
Yora adalah sekretaris Tuan Admaja pada waktu itu. Parasnya cantik, tubuhnya seksi, menjadikan daya tarik tersendiri bagi kaum lelaki, termasuk Tuan Admaja. Tidak, bukan begitu. Tuan Admaja lebih ke menahan diri agar tak terpesona pada sekertarisnya sendiri, karena dirinya sudah dijodohkan dengan anak pengusaha yang nantinya akan semakin melambungkan namanya di dunia bisnis.
Yora bisa bekerja di perusahaan GL karena rekomendasi dari Tuan Ericxander. Pria itu menilai, Yora lebih cocok bekerja disana daripada bekerja di restoran miliknya. Tidak bisa menolak permintaan teman karibnya, Tuan Admaja mengiyakan, toh dirinya juga membutuhkan seorang sekretaris untuk menggantikan sekretaris lama yang resign.
Lalu apakah Tuan Erik punya hubungan romantis dengan Yora? Nyatanya hanya Tuan Erik yang menaruh hati, sedangkan Yora malah diam diam menyukai tuan Admaja yang notabene atasannya sendiri.
Berbagai cara telah dilakukan Yora untuk menarik perhatian atasannya, tapi selalu berujung gagal. Walaupun Tuan Admaja bersikap ramah, tapi ketika Yora mulai merayunya, dengan tegas pria itu menolak.
Bohong jika tak tertarik pada lekukan tubuh sekretarisnya, nyatanya jika dirinya berdekatan pada wanita itu, dadanya sering berdegup tak karuan.
Cerita itu dimulai dari sini. Saat itu, Tuan Admaja dan Yora sedang menghadiri undangan peresmian gedung hotel di luar kota. Tidak ada yang aneh, mereka makan dan minum seperti yang lainnya, tapi tiba-tiba Yora bergerak gelisah. Wanita itu menggeliat seperti cacing kepanasan seraya meraba bagian tubuhnya.
Sempat terkejut, tapi dengan langkah cepat, Tuan Admaja menarik lengan Yora menjauh dari pesta. Memalukan pikirnya. Kenapa harus menggoda dirinya didepan rekan lainnya.
"Yora! Apa yang kau lakukan! Ck. Kau mau membuatku malu!" ucapan Tuan Admaja terdengar sangat kesal. Apalagi dengan tidak tahu malunya, Yora sempat meremas isi dibalik celana panjang hitam yang dikenakan pria itu.
Setelah melakukan pemesanan dua room, Tuan Admaja mengantarkan Yora untuk ke kamarnya. Pria itu mencengkram kuat lengan wanita itu agar tak semakin hilang kendali.
"Tuan, aku mencintaimu." Yora tiba-tiba memeluk Tuan Admaja. Dapat ia dengar debaran jantung atasannya. Tak menolak, tapi juga tak merespon. Pria itu diam saja.
"Tuan, tolong aku. Sudah sedari tadi aku menahannya. Ini semakin membuatku tak nyaman. Aku.. aku ingin." Wanita itu meraba isi dibalik celana panjang pria itu.
"Tolong Tuan, aku janji tak akan menuntut apapun. Lagi pula aku masih virgin, apa tuan tak penasaran?"
Tuan Admaja diam saja. Pria itu menekan geliginya kuat-kuat. Ini adalah cobaan yang bukan main-main. Dirinya ingin, tapi di satu sisi, ia tak ingin membuat masalah. Ia tidak bisa menghancurkan nama baik keluarganya dikemudian hari.
Sial! Perasaan apa ini.
__ADS_1
"Kau yang memancingku Yora! Jangan salahkan aku setelah malam ini."
Dengan rakus pria itu mencium bibir Yora dan menyesap leher wanita itu. Ketika hasratnya sudah sampai ke ubun-ubun, seketika..
DUK.
Tuan Admaja malah memukul tengkuk belakang Yora hingga pingsan. Pria itu kemudian merebahkan tubuh Yora diatas ranjang, lalu keluar setelah itu.
