Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Surat papa Dito


__ADS_3

            Kali ini ada yang berbeda, Ajeng dan


Dika tidak pulang sendiri, ada papa Adi bersama mereka. Dika yang akan membantu


menjelaskan semuanya pada mama Renna. Itu semua karena bentuk tanggung jawabnya telah yang di sengaja atau tidak ikut terlibat dalam keretakan rumah tangga orang tuanya.


Sesampai di rumah kebetulan mama Renna dan Aldevaro sudah berada di rumah. Mereka menunggu ke datangan Ajeng karena


sudah cukup lama Ajeng pergi dari rumah.


          Ajeng yang masuk lebih dulu segera di sambut oleh mama Renna dan Al dengan wajah cemasnya.


  “assalamualaikum ma, mas!” sapa


Ajeng dengan senyum yang tak mampu ia tahan.


            “Waalaikum salam …, dari mana saja?


Kenapa lama perginya?” Al segera mencercanya dengan berbagai pertanyaan, ia juga segera mengelus perut Ajeng yang masih rata itu.


           "Hehhhh!" Ajeng menghela nafas, mencoba memaklumi kekhawatiran suaminya, “Mas jangan khawatir berlebihan, aku perginya juga sama Dika!”


            Al mengeryitkan keningnya, “Dika?” ia tidak bisa menemukan Dika di belakang istrinya.


            “Iya mas …, bukan cuma Dika aja mas,


sama papa juga!” Ajeng begitu bersemangat mengatakannya.


           Al terkejut, “Papa di sini?” sekarang bukan cuma Al yang terkejut tapi mama Renna pun ikut terkejut.


            “Itu …!” ajeng menunjuk ke pintu


masuk di ikuti oleh tatapan Al dan mama Renna.


Dan dari pintu itu muncul dua pria beda generasi itu, mama Renna begitu terkejut , sebenarnya ia begitu merindukan pria itu tapi rasa sakitnya sudah menutupi rasa cintanya itu.


            “Siang ma, bang! Lihat Dika bawa


papa pulang!” ucap Dika dengan wajah sumringahnya.


            “ma …!” sapa papa Adi dengan tatapan sendunya.


            Mama Renna tidak juga menyambut papa Adi, ia memilih diam, membuat Al semakin bingung, tidak biasanya mama Renna


bersikap dingin dengan papa Adi, setahunya mereka adalah pasangan romantis.


            “Ma …, pa …, sebenarnya ada apa ini?”


tanya Al yang tidak tahu menahu mengenai masalah mereka.


            “Biar Dika yang jelaskan semuanya!”


ucap Ajeng dengan sangat yakin, karena ia tahu Dika lah yang paling paham dari


cerita sebelumnya.


Seketika Dika protes, "Kenapa harus aku sih?!"


"Karena kamu yang paling bersalah di sini!" Hal itu membuat Ajeng mendapatkan pelototan dari Dika.


            “Ada apa ini, jelaskan Dik!”


perintah Al ingin segera tahu apa yang terjadi. "Dan kamu juga tahu sesuatu, dek? dan tidak mengatakannya sama mas?"


"Maaf mas, Ajeng hanya tidak mau masalah ini berlarut-larut saja!"



Akhirnya Dika pun menjelaskan persis seperti apa yang di ceritakan oleh papa Adi dan mama Siska.


            Mendengar cerita dari Dika, mama Renna berubah-ubah ekspresinya, ada marah kasihan menyesal dan marah.


            “Jadi papa ketemu sama kak Dito?’


            “Iya …, dia menitipkan ini untuk

__ADS_1


mama!” ucap papa sambil menyerahkan sebuah kertas yang terbungkus rapi, dengan


mata berkaca-kaca mama Renna menerima surat itu, papa Adi mengajak mama Renna


untuk duduk di sofa baru membacanya.


Mereka berlima pun duduk, Dika ikut


mendampingi mama Renna sedangkan Al mengajak Ajeng untuk duduk di sofa


terpisah.


