Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Kecemburuan Al


__ADS_3

Setelah kesibukan yang cukup panjang, akhirnya malam yang di


nanti pun tiba juga,pagelaran festival terbesar di jawa timur itu berlangsung


di Malang. Ajeng menjadi desainer termuda di acara itu, rancangannya di pakai


oleh beberapa pengisi acara.


“Sayang …., jangan lama-lama dandannya aku menunggumu di


luar ya!” teriak Al saat sudah selesai mengenakan pakaiannya.


Ajeng benar-benar cantik dengan gaunnya. Tapi Al malah tidak


suka dengan penampilan Ajeng saat ini.


“Kenapa mas Al malah cemberut?”


“Bukankah itu terlalu terbuka?”


“Benarkah? Baiklah aku akan menggantinya!”


Ajeng kembali masuk dan mengganti gaunnya dengan lebih


tertutup, dengan gaun yang berkerah dan lengan di atas siku, dan gaunnya juga


di bawah lutut.


“Bagaimana sekarang?” Tanya Ajeng.


“Itu lebih baik sayang …, mungkin lain waktu bisa lebih


tertutup lagi!”


“Maafkan aku karena belum bisa menjadi istri yang baik untuk


mas Al!”


“Siapa bilang sayang …, kau yang terbaik!”


“Tapi aku tidak sesempurna dirimu, mas Al!”


“Aku suka dengan dirimu yang seperti ini, biarkan terus seperti ini, biar aku yang melengkapi kekuranganmu, biar tidak ada celah untuk orang lain terhadap hubungan kita! Kita yang terdiri dari dua kekurangan dapat


sempurna dengan cinta kita!”


“Kata-kata mas Al selalu membuatku merasa aku adalah wanita


paling beruntung di dunia ini …, terimakasih karena cinta yang luar biasa ini!”


Al sebagai ketua panitia dalam acara itu didapuk sebagai pemandu acara, selain itu


ternyata namanya sudah lebih dulu di kenal. Kiprahnya di dunia bisnis dan


perfilman ternyata sudah sangat melebar. Walaupun bukan sebagai artis, ia


berada di belakang layar.


“Mas …, ganteng banget?”


“Kamu juga cantik sayang!”


“Mas …., aku serius!”


“Aku juga serius sayang …! Ya sudah kita berangkat, kita sudah sangat terlambat sayang!”


Mereka pun berangkat , walaupun mereka berangkat bersama tapi sesampai di tempat


acara, seperti biasa Ajeng akan masuk lebih dulu. Sebenarnya Al tidak menyukai


hal itu, tapi ia tidak ingin memaksakan untuk mengumumkan pernikahan mereka


tanpa persetujuan Ajeng.


Di acara itu berjalan lancar, berlangsung sangat meriah, hingga acara puncaknya adalah


Dansa. Al yang awalnya tetap membiarkan Ajeng bersama teman-temannya, tapi


matanya tak pernah lepas mengawasi istrinya itu.


“Pak Al benar-benar luar biasa, bisa menghandle acara ini dengan sangat baik!”


“Anda berlebihan pak, ini semua berkat kerja tim, acara tidak akan berjalan baik tanpa


kerja keras dari mereka semua!”


Ajeng yang awalnya sedang mengobrol dnegan teman-temannya, tiba-tiba obrolan mereka


berhenti ketika Bara menghampiri mereka.


“Hai Jeng …!”

__ADS_1


“Kak Bara!”


“Mau berdansa denganku?”


“Maaf kak, aku tidak bisa!”tolak Ajeng.


“kenapa?”


Karena di sana ada yang sedang


mengawasi ku …, plisss …, jangan cari mati ….


Benar saja, Al sudah tidak bisa tenang di tempatnya saat pria itu menghampiri


istrinya.


“Maaf saya permisi ke sana dulu ya!”


“Oh iya …, silahkan pak Al!”


Al sengaja menghampiri Bara dan Ajeng.


“Hai …, Bara kan?”


“Iya pak!”


“Selamat ya atas kerja keras kalian!” ucap Al tapi matanya menatap Ajeng.


“Terimakasih pak!”


“Ajeng!”


Ajeng yang sedang tidak berkonsentrasi sedikit tergagap saat mendengar Al memanggil


namanya. Rasanya menjadi sangat asing saat pria itu memanggilnya dnegan nama,


ia sudah terlanjur terbiasa dengan panggilan sayang.


“I-Iya pak …!”


“Mau berdansa denganku? Sebenarnya sedikit memaksa!”


Belum sempat Ajeng menjawabnya, Al sudah lebih dulu menarik tangan Ajeng dan


membawanya ke lantai dansa. Banyak pasangan lain yang sedang berdansa. Al dan


Ajeng langsung menjadi pusat perhatian, karena seorang seperti Al yang


sebagai karyawan baru di tempat itu.


