
Aurora menatap rintik hujan malam ini dengan senyum yang membingkai wajahnya. Wanita itu rupanya sedang menunggu kedatangan Edward yang pagi itu telah mengabarinya jika akan pulang setelah pesawat kargonya lepas landas lebih dulu.
Jantung Aurora berdegup kencang tat kala ia menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam, waktu dimana pesawat yang ditumpangi suaminya akan segera mendarat.
Deringan ponsel tiba-tiba mengejutkannya, ia berharap jika itu panggilan dari Edward. Sayangnya bukan, Henry Lim yang kali ini menghubunginya. Entah ada angin apa tiba-tiba pria itu menghubunginya.
"Halo."
**Halo Aurora, bisakah kita bertemu malam ini.
Aurora mengerutkan dahinya. Untuk apa pria itu ingin menemuinya. Ia sudah lama tak berurusan dengannya.
"Malam ini?"
**Ya Aku sekarang ada di depan rumahmu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Please suruh penjagamu untuk membukakan pintu untukku.
Aurora membulatkan matanya. Ia segera menengok ke bawah untuk membuktikan ucapan Henry.
"Sial, untuk apa pria itu kemari. Jangan sampai kak Edward salah paham dengan kejadian ini." Batin Aurora.
"Sebaiknya besok saja. Aku sedang sibuk saat ini. Maaf."
**Ck. Kamu benar-benar ya. Please hanya sebentar saja, setelah itu aku akan segera pergi. 15 menit.
Aurora menggigit bibir dalamnya, ia sebenarnya penasaran, tapi takut jika tiba-tiba suaminya datang.
**Nona Aurora,.. jika 5 menit lagi anda tak membiarkanku masuk, aku akan membuat keributan saat itu juga. Anda mendengarku bukan!
Aurora menghela nafasnya, pria ini benar-benar menjengkelkan sekali. Entah terbuat dari apa kepalanya itu.
"Oke tunggu sebentar."
Dengan malas Aurora turun dan menemui Henry. Pria itu tersenyum kecil saat wanita yang di tunggunya berjalan menuju ke arahnya, semakin cantik dari yang terakhir ia lihat.
"Silahkan duduk."
Henry mengangguk.
__ADS_1
"Ada masalah apa Tuan pemaksa. Aku rasa aku sudah tidak terlibat dengan urusanmu. Urusan perusahaan sudah di handle sepenuhnya oleh Kak Andi, jadi jika ini berhubungan dengan pekerjaan, silahkan anda segera pergi dari sini. Saya sangat sibuk sekali." ujar Aurora.
"Aurora menikahlah denganku." ujar Henry serius.
Aurora menatap horor Henry, jadi pria itu memaksa masuk hanya untuk mengatakan hal konyol ini. Aurora sampai tak habis pikir.
"Saya rasa anda belum bangun dari tidur anda Tuan Pemaksa. Bagaimana bisa, anda mengatakan hal menggelikan seperti itu. Kita bukan orang yang kenal dekat, kita hanya rekan kerja, dan sekarang anda tiba tiba mengajakku menikah. Anda sudah gila!!"
Ah, Aurora semakin kesal saja dengan pria itu. Mungkin ini saatnya ia memberi pelajaran pada manusia yang tidak tahu diri itu.
"Aku serius. Aku menyukaimu sejak kamu pertama datang ke Singapura. Jadi menikahlah denganku."
Nafas Aurora memburu. Bagaimana bisa seorang pria mengajak menikah seenteng membeli sepatu. Aurora menarik nafasnya dalam dalam sebelum berbicara dengannya.
"Tuan Henry yang terhormat, saya menghargai perasaan anda, saya tidak melarang anda mencintaiku, tapi maaf, saya tidak bisa menikah dengan anda. Silahkan anda segera meninggalkan kediaman saya. Saya sangat sangat sibuk sekali. Anda tahu pekerjaan saya bukan."
Aurora berdiri, rupanya wanita itu sudah sangat muak dengan Henry. Ia merasa tidak bisa berlama lama dengan pria itu. Wanita itu bahkan sudah berjalan ke depan pintu dan membukanya lebar lebar. Awas saja jika pria itu bertindak berlebihan seperti sebelumnya, ia pastikan akan menerima ganjarannya.
Henry berjalan mendekati Aurora yang bersedekap dada dan memandangnya penuh kebencian.
"Nyawamu akan aman jika kamu menikah denganku Aurora. Pikirkan hal ini baik-baik, jika kamu menjadi istriku, aku akan berusaha melindungi kalian. Aku tak masalah walau kau mempunyai lima anak sekalipun, aku janji akan menerima kalian dengan baik."
