
"Hai boy, gimana kabarmu. Sini peluk mommy, ah mommy merindukanmu." ucap Aurora dengan merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan putranya. Ia tersenyum lebar berharap Brian akan segera memeluknya.
Brian bergeming menatap wajah Aurora. Ia tidak bersuara sama sekali.
Aurora melirik Selly, sayangnya ia hanya menaikkan bahunya tidak tau. Itulah keadaan yang dialami saat dirinya merawat Brian setelah keluar dari rumah sakit. Ia juga tidak tau kenapa anak itu bersikap seperti itu. Padahal sebelumnya, keadaan psikisnya mulai membaik.
"Emm Baiklah, mungkin kamu sedang lelah setelah perjalanan jauh. Ayo mommy antar kekamarmu. Kamu pasti akan betah tinggal dikamarmu." ucap Aurora ceria, ia berjalan duluan mendorong kursi rodanya.
Brian mulanya hanya diam menatap Aurora, tapi kakinya melangkah mengikuti Aurora saat Aurora melambaikan tangannya.
Aurora tersenyum lembut.
"Masuklah, Mom sudah menyiapkan semua keperluanmu. Tidak terlalu besar seperti kamarmu dulu sih, tapi mom harap kamu menyukainya." Aurora mengusap kepala Brian dengan sayang.
"Boy, satu jam lagi waktunya makan malam, mom akan kemari mengantarkan makan malammu. Baiklah mom tinggal ya..jika butuh bantuan , panggil saja mom. Jangan sungkan sungkan."
Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Brian. Aurora hanya tersenyum masam melihat keadaan putranya.
"Masalah apalagi ini Tuhan." batin Aurora.
Aurora mendorong kembali kursi rodanya, ia menuju ruang tamu, disana ada Papa , Mama dan Selly yang mungkin sedang menunggunya.
"Selly, kenapa Brian jadi seperti itu. Apa yang terjadi padanya?" tanya Aurora
"Saya juga tidak tau nona, saya juga sudah mendatangkan psikiatri ke apartemen , tapi hasilnya masih belum kelihatan."
"Baiklah, kamu jangan terlalu memikirkan. Biar aku yang ganti merawatnya, aku akan carikan dokter terbaik dikota ini. Terimakasih sudah jauh jauh mengantar putraku kemari."
"Terima kasih sudah menyayangi keponakan saya nona. Kabari saya jika ada apa apa. Malam ini juga saya harus kembali, esok pagi saya ada rapat."
"Setidaknya kamu pulang dalam keadaan kenyang, makan malamlah dulu. Ayo,!" ajak mama Riyanti. Selly tersenyum mengangguk.
Usai makan malam , Aurora mendorong kursi rodanya kekamar Brian, tampak Aurora membawa nampan yang berisi makanan dan minuman kesukaan Brian. Ia mengetuk pintu sebelum membukanya.
Brian nampak berbaring miring membelakangi pintu, Aurora tersenyum melihat Brian sudah berganti dengan piyama.
"Hai boy, waktunya makan malam, lihat mom bawa apa?" ucap Aurora memutari ranjang untuk melihat wajah putranya.
"Ayo, anak baik, kita makan dulu. Jangan sampai anak kesayangan Daddy ini sakit, jangan buat Daddy sedih, ayo bangun dan buka mulutmu." ucap Aurora
__ADS_1
Brian yang mendengar kata daddy langsung duduk dan menatap makanan didalam mangkok. Ia mengambil mangkok itu lalu memakannya tanpa berucap apapun.
"Telima kasih mom, maaf Blian tidak bisa sedekat dulu, Aku anak pembawa sial mom. Jangan dekat dekat denganku, aku takut mom kena sial." batin Brian sendu.
Aurora tersenyum melihat cara makan Brian. Ia yakin Brian bisa segera pulih. Anak itu hanya butuh tempat untuk berbagi kesedihannya.
"Bolehkah mom tidur disini malam ini. Mom rindu pelukanmu."
Brian bergeming, tidak menolak ataupun mengiyakan. Sedangkan Aurora langsung susah payah naik ke ranjang Brian dan berbaring disisi yang lain.
"Boy, apa kamu tadi sudah melihat keadaan daddy? Mom merindukannya, apa kamu juga, kita video call dengan om Kevan ya, .. " Aurora menekan tombol panggilan.
Aurora melirik Brian yang sepertinya mulai tertarik dengan pembicaraannya. Brian juga merebahkan badannya setelah menyelesaikan makan malamnya.
