Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
acara Empat bulanan penuh luka


__ADS_3

            Hari ini tepat usia kandungan Ajeng


menginjak empat bulan atau memasuki 120 hari di mana di katakana dala al-qur’an


saat ini roh memasuki Rahim ibunya dan masuk ke dalam bayi. Makanya di adakan


acara mapati atau ngupati.


            Orang tua Ajeng sudah berada di rumah


mama Renna, mereka lah yang paling tahu segala pernak pernik kenduri, mama


Renna di bantu buk Kasih menyiapkan segala pernak perniknya seperti tumpeng


nasi megono, jajan pasar, bubur abang


putih dan kupat sumpel.


            Selain kenduri, keluarga Al juga


mengadakan pengajian, jadi setelah kenduri selesai acara di lanjutkan dengan


pengajian yang di hadiri tetangga sekitar dan juga kerabat.


            “Ibuk seneng nduk, kamu di sini begitu di sayangi, bapak sama ibuk tidak akan


merasa khawatir dengan keadaanmu, semoga kamu dan bayimu sehat selalu,


keluargamu di beri kebahagiaan!”


            ‘Amin bu, terimakasih ya!”


            Kali ini bu Kasih dan pak Darman


tidak bisa menginap lagi, mereka sudah menginap semalam. Mereka segera


berpamitan untuk pulang.


            “wes to nduk, bapak sama ibuk pasti sering ke sini, jaraknya kan juga tidak terlalu jauh!”


            “Iya pak, tapi bapak sama ibuk


baik-baik di rumah ya, kalau ada masalah segera hubungi Ajeng!”


            “Iya, ya sudah bapak sama ibuk


pulang ya!”


            Pulang ini mereka tidak lagi di


antar oleh Al karena kata mama Renna Al tiba-tiba ada urusan mendadak , papa Adi juga tidak terlihat saat orang tua Ajeng pulang, Hanya ada Dika dan mama Renna, jadi Dika lah yang mengantar mereka.


            Hingga hampir tengah malam, Al tak


juga pulang membuat Ajeng begitu khawatir. I hanya mondar-mandir di teras rumah fan sesekali amsuk ke rumah untuk mengambil minum.


"Sudah malam sayang, kita masuk ya!" Ajeng terpaksa menuruti kemauan mama Renna. Mama Renna menemani Ajeng di kamarnya.


            “Mas Al sebenarnya kemana sih ma?”


            “Al ada urusan sebenar sayang, nanti


kalau urusannya sudah selesai pasti ia akan pulang!”


            ‘lalu papa?"


"Papa sama Al, sayang!"

__ADS_1


"Lalu Dika ma? Semenjak mengantar bapak sama ibuk Dika juga tidak kembali?"


            “Dika juga menyusul Al sayang,


sudah kamu tidur aja ya. Nanti kalau al pulang mama akan bangunkan kamu!”


*Maaf ya sayang, mama nggak bisa memberitahu yang sebenarnya pada mu, sayang* ......, Batin mama Renna dengan mengelus kepala menantunya itu.


            “tapi ma …, perasaan Ajeng nggak enak, nggak biasanya mas Al pergi tanpa pamit sama Ajeng!” Ajeng merasakan firasatnya sangat tidak baik, hatinya tidak tenang. Bahkan walaupun mengantuk tapi matanya masih enggan terpejam. Mama Renna menemani Ajeng sepanjang malam.


🌺🌺🌺🌺🌺


            Di tempat lain, Al sedang berjuang


melawan penyakitnya. Ternyata selama ini Al dan keluarganya menutupi sakit yang


di derita oleh Al. al mengalami kebocoran jantung, ia membutuhkan donor jantung


agar bisa tetap bertahan hidup.


            Al tergeletak lemas di rumah sakit


dengan slang yang tertancap di seluruh bagian tubuhnya, hal ini akan terjadi jika


Al terlalu kelelahan. Dika dan orang tuanya juga baru mengetahuinya beberapa tahun terakhir, sebelumnya tidak begitu parah, tapi akhir-akhir ini Al sering kali keluar masuk rumah sakit. Hal itulah yang mambuat Al meminta Dika untuk


pulang.


            “Bang …, aku nggak akan maafin abang


jika sampai abang ninggalin Ajeng! Hanya abang kebahagiaan Ajeng!” Dika terus


saja mengajak bicara abangnya yang bahkan tidak mau membuka matanya.


            Hingga pagi hari barulah pria itu


larikan ke rumah sakit. Untung saja saat itu hanya ada keluarga inti, sehingga untuk menyembunyikan dari Ajeng tidak sulit.


            “bang …, sudah bangun. Apa yang


abang rasakan?”


            “bagaimana Ajeng?” pertanyaan yang


pertama adalah Ajeng. Ia sama sekali tidak memikirkan tubuhnya yang penuh dengan peralatan rumah sakit.


            “Ajeng baik-baik saja bang!”


            “Dia tidak tahu kan?”


            “Mama mengatakan kalau abang ada


urusan dengan pekerjaan!”


            “Syukurlah ….!” Al memejamkan


matanya, menghembuskan nafas beratnya. “aku harus pulang, ada yang harus aku


lakukan!”


            “Tapi bang …., tubuh abang masih


sangat lemah!”


            ‘Aku mohon Dik, aku takut tidak akan


sempat. Dan setelah ini terserah …, aku ikhlas!”

__ADS_1


            “Baiklah …, biar papa bicara sama


dokter!” papa Adi yang sedari tadi menatap putranya nanar itu segera beranjak


dari tempatnya. Ia pun menemui dokter untuk meminta ijin pulang paksa.


            Pagi ini Ajeng terus cemas, ia


menunggu di depan rumah dengan ponsel yang terus ia pegang tapi pria itu sama


sekali tidak menghubunginya semenjak kemarin.


            “Nak …., sarapan dulu ya, kasihan


sama bayimu jika kamu nya terus khawatir begitu!”


            “Iya ma!” Ajeng pun kembali ke dalam


rumah, mereka sarapan. Mama Renna juga terlihat enggan menyantap makanannya


begitu pun dengan Ajeng. Tapi mama Renna harus mengesampingkan perasaannya, ia


harus terus menguatkan Ajeng.


            ‘sayang …, makan yang banyak ya!”


            ‘Iya ma …!” Ajeng pun kembali


menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya walaupun enggan tertelan. Rasa makanan itu menjadi sangat hambar.


            “Ma …!’


            “Iya sayang, ada apa?”


            ‘Apa mas Al juga tidak menghubungi


mama?”


            “Papa menghubungi mama kok sayang


….!”


            ‘Apa papa bilang kapan mereka akan


pulang?”


Belum sampai mama Renna menjawab, ada suara mobil berhenti di halaman, mama Renna pun segera berdiri.



“sebentar ya sayang, biar mama lihat dulu siapa yang datang!”



“Ajeng ikut ya ma!”



“Nggak usah nak, kamu di sini dulu, lanjutkan makanmu!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰😘❤️


__ADS_2