"Wow! terdengar sangat romantis sekali Tuan pemaksa. Sayangnya aku sama sekali tak tersanjung. Lebih baik anda simpan baik-baik kalimat itu untuk wanita yang beruntung mendapatkan cinta anda. Anda pria tampan, gagah, kaya bahkan anda digilai banyak wanita. Sayang sekali jika kalimat itu ditujukan untuk seorang janda beranak tiga. Anda pantas mendapatkan yang terbaik. Saya tau anda pencinta wanita wanita cantik, diluar sana.. banyak yang lebih cantik dan menarik di banding saya. Jadi saya tekankan sekali lagi, berhenti terobsesi padaku dan segeralah pulang. Saya rasa ini sudah lewat dari 15 menit Tuan Henry."
Aurora tersenyum dan menepuk pelan dada Henry.
"Silahkan."
"Aurora please. Tolong pertimbangan ucapanku." Henry menatap Aurora dengan pandangan sendu. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada wanita itu.
Lagi lagi Aurora menghela nafasnya, kenapa pria di depannya ini ngotot sekali, apa jangan jangan pria itu tak mengerti apa yang diucapkannya.
"Aku.. aku hanya penasaran, sebenarnya kamu itu ngerti ngak sih apa yang aku katakan." tanya Aurora lirih dan pria itu malah menganggukkan kepalanya.
Betapa ingin dirinya menampol kepala pria itu. Benar benar bebal.
"Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas kekhawatiran anda Tuan, terima kasih sekali. Tapi maaf, saya bisa menjaga diri dengan baik dan masih banyak orang orang yang bisa melindungi. So, jangan khawatir. Cause everything's gonna be okay."
__ADS_1
Henry mende/sah pelan dan diraihnya jemari tangan Aurora. Seperti biasa, pria itu dengan santainya mencium punggung tangan Aurora. Baginya itu adalah hal biasa, merupakan bentuk suatu penghargaan tertinggi kepada seorang wanita.
Aurora melotot tak percaya, ia segera menghempaskan kasar tangannya.
"Jangan berlebihan!" tuding Aurora.
"Aurora, sebenarnya aku tidak ingin terlibat, tapi aku mengkhatirkanmu. Kamu juga menolak menjadi istriku, jadi bagaimana aku bisa melindungimu." ucap Henry terdengar sedih.
Rasanya Aurora ingin berteriak kencang di telinga Henry.
"Aurora, seseorang disana sedang merencanakan hal buruk padamu, aku ingin kau selalu waspada dan jaga dirimu baik-baik. Kamu benar, semua akan baik-baik saja, tapi aku sungguh menghawatirkanmu. Aku juga tidak bisa terus terusan disini. Aku harus kembali ke Singapura. Jadi jaga dirimu baik-baik."
Aurora terdiam, sekarang dirinya tau inti dari pembicaraan ini. Harusnya Henry tak perlu bicara mutar mutar tak jelas. Sekarang hatinya jadi bertanya tanya, siapa yang di maksud dengan seseorang itu, kenapa pria itu seakan menyembunyikannya, mungkinkah seseorang itu berhubungan dengannya.
Sibuk dengan pemikirannya sendiri, Aurora bahkan tidak sadar jika keningnya tiba-tiba dikecup oleh Henry.
"Selamat tinggal."
Aurora berdiri mematung, rasanya ia ingin pingsan saja. Edward, suaminya yang ia tunggu tunggu kepulangannya sedang berdiri di kejauhan bersama Alex dan menatapnya dalam diam. Bahkan dua orang itu membiarkan mobil Henry melewati mereka berdua begitu saja.
"Matilah aku." gumam Aurora.
Edward menoleh ke sisi kirinya, "Maaf Alex, sepertinya kamu harus lembur. Cari tau apa tujuan pria itu datang menemui istriku. Dan kamu harus menyelesaikan malam ini juga."
Tiba-tiba Alex menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuknya, niat hati ingin istirahat sejenak dan diam-diam menemui putranya, malah gagal sebelum mendapat ijin.
"Baiklah, aku akan segera mengerjakannya. Selesaikan baik-baik." Alex menepuk bahu Edward dan berbalik pergi.
Sedangkan Aurora, wanita itu melebarkan senyum terpaksanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa, ia sudah seperti tertangkap basah karena sudah berselingkuh.
"Sa.. sayang."
.
.
.
__ADS_1
#####