Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Wanita Licik


__ADS_3

"Apa kau gila!" seru Andi melotot kesal pada Alex.


"Hahaha.."


"Tidak! aku tidak mau! Bisa bisanya kamu menyuruhku bertindak kejahatan! Aku bukan penjahat seperti kalian! Kalian punya anggota yang hebat, kenapa masih menyuruhku! Lagian kan ada kamu, enak saja! lalu apa pekerjaanmu? Jadi tukang suruh?" seru Andi mendelik kesal.


"Itu kamu tau!" jawab Alex seenak perutnya.


Andi mendengus kesal. Bisa bisanya Alex sekarang memanfaatkannya setelah tau jati dirinya.


"Pria itu sangat berbahaya jika berada dipihak yang salah. Dia ahli racun."


"Kamu kan bisa langsung melenyapkannya jika dia termasuk orang berbahaya! Apa susahnya coba!"


"Hem, aku setuju dengan pemikiranmu, tapi aku masih butuh tenaganya. Bagaimana coba! Kita harus segera bertindak sebelum pria itu membuat ulah. Kita butuh informasi siapa saja yang menjadi kliennya saat ini, aku takut jika mereka mencelakai Edward kembali. Perasaanku sudah tidak enak saja."


Andi memijit pelipisnya, ia merasa pusing sendiri. Ia tidak tau dengan pemikiran Alex saat ini. Bisa bisanya seorang Alex meminta bantuan dirinya.


.


.


Seminggu kemudian, Aurora sudah rapi dengan setelan kerjanya. Ia masih terlihat cantik walau telah melahirkan. Hari ini dirinya memutuskan untuk pergi ke perusahaan suaminya bersama Tuan Admaja untuk mengambil alih sementara posisi Edward sebagai ceo perusahaan sekaligus memperkenalkan diri dihadapan para pemegang saham dan karyawan disana.


Aurora tersenyum tipis melihat pantulan dirinya , ia bergumam lirih didepan cermin riasnya, "Suamiku, doakan aku , semoga acara hari ini berjalan lancar dan aku tidak mengecewakanmu."


Aurora lalu mendekati baby box lalu menggendong salah satu bayinya yang sudah terjaga dari tidurnya. Ia tersenyum lembut dan membawanya ke ranjang tempat tidurnya.


"Uh..hebat, kamu bangun gak nangis lho.. apa kamu haus nak? tentu saja mommy.." kata Aurora yang menjawab pertanyaannya sendiri.


"Baiklah, mom akan berikan yang kamu mau. Minum yang banyak tapi sisakan untuk El ya.." seloroh Aurora diakhiri kekehannya karena melihat bibir Al yang berkecumik mencari sumber penghidupannya.


"Mom, " Sapa Brian yang telah selesai dengan aktivitas mandinya dan sudah berganti pakaian.


"Ya, " Aurora menoleh kearah Brian lalu tersenyum.


"Mom jadi ke pelusahaan kakek?" tanya Brian yang mengamati penampilan Aurora pagi ini.


"Tentu saja. Apa ada masalah?"


"Tidak. Lalu bagaimana dengan Al dan El? Bagaimana jika meleka menangis mencalimu mom," tanya Brian.


""Benarkah, apa Al akan menangis jika ditinggal mom kerja! Jangan nangis ya, kan ada kak Brian yang jagain kalian. Ada nenek , ada bibi juga. So, gak boleh rewel ya.." Aurora malah menasehati Al yang sedang dalam pangkuannya.


"Haish, mana ngelti dia mom." Brian menepuk keningnya.

__ADS_1


"Tenanglah, mom tidak akan lama, Mom akan segera pulang setelah urusan disana selesai." Aurora meletakkan baby Al diranjangnya dan ganti mengambil El yang tiba tiba menangis.


"Eh, kenapa menangis? Cari kak Al ya , cup.. kak Al nya baru saja bobok. Jangan gaduh ya." kata Aurora dan kembali menyusui bayinya .


Brian yang melihat itu hanya menghela nafasnya. Ia merasa kasihan dengan Aurora. Seharusnya ada Daddynya yang membantu mengurus dua bayi itu. Walaupun hanya El yang sering sekali menangis kencang, tapi menurutnya itu sudah membuatnya stres.


"Mom, aku akan kebawah, mau panggil bibi bial bisa bantuin Mom. Mom juga masih harus salapan sebelum belangkat bukan."


"Terima kasih boy, kamu memang kakak yang baik."


Brian hanya mengulas senyum dan memberikan jempolnya. Tanda jika ia menyukai pujian terhadapnya.


.


.


Sampai diperusahaan suaminya, Aurora langsung menuju ruang meeting yang sudah disiapkan untuk acara hari ini. Ia tersenyum ramah menyapa semua yang sudah hadir.


