
Alex menghentikan mobilnya di basement Apartemen. Ia menggandeng tangan Zanitha dan membawanya ke lift. Tak ada pembicaraan antara keduanya. Alex memilih diam ketika melihat Zanitha memalingkan muka, dengan bibir mengerucut sebal.
"Dasar wanita, dimana mana sama." Batin Alex menggerutu.
Ketika lift sudah sampai dilantai hunian apartemennya, Alex langsung saja menarik tangan Zanitha untuk segera sampai di tempatnya tinggal.
"Apaan sih tarik tarik. Sudah sana pergi. Katanya mau kerja lagi. Ngapain nganter aku sampai atas.Aku bisa sendiri." ucap Zanitha. Alex masih diam sampai ia membuka pintu apartemennya.
Alex langsung menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya. Sedangkan wanita itu memilih merebahkan punggungnya di kasur empuk dan memejamkan matanya.
"Ze, aku pergi ya." tanya Alex yang sudah berganti pakaian.
"Gak usah pamit. Kamu tadi udah bilang. Aku udah tau." ucap Zanitha tanpa menoleh.
"Nanti mau dibawain apa?" tanya Alex.
"Nggak usah. Aku bisa sendiri. Biasanya juga gitu. Aku bukan cewek manja yang apa apa butuh kamu. Aku tidak seperti nonamu yang apa apa butuh kamu. Pergi sana gih. Tau gitu nggak usah bilang mau pulang. Jadinya aku kan nggak ngarep kamu berlebihan."
Alex terdiam. "Jadi apa maumu. Aku merasa kamu jadi berubah lho. Kamu gak seperti yang dulu, ada apa? Aku selama ini berusaha ngertiin kamu. Maaf kalau aku belum bisa jadi seperti yang kamu harapkan." ucap Alex kalem. Ia mendekati Zanitha dan mencium keningnya.
"Kamu laki laki nggak peka. Sana pergi." ketus Zanitha.
Alex langsung menindih tubuh Zanitha dan mencium bibir istrinya yang sedari tadi mengomel. "Ada apa, apa yang kamu pikirkan. Kamu ingin kita segera mengesahkan pernikahan ini hem." tanyanya lembut. Alex mencium kembali bibir itu.
"Ze, bersabarlah sebentar."
Zanitha langsung mendorong tubuh Alex. Ia kemudian duduk dan menatap nyalang suaminya.
"Kamu pikir, aku tidak malu dengar gunjingan orang lain?"
Alex mengusap wajahnya. "Kau tau musuhku banyak diluar sana. Aku tak ingin membuatmu celaka gara gara aku. Tolong mengertilah sebentar saja. Hanya sebentar." pinta Alex
"Makanya, Berhentilah jadi orang jahat! kalau sudah begini, kau tau itu karma kan. Tinggalkan GL!"
Alex terbelalak kaget. Ia menatap tajam istrinya. "Please jangan mencampuri urusan pekerjaanku, aku mohon." Alex masih berusaha mengontrol suaranya.
"Oke, sana pergi. Katanya mau pergi!" Zanitha beranjak.
Alex dengan sigap mencengkeram tangan Zanitha dan merebahkannya. Ia me ***** bibir itu rakus. Ia ingin memberi pelajaran pada istri nakalnya.
"Ini kan yang kamu mau. Oke, aku akan memberimu sebanyak yang kau mau. Bersiaplah, aku tak akan mengampunimu walau kau memintaku berhenti." ucap Alex dengan seringainya.
"Lepaskan aku." Zanitha memberontak.
Alex terus mencum bunya dan meloloskan pakaian istrinya hingga tertanggal semua. Alex tersenyum menyeringai.
"Alex apa yang kau lakukan." Zanitha meremas rambut Alex.
"Kau merindukanku hem, kau bisa memintaku baik-baik tanpa harus berkata kasar. Kau tau jika aku sangat mencintaimu, berhentilah berpikiran buruk."
__ADS_1
"Berhentilah bermain disana. Aku .. aku .."
Alex segera meloloskan pakaiannya sendiri dan mengarahkan batang nya yang sudah mengeras ke tempat seharusnya. Zanitha hanya menggigit bibir bawahnya.
SLUP
"Kau merindukan ini bukan?" Alex terkekeh sambil memompa dari atas. Zanitha akhirnya hanya bisa pasrah dibawah kungkungan Alex.
.
.
Sementara Aurora nampak menggerutu kesal. Kesenangan yang ia bayangkan dari rumah harus tertunda karena Alex yang belum menampakkan batang hidungnya. Ia merasa sudah terlalu lama menunggu, akhirnya ia memilih meninggalkan markas GL.
"Vin, kau ikut aku."
"Baik,tapi bagaimana dengan Bos Alex Queen." tanyanya ragu.
"Biarkan saja. Dia akan pasti menghubungiku. Lihat saja, aku akan menghukumnya karena membuatku menunggu lama. Dikiranya aku tak banyak pekerjaan." gerutunya sambil melangkah keluar. Kevin yang mengekori di belakangnya hanya bisa diam.
