
Pagi harinya, Edward dan Aurora yang sudah bersiap kekantor, dikejutkan dengan Brian yang mendadak ingin ikut kekantor. Dia tampak berlari menghampiri Edward dan Aurora yang sudah berada di teras mansion dengan dua mobil yang terparkir rapi didepannya. Seperti biasa, Brian membawa tas ransel dan headphone dilehernya. Ia berseru memanggil ayahnya.
"Daddy tunggu..!!" serunya, menghentikan langkah Edward yang hendak masuk mobil.
"Ada apa?" tanya Edward yang memandangi tubuh mungil Brian.
"Blian ikut.!!" serunya dengan mendongakkan kepalanya menatap rumit wajah Edward.
"Ikut..?" beo Edward mengerutkan dahi.
"Hemm.." Brian mengangguk antusias.
Edward melihat jam tangannya,"Tapi pagi ini daddy ada meeting, ..."
"Tak apa...! Blian tunggu diluang kelja Daddy. Blian bosan dilumah." Brian mengedipkan matanya memohon.
"Baiklah, salim Mommymu dulu." ucap Edward menasehati.
"Mommy salim,.." Brian mencium punggung tangan Aurora. Aurora balas mengusap kepala Brian dengan sayang.
"Jangan merepotkan daddymu, kapan kapan ikut ke kantor mommy." Aurora berjongkok dan mengecup pipi putranya. Brian mengangguk dan tersenyum lebar.
"Baiklah ayo masuk,.!" Perintah Edward pada putranya dan langsung diangguki oleh Brian. Aurora menatap bahagia melihat ayah dan anak itu. Bagaimana bisa, suaminya sangat menyayangi Brian seperti darah dagingnya sendiri. Bahkan sudah merawatnya sebelum pernikahan mereka. "Mana ada pria yang seperti itu selain suamiku." Batin Aurora bangga.
"Sayang aku berangkat, hati hati dijalan. Jangan pulang terlalu malam. I love you." ucap Edward dan diakhiri dengan mencium kening Aurora dan mengusap pelan perut istrinya.
"Love you too." Aurora tersenyum dan masuk mobilnya. Keduanya sama sama kekantor, dengan mobil dan jalan yang berbeda. Dua orang itu harus berpisah kembali selama belasan jam untuk bisa bersama kembali. Menunaikan segala aktivitas dan kegiatan masing masing, hanya sesekali memberi kabar. Kepercayaan dan keyakinan yang menjadi dasar dari cinta mereka. Kehidupan orang kaya memang kadang terasa membuatnya tertekan, ia harus mengorbankan banyak waktunya untuk pekerjaan yang diembannya. Atas dasar cinta inilah yang selalu membuatnya kuat. Aurora tersenyum menatap foto dirinya bersama Edward saat bulan madu waktu itu.
.
.
" Dad, kenapa kita pakai mobil ini? kemana mobil biasanya? gak biasanya daddy pakai mobil ini." tanya Brian menatap rumit ayahnya yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Edward mengalihkan pandangannya menatap Brian penuh selidik. "Anak ini rupanya selalu mengamati keadaan sekitarnya. Aku jadi penasaran berapa IQ anak ini." batin Edward
"Mobilnya mau dibawa kebengkel, body sebelah kanannya sedikit penyok. Kemarin ada insiden kecil dijalan bersama Mommymu."
"Apa semua baik baik saja,.. Apa dad n mom tidak teluka? Bagaimana bisa bodyguard daddy lalai dengan tugasnya. Om Kevan ada dimana saat itu..! Apa yang Om Kevan keljakan hingga daddy diselang...!!" omel Brian menatap Kevan dari spion tengah. Ekspresinya menunjukkan kekesalan dalam hatinya.
"Maafkan saya Tuan muda kecil, saya lalai. Mohon hukum saya." ucap Kevan sambil melirik kearah belakang.
__ADS_1
"Ya. Paman memang halus dihukum.!" jawab Brian tegas.
Kevan menelan salivanya susah payah, ia tak menyangka Brian mempunyai aura yang sama seperti King mereka, padahal dia bukan anak kandungnya.
"Sudahlah Brian, Daddy dan Mommy baik baik saja, lagian ini juga bukan salah Om Kevan. Daddy yang minta untuk menyetir mobil sendiri." Edward mengusap rambut Brian dengan sayang.
"Tapi,.."
"Memaafkan jauh lebih baik. Ini bukan kesalahannya. Lagian harusnya kita berterima kasih pada Om Kevan, kalau tidak ada om Kevan mungkin daddy dan mommy akan kualahan menghajar mereka, apalagi saat itu sedang hujan deras."
Brian diam saja, menatap rumit Edward dan Kevan. Pikirannya membayang kemana mana. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada ayahnya, tapi ia juga tidak bisa melakukan apa apa. Hanya pikirannya saja yang sudah dewasa, tapi tidak dengan fisiknya. Dia hanyalah anak anak yang masih butuh perlindungan orang dewasa. Otaknya hanya bisa sebatas membantu ayahnya, tapi tidak dengan tubuhnya. Ia menghela nafasnya pelan. "Kapan aku menjadi dewasa..." batin Brian bertanya.
