
Tiga orang tampak serius menatap layar komputer masing-masing. Brian serius menyerang balik cracker sedangkan Yudha dan Max sedang berusaha membantu memulihkan sistem jaringan yang ada di EG. Ketiganya tampak kompak saat bekerja.
"Apa ayah sudah selesai memulihkan sistem jaringan komputernya?" tanya Brian sesaat ketika melihat sang Ayah yang tiba-tiba tersenyum puas.
"Tentu saja. Ini bukan hal sulit bagi ayah. Harusnya Lukas memasang keamanan seperti di perusahaan GL, bukankah kamu yang memasang anti virus itu? Kenapa kau tak menanamkannya disana."
"Jawabannya simple, karena aku ingin tahu kinerja orang-orang Black Cobra, ternyata mereka tak seperti yang aku harapkan. Mereka payah dalam dunia cyber."
Yudha tak menimpali jawaban Brian. Dia tau jika hanya sedikit orang yang mampu melakukan pekerjaan seperti mereka lakukan. Beruntungnya, Brian mewarisi otak pintarnya.
"Lalu apa yang harus ayah lakukan untuk membantumu. Ini sudah selesai, mereka sudah bisa bekerja seperti sedia kala." Yudha melihat dari cctv di perusahaan EG yang tampak kondusif.
"Paman Lukas bilang banyak file penting hilang, kemungkinan mereka juga mencuri uang perusahaan. Ayah bisakah kita bertukar posisi, aku tak bisa menggunakan dua komputer sekaligus, aku harus segera melindungi uang perusahaan. Semoga saja belum terlambat." ujar Brian terdengar cemas.
"Oke baiklah, ayah akan meneruskan pekerjaanmu. Kerjakan apa yang harus diselesaikan lebih dulu. Beri tahu ayah jika kamu dalam kesulitan."
"Hem."
Yudha segera berpindah tempat dan mengambil alih pekerjaan Brian. Ini bukan hal sulit baginya, pekerjaan berkaitan dengan dunia cyber adalah makanannya sehari hari. Pria itu bisa bisa di bilang orang yang cukup berbahaya, dia sudah seperti duri dalam daging, dia bisa menghancurkan suatu perusahaan hanya dari belakang layar saja, berapa banyak perusahaan yang sudah di akuisisi Kimura waktu lalu, itu juga berkat kepintarannya dalam dunia cyber.
Yudha tiba-tiba tersenyum miris mengingat banyak kejahatan dalam dunia cyber yang sudah dilakukannya. Semua itu ia lakukan untuk membantu ambisi Kimura menjadi penguasa di negeri ini. Tapi apa, 'ibarat tupai melompat akhirnya jatuh juga', sama seperti yang ia alami. Orang yang tidak seharusnya tidak boleh disentuh, ia usik ketenangannya. Untung saja nasib baik masih ada padanya, bagaimana jika tidak. Ia tak bisa membayangkan akan mendekam di penjara untuk seumur hidupnya, lebih parahnya ia akan disiksa mengenaskan seperti Darius dan Viona yang masih berada di penjara bawah tanah markas GL.
Yudha kembali serius meretas akun yang berani menyusup perusahaan EG, ia harus mendapatkan cracker pembuat rusuh itu. Jemari tangannya bergerak lincah di atas keyboard, matanya begitu fokus pada deretan angka dan huruf di layar monitornya.
"Max, kemarilah!" seru Yudha.
Max segera menghampiri Yudha dan meninggalkan komputernya yang sedang loading, entah apa yang sedang diunduh pria itu.
"Lihatlah, bahasa apa ini!"
Max melihatnya seksama, tidak tahu artinya tapi ia tahu bahasa apa itu.
"Spanyol."
"Oke, kembalilah. Segera siapkan virus itu."
Brian melirik ayahnya sekilas, ia rasa harus banyak belajar dari pria itu. Secepat itukah ayahnya bisa menyerang balik. Ia tak menyangka jika kemampuannya masih berada dibawah ayahnya.
"Let's play together." Yudha tersenyum licik.
.
.
Di tempat lain,
Lauren yang tadinya berbangga diri bisa meretas jaringan dan mengambil alih sistem perusahaan dengan begitu mudahnya, harus menelan pil pahit.
__ADS_1
Ia dengan kemampuan yang dimiliki berusaha menahan serangan dari Yudha mati matian. Kali ini ia merasa telah salah lawan. Bukan seperti ini yang ia inginkan.
"Lauren ada apa!" Roxi mendekat ketika wanita berambut pendek itu berkali kali mengumpat.
"Sial! kita salah perhitungan Roxi!" seru Lauren terdengar begitu kesal.
"Apa maksudmu! Bukankah kita sudah berhasil mengambil data penting dan akun perbankannya? Apa yang terjadi?Apa kita sudah ketahuan!"
