Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Ke Rumah mertua


__ADS_3

            Dua minggu sudah mereka di kampung


Ajeng, kini sudah waktunya untuk mereka berpindah ke rumah orang tua Al. banyak


sekali hal-hal yang baru yang di dapat Al, sebagai pemuda desa, mama Renna


sudah sangat ingin mereka bergantian menginap di rumahnya. Akhirnya mereka pun


memutuskan untuk berkunjung dan menginap di sana.


            “bapak …, ibu kami pamit ya, jaga


kesehatan tidak usah terlalu keras bekerjanya. Lebih baik memperkerjakan orang


untuk menggarap sawahnya!” ucap Al pada mertuanya.


            “Iyo le …, salam ya buat bapak sama


ibu di kota! Nanti kalau ada waktu insyaallah bapak sama ibuk akan berkunjung


ke sana!”


            “Nggeh pak …., assalamualaikum …!”


            “Waalaikum salam!”


            Setelah selesai berpamitan, mereka


pun segera melakukan perjalanan ke rumah mama Renna. Walaupun jarak rumah pak


Darman dan mama Renna tidak terlalu jauh, tapi mereka sengaja saat di rumah


orang tua Ajeng mereka memutuskan untuk tetap di sana dan akan bergantian ke


rumah mama Renna setelah dua minggu sekalian untuk menghadiri reoni sekolah


Ajeng.


            Mereka hanya butuh waktu satu jam


saja untuk sampai di rumah mama Renna. Rumah mama Renna berada di kota, dengan


bangunan yang besar dan pagar yang tinggi. Walaupun sudah beberapa kali datang


ke rumah itu, Ajeng masih terkagum setiap kali melihat besarnya rumah itu.


            Mobil mereka sudah berada di depan


pagar tinggi itu, Al menyalakan klaksonnya. Seorang pria muda sudah bersiap


untuk membukakan gerbang. Setelah gerbang terbuka, Al segera menjalankan


kembali mobilnya memasuki halaman luas rumah itu.


“Loh …,


mas Al pulang!” ucap pria muda itu saat melihat Al membuka pintu mobilnya.


“Iya …,


bagaimana kabarmu Man?”


“Aku


baik mas!”


“Mama di


rumah?”


“Ibu


katanya keluar sebentar tadi, tapi nggak sampek sore sudah kembali!”


            Ajeng yang masih berada di dalam


mobil segera turun saat Al membukakan pintu mobil untuknya. Ia tersenyum menyapa


pria muda itu, usianya sepertinya masih seumuran dengannya. Dulu saat ke rumah


ini, Ajeng tidak melihat pria muda itu, pas pernikahan juga tidak melihatnya.


“Oh iya


dek …, kenalkan ini namanya Lukman, dia putranya pak Didik satpam rumah ini,


sekarang Lukman ini yang gantiin pak Didik!”


            Ajeng segera mengulurkan tangannya


saat Al memperkenalkan pria muda itu, tapi pria muda itu malah mengatupkan


tangannya di depan dada.


“Salam


kenal mbak Ajeng!”


“Lukman


ini lulusan pondok pesantren lirboyo. Jadi dia nggak akan bersentuhan dengan


selain mahramnya!” Al menerangkan saat melihat tanda Tanya di pikiran


istrinya.

__ADS_1


“Oh …,


salam kenal juga, Lukman!”


“Ya udah


kamu masuk dulu ya Man!”


“Iya


mas!”


            Al segera mengajak Ajeng masuk ke


dalam rumah besar itu, lagi-lagi Ajeng kembali di buat terpesona dengan rumah


besar dan begitu rapi itu, dari dalam sudah ada seorang ibu yang datang


tergopoh-gopoh menghampiri mereka.


“Bang Al


…., ya Allah …., bibi seneng lihat bang Al datang, ibu pasti juga seneng!”


“Al juga


seneng bi, gimana kabar bibi?”


“Alhamdulillah


bibi baik bang Al. neng Ajeng cantiknya …, baru sekarang bibi bisa melihat


wajah neng Ajeng dari dekat!”


“terimakasih


…!” ucap Ajeng membalas pujian bibi itu.


“Ya udah


ya bi kami ke kamar dulu, capek …!” ucap Al sambil mengusap tengkuknya yang


terasa kaku karena melakukan perjalanan.