"Jangan cepat jadi dewasa. Tidak ada enaknya menjadi dewasa. Kamu akan terbebani dengan banyak hal. Jika kelak kamu jadi seorang kakak, daddy mohon jaga adik adikmu dengan baik, sayangi mereka seperti kamu menyayangi daddy. Daddy mengandalkanmu."
Brian terhenyak dengan penuturan ayahnya, dia bergeming, menatap ayahnya sendu, seakan akan akan kehilangan cinta kasihnya. Ia kemudian menganggukkan kepalanya.
"Aku akan menjadi kakak yang baik. Daddy bisa mengandalkanku." ucap Brian mantap.
"Good boy, kamu memang yang terbaik."
.
.
Matanya terus terfokus menatap layar laptopnya, kacamatanya yang melorot dari hidung kecilnya sesekali ia naikkan keatas, kursinya sesekali ia putar kekanan dan kekiri. Ia sangat begitu serius.
Edward memperhatikan tingkah Brian sambil bersedekap dada. Dibelakangnya ada Lukas yang membawa setumpuk dokumen. Mengeryit heran kenapa Edward tak juga masuk kedalam ruang kerjanya dan malah berdiri ditengah tengah pintu. Ia mengintip dibalik punggung Edward. Rupanya ia juga tersenyum melihat keasyikan Brian yang tak menyadari kehadiran mereka.
"Ehem"
Edward berdehem kecil sebelum masuk ruang kerjanya.
"Selamat siang presdir.." sapa Edward pada putranya, diikuti Lukas dibelakangnya.
Brian menaikkan dagunya, lalu membenarkan letak kacamatanya.
"Siang. Silahkan duduk. Saya ingin bicala dengan Tuan Tuan." kata Brian dengan mengarahkan tangannya ke kursi didepannya. Ia sengaja meniru seperti Edward saat menerima tamu.
Edward dan Lukas saling berpandangan, mereka punya pikiran masing masing. Tapi mereka tetap mengiyakan perintah Brian.
"Ada apa Bry?" tanya Edward to the point
__ADS_1
"Panggil saya Tuan muda." jawab Brian lucu
Lukas mati matian menahan tawanya melihat tingkah Brian yang seperti bos. Sudah seperti Edward dalam versi angkuhnya.
"Baiklah Tuan muda, apa yang akan anda bicarakan pada kami. Kami tidak ada waktu untuk bermain main. Kami masih punya banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan." ucap Edward menahan kesal melihat kekonyolan putranya.
"Daddy, segela pecat olang olang ini.!" perintah Brian tanpa berkedip tanda ia sedang serius.
Brian memutar laptopnya kearah Edward dan Lukas. Sedangkan Brian tersenyum miring. Benar benar mirip gaya Edward.
Terkejut. Tentu saja, apalagi Lukas.
"Bagaimana dia bisa tau." batin Lukas
"Daddy,..!" seru Brian karena tak mendapatkan tanggapan serius dari ayahnya.
"Hem.."
"Kenapa meleka tidak langsung dipecat saja.Tikus tikus got sepelti meleka tidak pantas bekelja di pelusahaan ini. Apa yang daddy peltahankan? Meleka hanya akan jadi kankel yang lama lama menggelogoti tubuh pelusahaan. Meleka tidak bisa dibialkan begitu saja. Meleka halus segela dihukum Dad..! Meleka olang jahat, pikilannya hanya ada uang diotak meleka, meleka lupa dali mana kehidupan meleka dimulai. Daddy sudah cukup jadi olang baik. Daddy halus tegas masa meleka.!!" ucap Brian berapi api.
Edward menghela nafasnya pelan. Bingung menjelaskan pada putranya. Tidak seharusnya anak kecil itu terlibat masalah orang dewasa.
"Brian, sebaiknya hentikan bicaramu. Jangan ikut campur urusan orang dewasa. Daddy akan segera menyelesaikan masalah ini. Kamu jangan sampai menghancurkan rencana daddy.!!" kesal Edward melempar berkas yang ada ditangannya.
"Daddy...!! Sudah lama Blian mempelhatikan gelak gelik meleka, apa bukti ini belum cukup. Apa yang daddy tunggu..! Pala yakusa itu tak sepantasnya belada dipelusahan ini. Oke kalau daddy masih melindungi meleka, Blian yang akan tulun tangan." ucap Brian dan turun dari kursi kerja Edward.
"Brian..!!"
"Stop. Jangan halangi Blian. Sudah cukup kekacauan ini Dad.!"
Brian pergi dan menutup keras pintu ruang kerja Edward.
"Ck. Monster kecil itu bisa menghancurkan rencanaku kalau dia bertindak lebih dulu. Aghhh sial.! apa dia lupa dengan tubuhnya, apa dia merasa sudah dewasa.." gerutu Edward. Berjalan gusar mengejar putranya.
"BRIAN TUNGGU...!!"
.
.
.
__ADS_1