Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Brian sakit


__ADS_3

Rombongan telah sampai di Bandar Udara Paris-Charles de Gaulle. Edward dan Aurora turun terlebih dahulu dan mengeluarkan barang bawaannya.


Edward membuka pintu bagian belakang dan menggendong putranya, ia letakkan kepala Brian dipundaknya sambil menenteng tas ransel Aurora yang lumayan berat.


Anak buahnya dengan sigap langsung memasukkan mobil yang ditumpangi Edward ke dalam bagasi pesawat.


Edward menatap satu persatu anggotanya yang masuk dalam pesawat. Matanya menyipit melihat empat orang mendorong freezer besar kedalam bagasi pesawat. Edward lantas memanggil Alex yang sedang memberi arahan pada orang orang itu.


"Ada apa?" tanya Alex


"Apa yang mereka bawa.?"tanya Edward sambil menepuk nepuk punggung Brian lembut agar tak terbangun.


"Itu pesanan putra anda. Berbagai jenis es krim yang dua hari yang lalu ia pesan di Berthillon. Katanya ia akan membagikannya pada orang orang dirumah." ucap Alex


"Astaga, anak ini menghabiskan kartu debitku lagi..." batin Edward


"Baiklah, periksa keamanan pesawat sebelum berangkat. Dimana Lukas, siapa yang mengurus dokumen penerbangan?" tanya Edward yang merasa dirinya lupa belum memerintahkan asistennya.


"Tenanglah sayang, semua sudah diatur oleh David dan Kiran. Semua sudah beres, sebaiknya kita segera masuk. Udara diluar tidak baik untuk Brian." ucap Aurora menginterupsi pembicaraan Edward.


"Baiklah Alex , segera koordinasi anggotamu. Aku akan masuk dulu. Pastikan semua dalam keadaan aman.!" perintah Edward


" Baik Bos."


Edward dan Aurora berjalan beriringan menuju dalam pesawat. Mereka berdua disambut ramah oleh crew pesawat.


Edward mendudukkan Brian di kursi pesawat dan mengunci tubuhnya dengan sabuk pengaman, setelahnya ia merendahkan sandarkan duduknya agar Brian bisa tidur dengan nyaman saat take off.


''Sayang, titip Brian sebentar ya, aku mau menemui kapten Raditya dulu sebelum penerbangan."


"Baiklah, jangan terlalu sungkan begitu padaku. Aku sudah menganggap Brian sebagai putraku sendiri. Segeralah kembali." ucap Aurora lembut


Edward mengangguk dan mengecup dahi Aurora, setelahnya ia menuju bagian cockpit menemui kapten Raditya dan Albar.


Tampak Kapten Albar tengah mengecek beberapa dokumen yang berisi rencana penerbangan tertulis sebelum keberangkatan dan Kapten Raditya yang sedang memantau seluruh sistem. Keduanya tampak serius dalam menjalankan tugas.



"Selamat malam Capt.." sapa Edward menginterupsi keduanya.


"Malam Tuan,.."


"Bagaimana , cuaca malam ini?" tanya Edward to the point


" Cerah Tuan, kita bisa melakukan penerbangan dengan aman. Kondisi pesawat juga oke. Kita bisa sampai sesuai jadwal. Kita akan melakukan penerbangan lima belas menit lagi setelah semua siap." jawab Kapten Raditya


"Baiklah, kerjakan tugas kalian dengan baik.!"


"Siap Tuan.!"


Edward keluar dari ruangan cockpit. Dia disambut pramugari cantik, salah satu anggota Golden Lion. Dia menyapa dengan ramah King mereka.


"Selamat malam Tuan.."


"Malam. Bagaimana, apa semua sudah masuk?" tanya Edward yang melihat satu pramugari lainnya menutup pintu pesawat.


"Semua sudah masuk Tuan, silahkan duduk dengan nyaman dikursi anda, pesawat sebentar lagi akan take off."


"Baiklah."

__ADS_1


Pesawat mulai merayap menuju landasan pacu. Edward kemudian kembali menghampiri istri dan anaknya. Tampak Aurora sedang bermain dengan ponselnya.


Edward duduk disebelahnya dan memasang sabuk pengamannya. "Sayang, apa yang kau lihat, serius amat, suami duduk disebelahnya saja, bahkan kamu tak melirikku sama sekali. Apa ponselmu lebih menarik daripada suamimu yang tampan ini?"


"Tidak sayang, maaf aku hanya sedang membaca email yang masuk.Tentu saja suamiku ini lebih menarik dari pada ponsel ini. Baiklah, kita berdoa dulu sebelum pesawat ini terbang." ucap Aurora dan meletakkan ponsel dipahanya.


Edward tersenyum dan mengangguk. Selesai berdoa , Edward mengintip jam dipergelangan tangannya, "Jam 11 malam, berarti sampai di negara kita jam 3 sore." gumamnya pelan.


"Ada apa?" tanya Aurora


"Tidak ada., tidurlah ini sudah malam. Nanti kalau lelah duduk disini, kita bisa kekamar. Besok pagi saja kerjanya." ucap Edward yang melihat Aurora akan membuka emailnya kembali.


"Baiklah. Tapi kamu juga harus tidur."


"Hem,.."


