
"Nona, anda sudah pembukaan dua. Anda akan segera melahirkan." ucap Dokter itu setelah memeriksa keadaan Aurora.
Aurora tersenyum lebar. Ia sangat menantikan hari dimana ia akan segera bertemu dengan malaikat kecilnya. Ia bahagia sekali mendengarnya.
"Benarkah..!? Jadi ini bukan kontraksi palsu Dok.!" ucap Aurora tak percaya.
Dokter wanita itu mengulas senyum. "Benar nona. Anda tidak takut melahirkan nona? Wajah anda berseri seri sekali." ucap Dokter itu mengerutkan kening.
"Ah, itu karena saya bahagia karena sebentar lagi akan jadi ibu. Saya sudah belajar banyak tentang melahirkan. Semoga saya tetap bisa menahan rasa sakitnya. Bantu saya untuk lahiran normal ya dok." ucap Aurora dengan senyumnya.
"Tentu saja nona. Kami sudah melakukan pemeriksaan keseluruhan, hasilnya semua normal. Jadi anda insya Allah bisa melahirkan normal. Baiklah kita akan pindah keruang persalinan. Anda siap nona?"
"Siap Dok." ucap Aurora tak sabar. Walau kadang ia meringis menahan sakit hingga bulir bulir keringat membasahi dahinya, tapi rasa itu tak sebanding dengan kebahagiaannya saat ini. Ia tak sabar menanti detik detik kelahiran putranya.
Brankar Aurora didorong beberapa perawat ke ruang persalinan. Brian dan David berjalan tergesa mengikuti di belakangnya. Mereka belum tau apa yang terjadi pada Aurora.
Brian ikut masuk dalam ruang bersalin itu, sedangkan David ditahan diluar ruang karena sedang ditanyai oleh perawat yang akan membantu persalinan Aurora.
"Tunggu Tuan, apa anda suami nona Aurora?" tanya perawat itu.
"Bukan. Saya asistennya. Suaminya sedang sakit. Katakan padaku ada apa dengannya. Aku akan menyampaikan pada keluarganya."
"Begini Tuan, nona Aurora akan melahirkan." ucap perawat itu.
"Hemm, lalu dimana Dokternya. Aku ingin bicara sebentar dengannya." tanya David .
David ingin memastikan keadaan Aurora jika sedang dalam kondisi baik baik saja sebelum memberi tahu yang lain.
"Mari saya antar Tuan." kata perawat itu.
Disisi lain, Brian sedang mengusap dahi Aurora dengan sapu tangan yang dibawanya. Ia menatap sendu Aurora. Ia ingin menangis, tapi ia takut diminta keluar oleh perawat.
Aurora saat ini sedang berbaring miring kekiri untuk mempercepat pembukaan, tersenyum hangat ketika melihat wajah khawatir Brian. Sambil menahan rasa sakit yang timbul, ia mengusap pipi Brian.
"Tenanglah. Mom baik baik saja. Apa kamu bahagia, sebentar lagi adik adikmu akan lahir kedunia ini. Kamu akan jadi seorang kakak."
"Mom!"
Brian tau jika Aurora sedang menahan sakitnya. Tapi mengapa ia tak mengeluh seperti ibu ibu yang lain. Dan bisa bisanya Aurora malah menenangkan dirinya.
Aurora hanya memejamkan mata dan menarik nafas dalam dalam ketika rasa sakit itu muncul kembali.
__ADS_1
"Daddy, sehalusnya kau ada disini menemani mommy, kasihan mommy, dia kesakitan sendili. Cepatlah sadal Dad.." batin Brian berdoa.
"Mom. Mom halus beljanji padaku. Mom halus kuat, beljanjilah untuk tidak menyelah. Beljanjilah untuk tidak meninggalkan aku. Cukup Daddy yang sakit, mom jangan."
Mata Brian berkaca kaca saat mengatakan hal itu. Ia sangat takut kehilangan Aurora. Banyak orang yang bilang jika melahirkan taruhannya adalah nyawanya. Ia takut kehadirannya membawa sial untuk mommy nya. Ia takut kejadian itu terulang kembali.
"Mom janji. Tapi Brian juga harus janji pada mommy, jika terjadi sesuatu buruk pada mommy, jangan kabur ya. Jangan menyalahkan diri sendiri. Putra mommy bukan anak pembawa sial. Kau harus ingat itu. Ikutlah sama Aunty Selly atau paman David. Mereka berdua akan merawatmu dengan baik." ucap Aurora seakan tau yang sedang dipikirkan anak jenius itu.
