Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Pembalasan


__ADS_3

"Sial, pria ini jauh lebih berbahaya dari Edward. Harusnya aku menyingkirkannya lebih dulu." batin Viona menyesal.


"Apa kau meragukan ancamanku nona?" Alex tersenyum sinis. Dengan gerakan cepat Alex menyuntikkan cairan ke lengan Viona.


Cleb


"Ugh.. apa cairan apa itu!" seru Viona melotot marah.


"Hahaha, .. Itu peringatan dariku. Berani mendekati keluarga Edward, aku bahkan tak segan segan membumihanguskan kalian. Camkan itu!"


Alex menunjuk geram Viona. Matanya mendelik marah. Ia berbalik dan langsung memberi kode anak buahnya untuk mengurus wanita itu.


Alex melenggang meninggalkan Viona bersama anak buahnya, ia cukup yakin jika rubah licik itu akan segera meninggalkan tempat ini tanpa membuat keributan besar. Obat yang diberikan padanya adalah obat yang sama dengan yang ia berikan pada Darius. Ia tersenyum samar ketika Lukas juga datang kearahnya.


"Apa yang kau lakukan pada rubah itu?" tanya Lukas yang sudah duduk dihadapannya.


"Bukan apa apa, aku hanya memberinya sedikit pelajaran. Itu baru satu peringatan kecil. Dia juga harus merasakan apa yang sudah Edward rasakan." jawab Alex sekenanya.


"Cih, kau terlalu berbaik hati padanya. Kenapa kau malah memberinya kenikmatan!" gerutu Lukas kesal.


Alex melirik Lukas, merasa tidak suka dengan ucapan kawannya, tapi ia diam saja tak ingin berdebat.


"Lex, jadi apa rencanamu setelah ini. Apa kita harus menyelesaikan mereka sendiri?" tanya Lukas.


"Kita biarkan saja dulu, aku ingin melihat drama mereka. Aku yakin malam ini akan terjadi kehebohan besar dalam mansionnya. Hehe.."


"Memangnya apa yang sudah kau berikan padanya? Bukankah obat yang sama?" Lukas mengerutkan kening.


"Yeah, tapi jarum yang aku pakai jarum beracun. Hehe.."


"Wow! Bagaimana jika malam ini juga mereka menuntut balas! Apa kau sudah gila!" pekik Lukas dengan suara tertahan.


Alex terkekeh mendengar kepanikan Lukas. Dengan santainya ia malah makan camilan yang ada di meja depannya.


"Sssttt..jangan mengganggu ketenangan malam ini. Aku akan memperketat penjagaan mansion. Team IT kita yang bekerja malam ini untuk memantau keadaan. Aku pastikan tidak terjadi apapun malam ini. Lagi pula ada anggota Black Cobra yang yang akan memberikan kita info jika terjadi penyerangan mendadak. Jangan lupakan anggota Tuan Beni."


"Haiish, terserah sajalah. Yang penting aku bisa tidur nyenyak malam ini. Aku sedang tidak ingin olahraga malam. Aku sudah lelah seharian ini." ucap Lukas malas.


Alex hanya tersenyum tipis menanggapi. Ia malah asyik mengamati deretan tamu yang hadir malam itu, berharap menemukan sosok Zanitha dalam kumpulan para tamu.


"Dimana Zanitha, apa dia pulang? Aku belum melihatnya sedari tadi." tanya Lukas yang membuat Alex mengalihkan perhatian.


Alex menaikkan bahunya tanda ketidaktahuannya.

__ADS_1


"Lex, aku memberi saran sebagai temanmu, jika hatimu sudah mantab bersama Zanitha, sebaiknya kamu kejar cintanya. Jangan memikirkan wanita lain. Mungkin kamu hanya penasaran saja pada Selly. Lagi pula tidak ada tanda tanda jika dia menaruh hati padamu. Jadi untuk apa menunggu yang tidak pasti." ucap Lukas


"Aku tau jika Zanitha juga memiliki perasaan yang sama denganmu. Dia hanya tidak ingin terjebak dengan hubungan kalian sebelumnya." imbuh Lukas.


"Hubungan apa!Aku bahkan tak menjalin hubungan dengan Selly sebelumnya. Nona Aurora yang seperti menjodoh jodohkanku dengannya. Aku saja ditolak mentah mentah saat mama menjodohkan kami!" jawab Alex.


"Kau jangan konyol Lex, mana ada wanita modern yang mau dijodohkan saat jumpa pertama, dan dalam keadaan tidak saling mengenal. Kecuali, wanita itu ingin mengambil keuntungan lainnya darimu." Lukas terkekeh pelan.


"Aku heran, apa dia sama sekali tidak tertarik dengan wajah tampanku!. Ah aku tidak tau dengan pemikiran mereka." ucap Alex kesal.


