Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Pembicaraan serius


__ADS_3

"Sayang, bangun dulu..." ucap Edward sambil menepuk pipi Aurora. Entah sudah keberapa kalinya Edward mencoba membangunkan Aurora tapi tak kunjung membuka matanya. Wanita cantik itu masih nyaman dengan tidurnya.


Dari luar, Brian sudah tampak tampan dan rapi dengan pakaian casualnya. Ia datang bersama Alex yang mengantarkannya. Brian minta Alex menggendong untuk memencet bell di kamar daddynya. Tak lama kemudian, Edward muncul dari balik pintu sudah rapi dengan pakaian casualnya.


"Pagi Daddy..." Sapa Brian.


"Pagi sayang.." ucap Edward dan mengambil alih Brian dari gendongan Alex. Edward menciumi pipi gembul putranya dan mendudukkannya di sofa ruang tamu diikuti Alex dibelakangnya.


"Dimana Mommy Dad..? Apa mom sudah bangun?"


"Mommymu masih tidur, kau bangunkan sana. Daddy akan berbicara dengan paman Alex sebentar." ucap Edward


"Baiklah Dad..." ucap Brian dan turun dari pangkuan Edward, mengecup pipi Edward sekilas. Edward mengulas senyum tipisnya, ia merasakan bahagia mendapat perlakuan manis dari putranya. Anak yang selama ini ia besarkan sedari bayi. Walaupun ia bukan ayah kandungnya, tapi ia menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.


"Ada apa Alex, apa terjadi sesuatu?" tanya Edward setelah putranya meninggalkan ruang tamu.


"Tidak, Lihatlah..! aku kemarin mendapat info dari Kwan bersama Lukas." ucap Alex sambil meletakkan tabletnya diatas meja.


"Kwan...? apa dia ada disini? untuk apa dia kemari?" tanya Edward


"Entahlah. Dia hanya menyerahkan bukti itu saja. Selebihnya aku tak tau tujuannya kemari."


Edward mengambil tablet itu dari atas meja dan memeriksa info apa yang diberikan Kwan, hingga harus rela jauh jauh dari Seoul ke Paris. Matanya menyipit untuk memastikan sesuatu yang ada dalam pikirannya, dahinya tampak mengerut tampak tak percaya dengan hasil pemikirannya . "Apa ini Viona?" tebak Edward


"Bagaimana kau bisa tau... ?! Tapi kata Kwan dia Vivi, bukan Viona." ucap Alex


"Ck..aku bukan orang bodoh Alex, walaupun foto ini hanya diambil dari samping, tapi aku masih bisa mengenali wajahnya . Tapi bagaimana bisa wajah kanannya terlihat seperti monster. Apa yang terjadi!? Kenapa ada luka bakar diwajahnya? Apa yang kau lakukan padanya..!? Aku kan hanya menyuruh kalian mendeportasi dia dari negara ini dan menghancurkan perusahaan keluarganya. Tidak mungkin kalau ini perbuatan Lukas. Ini pasti perbuatanmu, kenapa kau membakar wajahnya. Ah kasihan sekali wanita itu. Wajah adalah aset utama seorang wanita. Padahal aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran untuk tidak mengusik keluarga Edlyn." cerca Edward


"Ayolah, aku ini seorang psikopat, aku menyukai bau anyir darah, bukan bau daging panggang. Untuk apa aku bermain api, aku lebih suka bermain dengan pisau sisit. Aku tak pernah menyiksa musuh dengan membakar, kalau meledakkan iya, lagian aku tak suka bau daging gosong...!! Menjijikkan..!. Bikin mau muntah saja. Ugh..membuat lambungku jadi tak nyaman saja." keluh Alex sambil membayangkan menghirup aroma daging gosong dengan membekap mulutnya sendiri. Seakan- akan bau itu ada didekatnya.


Edward yang melihat Alex dengan tingkah konyolnya hanya bisa tertawa geli. "Hahaha.. Ekspresi macam apa itu Alex, sorry aku lupa kalau paman singa suka daging mentah, bukan daging panggang. Kamar mandinya ada disana kalau kau mau muntah, jangan muntah disini, itu sangat menjijikkan.Sepertinya asam lambungmu naik hanya dengan memikirkannya Alex." ledek Edward


"Huh menyebalkan..!! Kalau aku tak ingat kau temanku, sudah kukuliti sampai ketulang-tulangmu Edward. Semakin lama kau semakin menyebalkan. Sekarang aku serius, apa aku juga harus menyelidiki sebab kerusakan di wajahnya!? tapi maaf, aku sepertinya enggan menjalankan misi itu. Berikan saja pada orang lain." ucap Alex sambil sedekap dada.


