
"Apa aku halus memilih salah satu diantalanya mom, tapi untuk apa?" tanya Brian sambil kembali melihat kearah monitornya.
"Hem, benar. Mom ingin kamu yang menentukan rumah yang seperti apa yang kamu inginkan. Mom udah pilah yang terbaik dari yang baik."
"Apa kita akan pindah ke kawasan ini mom?" tanya Brian sedikit terkejut dengan rencana Aurora.
"Tentu saja."
"Wow, Benalkah!! Ah senangnya.. thank you mom." ucap Brian dengan senyum merekahnya. Dalam hatinya, ia bersyukur karena tak canggung lagi jika berhadapan dengan neneknya.
Aurora hanya bisa tersenyum melihat Brian yang kembali ceria.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya, ia tersenyum ramah setelah tau siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Ayah,.." sapa Aurora.
Tuan Admaja tersenyum, "Maaf, apa ayah mengganggu istirahatmu?"
"Tidak ayah."
"Dimana cucu cucuku? Apa mereka sedang tidur?"
Aurora langsung membuka pintu kamarnya lebar lebar. "Lihatlah kedalam ayah."
"Biarkan saja jika mereka tidur. Ayah hanya ingin bicara berdua padamu. Bisakah kamu ke ruang kerja Ayah sebentar, ada yang ingin ayah sampaikan padamu." ucap Tuan Admaja.
"Baiklah, sebentar."
Aurora kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil ponsel dan mengaktifkan baby monitor untuk memantau dua bayinya selagi ia tinggal pergi.
"Boy, mom ke ruang kerja kakek sebentar ya, jika adik menangis panggil mom atau minta tolong bibi ya."
"Okey mom." Brian mengacungkan jempolnya.
Sampai diruang kerja Tuan Admaja, Aurora duduk di kursi dengan perasaan yang penuh tanda tanya. Ada hal penting apa pikirnya.
"Aurora, apa kamu sudah mulai bekerja?" tanya Tuan Admaja
"Iya Ayah, aku hanya mengecek sedikit perkembangan perusahaan. Lainnya aku serahkan pada Kak Andi dan Asistenku." jawab Aurora.
"Hem,." Tuan Admaja mengangguk dan seperti terlihat berpikir.
"Ada apa ayah, apa ayah butuh bantuanku?" tanya Aurora seakan mengerti pikiran Tuan Admaja.
__ADS_1
Tuan Admaja tersenyum, "Ya, seperti yang kamu ketahui. Perusahaan Ayah sedang membutuhkan pemimpin baru untuk menggantikan posisi Edward yang masih belum sadarkan diri." Tuan Admaja menghela nafasnya yang terasa berat.
"Memangnya ada apa? Apa ada masalah? Bukankah selama ini baik baik saja dipegang ayah dan Lukas?"
"Ya,.. itu memang benar, tapi akhir akhir ini, para pemegang saham sebagian ada yang berniat menggulingkan Edward suamimu, sebenarnya ayah hanya tidak ingin perusahaan dipegang oleh orang lain." ucap Tuan Admaja
"Lalu apa maksud ayah memanggilku kemari?" tanya Aurora serius.
"Ayah ingin kamu yang menggantikan posisi suamimu sebagai ceo disana. Ayah akan pindah tangankan saham ayah kepadamu atas nama cucu kandungku Aldevaro sebagai pewaris yang sah."
Aurora terdiam mencerna kalimat yang diucapkan Tuan Admaja.
"Ayah, bukan aku menolak niat baik ayah, tapi ayah masih punya Amelia. Bagaimana dengannya?"
"Aurora, Amelia masih kuliah, dia bahkan belum mengerti bisnis. Menunggu dia bisa ,kita bisa gulung tikar saat ini juga. Kamu mau hal seperti ini terjadi?" Ucap Tuan Admaja
"Tapi..." ucap Aurora menggantung. Ia jadi teringat banyaknya pekerjaan yang sekarang harus diemban diwaktu bersamaan.
"Apa yang kamu pikirkan, Bukankah perusahaan ayahmu sekarang dipegang oleh Andy? AR programer juga dibawah kendali Selly. Ayah akan membantumu dari belakang jika kamu dalam kesulitan." bujuk Tuan Admaja.
Aurora terdiam kembali. Sebenarnya ia sangat enggan sekali menerima tawaran itu. Masalahnya disini, perusahaan suaminya jauh lebih besar dibandingkan perusahaannya, bahkan mitra bisnisnya juga pasti lebih banyak,ia merasa jika dirinya pasti akan sering pergi perjalanan bisnis, luar kota bahkan luar negeri. Dan yang sekarang dalam otaknya, bagaimana nasib ketiga anak anaknya jika ia disibukkan dengan pekerjaan terus menerus tanpa henti, dan kapan ia bisa menikmati waktu bersama mereka. Baru membayangkannya saja Aurora sudah engap sendiri.