Ketika panggilan tersambung,
"Hai om Kevan, bagaimana keadaan Daddy hari ini?" sapa Aurora
"Oh, nona..anda bersama Tuan muda kecil. Hai Tuan muda kecil, bagaimana keadaanmu,." sapa Kevan disebrang sana dengan mengulas senyum.
Brian lagi lagi bergeming.
Kevan mengangguk.
"Hai daddy, gimana kabarmu hari ini, lihat disini ada putramu. Kau tak kangen dengan putramu, dia sangat mencemaskanmu, lihat wajahnya ditekuk begitu. Lekaslah bangun, kami semua merindukanmu." Aurora mengarahkan kameranya kewajah Brian.
Brian diam diam menghapus air matanya, ia begitu sedih melihat kondisi Edward, ini pertemuan pertamanya setelah kejadian memilukan itu walaupun dengan video call. Ia senang karena bisa melihat wajah daddynya kembali.
"Lekas sembuh dad. Aku menyayangimu." ucapnya pelan, lalu membalik badannya. Aurora tersenyum mendengar kalimat itu.
"Ah sepertinya anak ini merindukan Ayahnya. Kenapa tidak ada yang membawanya menjenguk Edward." batin Aurora bertanya.
"Baiklah Kevan, besok aku akan telfon lagi. Terima kasih untuk malam ini."
"Sama sama nona."
Panggilan terputus.
"Boy, ada apa denganmu, ada masalah apa? Mom ingin beritahukan sesuatu padamu, mom harap kamu akan senang mendengarnya. Lihat, dalam perut mommy sekarang ada dua adik ,, sebentar lagi kamu akan jadi kakak. Apa kamu bahagia.."
__ADS_1
Brian bergeming.
"Kata daddy ... " ucap Aurora terpotong oleh kalimat Brian.
"Aku akan menjaga dan menyayanginya. Itu janjiku pada daddy." ucapnya cepat
"Anak baik, sekarang katakan kenapa kamu berubah, kenapa tidak seceria dulu hem, ada masalah apa. Coba katakan.. kamu tidak ingin mom sedih bukan? Uh kasihanilah adik adikmu ini." ringis Aurora memegangi perutnya. Ia diam diam tersenyum licik.
"Ah Brian, wajahmu sangat menggemaskan, mom yakin jika masalahmu berhubungan dengan daddymu, mom akan berusaha membantu menyelesaikannya." batin Aurora.
Mulanya Brian tak menjawab pertanyaan Aurora, tapi ketika melihat Aurora meringis, ia langsung memeluk Aurora. Ia menangis tersedu sedu.
Hiks... hiks.. hiks
"Sssshhh,,, tenanglah. Ada mom disini. Siapa yang berani melukai hatimu nak. Katakan.."
"Lihat mommy, tidakkah kamu percaya jika mom sangat menyayangimu?"
Brian menggeleng lemah, "Jangan menyayangiku, aku anak pembawa sial."
"Hei, apa yang kamu katakan..!! itu tidak benar. Siapa yang berani mengatakan itu. Kamu bukan anak pembawa sial, kamu anak pembawa rezeki. Lihat, setelah kehadiranmu, Dad bisa bangun perusahaan baru, mom punya usaha baru, kamu bisa beli pesawat, dan lihatlah sekarang dalam perut mom ada debay. Kecelakaan itu sudah jadi kehendak Tuhan. Itu ujian kami. Jangan menyalahkan diri sendiri. Jangan menutup diri hanya karena satu orang yang memandangmu rendah, masih banyak orang yang menyayangimu." ucap Aurora panjang lebar.
"Brian, mom tau kamu masih anak kecil, tapi mom yakin jika kamu mengerti yang mom ucapkan. Jangan terpengaruh dengan ucapan orang lain, jadilah dirimu sendiri. Jadilah seperti Brian yang mom kenal. Dad akan marah jika melihatmu seperti ini. Apa kamu sudah lupa kasih sayang dad padamu nak. Ayo, bangit dan semangatlah. Ada mom disini, kamu bisa menceritakan apapun pada mom."
"Telima kasih mom, aku menyayangimu."
"Mom, juga menyayangimu. Tidurlah Kak Ian, semua akan baik baik saja. Mom kita akan selalu menjaga kita." ucap Aurora
"Telima kasih adik adikku, kakak juga menyayangi kalian. Cepatlah besal, kita akan belmain belsama." Brian mengusap perut Aurora dengan sayang.
Aurora tersenyum hangat, ia kira masalah hari ini akan berbuntut panjang. Tapi ia masih harus mencari tau, siapa yang sudah berani menghasut putranya.
"Ah, syukurlah. Setidaknya malam ini aku bisa tidur nyenyak." batin Aurora
.
.
.
__ADS_1
#####