Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Terkejut


__ADS_3

Aurora terbangun dari tidurnya, ia tersenyum mendapati suaminya tertidur dengan pulas disampingnya. Dirinya jadi teringat semalam suaminya benar benar menggila dan lepas kendali . Ia rapatkan selimut suaminya dan berjalan kekamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini adalah hari dimana dirinya menjadi seorang istri dan sekaligus ibu untuk mengurus keperluan suaminya dan anaknya.


Selesai merias diri, ia mengambilkan semua keperluan suaminya dan bersiap turun untuk memasak sarapan pagi untuk keluarganya. Hatinya begitu bahagia saat akan menjalankan perannya.


"Sayang,.." panggil Edward yang terbangun saat Aurora membuka pintu kamarnya.


Aurora berbalik dan menutup pintunya kembali.


"Ya,"


"Kemari sebentar, " Panggil Edward dengan melambaikan tangannya.


Aurora datang mendekat dan duduk ditepi ranjang. Ia tersenyum menatap lembut wajah suaminya.


"Ada apa, aku mau buatkan sarapan untukmu, semua keperluanmu sudah aku siapkan di walk in closet," ucap Aurora sambil melipat selimut.


"Biar bibik aja yang siapin, aku masih kangen. Hari ini kita cuti ya..Aku mau peluk kamu terus sepanjang hari ini." pinta Edward yang sudah memeluk Aurora, menciumi leher belakang Aurora.


"Ha ha jadi tuanku masih kangen nih, tapi i am so sorry... aku harus kekantor, pekerjaanku sudah banyak menungguku. Gimana kalau kita pulang sore . Kita bisa makan malam berdua mungkin, " tawar Aurora


"Ayolah, kenapa tidak menurut suami hemm.."


"Jangan menggunakan otoritas mu sayang, aku juga bisa melakukannya untuk mu, apa juniomu mau puasa seminggu lagi ha..?, " ucap Aurora dengan seringainya


Edward menggigit bibir bawahnya, punya istri cerdas tak sepenuhnya enak ternyata, mereka sulit dikibulin apalagi dikadalin.


"Baiklah, tapi kamu harus diantar Kevan atau Kevin, pulang kerja aku yang jemput. Kamu tidak boleh mengemudikan mobilmu sendiri. Tidak ada bantahan, tidak ada penolakan..!" tutur Edward tegas.


Aurora yang hendak membuka mulutnya protes, ia tutup kembali saat mendengar penuturan suaminya. Entah mengapa perintahnya sulit ia tolak.


"Haishh, terserah pengaturan mu sajalah, yang penting hari ini aku berangkat kekantor. Ya sudah buruan mandi dan segera kebawah,aku menunggumu dimeja makan." ucap Aurora dan mengecup singkat pipi Edward . Kemudian segera melangkah keluar dari kamarnya sebelum suaminya merengek padanya.


Edward hanya tersenyum dan memandangi tubuh Aurora hingga menghilang dari balik pintu. Hatinya berbunga bunga pagi ini. Ia sudah mendapatkan istri yang teramat dia cintai, penantiannya selama 10 tahun terbayar sudah. "Semoga kehidupan keluarga kita selalu dilimpahkan kebahagiaan seperti ini. Jangan sampai ada kesedihan setelah ini. Aku menyayangimu selalu istriku. Jangan pernah meninggalkan aku dalam keadaan apapun, karna aku pun juga begitu." harap Edward dalam hatinya.


"Mommy...!!!" seru Brian dari tangga saat mendapati Aurora sedang menata makanan dimeja makan dan berlari memeluk Aurora.


"Hallo boy, gimana kabarmu,kemarin mom beliin oleh oleh seperti permintaanmu, mom taruh di meja belajarmu, apa kamu tadi sudah melihatnya?" tanya Aurora sambil menggendong Brian dan menciumi pipinya.


"Hem em, makanya Blian langsung tulun. Thank you mommy." ucap Brian ganti mengecup pipi Aurora.


