
"Tidak, aku yang harus minta maaf padamu. Maafkan aku suamiku.. Jangan mendiamkan aku lagi. Hiks ... hiks ... " ucap Aurora dengan isaknya.
Edward mengusap kepala belakang Aurora, berharap akan memberikan ketenangan padanya. Pada akhirnya hatinya ikut terluka ketika melihatnya menangis, padahal ia sudah berusaha sekuat tenaga menekan emosinya. Tapi apalah daya, dia seorang pria yang pasti lebih mengutamakan pikiran rasionalnya ketimbang dengan perasaannya. Lagian pria mana yang tidak marah, tidak kecewa, ketika istrinya dicium pria lain. Tentu saja dia terbakar cemburu.
Edward melonggarkan pelukannya, ia mengambil sekotak tisu untuk menyusut hidung istrinya. Dia tersenyum melihat wajah istrinya.
"Sudah jangan menangis, wajahmu jelek jika sedang menangis."
Edward mengusap air mata Aurora dengan ibu jarinya, lalu tersenyum lembut. Ah pasti pria ini ada maunya.
Edward mendekatkan wajahnya, ia meraih tengkuk Aurora dan memiringkan sedikit kepalanya, diciumnya lembut bibir nan manis itu.
Cup
Rasa yang sama , sensasi yang sama seperti ketika pertama merasai bibir itu, rasa yang selalu membuat hatinya membuncah bahagia. Entah mengapa ia selalu terbawa arus jika sudah bersentuhan dengan bibirnya.
Dada Aurora berdesir hebat, sentuhan suaminya ternyata membuatnya mabuk kepayang, Ia membuka sedikit bibirnya dan ikut dalam permainan lidah suaminya, ia lingkarkan kedua tangannya dileher Edward dan mulai memejamkan mata menikmati permainan. Ia hanyut terbawa perasaan.
Edward meraih pinggang Aurora hingga menempel pada tubuhnya, mengusap lembut punggung Aurora. Ia menyalurkan semua perasaan terdalamnya. Malam yang temaram membuat ia semakin bergelora. Percayalah, tidak akan ada yang memisahkan cinta mereka, kecuali Sang Pemilik Jiwa yang mengambilnya . Seindah itukah cinta mereka? Tentu saja tidak. Setiap raga yang bernyawa pasti akan mengalami ujiannya masing masing.
.
.
Disisi lain,
BRAKK!!
"Henry Lim..!! Brengsek kau sudah memalukan ku..!!!" Teriak wanita itu menunjuk muka Henry.
Henry Lim tiba tiba tertawa terbahak bahak. Ia senang melihat kemarahan sepupunya itu. Wanita bodoh pikirnya.
"Wa Ha Ha Ha ..."
Wajah wanita itu berubah keruh, bukan hanya marah tapi juga kesal pada pria didepannya. Ia begitu geram lalu melemparkan tas yang ditentengnya ke muka Henry. Ia tidak peduli dengan harga tas yang sudah dilemparnya.
"Ha ha ha ha ..."
Nyatanya Henry masih saja tertawa, lemparan yang diberikan padanya tak sampai mengenai wajahnya. Pria itu dengan mudahnya berkelit menghindari.
"HENRY...!!!" Teriak wanita itu berkacak pinggang.
__ADS_1
"Oke.. oke.. apa masalahmu. Kenapa kamu marah marah." tanya Henry menghentikan tawanya. Bersikap sok cool kembali.
"Kau..! Kenapa tidak bilang jika pria itu sudah beristri..! Kau tau bagaimana aku menyembunyikan rasa malu itu HAH..!!" bentak Claire bersungut sungut.
"Ha ha ha ha ... pasti wajahmu menghitam, bukan lagi memerah. Kau pasti sembunyi dibawah kolong meja. Benar..? Ah itu pasti lucu sekali." ucap Henry sambil membayangkan.
"HENRY....!!!! **** You...!"
"Sssttt.. turunkan tanganmu, duduk dan katakan rencanamu. Aku sibuk, jadi jangan membuang waktuku. Jika tidak, keluar dari ruanganku.!" ucap Henry malas.
"Dasar sepupu tidak tau diri. Sudah dibantu, tidak terima kasih, berani kamu mengusirku. Cih..! Aku sumpahi, melajang seumur hidup MAU..!!" bentak Claire tidak terima.
Henry mendengus kesal. Ia memilih meninggalkan kursi kerjanya dan duduk disofa bersedekap dada. Lama lama kesal juga berdebat dengan wanita itu pikirnya.