"Ayah mohon dengan sangat Nak, kita punya banyak orang yang bergantung dengan kita. Kamu tega melihat mereka kehilangan pekerjaannya?" tanya Tuan Admaja yang mencoba membujuk.
"Baiklah, ayah tidak akan memaksamu, tapi tolong pikirkanlah ucapan Ayah. Ayah tau dengan keadaan mu saat ini. Hah.. andai saja Edward tidak sakit seperti ini."
"Ayah, Aurora butuh waktu untuk mempertimbangkan hal ini. Bagaimanapun juga, ini adalah pekerjaan besar. Aurora mohon untuk bersabar sebentar. Aurora pastikan akan membantu perusahaan Ayah sebisa Aurora."
Tuan Admaja tersenyum, "Terima kasih nak. Kamu memang wanita baik, Edward beruntung bisa memilikimu. Maafkan ayah, disaat seperti ini, keadaan ayah malah seperti ini."
"Jangan menyalahkan keadaan Ayah, ini sudah takdirNya."
"Ayah, sebenarnya ada yang ingin Aurora bicarakan pada keluarga. Ini mengenai kak Edward..." ucap Aurora menggantung, ia ingin melihat reaksi Tuan Admaja.
"Katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan!"
"Aurora berencana, kalau keluarga tidak keberatan, Aurora ingin membawa pulang kak Edward. Ini juga untuk mengurangi beban pikiran kita semua. Aurora ingin ikut merawat kak Edward, mungkin dengan kehadiran anak anaknya bisa membantu kesembuhan Kak Edward."
Tuan Admaja diam menyimak, memikirkan langkah yang akan ia ambil. Ia tidak ingin ambil keputusan yang salah dan akan membuat masalah kembali, apalagi nyawa Edward masih diincar banyak orang.
"Aurora juga ingin mengatakan, Aurora akan pindah dari mansion ini setelah rumah kami selesai dibangun Ayah, Aurora harap keluarga disini tidak akan keberatan dengan keputusan Aurora."
"Kenapa harus pindah, bagaimana dengan anak anak? Mereka akan sendirian jika kamu pergi kerja." ucap Tuan Admaja, seolah tidak setuju dengan keputusan Aurora.
"Maaf Ayah, itu sudah menjadi keputusan Aurora."
__ADS_1
"Hah, Ayah bisa apa jika ini sudah keputusanmu. Ayah akan membicarakan hal ini dengan Bundamu. Ayah harap kamu memikirkan ulang keputusanmu. Beban yang kamu tanggung akan semakin berat setelah ini nak, apalagi jika Edward akan tinggal bersamamu. Ayah harap kamu tetap menjadi wanita kuat dan tegar."
"Dan apapun itu, tolong bicarakan pada kami. Kami adalah orang tuamu juga. Jangan memendam masalah sendiri." ucap Tuan Admaja lagi.
Aurora tersenyum dan mengangguk. Ia merasa bahagia karena kemungkinan besar keputusannya akan disetujui oleh keluarga. Sudah lama ia ingin membangun rumah tangganya sendiri.
.
.
Diperusahaan Hardy, Andi sedang berkutat dengan laporan untuk launching brand baru mereka. Ia menoleh ketika pintu ruangannya terbuka kasar tanpa mengetuk pintu sebelumnya.
BRAK
Andi mendongak dan melotot kesal dengan orang yang sudah ada didepannya. Sayangnya yang dipelototi seakan tak peduli dan malah dengan santainya ia duduk dikursi depannya.
"Tuan Alex, anda tau tata krama bukan?" Sindirnya pelan.
"Oh maaf, aku tidak sengaja." ucap Alex santai
"Ada apa, kenapa anda kemari, apa pekerjaanmu begitu senggang ?" tanya Andi malas.
"Cih, kalau saja aku tak butuh bantuanmu males banget aku kemari" ucap Alex menyebalkan.
Andi mengeraskan rahangnya, cukup gerah dengan kelakuan Alex, bisa bisanya ia berteman dengan makhluk didepannya.
"Oke. Apa yang ingin kamu bicarakan padaku!" ucap Andi datar.
Alex menyodorkan berkas yang ia bawa. "Baca dan lihat baik baik."
Andi memandang sekilas Alex lalu beralih menatap berkas didepannya. Ia membuka dan membacanya , tampak Andi sesekali mengerutkan dahinya. Lalu memandang kearah Alex.
"Apa yang kau inginkan dariku!" tanya Andi menatap tajam Alex. Perasaannya sudah tidak enak saja.
"Culik pria dalam foto itu!"
.
.
.
####
#HARAP SABAR JIKA SERVERNYA EROR#
__ADS_1