Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Memberi pelajaran


__ADS_3

Keesokan harinya, Aurora terbangun dengan wajah sembabnya. Ia tersenyum tipis ketika melihat Edward masih tertidur disebelahnya. Tak menyangka jika perjalanan cintanya jadi seperti ini.


Semalam Edward telah menceritakan semua peristiwa yang terjadi padanya hingga larut malam. Aurora mencoba mengerti keadaan yang dialami suaminya, tapi tidak dengan asisten Edward. Ia tetap akan memberi pelajaran karena sudah membuang air matanya sia sia.


Perlahan Aurora turun dari ranjang dan membersihkan diri. Ia ingin segera menyelesaikan urusannya agar kehidupannya bisa kembali normal seperti dulu lagi.


Edward terbangun saat Aurora mulai keluar dari walk in closet. Ia menyipitkan matanya ketika melihat tampilan istrinya.


"Aurora, kemari sebentar." Tegur Edward.


Aurora menurut dan berjalan menghampiri Edward yang sudah duduk bersandar di headboard memangku bantal.


"Ada apa? Segeralah bersihkan diri. Hari ini banyak kegiatan yang harus kita selesaikan." kata Aurora sambil memasang jam tangan di tangan kirinya.


Edward menaikkan sebelah alisnya menatap Aurora lekat. "Apa kita akan pergi ke kantor?"


"Tidak. Kamu saja yang ke kantor. Aku ada urusan dengan Tuan Kimura."


"Tidak mau. Aku akan menemanimu saja." tolak Edward spontan.


"Ck. Ingat Tuan Felix, anda asisten saya. Jadi patuhilah perintah atasanmu. Ingat anda masih punya kontrak kerja denganku. Anda masih ingat bukan ?"


Glek.


Edward terhenyak mendengar penuturan Aurora. Tapi sebentar kemudian pria itu tersenyum licik.


"Nona Aurora, aku rasa kamu lupa dengan posisimu saat ini. Kamu adalah istriku, bukankah seorang istri harus menurut pada perintah suaminya?"


Aurora terdiam. Ia menyipitkan matanya. Dikiranya ia bisa diliciki suaminya begitu saja. Jangan harap.


"Anda benar. Tapi di mata masyarakat kamu sudah tiada. Dan juga, tidak banyak orang yang tau jika kamu masih hidup. Aku bahkan mempunyai akta kematianmu. Mau lihat?"


"Ck. Sialan." umpat Edward.


"Sudahlah Kak, kamu urus saja dulu perusahaanmu..."


"Mana bisa begitu.Tidak pokoknya aku ikut kemana pun kamu pergi! Ingat! nyawamu sedang terancam. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu." tolak Edward memberengut kesal.


"Ck. Menyebalkan. Ada syaratnya."


Edward memicingkan matanya.


"Tidak boleh membantah apapun itu."


"Mana bisa seperti itu. Bagaimana jika itu merugikan ku?"


"Ah sudahlah. Terserah kamu. Cepat aku tunggu di bawah. Anak anak pasti sudah menunggu kita. Jangan lupa ganti wajahmu lagi, aku tidak ingin semua orang dirumah ini syok melihatmu."


Edward menahan tangan Aurora yang hendak pergi. "Tunggu sayang, bagaimana dengan ini." Edward menelusupkan tangan Aurora dibawah bantal yang dipangkunya.

__ADS_1


Mata Aurora membulat menatap kesal Edward. Wanita itu malah menjadikan benda itu menjadi tumpuan tangannya.


"Ohh!" kejut Edward meringis.


"Jangan melebihi batasanmu." kecam Aurora tak suka.


"Hei, batasan apa. Aku ini suamimu."


Aurora diam saja. Ia masih belum ingin melakukan itu bersama Edward tapi bingung mengutarakannya.


"Maaf. Lakukan bagaimana biasanya saja. Aku sedang kotor."


"Bagaimana jika biasanya aku bermain bersama wanita bayaran hem, kamu rela?" pancing Edward dengan seringainya. Dikiranya ia tidak tahu jika ia sedang dibohongi istrinya.


"Apa maksudmu!" Aurora melotot mendengarnya.


"Kamu suka celup sana sini!" Marah Aurora.


Edward tersenyum dan membuang bantal itu kesembarang arah. Ia merangsek maju dan membopong Aurora ke dalam kamar mandi.


"Jika tidak ingin aku celap celup sana sini, kamu harus memperhatikan kebutuhan biologisku. Kau tahu benar jika aku laki laki normal. Dan aku sudah lama tak melakukan itu."


"Hei lepaskan! apa kamu pikir aku wanita bodoh. Mana ada seperti itu!" berontak Aurora.


"Sstt kamu memang bodoh jika sedang bersamaku, tapi aku suka."


