
Hari-hari mereka lalui begitu indah, Al tidak pernah membatasi setiap pekerjaan Ajeng.
Sekarang Al melepaskan pekerjaannya di tempat Ajeng, ia sudah kembali fokus
dengan perusahaannya. Ia sengaja membuka cabang di Malang agar mempermudah
pekerjaannya. Setiap kali ada urusan makan pengawas perusahaan inti akan
mendatangi Al ke Malang.
Semenjak Bara mengetahui bahwa Ajeng sudah menikah dnegan Al, Bara terlihat menjaga jarak dari Ajeng, hal itu selalu Ajeng maklumi, semuanya butuh proses untuk
bisa kembali seperti semula.
Sebenarnya pekerjaan Ajeng tidak menuntutnya untuk selalu datang ke kantor, mereka
memberikan kebebasan untuk Ajeng menyelesaikan pekerjaannya di manapun. Ajeng hanya akan datang ke kantor satu minggu sekali, atau dua minggu sekali untuk
menyerahkan hasil desainnya sesuai yang di minta perusahaan dan selebihnya ia
akan mengawasi proses produksi.
“Kenapa tersenyum sendiri melihat ponselmu, ada apa di dalam sana?” Tanya Al saat
melihat istrinya tersenyum sendiri dengan ponselnya.
Al yang baru saja dari kamar mandi segera mendekati istrinya yang sedang duduk
menghadap luar. Pemandangan sore seperti ini begitu indah di lihat dari balkon kamarnya.
“Mas …, ini anak-anak sedang membicarakan tentang reoni!” ucap Ajeng pada suaminya dengan wajah penuh harap, berharap mendengar kata reoni suaminya akan mengerti maksudnya.
“Reoni?” tanya Al sambil memeluk tubuh istrinya, ia mencium rambut istrinya yang terurai.
“Iya …, reoni SMA!” jawab Ajeng sambil menoleh ke belakang, mencoba menjangkau wajah suaminya.
“Apa kita harus hadir?” tanya Al lagi seolah-olah ia tidak tertarik dengan ucapan istrinya.
“Apa itu boleh?” Ajeng malah balik bertanya, ia ingin ikut tapi tidak yakin jika suaminya akan mengijinkan mengingat sebesar apa posesif suaminya.
“Tentu!” jawab Al mantap seketika membuat Ajeng terkejut. Setelah selesai dengan keterkejutannya ia pun segera tersenyum dan memutar tubuhnya menghadap suaminya, mengalungkan lengannya ke leher suaminya.
“Ye …..!” Ajeng tersenyum kegirangan, ia dengan reflex mencium suaminya itu. Tapi saat ia hendak menarik bibirnya, tiba-tiba Al menekan tengkuk Ajeng hingga ciuman itu berlanjut menjadi ciuman yang panas.
Setelah cukup lama mereka berciuman, Al melepaskan bibir Ajeng. Ajeng pun kembali tersenyum menatap suaminya itu.
"Kenapa menatapku seperti itu? Baru tahu ya kalau suamimu ini sangat tampan?" ucap Al membanggakan diri. Lagi-lagi Ajeng tersenyum.
__ADS_1
"Sayang ....., aku malah takut kalau kamu tersenyum seperti itu, biasanya jutek banget!"
“Makasih mas ku, Aldevaro Kenzie!” ucap Ajeng tiba-tiba, membuat Al terpaku.
"Kok ekspresinya malah gitu sih mas?" tanya Ajeng heran.
“Iya sayangku …, Diajeng kartika!” Jawab Al saat Ajeng selesai dengan senyumnya itu.
Mereka akhirnya menyiapkan segala sesuatu untuk kepulangan mereka, mereka berencana pulang kampung untuk satu bulan ini, Ajeng sudah meminta ijin pada perusahaan untuk mengirimkan hasil desainnya lewat email saja.
Pagi ini mereka benar-benar bersiap-siap untuk pulang kampung. Ajeng sudah tidak sabar bertemu dengan keluarganya. Semenjak kuliah ia sudah jarang pulang, apalagi saat ia
sudah mulai kerja, ia hanya pulang saat pernikahan kakaknya.
“Mas …, kita pulangnya di mana? Di rumah orang tua mas Al apa di rumah orang tua
Ajeng?” Tanya Ajeng saat mereka sudah berada di tengah perjalanan. Sebelumnya
mereka memang belum merundingkan tentang hal ini, tapi sebenarnya Ajeng sangat
ingin jika mereka akan pulang ke rumahnya.
“Terserah kamu saja, mas ikuta aja!”
“Jika ke rumah orang tua Ajeng, mas keberatan nggak?”
Ajeng begitu senang mendengar jawaban suaminya itu, dengan cepat ia mendaratkan
ciumannya ke pipi suaminya yang sedang fokus menyetir.
“Makasih!”
Mereka pun sepanjang perjalanan tak hentinya saling mengutarakan kata romantis, yang
lebih sering tentunya Al. ajeng hanya mengimbanginya saja.
“Mau beli oleh-oleh untuk tetangga, bapak sama ibuk?” Tanya Al saat sampai di toko
besar, semacam swalayan. Jika sudah masuk kampung mereka akan sulit menemukan
swalayan.
“Iya mas …, pumpung masih di sini!”
Ini adalah kota terdekat dari kampung Ajeng. Kota kecil yang menjadi pusat
orang-orang berbelanja dari berbagai kecamatan tetangga akan datang ke sini.
__ADS_1
Pasarnya juga lumayan besar jika di bandingkan dengan pasar yang ada di kota
Blitar masih besar pasar di sini.
Mereka memasuki sebuah swalayan, mengambil beberapa biscuit dan sembako seperti gula
dan minyak. Beberapa karyawan membatu mereka memasukkan barang-barang belanjaan
yang cukup banyak itu ke dalam mobil mereka.
Setelah selesai belanja, Al segera membeyar barang belanjaannya ke kasir. Setelah
selesai dengan urusannya berbelanja, mereka segera kembali melanjutkan
perjalanan. Cukup lima belas menit mereka sampai di rumah Ajeng. Al sudah
sangat hafal dengan seluk beluk kampung Ajeng karena dulu bahkan sebelum
mengenal Ajeng al sudah sering bermain ke kampung ajeng.
Akhirnya mobil mereka sudah masuk ke halaman rumah orang tua Ajeng. Ajeng segera turun, rumah itu sudah mengalami banyak perubahan, sudah lebih besar.
“Ini benaran rumah bapak sama ibuk, kok jadi gini, kapan renovasinya? Terakhir kali
aku pulang nggak gini, saat mbak Diah nikah nggak sebesar ini!”
“Suka?”
“Ini perbuatannya mas Al?”
“Bukan aku sepenuhnya sih …, tapi hanya sebagian kecilnya saja, suaminya Diah yang
paling banyak. Kata Dika, suaminya Diah kaya banget!”
“Mas Al …., mulai deh …, nggak usah banding-bandingin gitu dong. Kata mas Al kekayaan itu milik Allah …!”
“Astagfirullah …., mas khilaf!”
“Ya udah mas …, kita ketuk pintunya ya!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 😘😘😘😘😘