Untukmu adikku


Renna


            Maafkan aku karena hanya bisa


menemui melalui surat ini, maafkan aku karena terlalui pengecut untuk bisa


menemuimu. Ren …, maaf karena aku pergi tidak berpamitan padamu dan sekarang


aku juga pergi tanpa berpamitan padamu.


            Ren … jangan salahkan dirimu karena


kepergian ku, ayah mengusirku bukan karena mu tapi karena kesalahanku sendiri,


kesalahanku karena mencintaimu, aku tahu ini salah tapi hatiku tidak bisa


menahannya, aku terlalu mencintaimu hingga untuk melihatmu bersama dengan yang


lain membuatku sakit …


            Aku tidak punya penjelasan apapun


tentang kehidupanku, mungkin aku egois karena menempatkan mereka di sisi lain,


sedangkan tempatku untukmu masih sama hingga saat ini, masih di tempat yang


            Jika saja, aku bukan anak angkat dari


keluargamu, andai saja ayah tidak menjadikanku putranya, aku ingin hanya kaulah


di hatiku dan akan ku jadikan kau ratu di rumahku


            Hari-hari yang kita lewati tiga


puluh tahun yang lalu, adalah hari terindah dalam hidupku dan akan ku kenang


hingga siapapun tidak akan ada yang bisa menghapusnya dari diriku.


            Tetaplah menjadi Renna ku yang manja


dan ceria, walau tidak pantas aku menyebutmu milikku, tapi percayalah hati ini


tetap menjadi milikmu hingga maut memisahkan kita.


Love


you Renna


^^^Dariku^^^


^^^yang selalu menyebutmu dalam doaku^^^


^^^Dito^^^


            Sebenarnya papa adi cemburu, tapi


melihat mama Renna menangis, membuat papa Adi mengesampingkan rasa cemburunya,


ia mendekap tubuh mama Renna dalam pelukannya, memeluknya begitu erat, rasa


rindunya begitu dalam hingga ia tidak ingin melepaskannya lagi.

__ADS_1


            Sekian lama ia terpisah dari mama


Renna membuat papa Adi seperti mati rasa, dunianya seakan hilang dari pandangan,


tubuhnya tidak terurus, hari-hari tanpa mama Renna membuatnya seperti tubuh tak


bertuan, hampa.


🌷🌷🌷🌷


            Setelah semua maslah itu selesai, mereka merayakannya dengan makan malam bersama. Sudah lama sekali mereka tidak melakukan hal hangat sebagai keluarga yang utuh.


Setelah selesai makan malam, Al meminta ijin untuk istirahat lebih dulu, ia begitu khawatir dengan Ajeng karena seharian tidak beristirahat.


"Kami ke kamar dulu ya ma, pa!"



"Iya sayang, istirahatlah .....!"



Kini Al mengajak Ajeng ke kamar, ia


segera meminta Ajeng untuk menselonjorkan kakinya dan memijatnya pelan.


            “Mas …, kaki ajeng nggak pa pa!”


            “Jangan protes, nanti saat kaki ini


mulai pegal dan aku tidak bisa memijatnya lagi, kau akan tetap mengingatnya


seperti saat ini, saat aku memijat kakimu!”


            “Mas Al ini …, memang kalau nanti


perut Ajeng sudah sangat besar, mas nggak mau mijat lagi?”


            “Semoga saja Allah memberi


kesempatan itu dan mas bisa memijatnya setiap hari hingga si kecil ini lahir!”


ucap Al sambil mengelus perut Ajeng yang sudah mulai mengeras dengan tonjolan


kecil di sana.


            “Kata mama besok bapak sama ibuk ke


sini lo mas, siapa yang jemput mereka!”


            “sudah jangan di pikirin nanti mas


sendiri yang jemput!”


            “Makasih ya mas, maaf karena Ajeng


nggak bisa bantu apapun untuk persiapan acara empat bulanannya!”


            “Jangan khawatir, mama sudah


menyiapkan semuanya, apalagi sekarang sudah ada papa, pasti mereka bakal jadi


partner terbaik!”


            ‘semoga …., semuanya kembali baik!”


            “Amin!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰😘😘


__ADS_2