
Malam ini, Edward dan Aurora memutuskan untuk makan malam diluar. Mereka memilih duduk bangku paling tepi untuk melihat keramaian jalan dari atas dengan kaca transparan yang lebar membentang dihadapan mereka.
Suasana makin syahdu saat tiba tiba turun hujan, ditambah dengan alunan musik romantis dari live musik yang mengalun merdu ditelinga yang mendengarnya.
Udara yang semakin dingin, membuat Aurora menggosok gosokkan telapak tangannya. Edward yang melihat itu, langsung menyodorkan coklat panasnya dihadapan Aurora.
"Minumlah, ini akan membuat suhu tubuhmu menjadi hangat, harusnya kamu tadi tidak memesan es. Maafkan aku, aku juga tak membawa jaket untuk membuatmu tetap hangat, tapi aku bersedia memelukmu jika kamu ingin." ucap Edward dengan senyum hangatnya.
"Terima kasih, aku juga tak menyangka hari ini akan turun hujan sederas ini." ucap Aurora sambil menyeruput coklat panas milik suaminya.
"Sepertinya, udara malam ini baik untuk berkembang biak." celetuk Edward memandang hujan didepannya.
Uhuk uhuk uhuk
"Sayang, kau tak apa? kenapa bisa tersedak begini.." Edward dengan sigap menepuk nepuk punggung istrinya khawatir.
"Ehm.. aku tak apa, aku hanya terkejut mendengar celetukanmu." ucap Aurora sambil menyingkirkan tangan suaminya pelan.
"Apa yang salah, aku berucap fakta. Biasanya katak dan nyamuk yang paling senang berkembang biak saat musim hujan, apa aku salah..?" heran Edward
"Atau jangan jangan, kamu berpikir yang iya iya denganku ya..?" Lanjut Edward dengan senyumnya gelinya.
Aurora tak bisa menahan senyum diwajahnya, wajahnya merona mendengar godaan suaminya, memang seperti itu yang ada dalam pikirannya.
"Ah kamu Ra, bisa bisanya berpikir seperti itu." gumam Aurora dalam hatinya.
"Ayo kita pulang, kita jangan sampai kalah dengan katak. Mari kita berkembang biak." ucap Edward yang langsung dihadiahi cubitan dipinggang Edward.
Aauhh ah... oh baby.. oh..
Aurora melotot mendengar desahan suaminya yang dengan sengaja menggoda Aurora. Hingga akhirnya Aurora mencubit lebih keras pinggang suaminya.
"Aduh, sakit tau..!" ucap Edward sambil mengusap bekas cubitan istrinya
"Lain kali jangan menggodaku lagi. Ayo kita pulang...!" ajak Aurora yang sudah berdiri dan berjalan ke kasir untuk melakukan pembayaran. Edward mengikutinya dari belakang dan merangkul pinggang istrinya.
Aurora tiba-tiba termenung diteras restoran, hujan lebat dengan banyak kilatan kilatan menyambar membuatnya sedikit takut.
"Apa kita jadi pulang?" tanya Edward yang semakin erat memeluk pinggang istrinya.
"Entahlah, tiba tiba perasaanku tak menentu." ucap Aurora memandang wajah Edward sendu.
Belum sempat Edward menjawab, bodyguardnya datang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Tuan, apa anda akan pulang? ini kami bawakan payung."
Edward mengangguk dan menerima payung itu, "Terima kasih."
Pria itu memberi hormat dan pergi dari hadapan Edward dan Aurora.
"Jadi gimana, mau pulang tidak? kalau tidak kita bisa menginap dihotel sebelah atau kita masuk lagi nunggu sampai hujan reda." ucap Edward memberi opsi.
Aurora diam sejenak, "Kita pulang saja, bagaimana dengan Brian, pasti anak itu sedang menunggu kita."
"Baiklah, seperti permintaanmu sayang." Edward mulai membuka payung dan mendekap tubuh Aurora dan berjalan bersama menuju dimana tempat mobilnya terparkir.
"Huh..akhirnya..." Aurora bernafas lega setelah masuk kedalam mobilnya.
"Pakai sabuk pengamanmu, kita akan lewat jalan pintas . Kalau lewat jalan biasanya pasti sudah banjir sekarang." ucap Edward seraya menjalankan mobilnya.
"Jangan lewat sana, disana banyak begal..!" khawatir Aurora.
"Tenanglah, kita bawa banyak bodyguard."
Perasaan yang dari tadi tak menentu semakin membuat Aurora bertambah gelisah. Ia mencoba memejamkan mata, mengalihkan pikiran buruknya.