Al begitu luwes berdansa, walaupun begitu ia bisa mengimbangi Ajeng yang memang


belum pernah berdansa. Lengan Al tak pernah lepas dari pinggul Ajeng sedangkan


tangan satunya ia satukan dengan tangan Ajeng, mereka begitu dekat hingga


membuat siapapun yang melihatnya terbawa suasana romantis.


Melihat Ajeng berdansa dengan Al, hal itu membuat Bara benar-benar kesal. Ia pun


mencari cara untuk menjauhkan Ajeng dari Al. Ia mendekati Ajeng dan membisikkan


sesuatu, ia meminta ajeng untuk menemaninya menyiapkan gaun-gaun yang akan di


pakai oleh artis.


“Baik kak, aku akan menemanimu!”


Ajeng menatap Al dan memintanya untuk mengijinkannya pergi, Al pun melepaskan


tangannya dari Ajeng. Ajeng pun hanya bisa tersenyum dan mengikuti bara ke


ruang ganti.


“Di sini sangat berantakan kan! Jadi mungkin butuh waktu yang lama untuk merapikannya!”


ucap bara.


“Iya kau benar kak Bara. Baiklah kita mulai merapikannya sekarang saja.” Ajeng begitu


bersemangat merapikan semuanya. Butuh waktu yang lama untuk membuat semuanya


kembali seperti semula, Bara menggunakan kesempatan itu untuk bisa bersama


dnegan Ajeng, sesekali ia melontarkan candaannya pada Ajeng.


Bara sengaja ingin menghabiskan waktu berdua dengan Ajeng. Al yang memperhatikan


meraka dari kejauhan sebenarnya terbakar cemburu, tapi ia berusaha keras untuk


mengendalikannya, ia terus meneguk air putih hingga beberapa gelas.

__ADS_1


“Aduhhh …!” tiba-tiba Ajeng mengaduh karena debu yang mengenai matanya, membuatnya


segera mengucek matanya.


“Jangan dikucek!” cegah Bara, ia segera menarik tangan Ajeng.


“Tapi perih kak!”


“Sini biar aku tiup!”


Bara pun segera menarik wajah Ajeng dan menakupnya, meniup mata Ajeng beberapa kali. Al menatap mereka dengan sangat tajam. Ia tidak bisa menahan lagi, tangannya


terkepal sempurna, ia segera berjalan mendekati mereka.


“Ini sudah malam, sebaiknya kalian pulang. Aku akan mengantar Ajeng!” ucap Al.


“Biar saya saja pak yang mengantarnya!”


“Kamu langsung pulang saja, rumah kami searah. Ayo Ajeng!”


“Iya!”


Al berjalan di depan, Ajeng menoleh pada Bara dan berpamitan, ia segera mengejar


Al yang sudah berjalan jauh di depan. Ia tahu suaminya itu sekarang sedang


marah.


Benar saja, sepanjang jalan pulang al sama sekali tidak mengatakan apapun. Ajeng pun


tidak berani menanyakan apapun juga. Ajeng memilih diam dan memperhatikan luar.


Sesampai di rumah pun al juga tidak mengatakan apapun, ia memilih berlalu begitu saja tanpa menunggu Ajeng.


“Mas Al!”


Bahkan Al tidak mempedulikan panggilan Ajeng. Ia terus berlalu tanpa mempedulikan


Ajeng, sesampai di kamar pun ia masih belum membuka mulutnya, ia memilih masuk


ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri, mengganti pakaiannya dengan memakai baju kokonya dan sarung.


Ia belum melaksanakan sholat isya’ tadi. Ia


kembali mengelar sajadahnya dan melaksanakan sholat. Ajeng hanya bisa diam


memperhatikan suaminya. Cukup lama Ajeng terdiam menatap suaminya, hingga


suaminya menyelesaikan sholatnya.


Al mengakhiri doanya dan segera melipat kembali sajadahnya, melepas songkoknya


meletakkan di atas meja.


“Mas Al …, mas Al marah ya sama Ajeng?”


Al menatap Ajeng dengan tatapan yang dingin, sangat dingin.


“Aku tidak bisa marah padamu, tapi biarkan aku memikirkan semuanya sendiri dulu …!”


Al mengelus pipi Ajeng, ia keluar dari kamar dan membiarkan ajeng sendiri.


“Mas Al pasti sangat terluka!”


Ajeng pun masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri, tamu bulanannya juga belum selesai. Ia butuh ganti, ia mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Setelah


selesai dengan kegiatannya Ajeng pun segera keluar, tapi di kamar itu ia tidak


menemukan suaminya.


“Dimana mas Al? kenapa dia belum kembali? Apa dia lapar dan membuat makanan, aku tidak


melihatnya makan tadi!”


Ajeng pun memutuskan untuk menyusul Al ke dapur. Tapi langkahnya terhenti saat belum


sampai di dapur, ia melihat Al tidur di sofa ruang tengah.


“Mas Al!” pekik Ajeng.


“Mas Al benar-benar marah padaku, ia bahkan tidak mau tidur satu kamar denganku!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2