"Janji."
Brian tersenyum dan melingkarkan jari kelingkingnya ke jari kelinking Aurora. Aurora tersenyum bahagia. Ia harap persalinannya akan lancar dan tak menimbulkan masalah.
"Bagaimana nona, kita periksa ya, dedeknya sudah mengintip belum ya.."
"Tuan muda kecil, mommy nya mau melahirkan, tunggu sebentar diluar ya, nanti kalau adiknya sudah keluar, boleh menemani mommy lagi." pinta Dokter itu lembut.
Brian memandang Aurora. Lalu mengecup dahi Aurora. Ia membisikkan sesuatu pada Aurora. Lalu tersenyum pada dokter wanita itu.
"Beljuanglah Mom. Aku akan menunggu diluang Daddy. Daddy pasti senang mendengal kabal ini. Aku menyayangimu.."
.
.
Deg
Brian mundur selangkah. Ia terkejut ketika mendapati ada nenek Yuli sedang menatapnya tajam. Ia menarik nafasnya panjang dan membuang semua ketakutannya.
Ia mendekat dan menyalami satu persatu yang ada disana termasuk Bunda Yuli, lalu segera memeluk erat Selly.
"Aunty, bisa temani aku ke toilet sebental?" bohongnya agar tak terjebak dalam situasi yang tidak mengenakkan, apalagi jika melihat tatapan benci Bunda Yuli.
Selly mengangguk dan menggandeng lengan Brian.
"Tunggu Brian...!" cegah Tuan Admaja
Brian membalikkan badannya, menatap sendu wajah kakeknya.
"Kemarilah.." pinta Tuan Admaja yang masih duduk dikursi roda.
__ADS_1
Brian mengangguk dan menghampiri kakek tua itu.
"Kamu kemana saja nak, kenapa meninggalkan kakek, kenapa tadi tidak memeluk kakek.. Kakek merindukanmu. Kenapa kamu tidak pulang kerumah? Bagaimana kabarmu..kamu mau kemana lagi, mau meninggalkan kakek? " tanya Tuan Admaja beruntun sambil memeluk tubuh Brian dengan sayang.
Mata Brian berkaca kaca. Ia merasa banyak orang yang menyayanginya. Ternyata ucapan mommy ada benarnya, pikir Brian.
Brian mendongakkan kepalanya, ia melihat Bunda Yuli sedang melotot tidak suka dengan kehadirannya ditempat itu, tapi ia hanya diam saja.
"Tenanglah kakek, aku juga melindukanmu. Aku hanya ingin pipis sebental. Tidak akan kemana mana. Blian sudah beljanji pada daddy untuk melindungi adik adik Brian. Jadi Blian akan tinggal dimana mommy tinggal."
Brian mengurai pelukan Tuan Admaja. Ia pikir harus segera pergi dari lingkungan itu. Ia takut neneknya tidak bisa mengendalikan diri dan akan mempermalukan keluarga. Ia tak ingin merusak suasana.
"Baiklah, segera kembali dan jangan pergi lagi. Rumah kakek sepi jika tidak ada kalian." ucapnya sendu.
Brian tersenyum dan mengangguk pelan.
"Jaga kesehatanmu kakek, beljanjilah untuk belumul panjang. Aku akan membuat kakek bangga jika aku jadi seolang Laja. Apa kakek pelcaya padaku?" Seloroh Brian yang membuat Tuan Admaja tersenyum.
"Kakek percaya. Kamu memang cucu kakek yang paling jenius, kamu pantas menjadi seorang Raja."
Brian tersenyum. Senyum anak itu benar benar manis sekali. Pantas sekali menjadi putra Edward dan Aurora.
"Baiklah kakek, aku halus pelgi sebental. Jaga mommyku,."
"Silahkan yang Mulia." seloroh Kakeknya
Brian mengangguk dan pergi meninggalkan kerumunan itu. Ia lega karena terbebas dari tatapan benci wanita tua itu.
Tuan Admaja diam sambil memandang punggung Brian yang semakin lama semakin mengecil dan menghilang dipertigaan. Ia merasa ada yang tidak beres dengan cucunya itu. Saat tadi memandang matanya, ia seakan melihat kesedihan yang mendalam dalam hidupnya. Entah apa itu, ia juga belum tau.
"Apa yang terjadi padanya, apa belum sembuh dari traumanya? Ah kasihan sekali dia. " batin Tuan Admaja .
.
.
.
#####
ILLUSTRATION IMAGE
__ADS_1
SOURCE GOOGLE