Claire menatap tajam Henry, sebenarnya ia masih kesal padanya, tapi ia juga butuh bantuan dari sepupunya itu. Terpaksa ia mendaratkan bokongnya di depan Henry.
"Aku punya rencana."
Henry tersenyum miring, otak jahatnya mulai bekerja. "Lakukan apapun, asal jangan sampai wanitaku mati. Awas saja kau jika terjadi apa apa padanya. Aku yang akan membalasmu."
.
.
Lukas yang sedang mengetikkan sesuatu dilaptopnya, menghentikan sejenak dan menoleh kearah Brian.
"Tidurlah, itu urusan orang dewasa. Tidak baik kamu mengetahuinya. Apa kamu mengerti yang paman katakan?"
Dasar otak Brian yang cerdasnya luar biasa, ia dengan mudah menangkap maksud dari ucapan Lukas. Tidak perlu dijelaskan lagi, ia sudah paham dengan situasi saat ini. Pantas saja ayahnya tiba tiba marah.
"Wah, itu altinya mommy dalam bahaya paman. Ayo kita bantu mommy.!" Brian terduduk tegak saat ingat Aurora. Akan diapakan ibu cantiknya itu pikirnya.
Lukas terkesiap, ia tidak mau merusak malam mereka, jika usaha nona mudanya berhasil, pasti sekarang mereka sedang bersenang senang. Bisa gawat kalau Brian mengganggu kesenangan mereka. Kepalanya pasti akan jadi sasaran Edward setelah itu. Ia jadi meremang sendiri.
"PAMAN..!"
"Eh,.. Paman kan sudah bilang, itu urusan orang dewasa. Jadi kita tidak boleh mengganggu mereka. Mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa kita bantu. Sekarang tidurlah. Jangan pikirkan mereka."
Brian terdiam, ia masih khawatir pada Aurora, ia takut ibu cantiknya akan menangis. Ia tau betul saat ayahnya marah, ia pasti akan mendiamkan ibunya.
"Tapi paman.. "
__ADS_1
"Jangan membantah Tuan muda kecil. Kamu mau kepala paman ditempeleng daddymu. Mohon jangan menyulitkan saya."
"Itu lebih baik, dalipada mommy menangis..." celetuk Brian yang membuat Lukas memejamkan matanya kesal.
Entah anak, entah itu bapaknya, dua duanya sama sama menyebalkan. Like father, like a son. Bisa bisanya anak setan itu malah menjadikannya umpan. Tidak tidak, itu tidak boleh terjadi.
"PAMAN..!!"
"Bagaimana jika kamu lihat dari cctv saja.!" saran Lukas menjerumuskan.
Brian menggeleng, ia tidak bisa melakukannya.
"Tidak ada kamela di kamal daddy. Kita tidak bisa melakukan itu paman."
"Huh ... untung saja tidak ada. Bagaimana jika ada, Apa aku juga akan melihat adegan iya iya." batin lukas bersyukur.
"Bry, apa kamu masih tertarik menjadi Idol?" tanya lukas mengalihkan pembicaraan.
"Ya, itukan cita citaku."
"Mau jadi, k-pop atau aktor? paman punya kenalan guru les musik kalau kamu mau."
"Belum kepikilan, nanti Blian tanyakan pada mom dulu. Aku belum ingin jadi idol saat ini. Nanti saja jika sudah besal. Capek ah, masih kecil disuluh suluh kelja, untuk apa uang daddy yang banyak itu."
"Kerja kan memang tujuannya cari uang, lalu apa tujuanmu jadi Idol? Sama kan..!?"
"Tentu saja tidak, Blian hanya ingin populalitas, itu akan menguntungkan dimasa depan jika aku akan menjadi seolang laja atau plesiden." Brian tersenyum bangga.
Lukas tidak percaya bocah itu mempunyai cita cita setinggi langit. Dia saja tidak pernah dalam hidupnya memimpikan menjadi raja atau presiden. Entah punya anugerah apa yang dimiliki bocah itu.
"Kamu ingin jadi Raja? Daebak...!! Semoga saja keluargamu punya silsilah keluarga kerajaan. Jika tidak, itu akan sulit membuatmu jadi raja. Tapi jika jadi presiden, itu masih memungkinkan. Semoga keberuntungan selalu menyertaimu."
Brian hanya tersenyum manis membayangkan khayalannya. Entah mengapa dia sangat ingin jadi Raja. Ah otak anak itu memang susah ditebak.
.
.
.
###
__ADS_1