Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Brian


__ADS_3

Ditempat lain, Selly sedang menemani Brian di kamar tempat menginap Amel. Keduanya sedang asik bermain game. Brian bersorak kemenangan saat berhasil mengalahkan Selly dalam permainan MotoGP 20.


"Ah..Aunty kalah..Yeiyy...!!" seru Brian sambil berjoget joget didepan laptopnya.


" Ck..Aunty tidak kalah, Aunty cuma mengalah biar kamu senang." jawab Selly masam.


"Terserah bahasa Aunty sepelti apa, yang penting Blian menang. Untuk hadiahnya nanti Blian pikilkan, sekalang belum kepikilan ingin apa." ucap Brian dengan seringainya.


Selly membulatkan matanya. Hatinya harap harap cemas dengan permintaan Brian suatu saat nanti. Ia ingat jika keponakannya ini mata duitan.


"Oke. Tapi Aunty boleh menolak satu kali jika Aunty keberatan."


"Deal,..!" seru Brian


"Bry, berapa usiamu hemm.. semakin lama kamu semakin mata duitan. Jangan menjadi anak kecil menyebalkan.!" gerutu Selly


Brian tertawa melihat Selly frustasi sebelum mendengar permintaannya, ia begitu senang bisa mengerjai Auntynya.


"Hahaha.. tenang saja Aunty, Blian gak akan minta aneh aneh kok. Aunty jalan jalan yuk, Blian ingin makan es klim di Berthillon. Katanya disana luang es klim paling telkenal di Palis. Blian pengen cobain." pinta Brian dengan wajah imutnya.


Selly mengedip ngedipkan matanya. Pasalnya ia tak terbiasa mengemudikan mobil dengan kemudi di sebelah kiri. Mau pakai taxi atau angkutan umum juga tak diperbolehkan sama Tuan mudanya. Takut anaknya cilaka katanya. Hadewwhh..


"Aunty tenang saja, ada paman Alex yang akan mengantal kita. Tadi pagi sudah kasih pesan sama Daddy." ucap Brian yang seakan tau kesulitan Selly.


"Alex..??! OMG..!!" Selly malas seketika.


Tak lama kemudian,Alex datang mengetuk pintu. Selly yang membukakan pintu untuk Alex terperangah melihat sosok tampan didepannya.


Alex tersenyum simpul menatap Selly. Pasalnya sedari tadi Selly hanya menatapnya tanpa mempersilahkan masuk.


"Hai Paman, masuklah dulu,, Aunty Selly sedikit telkejut melihat kedatangan paman.Hihihi.."


"Eh.."


"Bukan aku mengagumimu Tuan, apa kau memang sengaja memakai baju dengan warna yang sama denganku. Apa kata orang jika melihat kita. Aku tak mau mereka berpikiran buruk, apalagi jika orang orang didekat kita, dikiranya kita pacaran lagi." batin Selly.


"Permisi nona," ucap Alex yang langsung masuk melewati Selly begitu saja. Diam diam Alex tertawa dalam hati, "sebegitukah terpesonanya dia padaku. Hahaha Papa anakmu dikagumi wanita."


"Wah, paman tampan sekali. Bajunya serasi dengan Aunty Selly. Kalau begitu, tunggu sebental Blian mau pakai baju dengan walna yang sama bial selasi." ucap Brian yang langsung berlari membuka almari.


"Biar paman yang mencarikannya Bry, duduklah disitu. Kalau Tante Amel tau kau berantakin isi dalam kopermu, bisa bisa dia ceramah sampai besok pagi." ucap Alex diiringi dengan kekehannya.


"Paman benal, Tante Amel memang celewet, tapi beda dengan Aunty Selly, dia dingin sepelti paman saat belsama anggota Golden lion." ujar Brian pelan berharap Selly tak mendengar percakapannya.

__ADS_1


"Ssst.. kalau dia dengar bisa-bisa ditendang bokongmu. Dia paling jago dalam teknik tendangan, sudahlah segera pakai bajumu, paman tunggu diluar." ucap Alex


"Okey..," Brian mengacungkan jempolnya.


Setelah semua siap, mereka bertiga keluar meninggalkan hotel. Alex dan Selly duduk didepan, sedangkan Brian duduk dibangku belakang. Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali menambah kecepatannya saat menyalip beberapa kendaraan didepannya.


Brian bersorak heboh melihat bagaimana teknik Alex dalam mengemudi. Sama pandainya dengan Daddynya dalam hal salip menyalip.


"Wooh... wuuuu..!!! Hati hati paman,!'' seru Brian terkejut saat mobil yang ditumpanginya melaju kencang padahal ada mobil didepannya,tapi dengan gesit Alex melakukan engine break untuk memelankan laju kendaraannya dan membanting kemudi kekiri untuk menyalip kendaraan didepannya.


Alex tersenyum samar melirik Brian dari spion mobilnya. Alex tau kalau Brian menyukai saat dirinya melakukan engine break.


