Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Bab 135


__ADS_3

Aurora yang ditarik tangannya oleh Edward hanya bisa meringis dengan langkahnya yang terseok seok karena kakinya yang sedang mengenakan highheels. Edward yang sudah diliputi marah tidak mengetahui akibat dari yang ditimbulkannya. Ia terus saja menyeret Aurora sampai dikamarnya.


Belum sampai dikamarnya, Edward dan Aurora dicegat Lukas ditengah jalan. Ia belum mengetahui kejadian panas di loby, anak buahnya juga belum melaporkan apapun.


"Tuan, nona.." sapa Lukas yang melihat Edward berjalan tergesa gesa.


Edward berhenti sejenak, menatap nyalang pada asistennya itu. Raut wajah Edward sudah kepingin makan orang saja. Lukas tau diri, ia sedikit menurunkan pandangannya. Tentu saja ia tak berani menatap mata Edward.


"Lukas, batalkan penerbangan, urus cek in lagi dan bawa Brian ke kamarmu , aku sedang ada urusan bersama istriku. Segera lakukan tugasmu.!!" Edward kembali berjalan tergesa gesa menyeret pergelangan tangan istrinya.


Pada akhirnya Lukas hanya terbengong, belum sempat dia mengatakan iya pada Edward, dua manusia didepannya sudah menghilang dari pandangan. Ia masih bertanya tanya , ada masalah apa pikirnya. Tidak ingin ambil pusing, ia juga berjalan cepat kekamar Edward untuk menjemput Brian terlebih dahulu.


BRAKK..!!


Brian yang saat itu sedang bermain dengan laptopnya langsung mengalihkan pandangan kearah pintu terbuka kasar. Ia menatap wajah ayahnya yang terlihat marah. Ia masih diam menunggu ayahnya berbicara.


"Bry, pergilah kekamar paman Lukas sebentar, Daddy dan Mommy ada urusan yang harus kami selesaikan.!" ucap Edward dengan nada datarnya.


Brian segera menutup laptop dan membawa bersamanya. Dia langsung keluar dari kamar itu diikuti bodyguard yang menjaganya tanpa bertanya apapun pada ayahnya. Dia sangat tau betul jika ayahnya sedang marah. Ia takut memperkeruh suasana.


"Pergilah mandi ...." ucap Edward yang berusaha bersikap tenang pada istrinya.


Aurora seperti enggan melakukan perintah suaminya, ia masih ingin menjelaskan tentang peristiwa itu, tapi ia sadar jika membantah, itu akan menyulut api kemarahan suaminya.


Edward merebahkan punggungnya, menatap langit langit kamar, ia memejamkan matanya, memflasback ingatannya kejadian yang baru saja terjadi. Dadanya bergemuruh hebat. Dia cemburu, sangat cemburu.


Tiga puluh menit kemudian, Aurora sudah segar dengan piyama pendeknya. Rambutnya ia gulung tinggi membuat bekas cupangan suaminya nampak jelas dilehernya. Bau harum tubuhnya semerbak memenuhi ruangan itu, bibirnya nampak merapalkan doa untuk menjinakkan hati suaminya. Ia akan menggoda Edward malam ini agar melupakan kejadian itu. Ia tak ingin masalahnya berlarut larut.


Jika saja dia Aurora yang dulu, sudah dari tadi ia menendang selang*angan pria itu. Apalah daya, ia sudah berjanji akan meninggalkan masa lalunya. Ia kini berubah menjadi wanita elegan, tidak elok rasanya dia melakukan itu dimuka umum, apalagi saat itu ia sudah berganti dengan gaun pendek.


"Ku mohon maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu marah dan meradang. Lembutkan hati suamiku, lunakkan dan luluhkan perasaannya, dinginkan kepalanya. Tundukkan jiwanya padaku, istrimu Edward Felix Edlyn." batin Aurora berdoa.


Entah dapat darimana Aurora mendapat rapalan doa seperti itu, dia dengan percaya dirinya duduk ditepi ranjang dan menepuk paha Edward pelan. Edward yang saat itu menutup mata dengan sebelah lengannya kemudian bangkit dari rebahannya.


Ia menatap rumit wajah istrinya. Hatinya masih marah, tapi ia tidak bisa melampiaskan kekesalannya pada Aurora. Dadanya nampak naik turun, aliran darahnya semakin cepat. Ia butuh pelampiasan, pelampiasan yang bisa meredakan amarahnya. Ia ingin memukul orang jika seandainya bukan Aurora didepannya.


Aurora tersenyum tipis dan mengusap dada Edward. "Wahai pemilik hati, redakan amarah suamiku. Lembutkan tutur katanya agar tak menyakiti hatiku dan putraku." pinta Aurora dalam hati.


"Ayo, aku bantu meredakan amarahmu, jika saja maaf bisa mengobati luka hatimu, aku akan berulang kali melakukan itu. Tidakkah kamu percaya padaku? Aku hanya mencintai dirimu seorang, tidak ada pria lain bahkan tak mungkin terganti dengan yang lain. Maaf, itu memang diluar kendaliku. Aku sendiri tidak menyangka akan ada kejadian seperti itu." ucap Aurora pelan


Edward masih diam, ia ingin sekali mengumpati istrinya, ia juga ingin misuh misuh sakebon binatang, tapi dia tidak punya keberanian melakukan itu, ia takut menyakiti hati wanitanya.


"Baiklah jika memang belum percaya padaku, aku akan menerima hukumanku. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, marah dan makilah istrimu ini, pukul dan lampiaskan amarahmu, tapi setelah itu peluklah aku dengan kasih sayangmu. Aku mencintaimu, tak kan kubiarkan kamu sakit hati seorang diri."