Edward masih fokus dengan kemudinya, jalanan licin karena air hujan membuatnya harus hati hati saat berkendara. Sampai di persimpangan jalan, mobil Edward yang belok kekiri tiba tiba dikejutkan dengan mobil yang dibelakangnya menyalip dan langsung memotong jalan di depan mobil Edward hingga Edward harus mengerem mendadak laju mobilnya.
"Maaf mengejutkanmu, tadi ada mobil lain yang memotong jalan mobil kita. Untung saja kita tidak menabraknya."
"Kalau kamu lelah biar aku yg nyetir, harusnya kita tadi bawa supir." keluh Aurora memandangi suaminya.
"Tidak perlu, kau tidur saja jika merasa lelah."
"Tidak. Aku akan menemanimu menyetir. Perasaanku jadi tak karuan." tolak Aurora
Ketika mobil sudah sampai di jalan pintas, Edward berkali kali menyalakan lampu Dim karena jalanan yang begitu gelap di tambah derasnya aliran air hujan. Tiba tiba dibelakangnya ada sebuah mobil yang ingin menyalip mobil Edward dan berkali kali menyalakan lampu Dim agar Edward memberinya jalan.
Edward menghela nafasnya, lalu sedikit menepikan mobilnya kekiri. "Bisa bisanya mereka membiarkan mobil orang lain berada dibelakang mobilku." batin Edward kesal.
Baru saja Edward sedikit menepikan mobilnya, mobil SUV itu menabrakkan body sampingnya ke body mobil Edward .
Brakk
"Agghh..." kepala Aurora terbentur kaca jendela.
Mobil Edward oleng kekiri dan dengan cepat Edward segera mengendalikan mobilnya dan memilih menghentikan laju mobilnya.
__ADS_1
"Sial..! apa dia tidak bisa menyetir mobil..!!" pekik Edward kesal memukul kemudinya.
"Sayang, kau tak apa?" khawatir Edward yang melihat istrinya memegangi kepala kirinya.
"It's ok. Jangan keluar, disini tempat bahaya. Sebaiknya kita menghindari dari pada melawannya. Bukankah kau bilang bawa banyak bodyguard.?" Khawatir Aurora melihat keadaan dibelakangnya. Bodyguard Edward mulai keluar dari mobilnya.
Salah satu orang keluar dari mobil SUV itu, mengetuk pintu mobil Edward. Edward mendengus kesal. Ia sedikit menurunkan kaca mobilnya.
"Turun..!" perintah orang itu.
Edward bergeming, ia menatap Aurora yang menggeleng. Edward mengambil pistol di dasboard mobilnya.
"Katakan apa maumu..?!" Edward mengacungkan pistolnya kearah pria itu.
"Keluar atau aku hancurkan mobilmu..!!" teriak pria itu tak takut ancaman Edward.
Saat pria itu hendak memukul kaca jendela mobil Edward dengan tongkat baseball- nya, pengawal Edward langsung berlari dan menendang keras tubuh pria itu. Perkelahian tak dapat dihindarkan, Edward dan Aurora menonton dari dalam mobil.
"Kan aku sudah bilang, jangan lewat jalan sini. Kamu malah tidak percaya. Lihat kan jadinya,..!" gerutu Aurora .
"Sudahlah, lagian mereka juga jarang bermain. Lebih baik kita lanjutkan perjalanan kita. Biar mereka yang menyelesaikan." ucap Edward dan melajukan mobilnya kembali.
"Issh, bagaimana jika tadi tidak membawa bodyguard, apa iya kita basah basahan berdua.? Lain kali kita jangan lewat sana lagi..!"
"Apa Dark Queen ini mulai takut..?" ejek Edward
"Aku tak takut..!!Untuk apa kita mencari masalah..! Lebih baik kita menghindari. Kita tak perlu buang buang tenaga..! Lebih baik mengerjakan yang bermanfaat dari pada meladeni mereka. " bantah Aurora.
"Okey.. okey.. kamu yang menang. Aku selalu kalah jika berdebat denganmu. Tapi itu yang membuatku selalu mencintaimu sayang. I love you , sudah jangan marah lagi, aku janji akan menuruti kemauanmu." ucap Edward dengan senyumnya.
"Ishhhh.. sudah pandai merayu hah..!"
"Hanya sama kamu sayang..."
"Tau ah gelap."
.
.
.
Tinggalkan jejaknya, tinggalkan jejaknya. Like ๐Rate๐ vote ๐งก& comment.
__ADS_1