"Kak Edward!!"


.


.


Aurora dan Edward kini sudah berada di markas GL. Wajah dingin Aurora begitu terasa, bahkan wanita itu sama sekali tak menunjukkan senyum di wajahnya.


Alex dan Lukas yang di hubungi sebelumnya sudah datang 10 menit sebelum Aurora datang. Keduanya tampak biasa saja, seperti tidak akan terjadi sesuatu padanya.


"Alex, Lukas, ikut aku!"


Mereka berdua mengangguk dan mengekori Aurora. Alex dan Lukas kompak melirik Edward seakan bertanya lewat tatapannya, tapi sayang Edward hanya menaikkan bahunya. Keduanya lalu mendengus.


Aurora membawa mereka bertiga ke tempat latihan bela diri. Ia menatap ketiga pria itu bergantian.


"Alex, Lukas, ganti pakaian kalian dulu."


Alex menatap Edward yang mengangguk. Kemudian mereka berdua dengan patuh mengganti pakaian tanpa banyak bertanya.


"Kak, kamu sudah sembuh benar bukan?" Tanya Aurora sesaat setelah kepergian dua orang itu.


Edward mengangguk.

__ADS_1


"Bagus, tunjukkan kemampuanmu. Hajar dua orang itu sampai babak belur. Awas saja jika kamu kalah dengan mereka. Aku tidak akan memberi hakmu sampai batas waktu yang belum aku tentukan." Ancam Aurora.


"Apa! yang benar saja. Kasihan kan mereka?"


"Ck terserah, aku pastikan , aku tak pernah bermain main dengan ucapanku. Atau jangan jangan kamu takut kalah dengan mereka?" Aurora tersenyum menyeringai.


"Hei, kamu meragukan kemampuanku! Okey, siapa takut. Walaupun aku pernah lumpuh, tapi kemampuanku masih sama seperti dulu. Jangan lupa jika suamimu ini King Leon. Atau jangan jangan kamu rindu gerakan indahku?" Mata Edward mengerling nakal.


"Hem.." Di iyakan saja biar cepet kelar pikir Aurora. Sedangkan Edward tersenyum lebar.


"Nona." Alex dan Lukas sudah siap dan berdiri di depan Aurora.


"Hem. Felix, sekarang kamu bisa berganti." perintah Aurora. Alex dan Lukas saling melirik, pikiran mereka sama.


Setelah kepergian Edward, Aurora bersedekap dada di hadapan mereka.


"Kalian tau apa kesalahan kalian padaku?"


"Tidak tau nona." jawab Lukas.


"Bagus, jika begitu renungi kesalahan kalian. Awas saja jika kalian kalah dengan asistenku Felix. Aku akan memberi hukuman lebih berat pada kalian!"


"Apa maksud anda. Kami melakukan apa. Apa itu artinya kami harus melawan Tuan Felix?" Bingung Alex.


"Melakukan apa?Jangan berpura-pura bodoh Alex. Tidak mungkin kalian tidak tahu. Gara gara kalian aku terpuruk sekian lama. Kalian harus menerima hukuman dariku.!" tegas Aurora. Alex dan Lukas saling pandang, mana mungkin mereka akan menang melawan Edward.


Tak lama kemudian Edward sudah rapi dengan pakaian kebesarannya, ia menatap Alex dan Lukas bergantian.


"Felix, hajar mereka berdua. Jangan berhenti jika aku belum memberimu perintah. Ingat, yang kalah akan aku beri hukuman lebih berat dari ini! Anggap ini ujian sebelum aku menentukan misi untuk kalian bertiga.!"


Alex dan Lukas menggeleng pelan. Jangan lakukan itu pada kami mohon mereka berdua lewat tatapan matanya, tapi Edward cuek malah memainkan tongkat kayu ditangannya.


"Gawat." gumam Lukas.


"Apa yang kau pikirkan Luk's." tanya Alex lirih.


"Entahlah, mungkin saja nona sudah mengetahui kebenarannya. Ini gara-gara kamu Alex, harusnya kita memberi tahu keadaan bos sejak dulu." gumam Lukas sembari mengambil dua tongkat yang sama dengan milik Edward dan satu di berikan pada Alex.


"Hei, jangan menyalahkan aku. Aku begitu juga atas perintah dia." Alex menatap Edward tajam. Sedangkan yang ditatap malah tersenyum menjengkelkan.


"Kalian sudah siap?" tanya Edward memasang kuda kuda.


Alex dan Lukas mengangguk bersamaan. Mereka berdua bersiap menerima serangan dari Edward. Dalam hati, mereka mengumpati Edward, gara-gara pria itu, mereka harus menerima hukuman dari Aurora.


.


.


.

__ADS_1


#####


__ADS_2