Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
TANGIS PILU SEORANG IBU


__ADS_3

Alex menatap nanar jalan yang ia lalui, ia terbayang akan masa masa bersama Edward. Teman sebaya yang paling solid pada dirinya. Teman yang selalu berbagi cerita bahagia dan kesedihannya, teman yang selalu memberi penghiburan disaat dirinya terpuruk dan teman yang slalu mendukung setiap keputusannya. Seperti inikah takdir memainkan hidup mereka.


Perasaannya keruh, pandangannya menyendu. Ia sangat berharap Edward bisa bertahan hidup walau harapannya tipis. Ia tak bisa membayangkan seperti apa sakitnya Edward saat mengalami peristiwa naas itu.


Alex kembali menitikkan air matanya, mengingat kondisi tubuh Edward yang dipenuhi luka dan darah. Sebesar itukah ujian cinta mereka. Apakah cinta harus berkorban sampai sebesar itu. Hatinya ikut perih, baru saja dia memamerkan kebahagian pernikahannya, tapi apa sekarang .. mereka malah memamerkan kesedihannya. Apa kalian mau menakutiku , aku saja baru ingin memulai hubungan. Jika cinta seperti itu, sebaiknya aku menutup hatiku, aku tak akan jatuh cinta lagi, monolognya dalam hati.


"Aku mohon selamatkan mereka, selamatkan kisah cinta mereka. Jangan biarkan kisah cintanya berakhir sampai disini. Dia bahkan sudah bertahun tahun mencarinya, baru saja Kau pertemukan kembali, apa Engkau akan memisahkannya kembali Tuhan." Lirih Alex terisak sedih.


Sementara itu,


Helikopter GL mendarat dengan sempurna di Helpad rumah sakit yang menderu dengan suara kerasnya, membuat petugas medis segera memberikan komando untuk segera mendekat. Malam yang biasanya sunyi berubah riuh dengan petugas medis mendorong cepat brankar membawa pasien kecelakaan.


Tampak tubuh Edward dimiringkan dengan alat bantu nafasnya yang masih terpasang di mulutnya didorong ke IGD dengan enam petugas medis. Disusul dengan Aurora dan Brian dibelakangnya. Ketiganya tampak mengenaskan dan memprihatinkan keadaannya.


Mobil Ambulan yang ditumpangi Alex dan Lukas baru saja tiba di loby IGD. Ia langsung berjalan tergesa menemui bodyguard yang ikut dalam heli GL, tak menghiraukan Lukas yang ikut didorong masuk ke IGD.


"Bagaimana.?" tanya Alex cemas.


"Dokter sedang menangani Bos. Apa anda ingin melihatnya?" tanya bodyguardnya


"Aku tak setegar itu. Kita tunggu saja disini. Dimana Kevan?" tanya Alex duduk dikursi tunggu.


"Dia sedang mengabari keluarga King. Apa kita perlu menambah pasukan pengawalan untuk orang tua King, Bos..?!"


"Ya, aturkan anak buahmu untuk memperketat penjagaan di mansion Tuan Admaja. Aku tak mau kejadian seperti ini terulang kembali. Kamu tunggu disini, aku mau keluar sebentar, panggil aku jika terjadi sesuatu." pesan Alex sebelum beranjak dari dudukannya.


.


.


Dikediaman Tuan Admaja


Bunda Yuli yang bersiap hendak tidur karena sudah tenang saat mendengar suara putranya terkesiap saat mendengar deru Helikopter dari atap mansionnya.


"Kenapa ada Helikopter, bukankah tadi Edward bilang naik mobil." batin Bunda bertanya.


"Yah.. bangun Yah.. ayo kita temui Edward. Edward sudah pulang." Bunda Yuli membangunkan Tuan Admaja yang hampir terlelap.

__ADS_1


"Besok saja, ini sudah malam." ucap Tuan Admaja merapatkan selimutnya.


"Ayo...!!Perasaanku masih tidak enak.!!" Bunda Yuli menarik paksa selimut dan menarik tangan suaminya. Ia tidak peduli dengan tatapan kesal dari suaminya. Suaminya terpaksa bangun dan menyelipkan pistol dibalik bajunya, lalu mengekori istrinya dari belakang.


Bunda Yuli dan Tuan Admaja sengaja menunggui mereka di depan pintu lift mansionnya. Hati Bunda Yuli semakin berdebar debar tak karuan. Ia selalu berharap semoga firasatnya salah kali ini.


Kevan keluar dari dalam lift itu bersama Kevin yang sengaja menungguinya di Heppad. Wajah mereka pias seketika saat melihat tatapan tajam dari Nyonya mereka.


"Kevan, dimana putraku, apa putraku menyuruhmu menjemputnya dengan Heli?? Dimana dia..!?" tanya Bunda Yuli menatap tajam Kevan . Matanya melirik kearah pintu lift barangkali ada sosoknya dari balik pintu besi itu.


Kevan menggeleng lemah.


Bunda Yuli membekap mulutnya. Perasaannya semakin tak karuan saat melihat baju yang dipakai Kevan basah dan berlumuran darah, belum matanya yang sembab dan memerah yang mengisyaratkan ada kesedihan mendalam dari dalam hatinya.