Kevin duduk di kursi kemudi, sedangkan Aurora duduk disebelahnya. "Nona, kita akan kemana?" tanyanya.
"AR programer."
Kevin hanya mengangguk dan segera mengerjakan tugasnya. Tak ada pembicaraan diantaranya. Aurora sibuk dengan ponselnya sedangkan Kevin fokus pada jalanan. Hingga sampailah di parkiran gedung itu.
Aurora menyipitkan matanya. Memandang gedung itu dari kejauhan. "Kevin, menurutmu jika aku berpenampilan seperti ini, apa aku akan diusir?"tanya Aurora sambil memasang maskernya.
Aurora tersenyum menyeringai dan keluar dari mobilnya. Ia berjalan santai dan memasuki gedung itu. Baru ia masuk, ia ditahan oleh seorang security. Kevin yang melihat itu hanya menghela nafasnya. Ia maju dan mendekati security tersebut.
"Maaf, kami sudah ada janji dengan Nona Selly. Jangan membuat masalah dengan kami." ucap Kevin.
Security itu memasang wajah curiga pada keduanya. "Maaf, saya hanya menjalankan tugas. Saya akan memeriksa kalian." Security itu menyalakan metal detektor yang ia bawa. Ia mengarahkan alat itu pada tubuh Aurora.
Aurora menatap datar pada security yang memeriksanya. Tiba-tiba terdengar bip pada alat itu yang berbunyi nyaring. Semua mata mengarah pada Aurora dan Kevin.
"Apa yang anda bawa, cepat keluarkan!" perintahnya mengintimidasi.
Aurora tersenyum miring dibalik maskernya. Ia mengambil pucuk pistolnya dan langsung mengarahkan ke kepala security itu.
Security itu tergagap. Ia mendelik marah. "Turunkan senjatamu!"
"Aku sudah bilang, jangan membuat masalah denganku. Kau tak mengindahkan peringatanku. Kamu tidak tau siapa aku." ucap Aurora dingin.
Lantai bawah yang tadinya sepi, kini riuh dipadati karyawan yang ingin menonton keributan. Apa lagi melihat aksi Aurora yang menodongkan pistol kearah salah satu security perusahaan itu.
Selly yang mendengar jika dilantai bawah ada keributan bergegas turun. Ia diam sejenak mengamati keadaan sebelum ia mengurai keributan itu.
Selly menaikkan alisnya. "Kevin?" gumamnya. Ia mengenali pria itu karena memang tak memakai masker seperti Aurora. Ia langsung paham dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Dasar bodoh! Kalian tidak tau siapa yang ada di hadapan kalian. Beliau adalah pemilik perusahaan ini. Bubar, semua bubar!" Ucap Selly penuh tekanan.
Karyawannya saling memandang dan mengangguk. Lalu pergi dari tempat itu.
"Maafkan saya Nona." ucap Selly.
Aurora tersenyum dibalik masker. "Kau mengenaliku?"
"Tentu saja. Mari kita keatas."
.
.
"Jadi apa yang bisa saya bantu nona. Anda bisa memanggil saja jika itu sangat penting." Ucap Selly .
"Hem, aku butuh bantuan kalian, terutama kau Mira." ucap Aurora menatap asisten Selly.
"Apa yang anda butuhkan Queen." tanya Mira.
"Aku ingin kalian menyelidiki kasus lama. Kalian cari tau data tentang wanita itu. Mulai ia dirawat dirumah sakit itu atau mungkin bahkan telah melahirkan seorang bayi.Aku ingin kalian mencari sedetail mungkin."
Selly menatap wajah wanita itu. "Apa anda punya hubungan dengan wanita ini nona?"
"Bisa dikatakan iya jika wanita itu mengandung dan melahirkan adikku." ucap Aurora santai.
Mata Selly terbelalak kaget, ia menatap asistennya yang biasa saja mendengarnya.
"Harusnya kita melakukan penyelidikan ini sejak lama Queen. Harusnya anda tidak mencegah saya menyelidiki sewaktu anda di London. Mungkin masalah ini sudah kelar. Sekarang rumah sakit itu sudah ditutup dan beralih fungsi." Mira menatap wanita itu tanpa berkedip.
"Benarkah?" Aurora tak percaya.
"Benar nona. Kenapa anda tidak bertanya langsung pada Tuan Aldi?" tanya Mira lagi. Selly masih diam menyimak.
"Pantas saja, mama tadi tanya pada Aldi, rupanya ini kendalanya." gumamnya pelan. Aurora kemudian menatap lekat Mira.
"Aku ingin tau kebenarannya sendiri. Bekerjalah dengan baik. Aku beri waktu kalian satu tahun. Waktu yang cukup bukan?"
Mira kembali menimbang nimbang. Ia lalu mengangguk ragu.
"Oke, data untuk kelengkapan pencarian akan aku kirim nanti malam. Kerahkan anggota kita jika dibutuhkan. Aku akan mentranfser untuk misi ini."
"Baik nona."
.
.
.
__ADS_1
#####