Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Kehancuran Yakusa


__ADS_3

Setumpuk berkas telah berada di depan Kimura. Pria itu hanya memandang nanar berkas itu tanpa membukanya.


Ternyata ini yang di incar madam Yora. Sungguh serakah sekali wanita itu. Jika hanya menginginkan hartanya,kenapa harus menghabisi seluruh keluarganya.


"Aku akan memberikan tanda tangan, dengan bersyarat!" ujar Kimura tegas. Matanya menatap marah wanita itu.


Madam Yora memandang remeh Kimura. Entah rencana licik apa yang akan wanita itu mainkan, tapi yang pasti itu tidak baik.


"Ingat Yora, pembalasan akan datang kepadamu sebentar lagi. Kau akan merasakan bagaimana rasa sakit itu, aku pastikan kau akan memohon untuk kematianmu sendiri. Kau akan merasakan bagaimana pedihnya rasa sakit itu. Aku mengutukmu Yora! Aku mengutukmu!" teriak Kimura dengan nafas memburu.


Madam Yora seakan tak peduli. Sudah biasa ia mendengar hal semacam itu. Wanita itu tersenyum mengejek dan menggoreskan sekali lagi belati miliknya ke pipi bayi yang tak berdosa itu, hingga tangisannya pun semakin kencang.


"Bang sat! Lepaskan bayiku!"


Madam Yora langsung melepaskan bayi itu begitu saja dan semakin keras jeritan bayi itu. Madam Yora terkekeh melihatnya.


"Baji/ngan kalian semua. Bang Sat! berikan bayi itu padaku!!" teriak Kimura tidak terima. Ia bahkan tak bisa membayangkan bagaimana kesakitannya bayi itu. Kenapa harus melibatkan anak anak.


Kimura mengepalkan tangannya. Ia semakin naik darah.


"Sekarang cepat tanda tangani atau aku bunuh bayi berisik ini! Ingat! aku tak pernah main main dengan ucapanku! Sekali lagi kau mengulur waktuku, aku pastikan kau akan menangis darah!" ancam madam Yora bengis.


Kimura langsung menandatangani semua berkas itu, ia tak peduli lagi dengan semua harta yang dikumpulkan ayahnya dengan susah payah, baginya harta itu sudah tak ada artinya lagi.


"Kembalikan putriku lebih dulu dan kau akan mendapatkan hakmu." ujar Kimura.


"Okey, tidak masalah."


Madam Yora menggendong kembali bayi itu dan ia serahkan bayi itu pada Morgan. Kemudian pria sangar itu membawa bayi itu kehadapan Kimura dan tersenyum licik.


"Serahkan berkas itu pada Madam." ujar Morgan santai.


Kimura menyerahkan berkas itu pada Zen dan langsung memberikannya pada wanita licik itu.


"Ambilah."


Morgan melemparkan bayi itu ke hadapan Kimura dan langsung ditangkap pria itu.


"Bang Sat kau melukainya Bodoh!!" Pria itu mendekap erat tubuh mungil itu yang semakin menangis kencang.


Kimura dengan sengaja langsung menendang Morgan saat pria itu berbalik hingga terjungkal ke depan. Ia tak peduli akibat yang akan ditimbulkan.


DUAK

__ADS_1


"Bang sat!" umpat Morgan marah.


Morgan segera berdiri dan menatap marah Kimura, ia bukan pria penyabar, ia akan membalas setiap rasa sakitnya. Pria itu mengacungkan senapan otomatisnya.


"Lakukan dan segera tinggalkan tempat ini Morgan." ujar Madam Yora bengis.


Wanita itu bersama Hugo langsung berjalan keluar dan menghilang di kegelapan malam. Ia tak peduli nasib Kimura setelah ini, toh pria itu sudah tidak punya taring untuk menggigitnya. Ia percayakan penyelesaian misi ini pada anak buahnya.


DODODODODORR


"Bos!" Teriak Zen panik.


DODODODODORR


Aaahhhhh


Morgan terus menembaki Kimura dan Zen, sedangkan anggotanya menembaki semua Yakusa yang tersisa. Semua berlari kocar kacir menyelamatkan diri.


Mayat bergelimpangan dimana mana, kelompok Morgan terus memburu siapapun yang masih hidup disana. Semua mereka bunuh tanpa sisa.


