanya salah satu siswa.


"Ini daftar siswa yang memiliki nilai sepuluh besar!" Setelah berhasil menempelkan kertas itu, pak TU segera mundur dan membiarkan para siswa melihatnya lagi.


Pak TU yang hendak menuju ke ruangannya, menghentikan langkahnya dan menghampiri Ajeng dan teman-teman nya.


"Selamat ya jeng, kamu masuk sepuluh besar!" Ucap pak TU sambil menepuk punggung Ajeng. "Semoga sukses!"


Ajeng yang masih tak mengerti ia hanya bisa diam tanpa membalas sapaan dari pak TU, setelah pak TU meninggalkan mereka, Rita segera berlari ke papan pengumuman, sedangkan Sisil juga masih terdiam di tempatnya, ia juga masih mencerna ucapan dari pak TU.


Tak berapa lama, Rita sudah kembali dengan tersenyum senang dan memeluk Ajeng.

__ADS_1


"Selamat ya Jeng, kamu masuk sepuluh besar, bukan ...., Bahkan kamu masuk tiga besar, kamu mengalahkan juara-juara paralel yang lain!"


"Apa?" Ajeng masih tak percaya. Dika pun segera melihat papan pengumuman itu, dan benar yang di katakan Rita, Ajeng masuk tiga besar, si cewek badung yang suka telat, banyak sekali catatan merahnya kini sudah menorehkan prestasi.


Rita segera berdiri dan menghampiri Sisil, ia berkacak pinggang menyombongkan diri.


"Apa tadi kamu bilang, Ajeng bukan siapa-siapa, Ajeng udik, Ajeng urakan, tapi Ajeng adalah yang terbaik. Dan kamu hanya cantik luarnya saja, tapi dalamnya nol besar!"


Seakan malas menanggapi ucapan Rita, Sisil dan the gank segera meninggalkan Ajeng dan sahabat-sahabatnya.


"Selamat ya Jeng!" Dika memberikan selamat pada Ajeng, memeluknya sebagai seorang sahabat,


Dika sudah bisa mengikis perasaannya pada Ajeng karena sekarang ia tahu bagaimana perjuangan abangnya untuk mencintai Ajeng, abangnya sampai rela menjadi guru demi Ajeng, tinggal di tempat yang jelas jauh dari perusahaannya.


"Ini semua berkat mas Al, aku juga harus berterimakasih padanya!"


"Jangan khawatir, bang Al sudah menunggumu di sana!" Dika menunjuk sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari mereka. Ajeng menghapus air matanya dan merapikan bajunya yang sempat berantakan, baju seragam putih abu-abu itu, akan segera ia tanggalkan.


"Silahkan !" Seseorang sudah menunggunya di samping mobil, tapi itu bukan Al, Ajeng menoleh pada Dika.


"Sudah ikut aja, mobil itu akan membawa kamu ke bang Al, dia sudah menunggumu terlalu lama!" Teriak Dika. Ajeng pun tersenyum, walaupun sedikit ragu tapi Ajeng tetap masuk ke dalam mobil itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2