Engine break disini biasa diartikan pengemudi sedang mengendurkan gas dan menurunkan gigi transmisi ke posisi yang lebih rendah, misalnya dari gigi empat ke tiga, tanpa digas kembali. Artian lain engine brake juga bisa diartikan sebagai pengereman laju kendaraan yang terjadi akibat hambatan pada putaran mesin mobil.


Sedangkan Selly mendengus kesal, hampir saja dia berteriak ingin memarahi Alex yang menurutnya sembrono dalam membawa mobil.


"Katakan kalau kau juga mengagumiku saat membawa mobil nona." ucap Alex melirik Selly yang sedari tadi diam tak berkomentar apapun.


"Kalau mau balapan di arena sirkuit Tuan. Tak perlu menjajal kemampuan anda disini. Saya tidak tertarik.!" ucap datar Selly.


Brian mengulas senyum,"Paman, Aunty juga bisa balap mobil lho, sama kaya Mommy. Mungkin paman akan kalah jika melawan Aunty."


"Benarkah, ayo sepulang dari sini kita duel, aku juga sudah lama tak balapan.!" ucap Alex yang terpancing dengan ucapan Brian.


"Maaf Tuan, saya tidak tertarik. Sebaiknya anda urungkan niat anda. Saya sibuk.!"


"Hah.. No no no. Jangan yang itu." tolak Alex.


"Ayolah, itu halga nya cuma 2.5M keluaran lama pula, apa mobil Aston Martin rapide 2021?!"


"Hah.. no.. big no..! jangan yang itu, gimana kalau


BMW Z4,?!" tawar Alex.


"Gimana, Aunty setujukan? Lumayan lho kalau dijual. Hhaha.."


Selly enggan menimpali ucapan Brian, ia hanya menganggap angin lalu. Baginya ada yang lebih penting dari sekedar balapan.


Alex melirik Selly, dahinya mengerut mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Gadis yang terbilang cuek, irit bicara dan sedikit tomboy. Ia sedikit penasaran kenapa ada wanita yang seperti itu, dia bahkan tidak pernah mencoba menarik perhatian pada laki laki didekatnya. Padahal kalau dipikir pikir, pria yang dekat dengannya adalah para cogan kaya, sebenarnya apa yang terjadi. "Gadis yang aneh." batin Alex


Tak lama kemudian, mobil yang dikemudikan Alex sudah tiba di Berthillon. Brian sangat antusias mendatangi Cafe itu padahal sedang ramai ramainya.


Brian menarik kedua tangan Alex dan Selly, ia sudah tak sabar mencicipi es krim yang membuatnya berkali kali menelan ludah.

__ADS_1


"Ayo cepetan Papa mama..''kelakar Brian.


Alex terkekeh mendengar sebutan yang baginya sangat menggelikan.


Sampai didalam, Brian menunjuk beberapa es krim pilihannya sampai terlihat penuh wadah itu.


"Sudah Bry jangan banyak banyak, nanti dimarahi Daddymu lho." seru Selly mengingatkan, pasalnya brian sudah memesan sampai 3 cangkir es untuk dirinya sendiri.


"Hehehe.. jangan bilang bilang Dad ya,"


"Aunty tidak akan bilang, kalau kamu berhenti menunjuk es krim lagi.!"


"Baiklah," ucap Brian menurut.


Selly dan Brian menuju meja ditempat Alex berada bersama pelayan yang membawa 5 cangkir es krim dengan varian berbeda.


"Hai paman, lama menunggukah.. maaf tadi Blian galau mau pesan lasa apa." ucapnya sembari duduk didepan Alex.


"It's ok boy, kamu pesan banyak sekali. Apa kamu bisa menghabiskan?" tanya Alex sambil melirik Selly.


"Aku tadi sudah ingatkan untuk jangan banyak banyak, tapi dia tetap bandel.!" ucap Selly yang mengerti lirikan Alex.


"Baiklah, "


Brian tak peduli dengan ucapan kedua orang dewasa itu. Ia tetap menyendoki es kirimnya. Mulutnya penuh dan belepotan dengan luberan es krim. Bocah itu terlihat imut dan dan menggemaskan.


"Paman, setelah ini pesankan Blian es klim semua valian ya, masing masing satu kotak makan. Suluh meleka antal kebandala besok malam. Blian mau bagi bagi sama olang dilumah, pasti meleka senang."


"Hah, gimana bawanya kalau semua, apa dipesawat ada freezer besar?!" tanya Alex bingung.


"Ada, tapi tak besal, gimana donk.!"


"Ck, bilang saja pada pemilik Cafe ini untuk membawakan freezernya sekalian. Punya uang dimanfaatkan, kenapa harus repot repot.!" ucap Selly datar.


"Aha..Aunty benal. Ya begitu paman, kalau pesan bilang begitu ya.!" seru Brian semangat.


"Hem.." Dehem Alex yang terdengar malas dengan permintaan Brian.


.


.


------->>

__ADS_1


Maafkan keterlambatanku, aku benar benar sibuk luar biasa. Happy reading.


.


__ADS_2