
“sayang bagaimana kalau kita jalan-jalan sebelum kembali ke
Malang?” Tanya Al setelah menyelesaikan sholat dhuhur nya.
“Mau banget mas, bagiamana kalau kita ke Makam bung karno,
atau ke candi penataran?”
“terserah kamu sayang …, bersiap-siaplah …, aku akan
memanasi mesin mobil dulu!”
“harus pakek mobil ya mas?”
“memang mau pakek apa?”
“Motor!”
“Ya sudah …, kita pakek motor. Jangan lupa pakek jaket.
Pakek celana panjang juga!”
Ajeng mengangguk, ajeng pun segera menganti bajunya dan
membawa tas kecilnya. Ia mencari suaminya sambil membawakan jaket untuk
suaminya itu.
“Mas …, ini jaketnya!” Ajeng menyerahkan jaket itu, Al
sedang memeriksa motornya, sudah sangat lama tidak di gunakan jadi ia sedikit
mengelap dan memanasinya.
“Terimakasih, sayang …! Oh iya …, sudah di kunci pintunya?”
“Sampun mas ….!”
(Sampun dalam bahasa jawa artinya sudah)
“Pakek dulu helmnya!” Al menyerahkan helm itu pada ajeng, Al
sendiri memakai jaket dan helmnya juga.
“Sudah siap?”
“Siap mas …!”
Al menaiki motor, diikuti oleh Ajeng, Al mulai menjalankan
motornya. Ajeng mulai memegangi ujung jaket Al, membuat Al gemas.
“Sayang, pegangan yang erat …!” ucap Al sambil menarik
tangan ajeng hingga melingkar di perutnya.
“kalau kayak gini kan enak …!” ucap Al dengan senyum
mempesonanya.
Motor itu sudah menyusuri jalan raya, jalan raya di Blitar
tidak seramai di Malang atau kota besar lainnya. Kita akan sangat mudah
menyalip kiri kanan jika menggunakan motor, pakek mobil saja tidak perlu
macet macetan.
Al dan Ajeng memulai persinggahan mereka di sebuah taman
makan milik tokoh proklamator kita, serta makan presiden nomor satu kita. Di
sana mereka menuju ke perpustakaan kota, memasuki galeri lukisan bersejarah,
berfoto dengan patung presiden nomor satu di Indonesia. Karena Ajeng sedang
dalam keadaan haids, mereka tidak berjiarah makan, mereka langsung menuju ke
pasar yang berada di belakang makam, di sana banyak sekali oleh-oleh khas
Blitar yang di jual di sana dan murah.
__ADS_1
Al memanjakan Ajeng dengan membelikan banyak pernak pernik
khas kota Blitar.
“Mas Al …, ini banyak banget, bagaimana bawanya?”
“Jangan khawatir, suamimu ini siap membawa semuanya!”
“Gini ya …, kalau jadi istrinya orang kaya …!”
Al mengusap kepala Ajeng gemas. “Sekarang mau kemana lagi,
atau masih asa yang mau di beli?”
“Nggak ah …, kita lanjut jalan aja!”
Akhirnya mereka keluar dari kawasan makan bung Karno, Al
mengajak Ajeng keliling kota Blitar, menikmati suasana sore di sana.al
melajukan motornya kearah selatan, mereka menuju ke kampung coklat.
“Tahu aja kalau Ajeng suka coklat!”
“Kalau di sini kamu boleh deh bawa pulang sama
pohon-pohonnya juga!”
“Emang boleh?”
“Nggak tahu, nanti Tanya aja sama petugasnya!”
“Mas Al ini ada-ada aja!”
Al mengajak Ajeng melihat proses pengolahan coklat
langsung, di sana Ajeng juga boleh mencobanya sendiri. Menikmati berbagaimacam
olahan coklat dan menikmatinya langsung di bawah pohon kakau, begitu sejuk.
“Sudah sore, bagaimana kalau kita langsung ke alun-alun kota
“terserah mas al saja deh …, aku ngikut!”
Al memacu motornya lagi menuju ke alun-alun kota Blitar, di
sana ia menjalankan sholat Ashar. Sedangkan Ajeng memilih menunggu suaminya di
depan masjid.
Ajeng dapat melihat lalu lalang orang keluar masuk dari
dalam masjid. Sambil menunggu suaminya, ia memeriksa kembali foto-foto yang
telah mereka ambil.
“Ih hasilnya bagus banget!” ajeng memilih satu dan
menjadikan wallpaper ponselnya.
“Apa sih? Asik banget!”
Saking asiknya ajeng sampai tidak menyadari jika suaminya
sudah berada di sampingnya. Ajeng segera menyimpan kembali ponselnya.
“kenapa di sembunyiin?” Tanya Al.
“Bukan apa-apa mas …, ayo mas kita jalan-jalan di sama!”
ajeng menunjuk sebuah tama di samping alun-alun, taman pecut namanya. Taman itu
akan indah saat malam hari karena lampunya akan menyala.
“Ayo …!” Al meraih tangan ajeng dan menggandenganya. Mereka
berjalan menyusuri jalan, saling bergandengan tangan sesekali mengabdikan
__ADS_1
dengan kamera ponselnya. Setelah puas berkeliling, mereka pun duduk di salah
satu bangku taman.
“Mau minum?” Tanya Al, Ajeng pun mengangguk.
“Tetap di sini, jangan kemana-mana. Aku akan cepat kembali!”
“Iya …!”
Al pun meninggalkan ajeng untuk membeli minuman, ia harus
menyeberang jalan. Ajeng bisa melihat bagaimana Al tersentum padanya dan
beberapa kali menoleh untuk memastikan jika istrinya masih berada di tempatnya.
Setelah mendapatkan minuman, Al dengan cepat kembali
menghampiri Ajeng, menyerahkan sebotol minuman setelah membukakan segelnya.
“Minumlah …!”
"Trimakasih mas …!”
“Sama-sama sayang …!”
Mereka duduk sambil menikmati lalu lalang orang yang juga
sedang menikmati waktu sorenya. Ajeng menyandarkan kepalanya di bahu Al, tangan
Al benar-benar tak mau melepaskan tangan Ajeng.
“Aku benar-benar tidak menyangka jika hubungan kita bisa
sampai di tahap ini!”
“seharusnya aku mas yang mengatakan itu, kau ini pria yang
luar biasa. Sangat mudah untuk mendapatkan wanita yang lebih segalanya dari
aku!”
“Tapi untuk mendapatkan yang pas seperti kamu itu sulit
sayang!”
“Pas apanya?’
“Pas bandelnya, pas nakalnya, pas badungnya jadi kalau gin
aku jadi merasa di butuhkan, jangan pernah menjadi sempurna!”
“kenapa?”
“karena kalau kau terlalu sempurna, aku takut kau tidak akan
membutuhkan aku lagi di samping kamu!”
“Mana ada rumus kayak gitu!”
“Hukum Newton III aja kayak gitu!”
“Kayak apa?’
“Aksi reaksi, jadi kalau aku memberikan aksiku kau pasti
akan memberikan reaksimu, kita akan saling melengkapi di dalam kekurangan dan
kelebihan kita!”
“Ihhh …., puitis banget jadi orang!”
Menikmati waktu berdua seperti ini, mungkin hanya hal
sederhana. Tapi kesederhanaan ini akan memberikan kesempurnaan sebuah kisah di
masa depan.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