
Pagi ini begitu cerah, mentari seakan
bersinar tanpa gangguan hingga sinarnya memantul dari embun yang masih menempel
di dedaunan. Suara orang-orang yang sedang lalu lalang dengan segala
keperluannya. Ada yang bersiap untuk berangkat kerja, ada ibu-ibu yang sedang
asik mengobrol sambil membeli sayur, tukang sayur keliling selalu berhenti di
depan rumah mama Renna setiap paginya karena bibi selalu membeli sayur dari
situ. Bibi tidak pernah pergi ke pasar, jika memang ada hal khusus yang mau di
beli maka hari sebelumnya bibi akan memesan pada tukang sayur dan keesokan
harinya akan di bawakan.
Ajeng sengaja keluar dari rumah pagi
ini, ia mengikuti bibi untuk mendatangi tukang sayur. Memilih beberapa sayur
yang akan I masak, hari ini ia ingin belajar memasak bersama bibi.
“Bagaimana kalau kita masak sayur
labu bi?”
“Itu ide bagus neng, bang Al paling
seneng tuh sama sayur labu!”
“benarkah?” tanya ajeng tidak
percaya.
Akhirnya
aku tahu sayur kesukaannya …..
Senyum Ajeng penuh kemenangan, ia
benar-benar puas bisa tahu salah satu kesukaan suaminya. Selama ini al selalu
mengatakan apa yang di sukai nya adalah kesukaannya juga, hal itu malah membuat
ajeng tidak bisa mengenal lebih dekat pada semua tentang Al.
“Ini menantunya bu Renna y?” tanya
ibu-ibu yang juga sama-sama membeli sayur.
“Iya bu!”
“Cantik ya …!”
“Makasih bu!”
Setelah mengobrol panjang lebar
dengan ibu-ibu tetangga mama Renna, akhirnya Ajeng dan bibi memutuskan untuk
kembali masuk ke dalam rumah, mereka tidak sabar untuk segera memasak. Bibi
dengan sangat telatennya mengajari ajeng, ta[pi kali ini sayur labu itu khusus
di buat oleh Ajeng dan bibi hanya membantu menyuapkan bumbu-bumbunya.
Setelah semuanya siap, Ajeng segera
menghampiri Al di kamar. Ia tidak sabar ingin mendapatkan pujian dari suaminya
itu. Di dalam kamar, Al sedang sibuk dengan laptopnya. Tangannya menjelajahi
__ADS_1
setiap huruf di keyboard sadang tatapannya begitu fokus ke layar sehingga ia
tidak menyadari jika istrinya sudah kembali ke kamar.
“Mas Al sibuk apa sih?” tanya Ajeng,
ia sudah berjongkok di depan meja Al dengan kedua tangannya yang menyangga
dagunya. Al segera menatap ke arah Ajeng, senyum segera ia lengkungkan dari
bibirnya. Tangannya yang sibuk di kayboart segera beralih ke pipi Ajeng, dengan
lembut ia mengusapnya. Tangannya yang begitu lembut hingga Ajeng begitu suka
dengan sentuhannya.
“Hanya ada pekerjaan sedikit dek …!”
ucap al dengan senyum lembutnya, Al bahkan belum mengganti pakaiannya. Ia masih
memakai baju koko dan sarungnya, hanya pecinya saja yang terlepas dari
kepalanya dan dia letakkan begitu saja di samping laptopnya.
Ajeng pun mencondongkan kelapanya,
ia berusaha melihat layar laptop yang masih menyala itu, dari sana terdengar
lantunan lagu cinta luar biasa – nya
Andmesh kamaleng. Lagu itu begitu menggambarkan betapa luar biasanya cinta Al
pada Ajeng.
“Mas …, itu desain apa?” tany ajeng
saat melihat sebuah desain sebuah bangunan. Perusahaan Al selain berkembang di
“Nanti ya …., kamu bakal tahu
sendiri!”
Ini
kenapa nih ….? Mas al juga ngurus tentang bangunan, papanya mas al juga
ninggalin kwitansi pembelian rumah ….
“Kenapa malah bengong? Ada yang adek
pikirkan? Kalau ada sesuatu adek bisa cerita sama mas!”
“Nggak kok mas …, hanya …!”
“Masih mikirin tentang Rita?” tanya
Al curiga. Ia tahu betul betapa terlukanya hati istrinya. Hingga semalam tidak
bisa tidur karenanya.
“Bukan kok mas …, aku akan berusaha
iklas, jika nanti Rita memaafkanku aku akan sangat senang dan menyambutnya
dengan tangan terbuka!”
“Mas senang …, ternyata istri kecilku
kini sudah sangat dewasa!”
‘Oh iya mas, tadi aku ke sini mau
ngajak mas sarapan. Sarapannya sudah siap!”
__ADS_1
“Baiklah
…., mas bereskan dulu ya!”
“Kalau
gitu, adek panggil mama dulu ya mas, soalnya mama belum keluar kamar semenjak
pagi!”
“Iya
sayang!”
Ajeng
pun segera meninggalkan kamar dan menujun kamar mama Renna, tapi belum sampai
mengetuk pintu. Mama Renna sudah lebih dulu membuka pintunya.
“Mama
…, Ajeng baru saja mau panggil mama!”
“Maaf
ya mama nggak bisa bantu masak tadi pagi!”
“Iya
ma …, nggak pa pa! ayo ma kita sarapan!”
“Iya
sayang!”
Mereka
pun menuju ke meja makan, kini tinggal menunggu Al. setelah lima menit, Al
segera menyusul mereka. Sarapan kali ini begitu hening karena mama renna
seperti nya sedang irit bicara. Yang terdengar hanya dentingan dari sendok dan
piring yang saling berdu.
“Hemmmm…, hemmmm ……!” Al mencoba mencairkan suasana. “Bi …, siapa yang memasak hari ini? Kenapa rasanya sayur labu ini beda ya?’ tanya Al pada bibi.
“Itu karena sayur labu itu di buar dengan resep cinta bang al!” jawab bibi dengan
senyum menggodanya membuat wajah ajeng memerah karena malu.
“Jadi maksudnya …, yang memasak Ajeng?” tanya Al dengan senyum yang mengembang
sempurna sambil kembali melahap sayur labunya. Bibi pun mengangguk.
“pantas saja …, ini begitu enak, sampai aku tidak mau berhenti memakannya!”
Tapi sepertinya mama Renna sama sekali tidak terpengaruh dengan celotehan yang sudah
di buat oleh Aldevaro. Mama Renna terlihat begitu murung pagi ini, entah apa
yang sedang mama Renna pikirkan.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰😘😘❤️
__ADS_1