
Edward masuk kedalam longue, matanya sibuk mencari keberadaan Kwan dan asistennya. Tampilan Edward yang cool menjadi daya tarik tersendiri bagi para wanita yang ada disana.
Lukas menghampiri Edward yang sedang mencarinya.
"Tuan, silahkan..Kwan ada disana." tunjuk Lukas dengan tangannya.
"Oh, Baiklah. Pesankan aku koktail dulu. Aku akan menemui mereka." ucap Edward
"Baik Tuan."
Edward menghampiri Kwan dan Alex yang sedang berbincang duduk di sofa. Kwan menyapa Edward lebih dulu.
"Wah, parah.. kita disini sudah sejam, kau baru kemari. Apa kau menidurkan istrimu dulu..?!" tanya Kwan.
Edward tersenyum lebar, mengingat olahraga yang baru ia lakukan.
"Kau kan sudah tau, untuk apa bertanya lagi. Segeralah menikah, kau akan tau betapa senangnya olahraga sama pasangan kita." ucap Edward tersenyum bangga.
"Cih..pacar saja belum ada, kau suruh aku menikah. Bagaimana dengan Selly, apa kau setuju kalau aku dengannya?" tanya Kwan antusias.
"Selly..?Apa kau menyukainya..!?sebaiknya kau tanyakan pada Alex. Aku tak ingin ikut campur masalah percintaan kalian." ucap Edward
"Kenapa Alex..?!" bingung Kwan.
Alex hanya diam mendengus sebal. Ia tidak tau dengan perasaannya sendiri.
"Tuan, ini minuman anda." ucap Lukas yang datang bersama waiters.
"Hemm.."
"Jadi apa yang akan kau bicarakan pada kami. Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Kwan serius
"Ada. Kwan, tolong buatkan aku topeng sintetis lengkap dengan rambutnya. Wajah oriental dan jangan terlalu tampan melebihi ketampananku. Aku tak ingin terlihat terlalu mencolok, sesuaikan dengan kulit tanganku. Kerjakan serapi dan semirip mungkin. Dan pikirkan ketika aku tak memakai baju, silikon itu tak terlihat perbedaannya dengan kulitku." ucap Edward pelan dengan mencondongkan tubuhnya kedepan.
"Untuk apa?"
"Bukan urusanmu, kerjakan apa yang aku perintahkan, dan jangan biarkan seorang pun yang tau selain kita."
''Ok..ok.."
"Berapa waktu yang kau butuhkan?" tanya Edward
"Lama, beri aku waktu tiga bulan. Aku sedang tidak punya stok barang." jawab Kwan.
"Baiklah aku setuju, berapa yang harus aku bayar?"
"Emm,,sekitar 70ribu dolar." jawab Kwan
"Jangan memerasku Kwan...!" kesal Edward
" Ck..ayolah kawan. Harga itu tak sebanding dengan mobil Ferrari mu. Jangan pelit pelit padaku."
__ADS_1
"Baiklah, minta pada Lukas untuk pembayarannya. Kapan kita melakukan pengukuran? Lusa aku mau balik ke Indo."
"Bagaimana kalau besok malam. Aku harus mencari bahannya dulu. Besok temui aku di kamarku."
"Baiklah aku setuju." ucap Edward sambil menyesap koktailnya.
.
.
Dibelahan bumi lain, seorang wanita sedang bergelayut manja di lengan seorang pria.
Wajah sensualnya menarik perhatian seorang pria yang sedang duduk mengerjakan pekerjaan kantornya.
Ia mendesah pelan saat wanita itu menjilat telinganya. Wajahnya memerah menginginkan sesuatu.
"Jangan menggangguku baby.."
"Ayolah, kau terlalu serius bekerja. Kau itu dari keluarga terkaya di negaramu, untuk apa berambisi menguasai pasar di negara ini." ucap wanita itu
"Ugh.. kau tau bukan, aku sudah susah payah membesarkan perusahaan ini. Menurutmu semua yang kau gunakan uang hasil dari mana? Dari perusahaan ini. Huh ayahku saja sampai saat ini belum mau menurunkan jabatannya padaku.Kau tau apa alasannya? Orang tua itu menyuruhku untuk menikah." desahnya pelan.
"Menikah saja repot, menikah ya menikah saja." ucap wanita itu santai.
"Ayolah Vi, mereka menjodohkanku dengan anak temannya . Aku masih ingin bebas tanpa ikatan. Kau tau benar denganku." ucap pria itu sambil meremas bokong wanita itu.
