Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Markas


__ADS_3

Edward kembali kerumah setelah mengantar istrinya ke Bandara. Mobilnya melaju kencang saat berada dijalan sepi. Hatinya merasa sepi saat Aurora tidak dalam jangkauannya.


Mobil terparkir rapi dihalaman mansion. Ia turun dan menaiki anak tangga untuk melihat keadaan putranya.


Tampak Brian sedang tidur memeluk guling. Edward mendekatinya dan memegang dahi Brian. "Apa badanmu sudah enakan?" tanyanya pelan


Brian menggeliat dan membuka matanya, "Apa mommy sudah naik pesawat Dad?"


"Sudah, tidurlah kalau masih mengantuk. Daddy mau mandi dan kekantor, jangan lupa minum obatmu." ucap Edward mengingatkan


"Blian sudah tak apa,"


"Baiklah, kalau begitu mandi dan turunlah kebawah. Kita sarapan bersama."


.


.


Usai sarapan, Edward menuju kantornya diantar oleh Kevan. Edward hari ini hanya memakai pakaian casual, tidak seperti biasanya. Karyawannya menatap takjub dengan penampilan Bos mereka.


Lukas datang keruang kerja Edward membawa setumpuk berkas yang harus ditandatangani olehnya.


"Apa Tuan hari ini sedang libur kerja? kenapa anda tidak memakai pakaian formal?" tanya Lukas yang heran dengan bosnya.


"Menurutmu?" Edward malah balik bertanya.


Lukas hanya diam, dia tidak tau harus menjawab apa.


"Kemarikan berkas itu dan selesaikan tugasmu. Satu lagi, jadwalkan meeting mulai besok. Aku hari ingin free meeting. Jangan biarkan ada tamu yang menemuiku hari ini. Apa kau mengerti.!!" perintah Edward


"Mengerti Tuan." Lukas membungkukan badannya dan keluar dari ruang kerja Edward.


Edward dengan serius membaca dan menandatangani berkas berkas dihadapannya. Satu persatu telah ia selesaikan dengan baik. Ia teringat sesuatu didalam otaknya. Ia mengambil interkom untuk memanggil Lukas.


"Lukas, panggilkan Jo kemari.!" ucap Edward dalam sambungan interkomnya.


"Baik Tuan."


Lima belas menit kemudian, Jo masuk bersama Lukas disampingnya.


"Duduklah..!" perintah Edward dan diangguki oleh Jo.


"Katakan..!" ucap Edward to the point.


"Seperti yang sudah saya kirimkan ke email anda Tuan, dia salah satu orang sering datang ke klub dan mencari info tentang anda dan keluarga anda. Sampai hari ini saya masih mengawasinya. Apa perlu kita tangkap Tuan.?"


Edward diam dan berfikir.


"Lalu bagaimana dengan orang yang kau bilang mencurigakan itu? Apa mereka kembali?"


"Sejak saat itu dia tidak muncul kembali Tuan. Tapi ada yang lebih aneh Tuan, kemarin ada seorang wanita mabuk merancau nama anda Tuan. Dia bilang akan membunuh anda Tuan."


"Siapa dia? Apa kau mengenalnya!!"


"Tidak Tuan, dia datang bersama laki laki muda, mungkin seumuran dengan anda."

__ADS_1


Edward tampak sedang berfikir. Kemudian ia membuka laptop dan mengarahkannya pada Jo.


"Apa orang ini?"


Jo mengangguk cepat. "Benar Tuan, wanita itu orangnya.!" ucap Jo membenarkan.


"Baiklah kau boleh keluar.!"


"Baik Tuan , saya permisi." ucap Jo membungkukkan tubuhnya memberi salam sebelum keluar ruangan.


"Lukas..!"


"Iya Tuan."


"Lanjutkan pekerjaanmu, aku mau keluar. Aku akan pergi bersama Kevan." Edward berkata sambil berdiri dan mengambil ponsel diatas meja kerjanya.


"Baik Tuan."


Edward keluar ruang kerjanya dan turun menggunakan lift khusus. Sampai di lantai bawah, ia bertemu dengan Bella, manajer produk yang sempat ribut dengan Aurora.


Bella tersenyum senang melihat Edward dalam balutan pakaian casualnya . Menurutnya sosok pria itu sangat menawan dan mempesona.


Bella membungkukan tubuhnya memberi salam, tapi sayangnya Edward hanya tersenyum siput.


"Anda tetap yang paling mempesona Tuan Edward," batin Bella tersenyum, walaupun sapaannya tak dihiraukan oleh pemilik nama itu.


