Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
S2-5


__ADS_3

Kini di hadapan Aurora telah duduk tiga orang yang memang diminta menemuinya usai acara pemakaman ibunda Alex. Tiga orang itu adalah Mira, Selly dan Yudha.


Ketiga orang itu duduk dengan tenang kecuali Yudha yang tampak sedari tadi sibuk dengan laptopnya. Pria itu sedang serius mengamati rekaman cctv rumah sakit yang baru sejam yang lalu diberikan Aurora.


"Apa kalian tau keberadaan David?" Aurora menatap Mira dan Selly bergantian.


Keduanya kompak menggeleng. "Saya akan coba retas cctv di gedung apartemennya nona. Mungkin saja dia sedang bersama Kiran." ujar Mira yang langsung menggeser laptop Yudha ke hadapannya. Pria itu berdecak kesal, tapi diam saja.


"Apa yang kamu lihat? Apa tebakanku benar? Cctv itu sudah direkayasa bukan?" tanya Aurora pada Yudha.


Yudha menggeleng.


"Benarkah?" Aurora tak percaya. Wanita itu bahkan sampai mengerutkan dahi lama, menatap layar monitornya yang juga masih menampilkan rekaman cctv di rumah sakit.


"Saya sudah melihatnya berulang kali, tapi sedikitpun tidak menemukan kejanggalan disana. Tuan Erick memang terakhir masuk kamar mandi bersama Nyonya Elda, dan dua orang itu tak keluar lagi, hingga kejadian Alex menendang pintu kamar mandi dan ditemukan tewasnya Nyonya Elda." ungkap Yudha.


"Tidak mungkin. Coba kamu teliti lagi rekaman itu. Jika memang hipotesismu benar, bagaimana mungkin Tuan Erick tidak ada didalam sana. Tidak mungkin pria tua itu masuk ke lubang semut! Pasti beliau keluar lewat pintu depan. Ck kau jangan bilang jika pria itu teleportasi atau membuka vortek!"


Yudha meringis. Memang itu yang akan dia ungkapkan. Mana ada orang bisa menghilang secara tiba-tiba jika tidak menggunakan ilmu sihir. Ah, terlalu banyak menonton Shinbi membuatnya lupa jika ini terjadi di dunia nyata.


"Bisa jadi didalam kamar mandi ada ruang rahasia yang menghubungkan ke luar.Tuan Erick berada di kamar Vvvip bukan? Coba anda tanya pada orang yang tahu seluk beluk rumah sakit itu. Mungkin saja dugaan saya benar, apalagi rumah sakit itu adalah milik GL. Biasanya mereka menggunakan pengamanan tinggi untuk tempat tempat tertentu." ujar Yudha memberi analisis rasionalnya.


Aurora tersentak kaget mendengarnya. Ia tidak pernah terpikir kearah sana. Wanita itu segera mendial nomor ponsel suaminya untuk mengirimkan anak buah GL bagian invetigasi untuk menyelidiki dugaannya. Sama halnya dengan Aurora, pria diseberang sana juga ikut terkejut dengan penuturan istrinya.


"Queen, David sepertinya juga tidak ada di apartemen. Terakhir dia masuk kamar Kiran, setelah itu keluar dan belum kembali. David sepertinya juga meninggalkan ponselnya di kamar, karena titik lokasinya juga masih berada disana." ujar Mira menginterupsi.


"Ck! Harusnya aku menanam chip implan pada lengan kalian semua. Besok kalian semua ke markas untuk memasangnya!"


"Tapi nona?"


"Tidak ada tapi tapi!" tegas Aurora.

__ADS_1


'Sial, ini semua gara-gara David.'


Yudha yang mendengarnya tersenyum tengil. Akhirnya bukan dia saja yang menggunakan benda itu.


"Ah, Selly. Tolong kamu carikan pengacara terbaik untuk membebaskan Zanitha. Tak apa mahal jika dia bisa membebaskannya."


"Tapi bukankah sudah ada dua pengacara yang mendampinginya? Saya dengar paman anda juga sampai ikut turun tangan. Apa ini tidak berlebihan jika pada akhirnya dia juga akan tetap di penjara karena ramainya berita itu diperbincangkan di media. Saya rasa kita hanya bisa mengurangi masa tahanannya."


"Kamu benar. Setidaknya kita sudah memberikan yang terbaik. Satu lagi, usahakan untuk bisa menghapus video Zanitha dari situs gelap. Aku khawatir pada Reyhan suatu hari nanti ketika melihat perbuatan orang tuanya."


"Baik nona."


