Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Siapa pelakunya


__ADS_3

Diruang tunggu itu, semua orang nampak tegang. Entah sudah berapa kali jarum jam melakukan perputaran, tapi tak satu dari mereka yang keluar dari ruang bedah itu. Bunda Yuli masih terisak sedih menunggu putranya keluar dari ruang mencekam itu. Hatinya bahkan juga sedang memikirkan keadaan suaminya yang masih terbaring lemah diruang perawatan rumah sakit lain. Beliau merasa sedang dipermainkan takdir.


Amel yang saat itu sudah tiba di Bandara langsung dijemput Lukas dengan pengawalan penuh. Keduanya langsung menuju rumah sakit tempat dimana Edward dirawat.


"Uhh banyak sekali.. "gumam Amel yang melihat banyaknya awak media didepan loby rumah sakit.


"Kita lewat pintu samping saja." ucap Lukas setelah memarkirkan mobilnya .


Amel hanya mengangguk pasrah. Ia menurut saja pada pengaturan Lukas.


Para bodyguard yang tadi ikut pengawalan langsung membubarkan diri. Mereka tetap akan masuk lewat pintu depan untuk mengelabuhi para awak media.


Keduanya berjalan beriringan. Mereka diam tak banyak bicara, sesekali Lukas melirik kebawah, ia tersenyum tipis ketika melihat benda berkedip biru dijari manis Amel. Hatinya tiba tiba menghangat. Entah perasaan apa itu pikirnya.


"Bunda.." panggil Amel lirih.


Amel memeluk sedih Bundanya, matanya yang sembab dan kantung matanya yang menghitam sudah mengisyaratkan bahwa bundanya banyak menangis dan kurang istirahat. Ia merasa kasihan dengan keadaan itu.


"Bunda, kenapa menunggu disini, apa bunda tadi sudah makan? Ayo kita kekantin sebentar. Bunda pasti lelah menunggu kakak sedari tadi." ucap Amel sedih. Ia bahkan tak bisa membendung air matanya yang keluar. Dirinya juga ikut sedih ketika melihat orang orang yang begitu menghormati kakaknya terdiam dan tertunduk lesu, tidak ada diantara mereka yang berwajah cerah, semua menampakkan wajah muram dan lelahnya.


Bunda Yuli hanya menggeleng lemah. Dia bahkan sudah tak enak makan sedari kemarin, ia hanya ingin melihat kondisi putranya.


"Bunda, kita harus tegar, kakak pasti tidak ingin bunda seperti ini. Kita harus kuat untuk mensupport kakak setelah ini. Pasti kakak akan merasa kesakitan. Kakak pasti butuh dukungan dari kita. Apalagi kakak ipar juga sedang sakit. Ayo bunda, kita makan dulu, kita istirahat sebentar." bujuk Amel lembut.


"Pergilah makan bersama Lukas jika kamu lapar. Bunda mau disini menunggu kakakmu. Kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh. Pergilah Amel." ucap Bunda Yuli lemah, matanya menatap kosong kedepan.


Amel memandang Lukas. Ia merasa tidak bisa membujuk bundanya. Lukas menggeleng pelan, dia mengisyaratkan untuk jangan memaksa bundanya.


.


.


Diruangan lain.


Selly menatap sedih melihat keponakan kecilnya. Brian menangis histeris dan menutup kepala dengan bantal. Sudah sejam dia menangis dan ia tak kuasa membujuknya untuk berhenti. Sepertinya bocah kecil itu mengalami trauma selepas kejadian mengerikan itu.


"TIDAKK...! TIDAKK..!! HA.. DADDY.. DADDY ..!!" Teriak Brian histeris.

__ADS_1


"Mom... hiks.. hiks..maaf..."


Selly memejamkan matanya, ia tak kuasa membendung air matanya. Ia ikut pilu sendiri, ia juga bisa merasakan bagaimana tekanan yang saat itu Brian rasakan. Ia hanya mengelus dada saat petugas medis menyuntikkan kembali obat penenang pada tubuh Brian.


"Nona, sepertinya ananda Brian butuh pendamping psikolog untuk memulihkan traumanya. Ini tidak akan bagus untuk perkembangan mentalnya. Saya sarankan untuk jangan ditinggal sendiri. Anak ini butuh pengawasan." ucap salah satu dokter yang menangani Brian.


"Saya mengerti."


"Baiklah saya akan memeriksa pasien lainnya, tolong minumkan obatnya setelah dia bangun. Jika bisa tolong berikan apapun yang bisa membuatnya senang, itu akan mempercepat proses penyembuhan."


"Baik dokter."