Sialan. Aku akan memecat mu setelah ini.
Setelah kejadian itu, Tuan Admaja benar-benar memecat Yora. Ia rasa tidak akan baik jika diteruskan, apalagi keluarga besarnya sudah mengatur pernikahannya.
Yora menangis tentu saja. Harapannya serasa lenyap begitu saja. Ini sangat tidak adil baginya.
"Tuan, kenapa memecatku. Aku sedang mengandung anakmu."
"Kamu jangan gila! aku tak pernah menyentuhmu!"
Yora hanya bisa menangis sedih. Bagaimana mungkin pria itu mengatakan jika bukan dirinya yang menidurinya. Jelas jelas saat ia terbangun, ada jejak percintaan mereka. Setidaknya kenapa harus dikeluarkan didalam.
"Bajingan kamu! Setidaknya jika tak ingin memiliki anak, jangan dikeluarkan di dalam! Aku memang tak menuntut apapun darimu, setidaknya akui anakmu!"
Tuan Admaja sangat syok. Bagaimana mungkin wanita itu hamil, sedangkan dirinya tak pernah melakukan penetrasi saat itu.
"Dasar ja*lang! pergi dari sini! Jangan minta aku mengakui anak itu. Aku tak pernah melakukan itu padamu! Aku memang mencumbumu saat itu, tapi setelah itu aku membuatmu pingsan. Kita tak melakukan yang lebih!" sentak Tuan Admaja.
"Lalu bagaimana dengan ini!" Yora meletakkan hasil USG atas namanya.
__ADS_1
"Mana aku tahu. Kau wanita penggoda, mungkin saja kamu tidur dengan pria lain. Yang jelas bukan aku yang melakukan itu padamu."
Yora keluar dari perusahaan itu dengan hati penuh dendam. Wanita itu berjanji akan membalas semua penghinaan ini.
Bibirnya tiba-tiba tersenyum. Ia mendapati sebuah flashdisk dan berkas penting milik Tuan Admaja. Dengan semua itu, ia yakin akan membuat pria itu bertekuk lutut dihadapannya.
"Jika harus hancur, kamu juga harus merasakan. Tunggu pembalasan ku."
--------------------------------------
"Lalu apa yang terjadi ayah. Apa wanita itu menggunakannya untuk menghancurkan perusahaan?" tanya Edward setelah mendengar cerita masa lalu ayahnya.
Tuan Admaja tersenyum dan mengangguk. "Kamu benar, wanita itu bahkan sempat mengambil alih aset kita, apalagi setelah tahu janinnya tidak berkembang dan harus digugurkan. Ini adalah awal dari masalah ini. Wanita itu terus mengusik hidup kita, sampai ayah mengasingkan dirimu waktu itu. Ayah meminta orang untuk melenyapkannya, tapi entahlah.. Ayah pikir dia sudah mati, ternyata bersembunyi dan melakukan kejahatan yang lebih besar lagi."
Edward mengusap wajahnya. Terjawab sudah pertanyaannya. Dulu ia selalu bertanya-tanya, kenapa dirinya harus diasingkan di tempat yang jauh, ternyata hal ini yang mendasarinya. Wanita itu memang harus dikasih mati.
"Tuan Ericxander yang berada di belakang wanita gila itu. Bagaimana mungkin kita tak menyadarinya. Orang yang kita anggap keluarga nyatanya duri dalam daging."
"Semua terjadi karena cinta. Cinta terkadang membuat hilang akal. Kamu pasti sudah itu. Selesaikan dengan baik masalah ini. Ayah percayakan padamu."
Tuan Admaja tak berkomentar apapun. Yang penting keluarganya baik-baik saja itu sudah cukup. Beliau tak ingin memelihara dendam yang nanti dikemudian hari akan menjadi boomerang. Sudah cukup. Ia merasa sudah tua untuk berulah. Ia ingin hidup dengan damai disisa waktunya.
.
.
.
__ADS_1
######