"Panggil aku bos. Ck..beraninya kau memanggilku hanya dengan namaku." ucap sebal Edward


"Cih..selain menyebalkan kau juga gila nama Edward. Tidak, aku tak mau memanggilmu bos kalau tidak ada orang lain diantara kita. Apa apaan, Beni saja juga begitu, masa aku gak boleh. Biar Lukas saya yang memanggilmu Tuan, dimanapun dan kapanpun. Kalau aku mah ogah. Entah apa yang kau berikan padanya hingga orang itu menurut saja pada perintahmu, padahal dia juga kawanmu."


Edward hanya mendengus kesal mendengar cuitan Alex, ia enggan mengomentari keluhannya.


"Jadi bagaimana, apa kita perlu menyelidikinya?" tanya serius Alex.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku sudah tak peduli dengan kehidupannya."


"Ok. Sekarang lihatlah di folder lainnya, Kau pasti akan sangat terkejut dengan gambar itu." ucap Alex yang mencondongkan tubuhnya kedepan.


"Ini..." ucap Edward menggantung


" Dia kekasih Vivi alias Viona. Dia diduga orang yang berada dibalik layar selama ini." jawab Alex cepat


" Bagaimana kau bisa menyimpulkan bahwa dua orang ini yang telah membuat kekacauan Alex, kita belum banyak mendapatkan bukti. Hanya nama Yakusa yang selama ini kita dapatkan. Entah yakusa mana yang mereka maksud." ucap Edward menopang dagu sambil memikirkan langkah apa yang akan ia gunakan kali ini agar tak menimbulkan banyak korban.


"Apa kau lupa,.. pertama, Viona terobsesi padamu. Kedua, kau dijebak wanita itu saat di club malam, dia ingin memilikimu dan merenggangkan hubunganmu dengan Aurora. Kemudian kau marah dan mendeportasinya , kemudian kau menghancurkan perusahaannya, secara tak langsung itu menyebabkan kematian orang tuanya. Ketiga, beredarnya foto dan video syur milik kalian di medsos, bukankah disana hanya ada kalian berdua, tidak mungkin pihak hotel meletakkan kamera diruang kamar tamu hotel, bila ada pasti sudah terjadi konspirasi. Keempat, kenapa dia harus operasi plastik dengan wajah orang lain. Bukankah ini sangat mencurigakan. Hati hati Edward, wanita yang sakit hati lebih berbahaya dari yang kita bayangkan. Dia bisa melakukan segala cara untuk membalas ketidakadilannya. Apalagi jika ia dibacking orang kuat dibelakangnya. Semoga saja orang ini bukan musuh yang kuat bagi Golden lion. Tapi jika memang benar orang itu adalah Yakusa yang kita cari selama ini, apa yang akan kau lakukan.? Apakah memusnahkannya? Aku berharap, jika dia bukan Yakusa terkuat di Jepang. Kau tau kekuatan Yakusa itu bukan?Pasukan mereka sangatlah tangguh, mereka ahli retas, ahli racun, ahli pedang, dan ahli dalam bela dirinya termasuk kecepatan dari tendangan dan pukulannya. Bahkan anggota kita tak ada apa-apanya dengan kekuatan mereka." monolog Alex.


"Lalu apa hubungannya Dia denganku? aku bahkan tak pernah berhubungan dengannya. Aku tak pernah mengusik kehidupannya. Bahkan perusahaan ku saja tak bekerja sama dengannya. Itu sebabnya aku mendirikan perusahaan baru, agar tak terlibat dengannya. Dia sudah terlalu banyak mengakuisisi perusahaan kecil dengan cara piciknya. Dan sialnya perusahaan Aurora sedang bekerja sama dengan perusahannya. Ah aku harus mengingatkannya, aku tak mau terjadi sesuatu terhadap perusahaannya. Lalu keuntungan apa yang dia dapatkan ketika harus repot repot membantu Viona untuk balas dendam dengan kita. Dia bahkan tau kekuatan kita dinegara ini. Bukankah itu bodoh..! Ini sangat bahaya jika dia benar benar penerus Yakusa itu. Mereka punya kekuatan besar untuk kapan saja menyerang kita. " ucap Edward


" Bukankah dari awal sudah dikatakan kalau dia kekasih Vivi alias Viona.? Pasti penyebabnya adalah karena cinta. Dan lagi, kalau dia berhasil menyingkirkanmu, musuh perusahaannya akan berkurang satu , atau jangan jangan dia punya keinginan menjadi orang nomor satu dinegara ini.." ucap Alex berasumsi.


"Hah..cinta!!?Aku tak percaya Alex. Ku beri tahu ya,, sebagian besar pria di Jepang akan menikahi wanita baik-baik untuk dijadikan istrinya, walaupun mereka bukan kaum pria baik baik. Viona pasti hanya dijadikan budak nafsunya saja. Lalu apa tujuannya padaku. Tidak mungkin hanya karena sundal itu dia rela susah payah menyerang kita. Pasti punya tujuan kuat dibalik semua itu. Ini harus diselidiki dulu motifnya Alex, baru kita dapat menyimpulkan kelanjutannya." ucap Edward


"Lalu apa yang harus kita lakukan saat ini." tanya Alex.