"Hahaha.. sudahlah terserah kamu. Aku sudah memberimu saran. Ingat pesanku, jangan bermain hati jika tidak ingin sakit hati. Lagian usiamu belum terlalu tua. Masih bisa bersenang senang sebelum mamamu merengek dibuatkan cucu." Lukas menepuk bahu Alex. Senyum tipis terbit dari bibirnya.


"Sialan loe!"


.


.


Sedangkan yang dibicarakan saat ini ada taman depan mansion. Mulanya ia sedang duduk sendiri dibangku itu, tapi kemudian seorang pria menyapa ramah dirinya.


"Wow.. Ze, kau disini..!!" seru Kevan terbelalak kaget.


Zanitha mengamati sosok Kevan dari atas ke bawah. Matanya menyipit seperti memastikan sesuatu.


"Hai, seperti yang kamu lihat, apa kamu bekerja disini?" tanya Zanitha menelisik pakaian yang sedang dikenakan Kevan terdapat logo GL di lengan kirinya.


"Cari udara segar. Didalam ramai banget. Pengen pulang saja, tapi acara belum selesai. Emm, buruan masuk gih, belum makan kan?"


Kevan melebarkan senyumnya. "Ciee, perhatian banget dek. Tau aja kalau mas baru pulang tugas." selorohnya.


"Ck..! udah sana, jangan ganggu aku! ntar ada yang marah lho!"


"Siapa..?" ucap Kevan


"Saya..."


Kevan menoleh kebelakang saat mendengar suara berat dari orang yang sangat ia kenalnya.


"Bos." sapa Kevan dan memberikan salam penghormatannya.


"Hemm."


"Masuklah, aku ingin bicara dengan temanmu!" ucap Alex tidak mau dibantah. Matanya menatap tajam Kevan seakan ingin mengulitinya.

__ADS_1


"Baik Bos!'


Alex mendekati Zanitha yang malah membuang muka seakan menghindarinya. Alex tidak peduli, ia langsung duduk disebelahnya.


"Menghindar hem,.." ucap Alex santai, malah menghisap rokoknya dalam dalam.


"Tidak. Buktinya aku masih disini, tidak berpindah tempat, padahal kamu sedang merokok!" sindirnya.


Alex tersenyum, ia mengamati wajah Zanitha yang ketus padanya.


"Apa kamu tidak suka pria merokok? Kau tau, dalam dunia kami, pria tidak merokok bukan pria sejati. Jadi jangan suruh aku berhenti melakukan hal itu, itu tidak mungkin terjadi." ucap Alex tersenyum tipis karena melihat wajah masam Zanitha.


"Terserah, lagi pula aku bukan siapa siapamu. Lalu bagaimana jika seperti ini." Zanitha mengambil sebatang rokok milik Alex lalu memantiknya. Zanitha menghisap dalam dalam lalu menghembuskannya pada wajah Alex. Ia tersenyum miring.


Alex bergeming menatap tingkah Zanitha. Baginya ini tidak biasa dilakukan seorang wanita. Apalagi wanita seanggun Zanitha. Ia tak percaya jika wanita itu bisa bertingkah seperti itu.


"Apa aku seperti pela cur!" Zanitha menghembuskan asapnya kembali.


Alex menginjak puntungnya, lalu merebut milik Zanitha dan tanpa jijik ia menghisap sisanya.


"Tidak baik untuk wanita. Sejak kapan kamu belajar merokok!


"Apa masalahmu!" ketus Zanitha.


Alex mengernyit, heran dengan tingkah Zanitha yang tak biasanya. "Apa kamu sedang mabuk?"


"Apa aku terlihat seperti orang mabuk? Mendekatlah!" Zanitha langsung menarik leher Alex tanpa sungkan sedikit pun.


"Apa menurutmu aku mabuk?" Zanitha mengulang pertanyaannya.


Alex menelan ludahnya susah payah. Matanya membulat penuh ketika Zanitha menempelkan bibirnya.


"Tuanku Alex, bagaimana bisa kau membagi hatimu pada yang lain, tidakkah kau mengetahui jika aku menyukaimu sejak kau mengambil ciuman pertamaku. Tega teganya kau membagi cintamu dengan yang lain. Kau anggap apa hubungan kita selama ini . " batin Zanitha


"Ehemm.."


.


.


.


####

__ADS_1


Baper gegara efek vaksin. Demam n nyut nyutan. Tetap jaga kesehatan, patuhi protokol kesehatan, jangan sampai kendor, banyak yang jadi korbannya disekitar kita. Mari sama sama bermunajat pada Tuhan, semoga segera diangkat wabah ini khususnya untuk negara tercinta kita ini. Amin.


Jayalah negriku, Jayalah Indonesiaku. 🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨


__ADS_2