Edward keluar dari perusahaan, Kevan yang sedari tadi menunggu diluar, langsung menghampiri Edward saat melihat tuannya berdiri didepan loby perusahaan.


"Siapkan mobil,!!"


"Baik Tuan."


"Kita ke markas.!" Perintah Edward dari belakang.


Kevan mengangguk dan melajukan mobilnya. Edward hanya terdiam memandangi ponselnya. Melamun . Entah apa yang dipikirkannya.


Mobil berhenti di depan halaman luas itu. Salah satu bawahannya membuka pintu mobil untuk King mereka.


Anggota Golden lion berbaris dan membungkukkan badannya memberi hormat.


"Selamat datang King..."


Edward mengangguk dan tersenyum tipis.


Edward menuju ruang tahanan, pria penjaga langsung membungkuk hormat ketika melihat kedatangan King mereka.


Edward mengerutkan dahinya saat melihat Pria setengah tua meringkuk dipojokan ruangan dengan beberapa luka disekujur tubuhnya.


Wajah Edward berubah datar tanpa ekspresi menatap pria itu. Ia kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mengeluarkannya.


"Keluarkan dan bawa keruang interogasi.!" ucap Edward setelah membuka akses kunci keamanan yang dipassword oleh Alex sebelumnya.


"Baik King..!"


Edward melangkah lebar menuju ruang interogasi, matanya mengamati hiruk pikuk pekerjaan anggotanya. Anggota yang berlalu lalang langsung berhenti dan menunduk hormat ketika melihat kehadiran Edward.

__ADS_1


Edward masuk keruang interogasi dengan wajah dinginnya. Seorang eksekutor menghampiri Edward dan memberikan hormatnya.


"King.." sapanya.


"Apa kau yang menyiksanya??!"


"Benar King." jawabnya tegas


"Apa yang kau dapatkan?!" tanya dingin Edward


Pria itu diam, ia merasa tak mendapat jawaban dari pertanyaan Edward. "Dia hanya minta maaf King.!"


Edward menaikkan sebelah alisnya. Ia merasa tidak senang dengan jawaban dari bawahannya.


"Maaf King.!" Pria itu menunduk takut.


Tak berselang lama, seorang penjaga tahanan membawa seorang pria dengan borgol ditangannya masuk ke ruang interogasi.


Edward yang sudah duduk dikursi kebesarannya memberikan kode pada anak buahnya untuk mendudukkan dikursi tepat dihadapannya.


Senyum mengejek tersungging dibibir Edward, "Katakan padaku, hukuman apa yang pantas diberikan kepada seorang penghianat dalam jajaran ku Robin..!!" ucapnya dingin.


"Ampun Tuan, ampun..! ampuni saya.."


"Kau tau betul hukuman seorang penghianat. Kau bahkan sudah lama mengabdi padaku, kenapa kau menghianati kami, apa gaji yang aku berikan kurang hingga sampai kau gelap mata. Hahh..!!" seru Edward yang mulai terpancing emosi.


Robin bungkam menunduk takut. Ia tau benar ketika Edward sedang marah.


"Apa kau sudah lupa atas kebaikan Golden lion padamu? Katakan padaku, berapa kau dibayar sampai kau berani menghianati kami.." ucap dingin Edward.


"I..itu.."


"Rahasia apa yang sudah kau bongkar Robin.." Ucap Edward semakin dingin. Dadanya naik turun untuk mengendalikan emosinya.


Sedangkan Robin semakin bungkam, ia menunduk dan meneteskan airmata, menyesal pun sudah tiada guna. Kata kata kecewa Edward seperti godam yang menghantam kepalanya.


Biasanya Edward yang akan langsung memukul dan menyiksa tawanannya saat bungkam, tapi tidak dilakukannya saat ini. Dua orang pria yang berdiri dibelakang Robin saling memandang entah apa yang sedang dipikirkannya.


"Robin,.." pangil Edward pelan.


"Apa kau mau menghancurkan kelompok yang aku bangun dengan susah payah ini? Apa kau tega melakukan itu padaku? Bahkan kau tau perjuanganku untuk membesarkan Golden lion ini. Apa masalahmu terhadap kami.? Apa kami mengusik kehidupanmu??" ucap Edward sendu.


"Maaf..maafkan saya King, maafkan saya." ucap Robin yang terbata bata dan menunduk takut. Kata kata Edward benar benar memukul hatinya. Dalam hatinya ia merasa sangat menyesal sekali.


"Katakan.."


Robin bungkam


"Robin, kau bisu..!!!" Bentak Edward.


Bugh..


Satu pukulan mendarat di wajah Robin hingga bibirnya mengeluarkan darah. Robin meringis, tapi ia masih tetap bungkam.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2