Mata Bunda Yuli mulai berembun, "Apa yang terjadi pada putraku. .?" tanyanya lirih.


Kevan hanya menggeleng lemah.


"Tuan, Nyonya, sebaiknya anda segera bersiap. Kami akan mengantar anda menemui Tuan muda, mereka belum bisa pulang malam ini. Mereka sedang menunggu kedatangan anda. Saya permisi sebentar, saya mau menyiapkan keperluan lainnya."


Kevan berkata pelan dan langsung membalikkan badan, ia tak kuat menahan kesedihan dalam hatinya. Lidahnya kelu tak sanggup mengatakan kebenarannya. Hatinya ikut perih melihat Nyonya besarnya sudah menitikkan airmatanya. Perasaannya begitu peka akan kondisi Tuan mudanya. Kevin yang melihat itu diam diam mengusap sudut matanya.


"Kevaannnn... Berani kamu menghindar, aku tak segan segan melubangi kakimu...!!" Ancam Tuan Admaja menodongkan pistolnya kearah kaki Kevan.


Sontak saja Kevan langsung berhenti dan segera menghapus air matanya. Ia membalikkan badan dan menundukkan kepalanya.


"Maaf Tuan."


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi, ada apa dengan mereka." tegas Tuan Admaja,matanya melotot marah, padahal hatinya sedang ketar ketir.


"Tuan muda... Tuan muda mengalami kecelakaan parah di jalan Yyyz, mobilnya ringsek dihantam empat truk dan sekarang dilarikan ke Rumah sakit pusat. Kondisi mereka kritis, terlebih Tuan muda sangat tipis harapannya untuk hidup." kata Kevan dengan suara bergetarnya.


"Apa.." beo Tuan Admaja lirih.


Tuan Admaja sontak menjatuhkan pistolnya kelantai, pandangannya tak menentu, matanya memanas, tubuhnya ikut bergetar, jantungnya berpacu cepat , nafasnya tersengal. Tuan Admaja syok mendengar berita itu dan tubuhnya luruh kelantai.


"Ayah...!!" Pekik Bunda Yuli kaget.

__ADS_1


"Tuan..!!" seru Kevan dan Kevin


Kevan dan Kevin ikut berjongkok dan langsung membopong Tuan Admaja kesofa ruang tamu. Kevin dengan sigap segera menelfon Dokter Rian agar segera datang memeriksa Tuan Admaja.


"Ayah, ada apa denganmu, Hiks.. hiks.. jangan tinggalkan aku, bagaimana dengan putra kita.. Dia butuh kekuatan dari kita. Hiks..hiks.. Ayah,.. Bangunlah, jangan membuatku takut.." tangis Bunda Yuli sedih.


Tangisannya semakin lama semakin pilu dan membangunkan semua orang dalam mansion itu. Para pelayannya segera berkumpul dan melihat apa yang terjadi. Mereka menatap pasangan itu dengan sedih.


"Aku mohon bangunlah... Jangan menambah beban pikiranku. Hiks ..hiks.. Aku takut.." tangis pilu Bunda Yuli.


"Edward jangan tinggalkan Bunda.. Kamu sudah berjanji untuk pulang. Kenapa kamu pulang membawa berita duka ini. Hu.. uuu..uuu..,,"


"Haaaaaghhhhhh...!!! Aku akan mengutuk kalian. Kalian sudah menghancurkan hati seorang ibu. Hiks ..hiks.. Aku tak akan pernah memaafkan siapapun yang sudah mencelakai putraku. Hu...uuuuu." Tangisnya semakin menyayat hati.


Kevan, Kevin dan semua yang ada diruangan itu menundukkan kepala dan menangis sedih. Mereka ikut merasakan kesedihan itu.


Malam mencekam menyelimuti kediaman Tuan Admaja. Musibah beruntun datang silih berganti. Kabut hitam masih saja menaungi rumah itu, entah siapa yang akan pergi setelah ini.


Bunda Yuli tak dapat membendung kesedihan, ia masih belum bisa menghentikan tangisnya, empat anggota keluarganya sedang berada diambang kematian.


Hatinya hancur, hatinya rapuh, hati ibu mana yang bisa tabah menghadapi ujian seberat ini. Hatinya pilu dan pedih sekali. Berkali kali ia menepuk dadanya yang terasa sesak. Bahkan rasa sakitnya sampai ketulang tulang persendiannya.


Suami yang ia harapkan sebagai sandaran hidupnya malah terbaring lemah tak berdaya. Bagaimana setelah ini dirinya menanggung beban hidup seberat ini. Ia berharap kejadian malam ini hanya mimpi buruk belaka, sayangnya itu hanya sebatas mimpi dan hanya hayalannya saja. Ini sebuah kenyataan. Kenyataan pahit yang harus ia jalani.


"Ayah.. aku mohon bangunlah... apa kamu ingin membunuhku perlahan..? Aku tak kuat menanggung beban berat ini sendiri. Aku mohon bangun dan peluklah aku. Ini terlalu berat. Hiks.. hiks.." ucap Bunda Yuli ditengah tangisnya.


.


.


.


###


Ayo dukung karya ini.


Setidaknya kalian memberiku Like.

__ADS_1


Arigatou Gozaimasu


🤍🤍🤍🤍


__ADS_2