
Hari ini tepat usia kandungan Ajeng
menginjak empat bulan atau memasuki 120 hari di mana di katakana dala al-qur’an
saat ini roh memasuki Rahim ibunya dan masuk ke dalam bayi. Makanya di adakan
acara mapati atau ngupati.
Orang tua Ajeng sudah berada di rumah
mama Renna, mereka lah yang paling tahu segala pernak pernik kenduri, mama
Renna di bantu buk Kasih menyiapkan segala pernak perniknya seperti tumpeng
nasi megono, jajan pasar, bubur abang
putih dan kupat sumpel.
Selain kenduri, keluarga Al juga
mengadakan pengajian, jadi setelah kenduri selesai acara di lanjutkan dengan
pengajian yang di hadiri tetangga sekitar dan juga kerabat.
“Ibuk seneng nduk, kamu di sini begitu di sayangi, bapak sama ibuk tidak akan
merasa khawatir dengan keadaanmu, semoga kamu dan bayimu sehat selalu,
keluargamu di beri kebahagiaan!”
‘Amin bu, terimakasih ya!”
Kali ini bu Kasih dan pak Darman
tidak bisa menginap lagi, mereka sudah menginap semalam. Mereka segera
berpamitan untuk pulang.
“wes to nduk, bapak sama ibuk pasti sering ke sini, jaraknya kan juga tidak terlalu jauh!”
“Iya pak, tapi bapak sama ibuk
baik-baik di rumah ya, kalau ada masalah segera hubungi Ajeng!”
“Iya, ya sudah bapak sama ibuk
pulang ya!”
Pulang ini mereka tidak lagi di
antar oleh Al karena kata mama Renna Al tiba-tiba ada urusan mendadak , papa Adi juga tidak terlihat saat orang tua Ajeng pulang, Hanya ada Dika dan mama Renna, jadi Dika lah yang mengantar mereka.
Hingga hampir tengah malam, Al tak
juga pulang membuat Ajeng begitu khawatir. I hanya mondar-mandir di teras rumah fan sesekali amsuk ke rumah untuk mengambil minum.
"Sudah malam sayang, kita masuk ya!" Ajeng terpaksa menuruti kemauan mama Renna. Mama Renna menemani Ajeng di kamarnya.
“Mas Al sebenarnya kemana sih ma?”
“Al ada urusan sebenar sayang, nanti
kalau urusannya sudah selesai pasti ia akan pulang!”
‘lalu papa?"
"Papa sama Al, sayang!"
__ADS_1
"Lalu Dika ma? Semenjak mengantar bapak sama ibuk Dika juga tidak kembali?"
“Dika juga menyusul Al sayang,
sudah kamu tidur aja ya. Nanti kalau al pulang mama akan bangunkan kamu!”
*Maaf ya sayang, mama nggak bisa memberitahu yang sebenarnya pada mu, sayang* ......, Batin mama Renna dengan mengelus kepala menantunya itu.
“tapi ma …, perasaan Ajeng nggak enak, nggak biasanya mas Al pergi tanpa pamit sama Ajeng!” Ajeng merasakan firasatnya sangat tidak baik, hatinya tidak tenang. Bahkan walaupun mengantuk tapi matanya masih enggan terpejam. Mama Renna menemani Ajeng sepanjang malam.
🌺🌺🌺🌺🌺
Di tempat lain, Al sedang berjuang
melawan penyakitnya. Ternyata selama ini Al dan keluarganya menutupi sakit yang
di derita oleh Al. al mengalami kebocoran jantung, ia membutuhkan donor jantung
agar bisa tetap bertahan hidup.
Al tergeletak lemas di rumah sakit
dengan slang yang tertancap di seluruh bagian tubuhnya, hal ini akan terjadi jika
Al terlalu kelelahan. Dika dan orang tuanya juga baru mengetahuinya beberapa tahun terakhir, sebelumnya tidak begitu parah, tapi akhir-akhir ini Al sering kali keluar masuk rumah sakit. Hal itulah yang mambuat Al meminta Dika untuk
pulang.
“Bang …, aku nggak akan maafin abang
jika sampai abang ninggalin Ajeng! Hanya abang kebahagiaan Ajeng!” Dika terus
saja mengajak bicara abangnya yang bahkan tidak mau membuka matanya.
Hingga pagi hari barulah pria itu
larikan ke rumah sakit. Untung saja saat itu hanya ada keluarga inti, sehingga untuk menyembunyikan dari Ajeng tidak sulit.
“bang …, sudah bangun. Apa yang
abang rasakan?”
“bagaimana Ajeng?” pertanyaan yang
pertama adalah Ajeng. Ia sama sekali tidak memikirkan tubuhnya yang penuh dengan peralatan rumah sakit.
“Ajeng baik-baik saja bang!”
“Dia tidak tahu kan?”
“Mama mengatakan kalau abang ada
urusan dengan pekerjaan!”
“Syukurlah ….!” Al memejamkan
matanya, menghembuskan nafas beratnya. “aku harus pulang, ada yang harus aku
lakukan!”
“Tapi bang …., tubuh abang masih
sangat lemah!”
‘Aku mohon Dik, aku takut tidak akan
sempat. Dan setelah ini terserah …, aku ikhlas!”
__ADS_1
“Baiklah …, biar papa bicara sama
dokter!” papa Adi yang sedari tadi menatap putranya nanar itu segera beranjak
dari tempatnya. Ia pun menemui dokter untuk meminta ijin pulang paksa.
Pagi ini Ajeng terus cemas, ia
menunggu di depan rumah dengan ponsel yang terus ia pegang tapi pria itu sama
sekali tidak menghubunginya semenjak kemarin.
“Nak …., sarapan dulu ya, kasihan
sama bayimu jika kamu nya terus khawatir begitu!”
“Iya ma!” Ajeng pun kembali ke dalam
rumah, mereka sarapan. Mama Renna juga terlihat enggan menyantap makanannya
begitu pun dengan Ajeng. Tapi mama Renna harus mengesampingkan perasaannya, ia
harus terus menguatkan Ajeng.
‘sayang …, makan yang banyak ya!”
‘Iya ma …!” Ajeng pun kembali
menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya walaupun enggan tertelan. Rasa makanan itu menjadi sangat hambar.
“Ma …!’
“Iya sayang, ada apa?”
‘Apa mas Al juga tidak menghubungi
mama?”
“Papa menghubungi mama kok sayang
….!”
‘Apa papa bilang kapan mereka akan
pulang?”
Belum sampai mama Renna menjawab, ada suara mobil berhenti di halaman, mama Renna pun segera berdiri.
“sebentar ya sayang, biar mama lihat dulu siapa yang datang!”
“Ajeng ikut ya ma!”
“Nggak usah nak, kamu di sini dulu, lanjutkan makanmu!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰😘❤️