Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Tegang


__ADS_3

Aurora singgah sebentar di ruang rawat Yudha sebelum pulang ke rumahnya. Anggota GL yang berjaga disana langsung memberi hormat pada Aurora.


"Bagaimana keadaannya." tanya Aurora lugas.


"Tadi sudah sempat siuman, sekarang mungkin dia sedang istirahat. Keseluruhan tidak ada sesuatu yang fatal, dokter menyarankan untuk tinggal beberapa hari lagi untuk pemulihan paska operasinya."


"Hem. Aku minta kalian tetap berjaga disini. Minta markas menurunkan orang untuk bergantian berjaga disini. Aku akan pulang. Jika terjadi sesuatu segera beri tahu kami. Kalian mengerti!"


"Mengerti Queen."


Baru saja Aurora membuka pintu, suara serak Yudha memanggilnya. Aurora hanya membalikkan badannya.


"Istirahatlah, jangan mencemaskan apapun. Brian sudah ada dirumah." Jawab Aurora seakan tau pertanyaan yang akan dilontarkan padanya.


Yudha mengangguk pelan. Tapi masih penasaran bagaimana keadaan Brian selama dalam pelariannya.


"Jika anda berkenan, bisakah besok anda mengajak Brian kemari?"


Aurora menghela nafasnya pelan. "Aku tidak janji. Psikisnya sedang tidak baik saat ini. Hari ini dirinya sudah melalui banyak kejadian tidak menyenangkan. Kami baru saja membebaskan dia dari sekapan Kimura. Aku harap kamu mengerti. Oke aku rasa pembicaraan ini sudah cukup."


"Tunggu nona! Benarkah yang anda katakan barusan. Bagaimana bisa? Saya yakin jika yang melakukan penyerangan itu bukan anggota Yakusa. Dari gaya bertarungnya saja berbeda. Tidak mungkin bos Kimura yang melakukannya."


Yudha memaksa otaknya untuk mengingat kejadian yang terjadi saat itu, tapi tetap tak bisa menemukan tanda jika para Yakusa yang melakukannya.


"Kamu benar. Memang bukan dia yang melakukan penyerangan. Anak buahnya yang menyelamatkan dari situasi saat itu tapi dia juga yang menyekap Brian untuk dilakukan pertukaran."


"Pertukaran apa maksud anda?" Otak pintarnya langsung berpikir dan menerka.


"Apa dengan Baby Kenta?"


Aurora mengangguk membenarkan.


"Lalu bagaimana sekarang! Apa anda sudah mempertemukannya?Apa Bos Kimura juga ada di rumah sakit ini?"


Aurora berdehem mengiyakan.


"Istirahatlah. Jangan melakukan apapun tanpa perintah dariku. Aku masih menunggu laporan pencarian adikku darimu. Kau masih berhutang kebebasan."


"Okey. Sampaikan salamku pada Brian."


Aurora mengangguk dan langsung keluar dari ruang rawat Yudha. Di kursi tunggu ternyata Edward masih setia menunggu Aurora dengan ponsel ditangannya yang sibuk berkirim pesan entah pada siapa.


"Pulanglah Felix, kenapa masih disini. Bukankah aku tadi menyuruhmu pulang? Jam kerjamu sudah habis bukan? Aku sudah dijemput Kevin, pasti dia sekarang sudah ada di parkiran."


"Apa yang anda katakan. Tidak, saya akan mengantar anda sampai ke rumah."


Aurora melihat jam dipergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari tapi ia belum bisa merebahkan punggungnya.


"Oke. Kita ngopi didepan sebentar sebelum pulang."

__ADS_1


Edward mengerutkan keningnya. "Untuk apa anda ngopi malam malam begini. Anda harus segera istirahat setelah tiba dirumah. Apa anda akan bekerja lagi setelah ini?"


"Tidak. Aku hanya takut kamu mengantuk. Aku tidak ingin terjadi sesuatu di jalan. Aku harus tetap hidup untuk ketiga putraku. Aku tidak ingin kejadian lalu terulang kembali." Aurora melenggang begitu saja setelah mengatakan hal itu.


Edward termangu mendengar perkataan Aurora. Tiba tiba bayangan potongan tragedi kecelakaan berputar putar seperti kaset rusak dalam ingatannya. Spontan Edward memegang kepalanya yang terasa begitu sakit hingga ia bergulung dilantai.


"Aghhh." rintih Edward


Aurora yang mendengar Edward berteriak kesakitan langsung membalik badan dan berjalan cepat kearah Edward. Wajah Aurora nampak cemas dan bingung dengan apa yang terjadi pada asistennya.


"Felix, apa yang terjadi!"


Anggota yang menjaga Yudha juga langsung keluar ketika mendengar keributan diluar kamar perawatan. Mereka juga langsung berjongkok membantu Edward.


"Aghhh ini sakit sekali." Edward meremas kepalanya gusar. Peluh dingin mulai membanjiri tubuhnya menandakan jika pria itu sedang menahan sakit teramat sangat.


