Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
S2-16


__ADS_3

"Aurora! Hentikan Aurora!"


Seorang wanita berlari dengan tergesa diikuti anggota GL yang mencoba menghentikan laju larinya.


"Aurora please. Tolong jangan bunuh suamiku. Please Aurora." Pinta wanita itu dengan wajah penuh peluh. Sudah bisa dipastikan jika dia seperti itu karena sempat berkelahi dengan anggota GL yang tak mengijinkannya masuk begitu saja.


Aurora diam saja dan belum juga menurunkan senjatanya.


"Ra.."


Listy menyentuh tangan Aurora dan perlahan menurunkannya. Wanita itu menatap Aurora dengan berkaca kaca.


"Aurora, apa kau tega melakukan itu pada sahabatmu sendiri?"


Aurora bergeming, tapi matanya menelisik orang yang sedang mengintervensinya.


"Aku mohon Ra." Pinta Listy dengan wajah mengiba.


"Apa kamu tau apa yang sudah dia lakukan pada kami? Dia itu bajingan Listy! Dia yang sudah mengakibatkan kecelakaan kami waktu itu!" ujar Aurora dengan nafas memburu.


Listy menatap Henry dengan pandangan sendu. Bagaimana pun pria yang disebut bajingan itu suaminya, apalagi mereka baru saja menikah, ya walaupun pernikahan itu adalah pernikahan untuk kepentingan bisnis semata.


"Dengar Listy, dia hanya memanfaatkanmu karena kamu adalah sahabatku. Dia itu parasit!" Aurora menatap Henry tajam.


"Jangan kira aku tak tau strategi licikmu Tuan Henry. Aku bahkan tak segan-segan menembakmu didepan Listy." lanjut Aurora.


Henry diam saja karena memang seperti itu kenyataannya, tapi dalam hati pria itu merasa lega karena Listy datang tepat waktu. Memang seperti itu tujuan menikahi Listy.


"Ra, please Ra. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Toh suamimu sudah kembali bukan? Bahkan suamimu baik baik saja sampai hari ini." Listy menatap Edward sekilas. Wanita itu sebenarnya terkejut, tapi belum ada waktu menanyakan hal itu pada Aurora. Ia hanya mendengar desas desus itu dari orang orang.


Aurora menekan geliginya kuat-kuat. Ucapan sahabatnya rupanya malah menambah gemuruh dalam dadanya. Dia tidak suka Listy berbicara seperti itu. Pikirnya, apa Listy lupa bagaimana terpuruknya saat itu? Baik baik saja katanya? Apa dia tidak berpikir, luka itu bahkan masih membekas sampai saat ini. Kenapa Listy harus mati matian membela Henry Lim yang jelas-jelas dia tahu betul seperti apa pria itu. Kecewa sekali wanita itu.


"Ra.."

__ADS_1


Aurora menatap Listy dengan serius. "Apa kamu mencintainya?"


Mata Listy bergerak tak beraturan. Bingung dengan perasaannya sendiri.


Sementara Jingmi yang mendengar pertanyaan Aurora langsung menajamkan pendengarannya, berharap wanita yang disukainya itu mengatakan tidak.


"Kau mencintainya?" ulang Aurora.


Listy akhirnya menganggukkan pelan kepalanya.


Tak percaya, itu yang dirasakan Jingmi. Bagaimana bisa, wanita yang dicintainya lebih memilih si Henry yang bahkan tak ada apa-apanya dibanding dirinya.


"Dia sudah menjadi suamiku. Jadi, a.. aku harus mencintainya." alasan klasik yang terlontar dari bibir Listy membuat Jingmi sampai menahan nafasnya. Pikirnya, kenapa cintanya lagi lagi bertepuk sebelah tangan. Lupakah dia dengan malam panas itu. Pupus sudah harapannya.


Edward menepuk bahu Jingmi seolah tahu apa yang dirasakan pria itu. Walau dirinya tak mengalami, tapi sebagai seorang lelaki, penolakan itu terasa sangat menyakitkan dan melukai harga diri, apalagi rivalnya hanya sekelas Henry.


"Baiklah aku berjanji tidak akan menghabisi nya walaupun aku ingin, tapi aku akan tetap kasuskan masalah ini lewat jalur hukum. Mari kita bertarung di pengadilan." ujar Aurora dengan sorot tajamnya.


Listy menggeleng pelan. Kenapa Aurora membuat keputusan seperti itu? Tidak bisakah dia membebaskan tanpa adanya tuntutan hukum? Apa dia tidak memikirkan bagaimana dirinya setelah ini?


Diam-diam Jingmi mengulum senyum. Apa yang dilakukan Aurora menurutnya sudah sangat tepat. Penjara ataupun kematian sama sama membuat Henry tidak bisa hidup bebas. Cintanya masih bisa diusahakan. Dan cepat atau lambat, Listy akan berada dalam pelukannya. Ini seperti angin segar baginya.


"Tunggu Ra! Bagaimana jika aku hamil."


Aurora yang semula beranjak pergi dari tempat itu menghentikan langkahnya lalu berjalan kembali tanpa menoleh kebelakang. Ia tak punya jawaban atas pertanyaan itu.


"Ra!"


"Sudahlah nona, anda tak perlu berkeras hati, masih ada pria itu jika anda ingin meminta pertanggungjawaban. Jika pun anda hamil anak bajingan itu, pria itu siap menjadi ayah dari bayimu, tapi aku yakin jika benar kamu hamil, dia adalah anak Jingmi." bisik Edward kemudian berlalu pergi.


Jingmi yang melihat Edward pergi, ikut meninggalkan tempat itu tanpa berbicara pada Listy. Biarlah wanita itu berperang dengan hatinya sendiri. Itu sudah jadi keputusannya.


.

__ADS_1


.


"Lagi-lagi kamu membebaskan musuhmu." komentar Edward begitu pria itu masuk ke dalam kamar dan merebahkan punggungnya di atas ranjang. Pria itu melirik istrinya yang belum beranjak dari balkon, entah apa yang sedang dipikirkannya.


"Apa aku melakukan hal yang salah?"


"Ya." jawab Edward singkat.


Aurora menghela nafas. Ia ingat betul dengan ucapannya kala itu jika akan menembak kepalanya, tapi apa yang ia lakukan hari ini. Ah entahlah. Bagaimana pun juga ia masih memikirkan perasaan Listy.


"Jangan pikirkan apapun. Semua akan baik-baik saja. Bukankah satu persatu masalah kita akhirnya menemui jalan keluar?" nasehat Edward.


Aurora diam saja. Pikirannya berkecamuk, tapi ia coba sembunyikan.


"Aku ada kabar penting untukmu." Beritahu Edward.


Aurora mendekati suaminya dan duduk ditepi ranjang. Berita apalagi, semoga bukan hal buruk pikirnya.


"Kemarilah, kenapa jauh jauh begitu."


Menurut. Aurora mendekat dan ikut rebahan disebelah suaminya.


"Jadi...?"


Edward membalikkan badan dan menindih tubuh Aurora. Pria itu tiba-tiba tersenyum misterius.


"Kak..!"


.


.


.

__ADS_1


#####


__ADS_2