
Dua minggu sudah mereka di kampung
Ajeng, kini sudah waktunya untuk mereka berpindah ke rumah orang tua Al. banyak
sekali hal-hal yang baru yang di dapat Al, sebagai pemuda desa, mama Renna
sudah sangat ingin mereka bergantian menginap di rumahnya. Akhirnya mereka pun
memutuskan untuk berkunjung dan menginap di sana.
“bapak …, ibu kami pamit ya, jaga
kesehatan tidak usah terlalu keras bekerjanya. Lebih baik memperkerjakan orang
untuk menggarap sawahnya!” ucap Al pada mertuanya.
“Iyo le …, salam ya buat bapak sama
ibu di kota! Nanti kalau ada waktu insyaallah bapak sama ibuk akan berkunjung
ke sana!”
“Nggeh pak …., assalamualaikum …!”
“Waalaikum salam!”
Setelah selesai berpamitan, mereka
pun segera melakukan perjalanan ke rumah mama Renna. Walaupun jarak rumah pak
Darman dan mama Renna tidak terlalu jauh, tapi mereka sengaja saat di rumah
orang tua Ajeng mereka memutuskan untuk tetap di sana dan akan bergantian ke
rumah mama Renna setelah dua minggu sekalian untuk menghadiri reoni sekolah
Ajeng.
Mereka hanya butuh waktu satu jam
saja untuk sampai di rumah mama Renna. Rumah mama Renna berada di kota, dengan
bangunan yang besar dan pagar yang tinggi. Walaupun sudah beberapa kali datang
ke rumah itu, Ajeng masih terkagum setiap kali melihat besarnya rumah itu.
Mobil mereka sudah berada di depan
pagar tinggi itu, Al menyalakan klaksonnya. Seorang pria muda sudah bersiap
untuk membukakan gerbang. Setelah gerbang terbuka, Al segera menjalankan
kembali mobilnya memasuki halaman luas rumah itu.
“Loh …,
mas Al pulang!” ucap pria muda itu saat melihat Al membuka pintu mobilnya.
“Iya …,
bagaimana kabarmu Man?”
“Aku
baik mas!”
“Mama di
rumah?”
“Ibu
katanya keluar sebentar tadi, tapi nggak sampek sore sudah kembali!”
Ajeng yang masih berada di dalam
mobil segera turun saat Al membukakan pintu mobil untuknya. Ia tersenyum menyapa
pria muda itu, usianya sepertinya masih seumuran dengannya. Dulu saat ke rumah
ini, Ajeng tidak melihat pria muda itu, pas pernikahan juga tidak melihatnya.
“Oh iya
dek …, kenalkan ini namanya Lukman, dia putranya pak Didik satpam rumah ini,
sekarang Lukman ini yang gantiin pak Didik!”
Ajeng segera mengulurkan tangannya
saat Al memperkenalkan pria muda itu, tapi pria muda itu malah mengatupkan
tangannya di depan dada.
“Salam
kenal mbak Ajeng!”
“Lukman
ini lulusan pondok pesantren lirboyo. Jadi dia nggak akan bersentuhan dengan
selain mahramnya!” Al menerangkan saat melihat tanda Tanya di pikiran
istrinya.
__ADS_1
“Oh …,
salam kenal juga, Lukman!”
“Ya udah
kamu masuk dulu ya Man!”
“Iya
mas!”
Al segera mengajak Ajeng masuk ke
dalam rumah besar itu, lagi-lagi Ajeng kembali di buat terpesona dengan rumah
besar dan begitu rapi itu, dari dalam sudah ada seorang ibu yang datang
tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
“Bang Al
…., ya Allah …., bibi seneng lihat bang Al datang, ibu pasti juga seneng!”
“Al juga
seneng bi, gimana kabar bibi?”
“Alhamdulillah
bibi baik bang Al. neng Ajeng cantiknya …, baru sekarang bibi bisa melihat
wajah neng Ajeng dari dekat!”
“terimakasih
…!” ucap Ajeng membalas pujian bibi itu.
“Ya udah
ya bi kami ke kamar dulu, capek …!” ucap Al sambil mengusap tengkuknya yang
terasa kaku karena melakukan perjalanan.
“Iya iya
bang …, silahkan. Nanti kalau butuh sesuatu panggil saja bibi!”