Petugas medis segera mengangkat tubuh Edward ke atas brankar dan membawanya ke ruang IGD. Aurora mengikuti mereka dengan cemas.


"Apa yang terjadi padanya dok?"


Aurora menyela saat Edward masih diperiksa. Ia begitu prihatin dengan keadaan asisten yang sampai meringkuk memegangi kepalanya bahkan kadang dengan sengaja membenturkan kepalanya ke brankar.


Aurora membantu memegangi tangan Edward saat dokter hendak menyuntikkan sesuatu pada tubuh Edward. Aurora juga mengusap pelan kepala Edward mencoba menenangkannya.


"Tenanglah. Tenanglah Felix." hibur Aurora masih mengusap kepala Edward.


Entah apa yang terjadi, tiba-tiba Edward mulai tenang dan mulai memejamkan matanya. Aurora lega karena Edward tak merintih kesakitan lagi.


"Kami harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut jika ingin mengetahui penyebabnya, kami belum bisa memastikannya saat ini. Sebaiknya pasien dirawat inap dulu nona. Esok kami akan melakukan tindak lanjutnya."


"Oke. Carikan ruang rawat yang nyaman untuk dia."


Dokter itu mengangguk dan berlalu.


Aurora duduk lemas diruang tunggu sambil menunggu Edward dipindahkan. Entah mengapa ia ingin menunggui asistennya. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan menelfon Kevin untuk membawakan makanan dan minuman untuknya.


Selang setengah jam, brankar Edward mulai didorong untuk dipindahkan ke ruang perawatan. Kevin yang mengetahui Aurora juga beranjak mengikuti para tenaga medis dibelakangnya langsung melangkah lebar menghampiri Aurora.


"Nona apa yang terjadi?"


Kevin menatap Aurora penuh tanya, tapi Aurora hanya mengangkat bahunya tidak tahu.


"Kevin katakan pada bodyguard kita, malam ini aku akan tidur disini. Minta Alex memantau rumahku dan menjaga anak anak." Kata Aurora setelah berada di ruang perawatan. Ia melihat para medis sedang melakukan tugasnya.


"Baik, saya akan segera konfirmasikan pada mereka. Saya ada diluar jika anda mencari saya." ucap Kevin sembari menyerahkan tas yang ia bawa sedari tadi.


"Hem, Istirahatlah."


Kevin mengangguk dan menutup pintu perlahan.

__ADS_1


Aurora mendekat kearah Edward dan memandanginya sebentar. Wanita itu tersenyum kecil melihat wajah damai Edward ketika sedang tidur.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu."


Tidak ada jawaban, Aurora beranjak dan memposisikan dirinya merebahkan tubuhnya di sofa. Ia ingin tidur sejenak sebelum fajar tiba. Ia bahkan melupakan makanan yang tadi dipesannya. Rupanya rasa kantuk melebihi rasa laparnya, hingga tak berapa lama ia sudah tertidur pulas.


Rasanya baru sejam Aurora tertidur, tiba tiba wanita itu terbangun karena kaget. Aurora mengucek matanya dan segera menurunkan kedua kakinya.


"Ada apa Felix?" gumam Aurora masih mengumpulkan kesadarannya.


"Aurora sayang." Gumam Edward dalam tidurnya. Pria itu bergerak gelisah mengigau.


Aurora mematung mendengarnya. Ia segera mendekat dan melihat keadaan Edward.


Kemeja yang dikenakan Edward tampak basah oleh keringat. Pria itu masih mengigau.


"Sayang, apapun yang terjadi, ingatlah aku mencintai kalian, jika kamu masih hidup, tolong jaga anak anak , aku menyayangimu. Sampai jumpa dikehidupan selanjutnya. I love you." ucap Edward yang terdengar pilu.


DEG


"Felix, _" Aurora membungkam mulutnya tak percaya. Kata kata asistennya mengingatkan pada mendiang suaminya.


"SAYANG PINDAH KEBANGKU TENGAH..!" Teriak Edward.


"AAAA!!!"


"Felix, bangunlah. Apa yang terjadi padamu!" Sekali lagi ia mengusap kepala Edward. Entah apa yang terjadi, Edward tiba tiba kembali tenang.


Tiba tiba Aurora menyadari sesuatu yang tidak beres pada Edward. Wanita itu mengernyit bingung.


"Bagaimana bisa hanya tubuhnya saja yang berkeringat sedangkan dahinya tidak. Kenapa kepalanya tidak ada keringat sedikitpun."


Aurora mengusap rambut Edward sekali lagi. Penasaran tentu saja, ia takut jika tebakannya benar.


"Tidak, ini tidak mungkin! Siapa kamu sebenarnya. Kenapa kamu memakai topeng?"


Aurora tergesa membuka kancing kemeja Edward. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak beraturan. Suasana tiba tiba terasa sangat menegangkan baginya. Ia sampai menahan nafasnya.


Deg


Deg


Deg


.


.


.

__ADS_1


#####


__ADS_2