"Yudha, apa kamu senang melihat penderitaan Alex sekarang? Jika aku tahu kamu ikut terlibat dengan kejadian kali ini, aku tak segan segan menanam kepalamu sebagai fondasi bangunan!"


Yudha meringis memegangi lehernya. Walau jujur ia akui jika dirinya sempat senang mendengar musibah yang menimpa Alex, tapi ia tak sampai hati menunjukkan perasaan sebenarnya dihadapan Aurora.


"Saya bersumpah tidak ada kaitannya dengan kasus Tuan Alex. Mira juga pasti tahu. Karena dia yang selalu melaporkan semua aktivitas saya pada anda. Lagi pula saya juga tidak ingin mengecewakan Brian." Jelas Yudha.


Aurora menghela nafasnya. Melihat raut yang ditunjukkan Yudha, pria itu terlihat tidak berbohong. Ia cukup lega, karena bukan anak buahnya yang membuat ulah.


"Max ada dirumah sakit menjaga mereka berdua. Saya pastikan Max tidak terlibat sedikitpun kasus yang menimpa Tuan Alex. Kenapa kita tidak menginterogasi tawanan saja. Jangan jangan wanita itu dibalik semua kekacauan yang diterima Tuan Alex." jawab Yudha.


Aurora diam saja. Jika saja suami posesifnya tak melarangnya untuk melakukan tindakan, sudah sedari tadi ia ke markas GL untuk memberi pelajaran mereka. Sayang sekali, kali ini ia harus mengikuti kemauan Edward jika tidak ingin bertengkar lagi dengannya.


.


.


Sementara itu, Edward dan Lukas saat ini sedang berada di rumah sakit GL. Dua orang itu sedang berbicara serius perihal hasil otopsi pada jenazah Nyonya Elda.


Dokter Rian menginformasikan jika Nyonya Elda dinyatakan meninggal karena serangan jantung usai mengalami kekerasan seksual pada tubuhnya. Pria itu membacakan bentuk kekerasan apa saja pada Edward dan Lukas, berikut dengan bukti yang telah terselip disana.

__ADS_1


"Apa suaminya sendiri yang melakukannya?" Edward memotong pembicaraan dokter Rian. Telinganya tak kuasa mendengarnya.


Dokter Rian mengangguk pelan. Pria itu menunjukkan bukti yang dipegangnya.


"Ini karena Tuan Erick dalam pengaruh serum. Harusnya Nyonya Elda tidak membuka ikatan tali pada tubuhnya. Maaf ini kecerobohan kami, harusnya saya borgol saja beliau. Saya jadi khawatir jika Tuan Erick tidak segera ditemukan."


"Memangnya kenapa? Bukankah kalian sudah melakukan cuci darah? Harusnya sudah mampu menetralisir racun itu bukan?" sanggah Lukas belum mengerti. Entah kemana pikiran pria itu.


Edward berdecak. Apa harus ditempeleng dulu supaya asistennya ini paham.


"Belum Tuan Lukas. Harusnya anda ingat kejadian Nyonya Elda. Bagaimana jika beliau menemukan wanita lain sebagai pemuasnya. Berapa banyak benih yang akan tertanam. Kami saja belum bisa menemukan komposisi yang terkandung di dalamnya."


Lukas menelan salivanya. Ia jadi penasaran dengan serum itu. Mengapa bisa seganas itu.


"Lain kali kamu harus merasakannya Lukas. Kau ingin merasakan batangmu terus tegak berdiri bukan?" Edward tersenyum licik.


Lukas menggeleng. Walaupun ia penasaran, tapi ia juga tidak ingin mencobanya. Melihat dari pengalaman Edward saja sudah membuatnya bergidik, bagaimana jika ia harus mengalaminya sendiri. Lagi pula wanita mana yang akan menjadi pelampiasannya. Orang yang disukainya saja sebentar lagi akan menikah dengan orang lain. Ah, gara-gara memikirkan Amelia, seketika membuat hatinya langsung murung.


"Ada apa." tanya Edward tiba-tiba.


Lukas tergagap. Pria itu menggaruk tengkuknya yang terasa gatal. "Kita harus segera memeriksa ruang inap Tuan Erick. Anak anak pasti sudah menunggu kita." jawab Lukas sekenanya, hanya kalimat itu yang terlintas dalam otaknya.


"Oke. Pergilah dulu. Aku mau melihat keadaan ayah sebentar."


Lukas mengangguk menyetujui.


.


.


.

__ADS_1


#####


Terima kasih jika masih ada yang membaca karya ini. Saya sarankan untuk istirahat jika lelah. Menunggu itu memang menyebalkan. Ingat, karya ini bukan lagi karya on going. 😎


__ADS_2