Setelah berpamitan dengan bibi, Al
dan Ajeng pun segera menuju ke dalam kamar. Ajeng mengamati kamar besar itu,
dulu waktu pernikahan pernah ia masuki, tapi saat itu ia tidak begitu fokus
benar-benar menarik, kamar itu benar-benar menggambarkan karakter seorang
Aldevaro Kenzie. Pekerja keras, misterius dan penyayang, lembut tapi juga
tegas, dingin dan serius.
“kenapa
mengelilingi kamar seperti itu?’ Tanya Al yang sudah merebahkan tubuhnya di
atas tempat tidur dengan nuansa abu-abu dan putih itu.
“Kenapa
desainnya seperti ini, Ajeng jadi tahu!” ucap ajeng masih terus memperhatikan
seisi kamar itu.
“Apa?”
“Karakter
mas Al!”
“Memang
karakterku bagaimana?”
“Misterius,
penuh kejutan, dingin, tegas dan …!”
“penyayang!”
ucap Al yang tiba-tiba sudah berada di belakang ajeng dan memeluk Ajeng dari belakang
membuat Ajeng terkejut.
“Mas kau
mengejutkanku!” keluh Ajeng, walaupun begitu ia juga senang diperlakukan
seperti itu oleh suaminya.
Al memutar tubuh Ajeng hingga mereka
saling berhadapan, ia menatap wajah istrinya lalu mendaratkan ciumannya di kening
istrinya, mengangkat sedikit dagu istrinya lalu mendaratkan ciumannya di bibir
istrinya, ciuman yang hangat dan penuh cinta, awalnya ia tidak ingin melakukan
__ADS_1
lebih tapi ternyata yang terjadi malah sebaliknya, Al menggiring tubuh ajeng ke
tempat tidur dan menindihnya.
Setiap kali berada di dekat
istrinya, ia merasa tidak mampu mengendalikan tubuhnya sendiri, Ajeng seperti
memiliki magnet tersendiri hingga membuatnya ingin terus mendekap dan memeluk
tubuh mungil itu.
Setelah semua yang terjadi, al membiarkan
istrinya tertidur di bawah selimut tanpa sehelai benang pun. Ia mengecup kening
dan bibir istrinya lalu beranjak dari tempat tidur, ia menuju ke kamar mandi
dan segera membersihkan diri. Ia mendengar suara mobil mamanya sudah datang,
setelah selesai mandi, ia segera keluar kamar dan menemui mamanya.
“Al …,
kapan datang?’ Tanya mama Renna saat melihat putra sulungnya berada di rumah.
“Baru
saja ma, tadi siang!” ucap Al sambil mendaratkan bokongnya di sofa ruang
keluarga, mama Renna pun menyusul dan duduk di sampingnya.
“Mana
Ajeng? Apa Ajeng tidak ikut?”
“Ajeng
tidur mas, dia kelelahan!” jawab Al dengan santainya, tapi segera mendapat
pukulan dari mamanya.
“ma …,
kenapa mukul Al sih?’ keluh Al sambil memegangi kepalanya yang kena pukul
mamanya.
“dasar
kau ini …, mentang-mentang sudah halal seenak jidat aja ngajak olah raganya,
sampek Ajeng kelelahan begitu!”
“Mama …,
Al ini sedang berikhtiar biar cepet ngasih cucu sama mama dan papa!” jawab Al
dengan santainya.
“ah …,
mama jadi nggak sabar pengen cepet nimang cucu! Belum ada tanda-tanda isi ya,
sudah dua bulan loh kalian nikah!”
“Emang
kalau hamil tanda-tandanya gimana ma?”
“kamu
itu …, katanya guru tapi masalah tanda-tanda kehamilan saja nggak tahu!”
“Tapi
kan Al nggak mempelajari tanda-tanda kehamilan!”
“Cari di
google banyak, jangan kayak orang jaman purba!”
“Mama
bener ya …!”
Akhirnya mereka pun berbincang
hingga sore sambil menunggu Ajeng bangun. Al sengaja tidak kembali ke dalam
kamar karena tidak mau mengganggu istirahat istrinya, ia akan membangunkan
istrinya saat sudah wakgtu sholat Ashar.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘❤️❤️❤️
__ADS_1