"Duduklah, kita sarapan bersama,." ucap Aurora mendudukkan Brian disebelahnya. Ia mengambilkan beberapa makanan kedalam piring Brian.


"Dimana suamimu nak Aurora? kenapa belum turun? apa dia masih tidur..?" tanya Tuan Admaja setelah duduk di kursi makan.


"Aku disini ayah," ucap Edward yang baru menuruni anak tangga, sudah rapi dengan setelan kerjanya.Dengan pakaian apapun, Edward pasti terlihat tampan. Apalagi dengan binar matanya yang menunjukkan kebahagiaan.


"Pagi sayang, " Edward mengecup pipi Aurora dan pipi Brian.


"Pagi Dad."

__ADS_1


"Kau bangun terlambat hemm,," sindir Tuan Admaja menatap putra sulungnya.


"Ehem, seperti yang kalian pikirkan. Kami masih tergolong pasangan baru. Ayah juga pernah mengalaminya bukan..!? So, jangan membahas ini dimeja makan." ucap Edward acuh dan mengulurkan piring untuk diisi sarapan oleh istrinya.


Bunda yuli dan Tuan Admaja tersenyum penuh arti.


"Ya ya ya, Ayah doakan semoga langgeng sampai tua nanti. Segeralah beri kami cucu lagi, jangan menunda nunda lagi, umur orang tidak ada yang tahu." ucap Tuan Admaja menasehati.


"Ayah,..!! kenapa ngomong begitu..!" kesal bunda Yuli mengenggol lengan suaminya.


"Ayah tidak salah Bun, tenang saja Ayah, Bunda, Aurora tidak menundanya kok, semoga saja sekarang sudah isi." ucap Aurora dengan senyumnya. Ia juga berharap segera mendapat momongan.


Edward tersenyum dan mengusap perut Aurora. "Semoga kamu tumbuh dengan baik." batin Edward berharap.


.


.


Hardy's Company,


Aurora duduk kursi kebesarannya. Ia menghembuskan nafasnya dan tersenyum melihat setumpuk dokumen tertata rapi dimeja kerjanya. Dokumen yang harus diperiksa dan ditandatangani hari ini juga. "Semangat Aurora, banyak orang yang tidak seberuntung kamu." batin Aurora memberi semangat.


Kiran memasuki ruang kerja Aurora setelah dipersilahkan masuk oleh Aurora. Kiran tampak membawa buket bunga dalam pelukannya.


"Nona, ada kiriman bunga untuk anda." ucap Kiran sambil meletakkan bunga itu dimeja kerja Aurora.


Aurora mengernyitkan dahinya, ia mencoba menebak siapa pengirim buket bunga itu, "Dari siapa Kiran, apa dari suamiku?"


"Baiklah lanjutkan pekerjaanmu Kiran."


"Baik nona."


Setelah kepergian sekretarisnya, Aurora mengambil catatan kecil yang terselip pada buket bunga mawar ungu itu. Rupanya ia sedikit penasaran siapa gerangan yang mengirim bunga sepagi ini bahkan baru masuk kerja setelah cuti panjangnya.


Warna mawar warna ungu menyiratkan keindahan pesona, daya tarik, kemewahan dan keagungan. Warna ungu memiliki hubungan erat dengan royalti atau kebangsawanan. Dalam hal ini, nuansa mawar lavender menunjukkan aura keagungan agung dan kemegahan. Sempurna untuk memuji bos Anda; menghormati atasan; teman makan malam yang mewah. Mawar warna ungu juga sering dipakai untuk mengekspresikan cinta terpendam (pemuja rahasia).


"My beloved, no matter how far you go, I will keep running after you , your prince"


("Kekasihku, sejauh apapun kau pergi, aku akan terus mengejarmu, pangeranmu" )


"Isshh.. siapa yang kau maksud kekasihmu hah..!" gerutunya menatap sinis bunga itu.


Aurora meletakkan kertas itu dan melanjutkan pekerjaannya, baginya dari pada menebak siapa pengirim bunga itu lebih baik melakukan hal yang berguna. Kalau saja itu dari suaminya, pasti ia akan sangat senang sekali menerimanya, sayangnya bukan.


