
Malam ini mereka bersiap untuk pergi ke acara Reoni. Dika sudah memberitahu pada
Ajeng bahwa ia tidak bisa ikut karena ada pekerjaan yang membuatnya tidak bisa
pulang. ajeng sudah bersiap dengan gaun yang tadi siang di belinya bersama mama
Renna sedangkan Al sudah siap dengan jasnya. Al benar-benar terlihat begitu
tampan.
Ajeng yang sedang sibuk di depan cermin menatap pantulan suaminya dari sana, ia
terkesima di buatnya. Entah dirinya dulu dibutakan oleh apa hingga tidak mampu
menatap pesona pria di belakangnya itu.
“Apa adek sudah siap?” tanya al saat menyadari jika istrinya sedang
memperhatikannya.
“Sudah …!” ucap Ajeng sambil berdiri dari duduknya, ia membalik badannya dan kini
berhadapan dengan suaminya.
“Boleh aku jujur sesuatu?”
“Adek mau tanya apa?”
“Bolehkan aku mencintaimu sebesar mas mencintaiku?”
“Jangan!” ucap Al dengan cepat membuat Ajeng terkejut.
“Kenapa?”
“Biarkan mas saja yang mencintaimu paling besar, agar nanti adek tidak terlalu sakit saat kecewa karena mas!”
“Kenapa aku harus sakit, cintamu tidak akan mengecewakanku!”
“Cinta Allah lah yang tidak akan mengecewakan hambanya!”
“Mas …, adek sangat beruntung karena Allah mempertemukan Adek dengan mas Al. aku
tahu walaupun cinta manusia tidak ada yang abadi, cinta mas pada Ajeng lebih
dari cukup untuk membuatku merasa sempurna!”
Mendengarkan penuturan istri kecilnya, Al merasa terharu. Ia tidak menyangka gadis badung itu kini sudah menjadi sangat dewasa. Al segera menarik pinggang istrinya dan
mengecup bibirnya perlahan dengan penuh cinta, cukup lama. hanya ada cinta dan
kelembutan.
“Aku mencintaimu, istriku!” ucap Al setelah melepaskan ciumannya.
“Aku juga mas. Apa kita bisa berangkat sekarang? Sepertinya kita sudah sangat
terlambat!”
“tentu!”
Akhirnya mereka pun berangkat setelah berpamitan kepada mama Renna. Tapi ternyata mama Renna juga akan pergi. Mama Renna sangat sibuk, ia mempunyai sebuah kafe di daerah kota dan sebuah toko pakaian yang tidak terlalu jauh darikafe jadi mempermudah
mama renna untuk mengawasinya.
__ADS_1
Al dan Ajeng menggunakan mobil sebagai kendaraannya, sebenarnya Ajeng meminta
untuk menggunakan motor saja tapi Al bersikeras menolaknya. Ia tidak mau sampai
ajeng sakit karena nanti mungkin pulangnya akan sangat malam apalagi tempat
reoni dan rumahnya jaraknya agak jauh.
Akhirnya mereka sampai juga di tempat reoni, sebuah gedung pertemuan dengan nuansa
outdor dan indoor yang tertata begitu indah.
Setelah memarkirkan mobilnya, Al mengajak Ajeng menuju penerima tamu. Al menunjukkan
kartu undangannya. Penerima tamu segera memeriksanya dan meminta Al dan Ajeng
untuk membubuhkan tanda tangan pada buku tamu.
Al mengajak Ajeng masuk, tapi Ajeng segera menahan tangannya membuat Al menoleh
pada istrinya.
“Ada apa dek?” tanya Al penasaran.
“Mas …, adek takut …, bagaimana kalau nanti kita jadi pusat perhatian?”
“Kenapa mesti takut, kan ada mas …, jangan khawatir! Mas selalu di sampingmu!”
Setelah mendengarkan ucapan suaminya, perasaan Ajeng sedikit lega. Pasalnya di dalam
nanti ia tidak punya teman lain selain suaminya. Dika tidak bisa datang
sedangkan Rita sudah lama sekali mereka tidak saling berhubungan, Rita tidak
bisa di hubungi entah apa yang terjadi dengannya.
awalnya menggadeng tangan Al segera ia lepaskan dan sedikit memberi jarak dari
suaminya itu. Al yang menyadarinya, ia pun segera menarik pinggang Ajeng, al
memeluknya dnegan sangat posesif.
Mereka saling bertanya-tanya tentang hubungan Al dengan Ajeng pasalnya mereka tidak pernah mendengar mereka memiliki hubungan khusus dan sekarang mereka datang
bersama dengan sangat mesrah.
“Pak Al …, selamat datang!” seseorang menyambut mereka, dia adalah salah satu teman guru yang juga di undang.
“terimakasih, Pak Zen!”
“Ngomong-ngomong, bagaimana
kalian bisa datang bersama, dan ini apa? Ini Ajeng si anak badung itu kan?”
“Perkenalkan pak Zen, dia istri saya, Ajeng!”
“Jadi kalian sudah menikah? Kapan?”
“Iya …, baru beberapa bulan yang lalu!”
“Selamat ya atas pernikahan kalian, saya ikut senang mendengarnya!”
“Terimakasih pak!”
__ADS_1
“Ya sudah silahkan di nikmati acaranya, saya menemui yang lain dulu!”
“Silahkan pak!”
Setelah pak Zen meninggalkan mereka., Al pun mengajak Ajeng untuk menuju ke tempat
makan. Al meminta Ajeng untuk duduk di salah satu kursi.
“Duduklah di sini, biar mas ambilkan makanan! Adek mau makan apa?”
“Adek mau kue aja deh mas …, biar adek ambil minumnya ya!”
“Nggak usah dek, biar mas saja!”
“Nggak pa pa mas …!”
“Baiklah …, tapi jangan lama-lama. cepat kembali!”
“Siap mas …!”
Akhirnya Al dan ajeng menuju ke tempat yang berbeda. Sisil yang sedari tadi mengincar Al
ternyata tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Melihat Ajeng menjauh dari Al,
sisil pun segera mendekati Al, ia sengaja menumpahkan kue ke kemeja Al.
Gubrak
“Maaf …, maaf …, aku tidak sengaja!” ucap Sisil, ia segera mengambil tisu dan
berusaha membersihkan kemeja Al yang terkena krim kue.
“Tidak perlu, biar saya bersihkan sendiri!” ucap Al sambil mengambil tisu dari tangan
Sisil.
“Pak Al?!” sisil pura-pura terkejut seolah-olah sebelumnya ia tidak mengetahui jika
itu Aldevaro.
“Sisil kan?”
“Iya pak, senengnya pak Al masih mengenali sisil!” mendengar ucapan Sisil al hanya
tersenyum.
“Maaf ya pak, tadi sisil benar-benar tidak sengaja, bagaimana kalau Sisil bersihkan
saja kemejanya di kamar mandi, itu pasti tidak akan nyaman!” ucap sisil sambil
kembali meletakkan tangannya di dada Al.
Ajeng yang melihat dari kejauhan, hatinya terasa panas apalagi saat melihat sisil
terus menempel pada suaminya, Sisil terus saja berusaha mendekati Al begitu
juga dnegan tangannya yang terus saja berusaha memegang tubuh Al.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘❤️❤️