Selepas dokter pergi, Selly duduk termangu disofa. Ia memijit pelipisnya yang terasa pusing. Walaupun keadaan Brian tak ada cedera berat, tapi trauma yang dialami Brian akan membekas dalam ingatannya. Ia merasa kasihan pada bocah itu, ia takut jika keceriaan dalam diri bocah itu akan hilang dan menjadi anak introvet dan menutup diri.


"Segeralah sadar nona, semua membutuhkan kekuatan dan support darimu, mereka berdua lemah dan rapuh tanpamu. Tuan Edward sedang bertarung melawan maut, sedangkan putramu sedang melawan traumanya. Segera bangunlah nona, jangan membuat kami takut." gumam Selly lirih.


.


.


Disisi lain,


Dirinya menghentikan langkahnya. Ia menatap kearah kamera yang menyala, lalu menghela nafasnya pelan.


"Rekan rekan, kami selaku atas nama keluarga, mohon maaf belum bisa mengklarifikasi tentang peristiwa itu. Untuk kronologis kejadiannya, kalian bisa tanyanya pada pihak kepolisian. Kami menyerahkan sepenuhnya kasus ini pada pihak yang berwajib. Mohon jaga ketenangan, doakan agar semua segera pulih."


David mengatupkan kedua telapak tangannya. Ia agaknya sedang malas meladeni tukang cari berita itu.


"Tuan Tuan, bagaimana kondisi Tuan Edward beserta Istri dan putranya, apa baik baik saja?"


"Tuan, apa peristiwa itu berhubungan dengan pemecatan diperusahaan Tuan Edward?"


"Tuan.."


"Tuan.."


David bergeming, ia tak menjawab satu pun pertanyaan dari awak media, ia langsung masuk kedalam mobil dan melajukannya.

__ADS_1


Berita tentang kecelakaan itu menjadi trending topic hari ini. Semua stasiun televisi memberitakan kasus itu. Bahkan di media sosial orang ramai mengirimkan ungkapan kesedihannya. Banyak warga net yang memberikan empatinya.


Seorang pria yang tengah sibuk dikantornya langsung mendongakkan kepalanya saat asistennya masuk dan memberi salam.


"Tuan, apa anda sudah melihat berita kehebohan hari ini?" tanya Yudha menelisik.


"Sudah. Aku tak menyangka jika akan secepat ini. Padahal aku baru saja memulainya. Menurutmu siapa pelakunya? Bisa bisanya mereka jelas jelas menampakkan diri terang terangan. Ck..ck.."


"Apa..!! jadi bukan anda atau nona Vivi Tuan..!!" Kaget Yudha hingga matanya membeliak.


Tuan Kim memicingkan matanya, "Apa kau menganggapku bodoh..!! Bagaimana bisa aku bertindak seperti itu, itu bukan gaya bertarungku.!!" kesal Tuan Kim, ia melemparkan tatapan tajamnya.


Gluk


Yudha meringis melihat tatapan maut tuannya. Ia segera menundukkan pandangannya.


"Biarkan saja, toh kita yang untung. Mereka yang harus kotor kotor, kita yang bertumpang kaki. Dengar dengar si Admaja juga sedang dirawat. Ini akan bagus untuk segera menguasai pasar. Mereka sedang kekosongan pemimpin." Kim tersenyum sinis.


Yudha mengerutkan dahinya tipis,


"Tapi ini juga tidak akan baik, kita bahkan sedang disorot pihak kepolisian. Semua yang berhubungan dengan mereka berdua akan dijadikan tersangka, termasuk anda."


"Hah, biarkan. Lagian bukan kita pelakunya. Aku akan menyiapkan pengacara terbaik untuk menangani kasus ini jika sampai terjadi." ucap Kim mengentengkan.


"Bukan itu saja Tuan, ada seseorang yang sengaja menggiring opini publik untuk menjatuhkan anda. Mereka mengkambing hitamkan anda dengan peristiwa itu." ucap Yudha


"APA...!!! Bagaimana bisa..!!" Kim menggebrak meja kerjanya. Matanya mendelik marah .


"Anda bisa melihatnya dari media sosial. Entah siapa yang melakukan itu. Yang jelas kita sedang disorot publik."


"Bang SAT..!!! Berani beraninya mereka. Bahkan kasus kemarin saja mereka tidak bisa membuktikan kita terlibat. Apa apaan ini..!!" ucap Kim marah.


Yudha hanya melenguh, tadi saja tenang tenang sekarang marah marah."Dasar temperamen." umpatnya dalam hati.


.


.

__ADS_1


.


###


__ADS_2