
Setelah kesibukan yang cukup panjang, akhirnya malam yang di
nanti pun tiba juga,pagelaran festival terbesar di jawa timur itu berlangsung
di Malang. Ajeng menjadi desainer termuda di acara itu, rancangannya di pakai
oleh beberapa pengisi acara.
“Sayang …., jangan lama-lama dandannya aku menunggumu di
luar ya!” teriak Al saat sudah selesai mengenakan pakaiannya.
Ajeng benar-benar cantik dengan gaunnya. Tapi Al malah tidak
suka dengan penampilan Ajeng saat ini.
“Kenapa mas Al malah cemberut?”
“Bukankah itu terlalu terbuka?”
“Benarkah? Baiklah aku akan menggantinya!”
Ajeng kembali masuk dan mengganti gaunnya dengan lebih
tertutup, dengan gaun yang berkerah dan lengan di atas siku, dan gaunnya juga
di bawah lutut.
“Bagaimana sekarang?” Tanya Ajeng.
“Itu lebih baik sayang …, mungkin lain waktu bisa lebih
tertutup lagi!”
“Maafkan aku karena belum bisa menjadi istri yang baik untuk
mas Al!”
“Siapa bilang sayang …, kau yang terbaik!”
“Tapi aku tidak sesempurna dirimu, mas Al!”
“Aku suka dengan dirimu yang seperti ini, biarkan terus seperti ini, biar aku yang melengkapi kekuranganmu, biar tidak ada celah untuk orang lain terhadap hubungan kita! Kita yang terdiri dari dua kekurangan dapat
sempurna dengan cinta kita!”
“Kata-kata mas Al selalu membuatku merasa aku adalah wanita
paling beruntung di dunia ini …, terimakasih karena cinta yang luar biasa ini!”
Al sebagai ketua panitia dalam acara itu didapuk sebagai pemandu acara, selain itu
ternyata namanya sudah lebih dulu di kenal. Kiprahnya di dunia bisnis dan
perfilman ternyata sudah sangat melebar. Walaupun bukan sebagai artis, ia
berada di belakang layar.
“Mas …, ganteng banget?”
“Kamu juga cantik sayang!”
“Mas …., aku serius!”
“Aku juga serius sayang …! Ya sudah kita berangkat, kita sudah sangat terlambat sayang!”
Mereka pun berangkat , walaupun mereka berangkat bersama tapi sesampai di tempat
acara, seperti biasa Ajeng akan masuk lebih dulu. Sebenarnya Al tidak menyukai
hal itu, tapi ia tidak ingin memaksakan untuk mengumumkan pernikahan mereka
tanpa persetujuan Ajeng.
Di acara itu berjalan lancar, berlangsung sangat meriah, hingga acara puncaknya adalah
Dansa. Al yang awalnya tetap membiarkan Ajeng bersama teman-temannya, tapi
matanya tak pernah lepas mengawasi istrinya itu.
“Pak Al benar-benar luar biasa, bisa menghandle acara ini dengan sangat baik!”
“Anda berlebihan pak, ini semua berkat kerja tim, acara tidak akan berjalan baik tanpa
kerja keras dari mereka semua!”
Ajeng yang awalnya sedang mengobrol dnegan teman-temannya, tiba-tiba obrolan mereka
berhenti ketika Bara menghampiri mereka.
“Hai Jeng …!”
__ADS_1
“Kak Bara!”
“Mau berdansa denganku?”
“Maaf kak, aku tidak bisa!”tolak Ajeng.
“kenapa?”
Karena di sana ada yang sedang
mengawasi ku …, plisss …, jangan cari mati ….
Benar saja, Al sudah tidak bisa tenang di tempatnya saat pria itu menghampiri
istrinya.
“Maaf saya permisi ke sana dulu ya!”
“Oh iya …, silahkan pak Al!”
Al sengaja menghampiri Bara dan Ajeng.
“Hai …, Bara kan?”
“Iya pak!”
“Selamat ya atas kerja keras kalian!” ucap Al tapi matanya menatap Ajeng.
“Terimakasih pak!”
“Ajeng!”
Ajeng yang sedang tidak berkonsentrasi sedikit tergagap saat mendengar Al memanggil
namanya. Rasanya menjadi sangat asing saat pria itu memanggilnya dnegan nama,
ia sudah terlanjur terbiasa dengan panggilan sayang.
“I-Iya pak …!”
“Mau berdansa denganku? Sebenarnya sedikit memaksa!”
Belum sempat Ajeng menjawabnya, Al sudah lebih dulu menarik tangan Ajeng dan
membawanya ke lantai dansa. Banyak pasangan lain yang sedang berdansa. Al dan
Ajeng langsung menjadi pusat perhatian, karena seorang seperti Al yang
sebagai karyawan baru di tempat itu.
