Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Kenapa menangis?


__ADS_3

Ajeng mengamati surat itu, ia membaca kop surat itu, tertulis sebuah nama universitas ternama di amplop surat dengan warna coklat itu.


Ajeng pun kembali duduk di teras, melepaskan sepatunya karena merasakan kakinya kepanasan, ia melempar begitu saja tasnya.


Ajeng segera membuka amplop surat itu, ia membaca perlahan surat yang berada di tangannya.


Tiba-tiba Ajeng menangis sesenggukan setelah selesai membaca surat itu.


Hiks hiks hiks


Hiks hiks hiks


Al yang baru saja pulang, ia begitu terkejut melihat Ajeng menangis di depan rumah dengan penampilan yang begitu menyedihkan, dengan gerak cepat ia berlari menghampiri Ajeng.


"Kamu kenapa?" tanya Al, bukannya menjawab Ajeng malah mengeraskan suaranya.


"Hey ....., kenapa menangis?" tanya Al lagi sambil menghapus air mata Ajeng, Ajeng juga tidak menjawabnya, ia menyerahkan surat yang berada di tangannya.


Al segera membaca isi surat itu, yang ternyata berisi jika Ajeng gagal mengikuti tes pertama masuk perguruan tinggi yang tertera di kop surat itu.


Al segera memeluk Ajeng, Ajeng masih melanjutkan tangisannya.


"Cup cup cup ....., jangan menangis lagi ya!" ucap Al sambil menepuk-nepuk punggung Ajeng.


"Aku gagal mas!" ucap Ajeng sambil terus menangis.


"Kamu belum gagal, ini masih tahap awal, masih banyak jalan setelah ini!"


"Tapi bagaimana lagi, aku pasti sangat mengecewakan mas Al!"


"Nggak ...., kamu tetap kebanggaan ku, dan selamanya seperti itu, kau juaranya!"

__ADS_1


"Apa aku menyerah saja ya mas!"


"Aku di sini bukan untuk melihatmu menyerah, kau tahu bisa sekuat apa aku di sampingmu, jangan menyerah sekarang!"


"Lalu aku harus apa?"


"Kita berjuang bersama-sama ...., ada banyak hal yang belum kamu tahu di luar sana, ini hanya sebagian kecil dari perjuanganmu, jangan menyerah."


"Baiklah ....., jadi aku harus bangkit!"


"Iya .....!"


"Tapi aku sangat lelah hari ini, aku nggak sanggup lagi berjalan ke dalam rumah hari ini, aku sudah terlalu lama berjalan, kakiku mau copot!" keluh Ajeng.


"Kamu berjalan dari sekolah?" tanya Al dan Ajeng pun mengangguk.


"Kenapa jalan kaki?"


"Maafkan aku, aku lupa memberimu uang saku! Ya udah sebagai gantinya, aku akan menggendongku sampai ke dalam rumah!"


"Baiklah ....!"


Tanpa menunggu lama, Al langsung membopong Ajeng hingga masuk ke dalam rumah, ia menjatuhkan tubuh Ajeng ke sofa.


"Augh ....., kenapa di jatuhkan?" keluh Ajeng.


"Kamu kecil-kecil berat juga ya ternyata! Makan mu apa sih?"


"Aku makan menyan!" jawab Ajeng ketus.


"Jangan suka ngambek, cepet tua loh ....!"

__ADS_1


"Aku haus .....!" ucap Ajeng sambil memegangi tenggorokannya yang terasa kering.


"Ya udah ...., biar aku ambilkan ya!" Al pun segera menuju ke dapur dan mengambilkan segelas air putih untuk Nadin, hanya dengan sekali tegukan saja air itu sudah beralih ke tenggorokan Ajeng.


"Bener-bener haus ya?" tanya Al dan Ajeng hanya mengangguk, kemudian mata Al tertuju pada kaki Ajeng yang terlihat memar merah .


"Kakimu memar, aku ambil salep dulu, diam di sini!"


Al kembali meninggalkan Ajeng, ia mengambil kotak obat.


"Ini sakit ya kakinya?" tanya Al sambil mengoleskan salep ke kaki Ajeng yang memar.


"Ini sudah biasa mas, memar dikit nanti juga sembuh sendiri!"


"Kenapa bisa memar seperti itu?"


"Sepatuku agak kekecilan!"


"Kenapa tidak bilang sih? Besok kita beli sepatu baru!"


"Nggak usah ...., lagian mau lulus juga, buat apa!"


"Jangan suka mengabaikan hal-hal sepele ....!"


BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani.5249

__ADS_1


__ADS_2