Perjalanan malam yang panjang dimulai, pesawat mengudara menembus gelapnya langit malam. Edward dan Aurora nampak tertidur dengan pulas . Begitu pula dengan Brian dan yang lainnya. Hanya Alex , Lukas dan David yang sesekali terjaga. Mereka bertiga hanya tidur tidur ayam.


David memanggil salah satu pramugari untuk membuatkannya kopi.


Setelah mendapatkan kopinya, ia menuju sofa dan meletakkan kopi serta membuka laptopnya.


Tampak David melakukan peregangan sebelum memulai pekerjaannya. Kacamata radiasi ia pasang, dan memulai pekerjaannya.


David bekerja dengan serius, tangannya bergerak dengan cepat mengetikkan sesuatu disana. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya , karna sudah tidak punya banyak waktu lagi.


Lukas datang menghampiri David, membawa sekaleng soft drink dan duduk disebelahnya. "Apa ada masalah, kenapa harus bekerja saat ini juga?"


"Tidak ada, Lusa pagi kami harus terbang ke Vietnam." ucap David tanpa memandang Lukas.


" Bersama nona Aurora atau dengan yang lain?"


"Habislah sudah, bisa bisa raja singa akan mengaung merdu. Aku yang akan menjadi korban pelampiasannya. Haissh.." batin Lukas.


"Berapa lama?" tanya Lukas


"Tujuh hari."


" Hah...!"


"Ada apa?" ucap David sambil melirik Lukas.


"Tidak ada." ucap Lukas datar.


.


Pagi menyapa indah, sinarnya masuk menembus jendela jendela pesawat, Aurora bangun terlebih dahulu dan melepaskan sabuk pengamannya. Ia melihat kesekitarnya, rupanya teman temannya sudah bangun dan sedang minum kopi bersama.


Aurora kemudian membangunkan Edward dan Brian. Edward menggeliat dan mengerjapkan matanya. Aurora kemudian menepuk pipi Brian, ia terkejut saat mendapati badan Brian terasa panas.


"Sayang, bangun.. hey.." Aurora menepuk nepuk pipi Brian agar terbangun.


"Ada apa? Biarkan saja dia tidur." ucap Edward seraya melepas sabuk pengaman Brian.


"Badannya panas, dia sakit." ucap Aurora sambil melepaskan jaket Brian.


Edward meraba dahi Brian, ia terkejut bukan main. Ia kemudian berteriak memanggil pramugari.


Satu pramugari datang tergopoh gopoh, "Ada apa Tuan.?" ucapnya ramah.

__ADS_1


"Putraku sakit, badannya panas, dia tidak sadarkan diri.!" ucap Edward panik.


Semua orang saling memandang, dan ikut melihat yang terjadi dengan Brian.


"Daddy..." ucap Brian lirih, matanya sedikit terbuka memandang Edward.


"Hey, boy..kamu sudah bangun, apa yang kamu rasakan.!" Edward memeluk tubuh Brian.


"Dingin Daddy.." ucap Brian dan menyusupkan kepalanya di bawah lengan Edward.


"Sayang, sebaiknya kamu bawa Brian ke kamar dulu."


"Baiklah." Edward membopong Brian kelantai atas, ia menidurkan Brian di ranjang pesawat.


Aurora datang bersama satu pramugari membawa obat obatan, dan alat untuk mengompres.


"Daddy dingin." Brian kembali mendekap tubuh Edward.


"Sststt..bangunlah sebentar, minum obatmu dulu. Ini pasti karna kemarin kamu banyak makan es krim, kamu tak menurut pada Daddy bukan." ucap Edward lembut.


"Maaf Daddy..." ucapnya lemah.


"Baiklah Daddy maafkan, tapi minum obatmu dulu." ucap Edward dan mendudukkan Brian.


Edward dengan telaten mengurus Brian. Aurora tersenyum bangga dengan suaminya. Dia bisa mengurus putranya dengan baik.


Aurora mengompres dahi Brian dan membaluri badan Brian dengan minyak telon.


"Tidurlah, mommy akan menjagamu disini."


Brian mengangguk lemah dan memejamkan matanya kembali. Aurora mengompres Brian secara berkala, berharap panasnya segera turun.


"Kasihan sekali kamu nak, pasti kamu sangat tak nyaman dengan kondisimu." ucap Aurora.


"Sayang mandilah dahulu, aku yang akan menjaganya. Jangan khawatir, panasnya sudah mulai turun." ucap Aurora yang melihat suaminya sedari tadi menggenggam tangan mungil Brian.


"Baiklah, terima kasih sudah membantuku. Aku mencintaimu." ucap Edward dan mengecup kening Aurora sebelum beranjak dari tempatnya.


"Aku juga mencintaimu."


Selesai mandi, Edward turun kebawah dan meminta pramugari menyiapkan sarapan untuknya dan Brian.


Sebelum Edward naik kelantai atas, Edward menemui Alex dan yang lainnya.


"Alex, bukankah kau tau Brian tidak bisa makan es krim terlalu banyak. Lihatlah sekarang dia sakit." ucap Edward kesal.


"Maaf, aku tak bisa mencegahnya." jawab Alex


"Ah ya sudahlah, Brian memang seperti itu. Dimana Lukas? Perintahkan padanya untuk menelfon Dokter Rian agar stand by di mansion nanti sore. Dia harus memeriksa keadaan Brian." perintah Edward


"Baik."


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


.


__ADS_2