" Alex , teruskan berita ini ke Beni Adrian, suruh melatih anggotanya, segera selundupkan mata mata seperti rencana semula. Laporkan keseluruhan padaku. Jika memang terbukti dia yang melakukan semua ini, kita susun rencana untuk menghabisi Yakusa itu dari negara ini. Aku tau kekuatan mereka memang besar dinegaranya, tapi tidak dinegara ini.


Selidiki juga asistennya Alex, aku curiga dengannya, aku bahkan sampai saat ini belum bisa mengetahui orang yang mencoba menghancurkan nama baikku. Mungkin analisamu benar Alex, Yakusa itu punya kepandaian dalam hal meretas, mungkin saja dia pelakunya. Bekerja samalah dengan Lukas untuk menyelidiki masalah ini. " ucap Edward


"Jangan dulu. Aku yakin jika Black Cobra dan Golden lion bisa mengatasinya. Jangan melibatkan mereka dulu. Kita selidiki kebenaran ini dulu. Hati hati dengan orang orang disekelilingmu, ingat tembok itu punya telinga. Anggap semua musuhmu. Jangan mudah percaya dengan orang lain." ucap Edward


"Baiklah, akan aku koordinasikan semuanya. Lalu kapan kita akan kembali. Lukas sudah mengeluh dengan pekerjaan kantornya. Ayahmu sering meneleponnya untuk kembali duluan." ucap Alex


"Huh..biarkan saja. Perusahaan masih aman, aku setiap hari selalu mengeceknya. Biarkan pak tua itu bekerja kembali. Nikmati waktu kalian selama disini. Sekarang pergilah, dan nanti aturkan waktu selesai makan malam untuk bertemu Kwan. Ada yang ingin aku bicarakan." ucap Edward


"Baiklah, aku pergi dulu kalau begitu. Katakan padaku kalau nanti butuh bantuanku." ucap Alex dan berlalu meninggalkan kamar Edward.


.


.


"Apa ada masalah sayang, mengapa menyebut pasukan khusus?!." tanya Aurora penuh selidik.


"Ehemm.. kau sudah cantik rupanya, dimana Brian? Bukankah Brian tadi yang membangunkanmu?"


"Brian sedang sarapan pagi. Jangan mengalihkan pembicaraan suamiku. Aku juga bukan orang bodoh yang mudah kau tipu. Katakan padaku kau sedang ada masalah apa.!"

__ADS_1


"Duduklah disini, aku akan memberitahumu." ucap Edward sambil menepuk pahanya.


Aurora pun mendudukkan dirinya diatas pangkuan suaminya. "Sekarang katakan, aku sudah duduk disini."


"Ugh..jangan menggerakkan panggulmu sayang. Ini akan sangat berbahaya untuk posisi kita saat ini, aku tak bisa menyerangmu saat ini. Bocah cadel itu masih dikamar ini." ucap Edward menggoda Aurora.


"Apaan sih..!! jangan mesum..!! semalam kau sudah mendapatkannya berkali kali. Jangan terlalu sering donk. Kan kasian tulang tulangku."


"Benarkah, apa sekarang kau masih lelah. Apa kita tunda saja jalan-jalan kita..?" tanya Edward


"Jangan donk..!! kan kasian sama Briannya. Aku juga ingin shoping, aku akan menghabiskan uang milik suamiku yang tampan ini."


" Oh begitu ya, boleh..tapi ada syaratnya."


"Apaan, kenapa pakai syarat syarat segala.!" protes Aurora


"Ugh..junioku berkedut sayang. Apa kau merasakannya..?? Kau tahu bukan, aliran positif dan negatif dari listrik bila bertemu.."


"Ck.. aku sampai lupa dengan pertanyaanku tadi. Jadi apa jawabannya Kak..! jangan membuatku penasaran..!"


"Aku akan jawab setelah aku berbuka, gimana?"


"Gak mau,..!" tolak Aurora


"Yaudah kalo gak mau. Biarin saja istri cantikku ini penasaran. Aku mah biasa saja. Lagian menolak ajakan suami dosa lho."


"Edward Felix Edlyn..." desis Aurora jengkel dengan perkataan suaminya.


"Apa sayang... " goda Edward


"Baiklah, kau kekamar mandi duluan, aku akan menyusulmu. Ingat jangan berisik, ada anak kita disini. Aku akan mengalihkan perhatiannya sebentar." ucap Aurora


"Baiklah, aku setuju dengan ide mu. Thank you baby.."


"Aaaaaaa menyebalkan...!" ucap Aurora frustasi dengan akal bulus suaminya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, like and komennya guys. Thank you ❤


__ADS_2