"Maaf sedikit terlambat." ucap Aurora menganggukkan kepalanya.


"Silahkan duduk nona." ucap salah satu dari mereka.


Aurora melirik kearah Tuan Admaja lalu menyapa dengan senyum tipisnya. Ia hanya memberi kode jika dirinya sudah siap.


"Baiklah kita mulai saja acara hari ini. Perkenalkan nona yang baru saja datang adalah menantu saya, istri dari Edward pimpinan tertinggi perusahaan ini. Mungkin sebagian sudah mengenalnya, dia sebelumnya menjabat ceo di Hardy's Company.


"Bagi kalian yang mempertanyakan bagaimana bisa nona Aurora mengambil alih kepemimpinan ini, jawabannya karena nona Aurora memiliki saham besar atas nama Aldevaro, putranya."


Yang hadir sempat berbisik bisik, tapi mereka tetap menyetujui keputusan yang diambil Tuan Admaja. Bagaimana pun juga, Aurora adalah istri Edward dan mempunyai hak memimpin, apalagi statusnya sebagai ceo di perusahaan Hardy's sudah cukup membuat mereka yakin dan percaya jika Aurora mampu memimpin perusahaan ini dengan baik.


"Selamat bergabung di perusahaan ini nona Aurora, semoga perusahaan ini lebih maju dibawah kepemimpinan anda." ucap salah satu pemilik saham.


"Terima kasih semua. Saya akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini."


.


.


Usai meeting, Aurora diarahkan ke ruang kerja suaminya oleh Lukas. Ia hanya bisa menghela nafasnya ketika moment memori kebersamaan dengan suaminya terlintas saat memandang setiap detail dari ruang kerja itu.


Aurora duduk di kursi kebesaran suaminya dan meletakkan tangannya dimeja kaca itu, "Apa yang harus aku selesaikan hari ini Lukas?"


"Nona, anda bisa mempelajari ini dulu." Lukas meletakkan berkas ke meja kerja Aurora.


"Baikah aku akan mempelajarinya.

__ADS_1


Lukas!"


"Ya nona?"


"Atur jam kerjaku sampai pukul 3 sore dan untuk meeting di luar perusahaan aku serahkan padamu, kau handle saja semua keperluannya. Apa kamu mengerti!"


"Dimengerti nona."


"Baiklah kamu boleh keluar." Lukas mengangguk dan pergi dari ruang kerja Aurora.


Aurora mulai membaca berkas berkas di mejanya. Matanya tampak fokus ke arah dokumen itu, tapi tidak dengan pikirannya. Berkali kali ia menepuk dadanya yang terasa sesak. Perasaannya terasa tidak enak seperti akan terjadi sesuatu besar. Berkali kali ia menengok notifikasi pada ponselnya, tapi tak ada satupun yang menghubunginya.


"Ah mungkin ini perasaanku saja, mungkin aku belum terbiasa jauh dengan putraku." batin Aurora. Matanya menatap sendu foto suaminya yang sedang tersenyum kearahnya. Entah mengapa ia merasa sedih melihat senyum itu.


.


.


Ditempat lain, seorang wanita sedang menyamar dan mengubah penampilannya dengan pakaian seorang perawat. Berjalan dengan begitu tenangnya melewati lorong demi lorong dengan menunjukkan kartu identitas dan chip akses masuk ditangannya saat para pengawal GL menghentikan langkahnya.


Kevan yang saat itu berjaga menghentikan langkah wanita itu saat akan masuk ke ruang rawat Edward. Tampak guratan penuh selidik dengan kehadiran perawat itu.


"Tunggu!" cegah Kevan menghadang dengan sebelah tangannya.


Wanita itu menunjukkan kartu identitasnya dan chip akses masuk pada Kevan dengan wajah tenangnya.


"Saya hanya akan memeriksa kondisi pasien. Karena ini sudah waktunya memberinya obat." ucap wanita itu.


Kevan mengerutkan kening, "Kenapa dengan suaramu!"


"Emm,, saya sedang radang tenggorokan Tuan." jawab wanita itu mulai gugup.


Kevan mengangguk seperti mempercayainya. "Kau boleh libur jika sakit, aku akan mencarikan penggantimu."


"Terima Tuan."


Perawat itu masuk ruang rawat itu dengan tenang. Ia menoleh kebelakang lalu tersenyum sinis saat Kevan tak ikut masuk kedalam ruangan.


"Saatnya kamu pergi dari dunia ini Edward. Jika aku tak bisa memilikimu, maka orang lain pun tak berhak memilikimu. Selamat tinggal." ucap wanita itu sambil menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh Edward. Ia tersenyum menyeringai.


.


.


.

__ADS_1


####


__ADS_2