Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
ada apa?


__ADS_3

            Pagi ini begitu cerah, mentari seakan


bersinar tanpa gangguan hingga sinarnya memantul dari embun yang masih menempel


di dedaunan. Suara orang-orang yang sedang lalu lalang dengan segala


keperluannya. Ada yang bersiap untuk berangkat kerja, ada ibu-ibu yang sedang


asik mengobrol sambil membeli sayur, tukang sayur keliling selalu berhenti di


depan rumah mama Renna setiap paginya karena bibi selalu membeli sayur dari


situ. Bibi tidak pernah pergi ke pasar, jika memang ada hal khusus yang mau di


beli maka hari sebelumnya bibi akan memesan pada tukang sayur dan keesokan


harinya akan di bawakan.


            Ajeng sengaja keluar dari rumah pagi


ini, ia mengikuti bibi untuk mendatangi tukang sayur. Memilih beberapa sayur


yang akan I masak, hari ini ia ingin belajar memasak bersama bibi.


            “Bagaimana kalau kita masak sayur


labu bi?”


            “Itu ide bagus neng, bang Al paling


seneng tuh sama sayur labu!”


            “benarkah?” tanya ajeng tidak


percaya.


            Akhirnya


aku tahu sayur kesukaannya …..


            Senyum Ajeng penuh kemenangan, ia


benar-benar puas bisa tahu salah satu kesukaan suaminya. Selama ini al selalu


mengatakan apa yang di sukai nya adalah kesukaannya juga, hal itu malah membuat


ajeng tidak bisa mengenal lebih dekat pada semua tentang Al.


            “Ini menantunya bu Renna y?” tanya


ibu-ibu yang juga sama-sama membeli sayur.


            “Iya bu!”


            “Cantik ya …!”


            “Makasih bu!”


            Setelah mengobrol panjang lebar


dengan ibu-ibu tetangga mama Renna, akhirnya Ajeng dan bibi memutuskan untuk


kembali masuk ke dalam rumah, mereka tidak sabar untuk segera memasak. Bibi


dengan sangat telatennya mengajari ajeng, ta[pi kali ini sayur labu itu khusus


di buat oleh Ajeng dan bibi hanya membantu menyuapkan bumbu-bumbunya.


            Setelah semuanya siap, Ajeng segera


menghampiri Al di kamar. Ia tidak sabar ingin mendapatkan pujian dari suaminya


itu. Di dalam kamar, Al sedang sibuk dengan laptopnya. Tangannya menjelajahi

__ADS_1


setiap huruf di keyboard sadang tatapannya begitu fokus ke layar sehingga ia


tidak menyadari jika istrinya sudah kembali ke kamar.


            “Mas Al sibuk apa sih?” tanya Ajeng,


ia sudah berjongkok di depan meja Al dengan kedua tangannya yang menyangga


dagunya. Al segera menatap ke arah Ajeng, senyum segera ia lengkungkan dari


bibirnya. Tangannya yang sibuk di kayboart segera beralih ke pipi Ajeng, dengan


lembut ia mengusapnya. Tangannya yang begitu lembut hingga Ajeng begitu suka


dengan sentuhannya.


            “Hanya ada pekerjaan sedikit dek …!”


ucap al dengan senyum lembutnya, Al bahkan belum mengganti pakaiannya. Ia masih


memakai baju koko dan sarungnya, hanya pecinya saja yang terlepas dari


kepalanya dan dia letakkan begitu saja di samping laptopnya.


            Ajeng pun mencondongkan kelapanya,


ia berusaha melihat layar laptop yang masih menyala itu, dari sana terdengar


lantunan lagu cinta luar biasa – nya


Andmesh kamaleng. Lagu itu begitu menggambarkan betapa luar biasanya cinta Al


pada Ajeng.


            “Mas …, itu desain apa?” tany ajeng


saat melihat sebuah desain sebuah bangunan. Perusahaan Al selain berkembang di


            “Nanti ya …., kamu bakal tahu


sendiri!”


            Ini


kenapa nih ….? Mas al juga ngurus tentang bangunan, papanya mas al juga


ninggalin kwitansi pembelian rumah ….


            “Kenapa malah bengong? Ada yang adek


pikirkan? Kalau ada sesuatu adek bisa cerita sama mas!”


            “Nggak kok mas …, hanya …!”


            “Masih mikirin tentang Rita?” tanya


Al curiga. Ia tahu betul betapa terlukanya hati istrinya. Hingga semalam tidak


bisa tidur karenanya.


            “Bukan kok mas …, aku akan berusaha


iklas, jika nanti Rita memaafkanku aku akan sangat senang dan menyambutnya


dengan tangan terbuka!”


            “Mas senang …, ternyata istri kecilku


kini sudah sangat dewasa!”


            ‘Oh iya mas, tadi aku ke sini mau


ngajak mas sarapan. Sarapannya sudah siap!”

__ADS_1


“Baiklah


…., mas bereskan dulu ya!”


“Kalau


gitu, adek panggil mama dulu ya mas, soalnya mama belum keluar kamar semenjak


pagi!”


“Iya


sayang!”


Ajeng


pun segera meninggalkan kamar dan menujun kamar mama Renna, tapi belum sampai


mengetuk pintu. Mama Renna sudah lebih dulu membuka pintunya.


“Mama


…, Ajeng baru saja mau panggil mama!”


“Maaf


ya mama nggak bisa bantu masak tadi pagi!”


“Iya


ma …, nggak pa pa! ayo ma kita sarapan!”


“Iya


sayang!”


Mereka


pun menuju ke meja makan, kini tinggal menunggu Al. setelah lima menit, Al


segera menyusul mereka. Sarapan kali ini begitu hening karena mama renna


seperti nya sedang irit bicara. Yang terdengar hanya dentingan dari sendok dan


piring yang saling berdu.


“Hemmmm…, hemmmm ……!” Al mencoba mencairkan suasana. “Bi …, siapa yang memasak hari ini? Kenapa rasanya sayur labu ini beda ya?’ tanya Al pada bibi.


“Itu karena sayur labu itu di buar dengan resep cinta bang al!” jawab bibi dengan


senyum menggodanya membuat wajah ajeng memerah karena malu.


“Jadi maksudnya …, yang memasak Ajeng?” tanya Al dengan senyum yang mengembang


sempurna sambil kembali melahap sayur labunya. Bibi pun mengangguk.


“pantas saja …, ini begitu enak, sampai aku tidak mau berhenti memakannya!”


Tapi sepertinya mama Renna sama sekali tidak terpengaruh dengan celotehan yang sudah


di buat oleh Aldevaro. Mama Renna terlihat begitu murung pagi ini, entah apa


yang sedang mama Renna pikirkan.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰😘😘❤️

__ADS_1


__ADS_2