Al begitu luwes berdansa, walaupun begitu ia bisa mengimbangi Ajeng yang memang
belum pernah berdansa. Lengan Al tak pernah lepas dari pinggul Ajeng sedangkan
tangan satunya ia satukan dengan tangan Ajeng, mereka begitu dekat hingga
membuat siapapun yang melihatnya terbawa suasana romantis.
Melihat Ajeng berdansa dengan Al, hal itu membuat Bara benar-benar kesal. Ia pun
mencari cara untuk menjauhkan Ajeng dari Al. Ia mendekati Ajeng dan membisikkan
sesuatu, ia meminta ajeng untuk menemaninya menyiapkan gaun-gaun yang akan di
pakai oleh artis.
“Baik kak, aku akan menemanimu!”
Ajeng menatap Al dan memintanya untuk mengijinkannya pergi, Al pun melepaskan
tangannya dari Ajeng. Ajeng pun hanya bisa tersenyum dan mengikuti bara ke
ruang ganti.
“Di sini sangat berantakan kan! Jadi mungkin butuh waktu yang lama untuk merapikannya!”
ucap bara.
“Iya kau benar kak Bara. Baiklah kita mulai merapikannya sekarang saja.” Ajeng begitu
bersemangat merapikan semuanya. Butuh waktu yang lama untuk membuat semuanya
kembali seperti semula, Bara menggunakan kesempatan itu untuk bisa bersama
dnegan Ajeng, sesekali ia melontarkan candaannya pada Ajeng.
Bara sengaja ingin menghabiskan waktu berdua dengan Ajeng. Al yang memperhatikan
meraka dari kejauhan sebenarnya terbakar cemburu, tapi ia berusaha keras untuk
mengendalikannya, ia terus meneguk air putih hingga beberapa gelas.
__ADS_1
“Aduhhh …!” tiba-tiba Ajeng mengaduh karena debu yang mengenai matanya, membuatnya
segera mengucek matanya.
“Jangan dikucek!” cegah Bara, ia segera menarik tangan Ajeng.
“Tapi perih kak!”
“Sini biar aku tiup!”
Bara pun segera menarik wajah Ajeng dan menakupnya, meniup mata Ajeng beberapa kali. Al menatap mereka dengan sangat tajam. Ia tidak bisa menahan lagi, tangannya
terkepal sempurna, ia segera berjalan mendekati mereka.
“Ini sudah malam, sebaiknya kalian pulang. Aku akan mengantar Ajeng!” ucap Al.
“Biar saya saja pak yang mengantarnya!”
“Kamu langsung pulang saja, rumah kami searah. Ayo Ajeng!”
“Iya!”
Al berjalan di depan, Ajeng menoleh pada Bara dan berpamitan, ia segera mengejar
Al yang sudah berjalan jauh di depan. Ia tahu suaminya itu sekarang sedang
marah.
Benar saja, sepanjang jalan pulang al sama sekali tidak mengatakan apapun. Ajeng pun
tidak berani menanyakan apapun juga. Ajeng memilih diam dan memperhatikan luar.
Sesampai di rumah pun al juga tidak mengatakan apapun, ia memilih berlalu begitu saja tanpa menunggu Ajeng.
“Mas Al!”
Bahkan Al tidak mempedulikan panggilan Ajeng. Ia terus berlalu tanpa mempedulikan
Ajeng, sesampai di kamar pun ia masih belum membuka mulutnya, ia memilih masuk
ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri, mengganti pakaiannya dengan memakai baju kokonya dan sarung.
Ia belum melaksanakan sholat isya’ tadi. Ia
kembali mengelar sajadahnya dan melaksanakan sholat. Ajeng hanya bisa diam
memperhatikan suaminya. Cukup lama Ajeng terdiam menatap suaminya, hingga
suaminya menyelesaikan sholatnya.
Al mengakhiri doanya dan segera melipat kembali sajadahnya, melepas songkoknya
meletakkan di atas meja.
“Mas Al …, mas Al marah ya sama Ajeng?”
Al menatap Ajeng dengan tatapan yang dingin, sangat dingin.
“Aku tidak bisa marah padamu, tapi biarkan aku memikirkan semuanya sendiri dulu …!”
Al mengelus pipi Ajeng, ia keluar dari kamar dan membiarkan ajeng sendiri.
“Mas Al pasti sangat terluka!”
Ajeng pun masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri, tamu bulanannya juga belum selesai. Ia butuh ganti, ia mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Setelah
selesai dengan kegiatannya Ajeng pun segera keluar, tapi di kamar itu ia tidak
menemukan suaminya.
“Dimana mas Al? kenapa dia belum kembali? Apa dia lapar dan membuat makanan, aku tidak
melihatnya makan tadi!”
Ajeng pun memutuskan untuk menyusul Al ke dapur. Tapi langkahnya terhenti saat belum
sampai di dapur, ia melihat Al tidur di sofa ruang tengah.
“Mas Al!” pekik Ajeng.
“Mas Al benar-benar marah padaku, ia bahkan tidak mau tidur satu kamar denganku!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘
__ADS_1