"Ck..! menyebalkan kau.!"
"Bagaimana kalau kita menikah dan memiliki anak..? Bukankah aku yang pertama untukmu? " tawar pria itu
"Ayolah, aku akan membantumu setelah menikah." rayu pria itu
"Tidak, kau tak boleh menikahiku. Bagaimana dengan anak anakmu kelak , pikirkan mereka. Kau jangan egois. Aku akan menanggung konsekuensinya sendiri. Aku tak akan melibatkanmu. Aku hanya butuh pasukanmu.!'
"Ck..kau juga menyebalkan. Kalau orang lain pasti dengan senang hati menikah denganku. Kau bahkan menolak mentah mentah diriku. Apa yang ada dalam otakmu. Bahkan setiap hari kita melakukan itu. Tidak adakah rasa cinta dihatimu?"
"Tidak ada Tuan Yashi. Aku tak punya cinta, cintaku sudah padam bersama api yang membakar wajahku. Aku hanya punya dendam. Dendam yang terus membara sampai aku berhasil membalasnya." ucap wanita itu dengan sorot mata marah.
"Sekarang apa rencanamu ..?" tanya pria itu
"Belum ada, tunggu sebentar lagi. Kita masukkan Plan B. Dan lihat kejutan apa yang akan terjadi. Kau duduklah manis dikursimu dan nikmati permainanku. Kau juga bisa bermain lewat sahammu untuk membantuku. Aku akan menghancurkan siapapun yang sudah menyakitiku." ucap wanita itu dengan wajah jahatnya.
"Baik baiklah, terserah padamu. Sekarang puaskan dahagaku dulu. Kau sudah memancingku sedari tadi. Kau harus bertanggungjawab sekarang..."
"Dengan senang hati Tuan...ah kau begitu menggemaskan.."
.
.
Aurora yang terlelap , terbangun karena mendengar notifikasi ponselnya yang bergetar didekat telinganya.
__ADS_1
"Aiihh siapa malam malam begini yang telfon sih.." gumam Aurora dan menyenderkan tubuhnya.
"Hallo ma.." sapa Aurora
"Hallo sayang, wah pagi pagi udah bangun ternyata..ah senangnya mama.."
"Mama ngapain jam segini telfon Aurora, disini masih jam 2 pagi mama..subuhnya masih 3 jam lagi. Aurora masih ngantuk mama..." rengek Aurora
"Astaga, benarkah..!! ah maaf mama lupa..Baiklah mama tutup saja ya." ucap mama Riyanti tidak enak
"Tunggu, ada apa mama telfon Aurora..? Gak biasanya, pasti ada hal penting."
"Emm, kamu pulang kapan nak, mama mau nitip tolong belikan kain disana ya, nanti mama kirimkan yang harus kamu beli. Mama butuh segera untuk acara fashion minggu depan."
"Baiklah mama, nanti Aurora belikan. Sekarang Aurora tidur lagi ya ma, .Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dari luar. Edward masuk sambil menenteng jaketnya menatap Aurora yang sedang duduk menyandarkan tubuhnya. Ia tersenyum dan duduk diujung ranjang sambil melepaskan sepatu dan jam tangannya.
"Kamu terbangun..? apa kau mencariku..?" tanya Edward
Aurora hanya menggeleng, mengamati yang kegiatan dilakukan suaminya.
"Aku ke kamar mandi sebentar ya,,!" ucap Edward.
Lagi lagi Aurora hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah suaminya masuk kedalam kamar mandi, Aurora menuju kedapur untuk membuat dua cangkir susu. Kegiatan yang selama ini ia lakukan agar tidur nyenyak, menurutnya.
Edward keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian tidurnya. Aurora menghampirinya, dan memberikan secangkir susu untuk suaminya.
"Minumlah, ini akan membuatmu tidur nyenyak ." ucap Aurora
"Terima kasih sayang."
Aurora duduk disebelah suaminya, "Dari mana?"
"Dari bawah, ngobrol dengan Kwan dan yang lainnya. Apa kau marah?" tanya Edward
"Tidak, baiklah, segera habiskan susumu lalu segera tidur. Aku masih mengantuk." ucap Aurora dan memerosotkan tubuhnya kebawah.
"Kemarilah, aku akan memelukmu. Apa seperti ini nyaman.."
"Hemm.."
"Sweet dreams, Honey"
.
.
.
__ADS_1
Continued...
Don't forget to leave traces, likes and comments of readers .Thank you ๐๐๐งก