Mata Aurora berkaca kaca, dia mulai emosional ketika suaminya bersikap dingin padanya. Tidak mau bicara ataupun marah marah. Ia merasa lebih baik dia marah marah dari pada mendiamkannya seperti itu. Ia baru tau yang dirasakan Brian saat itu.


Edward melirik sinis Aurora, lalu meninggalkannya begitu saja. Edward pergi ke balkon, ia butuh ketenangan. Merokok jalan satu-satunya meredakan kekesalannya.


Aurora memandang sendu Edward, suaminya benar benar marah padanya. Ia belum bisa menjinakkan hati suaminya, ini pertama kalinya ia mengalami masalah seperti ini, dan pernikahannya baru seumur jagung, belum terlalu mengerti menghadapi semua ini. Suaminya digoda juga tidak mempan, apalah novel yang ia baca selama ini, bohong belaka pikirnya.


Aurora mengetikkan sesuatu diponselnya, lalu segera mengganti pakaiannya dengan gaun cantik, ia merias wajahnya secantik mungkin dan menyemprotkan parfum wangi andalannya. Berharap suaminya akan tertarik padanya.

__ADS_1


Sayang sekali, usahanya belum membuahkan hasil, Edward hanya meliriknya saja. Sedikit kecewa memang, tapi tak apa, dia masih mencari cara menaklukkan hati suaminya. Ternyata berdoa saja juga tak membuahkan hasil, ia masih harus berusaha keras. Ia tersenyum kecut.


Aurora membukakan pintu kamarnya, ia tersenyum lebar melihat Lukas berdiri dengan membawa gitar dan beberapa pesanannya.


"Terima kasih Lukas, jaga Brian sebentar ya." ucap Aurora saat menerima gitar itu.


"Sama sama nona, tidak perlu sebentar, biarkan Brian malam ini tidur bersama saya. Selamat berjuang..." ucap Lukas sembari senyum tipis tersungging dibibirnya.


Aurora hanya tersenyum tipis lalu menutup pintu dan menguncinya.


Lagi lagi Edward hanya melirik Aurora. Ia masih betah menghisap rokoknya. Rupanya ia masih kesal. Aurora hanya tersenyum melihat itu.


Aurora memasang dan menyalakan banyak lilin aroma terapi dikamarnya . Ia kemudian mematikan lampu yang membuat ruangan itu menjadi temaram.



Bau wangi dari lilin itu menguar keluar. Wanginya benar benar menenangkan . Aurora tersenyum memandang punggung Edward, ia berharap usaha terakhir untuk membujuk suaminya berhasil. Ia ambil gitarnya dan duduk di kursi. Ia berharap kali ini Edward akan menoleh dan menghampirinya.


Dipetiknya senar gitar itu, ia menyanyikan bait pertama dari lagu itu.


I'm going under, and this time, I fear there's no one to save me


(Aku tenggelam, dan kali ini, aku takut tak ada yang menyelamatkanku)


This all or nothing really got a way of driving me crazy


(Ini semua atau tidak sama sekali benar-benar membuatku gila)


(Aku butuh seseorang tuk menyembuhkan, seseorang tuk memahami)


Somebody to have, somebody to hold


(Seseorang tuk dimiliki, seseorang tuk dipeluk)


It's easy to say, but it's never the same


(Mudah tuk diucapkan, tapi tak pernah sama)


I guess I kinda liked the way you numbed all the pain


(Aku kira aku lumayan suka caramu menghilangkan rasa sakit)


 


Now the day bleeds into nightfall


(Kini hari yang suram hingga malam tiba)


And you're not here to get me through it all


(Dan kau tak di sini tuk menemaniku melalui ini semua)

__ADS_1


I let my guard down and then you pulled the rug


(Aku lengah dan kemudian kau tiba-tiba meninggalkanku)


I was getting kinda used to being someone you loved)


(Aku mulai terbiasa menjadi orang yang kau cintai)


 


I'm going under, and this time, I fear there's no one to turn to


(Aku tenggelam, dan kali ini aku takut tak ada seseorang yang bisa dituju)


This all or nothing way of loving got me sleeping without you


(Ini semua atau tak ada cara tuk dicintai membuatku tidur tanpamu)


Now, I need somebody to know, somebody to heal


(Sekarang aku butuh seseorang tuk memahami, seseorang tuk menyembuhkan)


Somebody to have just to know how it feels


(Seseorang tuk dimiliki hanya tuk tahu bagaimana rasanya)


It's easy to say, but it's never the same


(Mudah tuk diucapkan, tapi tak pernah sama)


I guess I kinda like the way you help me escape


(Aku kira aku suka caramu membantuku melalui ini)


Belum selesai ia menyanyikan bait lagunya, Edward sudah menghampiri Aurora. Ia mengulurkan tangannya mengajak Aurora berdiri. Edward menatap sendu wajah Aurora.


"Maaf..." Edward membelai wajah Aurora dengan sayang.


Aurora langsung mendekap tubuh suaminya. Suami yang sangat ia cintai sudah kembali padanya. Ia menitikkan air mata haru. Ia telah berhasil mengambil hati suaminya lagi.


Edward mendekap erat tubuh Aurora, kepalanya mendongak keatas, menghalau air matanya. Ia tidak ingin menangis, ia bukan pria lemah.


"Bagaimana bisa kau melakukan semua ini, benarkah aku bisa marah lama-lama denganmu, nyatanya aku tak bisa melakukan itu. Aku terlalu egois padamu, maafkan aku sayang, maafkan aku. Jangan menangis, itu membuatku sakit. Maaf.. maafkan aku sayang... maafkan aku."


.


.


.


###

__ADS_1


__ADS_2