Dua orang itu menggelepar di tanah tak berdaya, Kimura dan Zen yang memang memakai setelan khusus tampak masih bisa menggerakkan jarinya walau sekujur tubuhnya bersarang banyak peluru.


Bayi yang berada dalam dekapan Kimura juga sudah tak terdengar suaranya. Kemungkinan bayi itu juga sudah meninggal karena peluru yang sarang di tubuhnya.


"Maafkan ayah Kenta, ayah tak bisa menjagamu. Jadilah orang yang baik dikemudian hari, jangan seperti kami. Jangan menjadi orang yang jahat, kejam dan serakah akan harta. Lihatlah, ini yang kami tuai karena keserakahan kami." ujar Kimura dalam hati.


Tak lama kemudian mata Kimura terpejam. Entah pria itu mati atau pingsan karena perdarahan, karena memang keadaan fisik Kimura sangat memprihatinkan.


Zen yang melihat itu hanya bisa menitikkan air matanya. Ia juga tidak bisa berbuat apapun. Ia menyadari jika ini adalah akhir hidupnya. Pandangannya semakin lama semakin kabur, karena mulai kehabisan darah. Ia sudah tidak kuat dan pada akhirnya pria itu juga menutup matanya.


"Ledakan tempat ini dan segera pergi dari sini. Cepat!!" perintah Morgan ketika sudah tak mendapati satu manusia pun yang bergerak di sana.


"Siap Bos."


Mereka semua segera memasang banyak peledak berwaktu, dan di letakkan di banyak tempat.


Sementara itu,


Yudha dan Anggota DQ sedang mengarah ke markas Yakusa. Entah mengapa perjalanannya kali ini ke negara sakura itu terhambat karena cuaca yang tiba-tiba buruk, hingga mengharuskan mereka untuk menunda penerbangan.


Yudha berdecak kesal. Pasalnya jam menunjukkan sudah pukul 3 pagi. Semoga tidak ada penyerangan yang terjadi malam ini, ia tak bisa membayangkan jika hal itu terjadi.


Mobil berhenti di pelataran bagian belakang pondok itu, Yudha keluar dengan mulut menganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


Walaupun gelap menyelimuti, tapi rusaknya bangunan masih bisa dilihat dengan mata telanjang.


"Cepat masuk ke dalam!" perintah Yudha.


Semua berlari masuk ke dalam. Di tempat itu sudah sepi sekali. Seperti tidak ada kehidupan.


Langkah kaki Yudha kian melambat. Banyak mayat bergelimpangan di sana. Pria itu sedang mencari sosok keluarganya.


"Oh sial, kita terlambat." Gumam Yudha.


"Tuan, pria ini masih hidup!" teriak salah satu anggota DQ.


Yudha segera berlari menghampiri, entah siapa, perasaannya semakin tidak enak saja.


"Oh! cepat-cepat bawa ke rumah sakit!" Seru Yudha panik melihat Kimura yang tergeletak tak berdaya masih mendekap tubuh seorang bayi.


"Tuan! Tempat ini sudah dipasangi banyak peledak!" seru anggota DQ lainnya.


"Apa!!"


Yudha melotot melihatnya, waktu hanya tersisa 2 menit dan waktu itu terus berjalan mundur.


"Cepat bawa mereka semua keluar dari tempat ini! Cepat! Kita tak punya banyak waktu!" seru Yudha memberi perintah. Pria itu tak tau harus bagaimana, ia bahkan belum menemukan jasad pamannya. Jadi ia putuskan untuk mengeluarkan semua yang tergeletak tak jauh dari Kimura.


Pria itu juga membantu mengangkat seorang wanita, entah siapa, ia juga tidak begitu jelas karena keadaan yang gelap.


Tak lama kemudian, ledakan terdengar beruntun dan membakar apapun disekitarnya.


DHOM..DHOM..DHOM


Yudha tertunduk sedih melihat tempat ia dibesarkan menyala nyala dalam kegelapan. Ia tak menyangka jika akan seperti akhirnya. Kejayaan seseorang bisa lenyap begitu saja tanpa sisa. Seperti inikah akhir dari segalanya. Pria itu perlahan mengusap air matanya.


"Kita segera pergi." Seorang wanita menepuk bahu Yudha. Menyadarkan Yudha yang tampak termenung sendiri.


Pria itu mengangguk pelan dan masuk ke dalam mobilnya. Entah ia akan berbuat seperti apa setelah ini.


.


.


.


######

__ADS_1


__ADS_2