“Iya iya


bang …, silahkan. Nanti kalau butuh sesuatu panggil saja bibi!”


            Setelah berpamitan dengan bibi, Al


dan Ajeng pun segera menuju ke dalam kamar. Ajeng mengamati kamar besar itu,


dulu waktu pernikahan pernah ia masuki, tapi saat itu ia tidak begitu fokus


benar-benar menarik, kamar itu benar-benar menggambarkan karakter seorang


Aldevaro Kenzie. Pekerja keras, misterius dan penyayang, lembut tapi juga


tegas, dingin dan serius.


“kenapa


mengelilingi kamar seperti itu?’ Tanya Al yang sudah merebahkan tubuhnya di


atas tempat tidur dengan nuansa abu-abu dan putih itu.


“Kenapa


desainnya seperti ini, Ajeng jadi tahu!” ucap ajeng masih terus memperhatikan


seisi kamar itu.


“Apa?”


“Karakter


mas Al!”


“Memang


karakterku bagaimana?”


“Misterius,


penuh kejutan, dingin, tegas dan …!”


“penyayang!”


ucap Al yang tiba-tiba sudah berada di belakang ajeng dan memeluk Ajeng dari belakang


membuat Ajeng terkejut.


“Mas kau


mengejutkanku!” keluh Ajeng, walaupun begitu ia juga senang diperlakukan


seperti itu oleh suaminya.


            Al memutar tubuh Ajeng hingga mereka


saling berhadapan, ia menatap wajah istrinya lalu mendaratkan ciumannya di kening


istrinya, mengangkat sedikit dagu istrinya lalu mendaratkan ciumannya di bibir


istrinya, ciuman yang hangat dan penuh cinta, awalnya ia tidak ingin melakukan

__ADS_1


lebih tapi ternyata yang terjadi malah sebaliknya, Al menggiring tubuh ajeng ke


tempat tidur dan menindihnya.


            Setiap kali berada di dekat


istrinya, ia merasa tidak mampu mengendalikan tubuhnya sendiri, Ajeng seperti


memiliki magnet tersendiri hingga membuatnya ingin terus mendekap dan memeluk


tubuh mungil itu.


            Setelah semua yang terjadi, al membiarkan


istrinya tertidur di bawah selimut tanpa sehelai benang pun. Ia mengecup kening


dan bibir istrinya lalu beranjak dari tempat tidur, ia menuju ke kamar mandi


dan segera membersihkan diri. Ia mendengar suara mobil mamanya sudah datang,


setelah selesai mandi, ia segera keluar kamar dan menemui mamanya.


“Al …,


kapan datang?’ Tanya mama Renna saat melihat putra sulungnya berada di rumah.


“Baru


saja ma, tadi siang!” ucap Al sambil mendaratkan bokongnya di sofa ruang


keluarga, mama Renna pun menyusul dan duduk di sampingnya.


“Mana


Ajeng? Apa Ajeng tidak ikut?”


“Ajeng


tidur mas, dia kelelahan!” jawab Al dengan santainya, tapi segera mendapat


pukulan dari mamanya.


“ma …,


kenapa mukul Al sih?’ keluh Al sambil memegangi kepalanya yang kena pukul


mamanya.


“dasar


kau ini …, mentang-mentang sudah halal seenak jidat aja ngajak olah raganya,


sampek Ajeng kelelahan begitu!”


“Mama …,


Al ini sedang berikhtiar biar cepet ngasih cucu sama mama dan papa!” jawab Al


dengan santainya.


“ah …,


mama jadi nggak sabar pengen cepet nimang cucu! Belum ada tanda-tanda isi ya,


sudah dua bulan loh kalian nikah!”


“Emang


kalau hamil tanda-tandanya gimana ma?”


“kamu


itu …, katanya guru tapi masalah tanda-tanda kehamilan saja nggak tahu!”


“Tapi


kan Al nggak mempelajari tanda-tanda kehamilan!”


“Cari di


google banyak, jangan kayak orang jaman purba!”


“Mama


bener ya …!”


            Akhirnya mereka pun berbincang


hingga sore sambil menunggu Ajeng bangun. Al sengaja tidak kembali ke dalam


kamar karena tidak mau mengganggu istirahat istrinya, ia akan membangunkan


istrinya saat sudah wakgtu sholat Ashar.



Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2