"Bodoh! kau tak melihat ada dua akun bersama sama menyerangku!"
Roxi menelan ludahnya susah payah. Ia tidak terlalu mengerti dunia cyber hanya mengangguk. Ia juga tidak mengerti bagaimana membantu kawannya.
"Lauren, sebaiknya kita akhiri saja. Aku takut lokasi kita terlacak dengan mudah. Bagaimana jika Madam mengetahui hal ini, ini diluar rencananya. Kita hanya diperintahkan membunuh Aurora tanpa keributan."
Roxi menggigit kukunya terlihat cemas. Wanita itu berdiri di belakang tubuh Lauren menatap deretan alogaritma yang tak dimengertinya.
"Apa kau pikir aku menggunakan akun asliku! aku juga bukan orang bodoh! Sial! harusnya aku tak menuruti kemauanmu!"
"Lalu apa yang harus aku lakukan!"
Lauren diam saja, ia masih sibuk dengan komputernya, hingga sebuah peringatan masuk di komputernya yang membuat alarm bahaya komputer itu tiba-tiba menyala.
TET...TET...TET..
WARNING!
"Oh apa yang terjadi!" pekik Lauren.
Roxi melangkah mundur, tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi instingnya mengatakan jika akan ada sesuatu yang berbahaya. Tidak biasanya komputer itu berbunyi nyaring, pasti sudah berhasil dikendalikan lawan.
"Lauren! RUN!"
TET...TET...TET...
5...4...3...2...1..
Layar komputer tiba-tiba padam. Lauren dan Roxi yang sudah berada jauh dari komputer saling pandang. Perkiraan jika komputernya akan meledak secara tiba-tiba ternyata salah.
"Apa yang terjadi!"
Lauren menggeleng lemah. "Biar aku periksa."
Lauren yang hendak berjalan mendekati komputernya langsung ditahan Roxi. Wanita itu tidak ingin terjadi sesuatu pada kawannya.
"Jangan Lauren. Aku akan mematikan arus listriknya sebentar. Jangan gegabah. Bagaimana jika komputer itu meledak!"
Lauren tak mengindahkan peringatan dari Roxi. Ia mendekati komputernya untuk melihat apa yang terjadi saat Roxi berlari turun untuk mematikan saklar listrik.
__ADS_1
Tiba-tiba,..
DHOM... DHOM...DHOM...
"Aaaaa!!!" teriak Lauren yang langsung meringkuk menutupi wajah dengan tangannya.
"Lauren! Oh !! apa yang terjadi!!"
Roxi berbalik arah ketika mendengar suara ledakan di lantai atas. Ia berlari secepat mungkin. Semoga kawannya mengindahkan peringatannya.
"Lauren!! oh kau terluka!" pekik Roxi langsung berhambur menolong kawannya.
"Ck. Ishh.. aku tak apa. Untung tanganku saja yang kena." Wanita itu meringis menahan perih kulit tangannya terkelupas.
"Ini benar-benar sial. Siapa yang berani melakukan ini padaku. Oh komputerku."
Lauren menatap miris layar monitor dan cpu yang berceceran di lantai akibat ledakan itu. Ia tak menyangka akan seperti ini pada akhirnya. Untung bukan wajahnya yang terkena ledakan.
"Kita obati lukamu."
Lauren hanya mengangguk. Ia tau, tidak seharusnya meremehkan lawan. Ia terlalu percaya diri pada kemampuannya yang ternyata tak seberapa.
Sial, siapa orang itu, siapa orang yang sudah membantu mereka, apakah Aurora yang melakukannya. Lauren diam dengan pemikirannya.
Sedangkan Yudha dan Max tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Ini adalah pekerjaan yang menyenangkan bagi mereka. Siapapun pasti terkena dampak karena tipuannya.
"Apa ayah sudah mendapatkannya?"
"Tentu saja. Tapi ayah rasa ini bukan alamat IP aslinya. Dia ceroboh, harusnya dia menyembunyikan alamat IP nya di VPN. Jika begini, tidak terasa menyenangkan. Ayah akan meneruskan pada Max saja, biar dia yang akan mengurus sisanya."
Yudha melirik asistennya yang diam saja. Mana mungkin pria itu akan menggerutu didepan bosnya. Brian tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih untuk hari ini paman Max. Uangnya akan aku transfer sebentar lagi." ujar Brian sembari membuka akun perbankannya.
Yudha tersenyum lebar dan menepuk bahu asistennya. "Maafkan aku, aku tak mengijinkanmu berkencan malam ini."
Max menghela nafasnya, kesal tentu saja. Padahal dua orang itu bisa dengan mudah mendapatkannya, kenapa harus dirinya yang di perintah. Ia tak mengerti jalan pikiran bosnya.
Maafkan aku Honey.
.
.
.
#####
__ADS_1