Baru saja Aurora mulai fokus pada pekerjaannya, Andi datang membuka ruang kerja Aurora. Dengan senyum mengembang dibibir Andi, ia duduk didepan meja kerja Aurora dan meletakkan map tebal serta paperbag didepan meja kerja Aurora.


"Hallo bos, gimana kabarmu, sepertinya hari ini kamu cerah sekali. Apa karena bunga mawar itu...? Bunga yang cantik untuk orang yang cantik. Apa itu dari suamimu..?"


"Bukan."

__ADS_1


Andi menaikkan sebelah alisnya, ia lalu mengambil catatan kecil di atas meja kerja Aurora.


"Wooo kau punya penggemar rahasia..!" seru Andi diakhiri senyum jenakanya.


"Entahlah. "


"Ah aku jadi teringat Andylovers, mereka selalu memberiku hadiah saat aku selesai konser." Ucap Andi menerawang masa lalunya sambil tersenyum tipis.


"Ada apa keruanganku? Aku sedang sibuk, ..! " ucap Aurora tanpa memandang Andi


"Bagaimana, apa kemarin berjalan lancar. Aku sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tanda tangan disini untuk persetujuanmu." Andi mendorong pelan map tebal itu agar dekat dengan Aurora.


"Kau menggandeng desainer mana? " tanya Aurora sambil membuka dokumen itu.


"Desainer lokal, aku yakin kau akan menyukai hasil desainnya. Aku sudah melampirkan hasil rancangannya."


Aurora mengangguk angguk, mencoba mempelajarinya.


"Aku minta untuk mendesain pakaian pria juga, jangan hanya pakaian wanita. Aku suka rancangannya. Kau pandai memilih patner Kak." puji Aurora dengan senyumnya.


"Tentu saja, aku kan mantan model." ucap Andi bangga.


"Lalu apa kau sudah mendapatkan orang yang bisa diajak bekerja sama untuk textile painting-nya? Konsep apa yang akan kau ambil kak..?"


"Tentu saja sudah. Kau jangan meragukan kemampuanku adikku manis. Kau pasti akan senang dengan hasil karyanya."


Aurora menaikkan sebelah alisnya.


"Tapi, dia bukan kalangan seperti kita, tapi aku akui hasil karyanya bisa diacungi jempol. Aku berharap produk kali ini bisa meledak dipasaran." Andi mengatakan dengan percaya diri.


"Tidak masalah kalau dia orang tak punya sekalipun, yang aku butuhkan orang yang kompeten dalam bidangnya, bertanggung jawab dan jujur. Jadi apa kelebihannya?"


"Dia beberapa kali menang lomba textile painting nona, kamu bisa melihat dari sample yang aku bawa, kamu akan kagum dengan hasil karyanya, wajahmu dan suamimu dilukis dengan sangat mirip dengan aslinya."


"Benarkah"


",Yes baby.."


"Baiklah, ini akan aku pelajari dulu. Untuk selanjutnya kita adakan rapat bersama yang lain." ucap Aurora menutup laporan dari Andi.


Ada hal lain yang ingin aku sampaikan padamu." Andi menatap wajah Aurora serius.


"Katakan..!


"Pihak kita sudah menangkap sindikat penyabotase kiriman kita waktu itu. Mereka sekarang sedang di berada di Rutan, pihak kepolisian sedang menyelidiki dalang dari kejadian ini. Salah satu diantara mereka ada yang tewas keracunan sebelum diinterovasi polisi. Dan yang membuat aku terkejut, dari interogasi anak buah kita sebelum diserahkan pihak kepolisian, semua mengarah ke perusahaan ekspor impor. Sayangnya dengan begitu mudah mereka memutuskan ekornya. Kita tak memiliki cukup bukti untuk itu. Kau tau perusahaan mana yang terlibat dalam kasus ini? salah satu perusahaan Tuan Kim...!"


Brakk...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2