Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Rasa bagaimana sayangnya seorang kakak


__ADS_3

Suara gitar elektrik terus menggema di dalam ruang studio musik. Dua manusia berbeda generasi itu mencoba berkolaborasi dengan kemampuan masing-masing.


Didepan kamera yang menyala, Willi memperkenalkan Brian sebagai teman kolaborasinya . Banyak tanggapan positif yang datang. Willi berharap, video stremingnya kali ini akan kembali viral. Pria itu sedang mencoba peruntungannya di bidang musik setelah ia sukses dengan dunia aktingnya.


Brian tersenyum di balik masker yang sengaja ia kenakan, untuk menutupi identitasnya. Anak itu menyapa ramah penggemar Willi yang saat itu sedang menonton.


Brian sengaja pansos melalui Willi yang sedang naik daun untuk menaikkan popularitasnya. Ini adalah kesempatan baik untuknya. Apalagi Willi adalah aktris internasional.


Lama mereka di studio, Edward dan Aurora menghampiri keduanya. Urusannya dengan Tuan JianYing sudah selesai, jadi mereka pikir untuk segera mengajak Brian untuk kembali. Aurora juga harus ke rumah sakit untuk menyelesaikan administrasi Kenta dan mempercayakan Kenta pada orang kepercayaannya.


Aurora tersenyum tipis melihat Brian yang tampak santai di depan kamera. Bahkan ia menggunakan banyak bahasa asing untuk menyapa penggemar Willi. Luar biasa pikirnya. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan anak itu belajar bahasa. Ia juga tidak pernah melihat Brian menghafal atau pun mengimplementasikannya.


Edward memberikan gestur pada Willi untuk menghentikan siaran stremingnya , kemudian dia duduk disofa bersama Aurora.


Pria itu merangkul bahu Aurora.


"Apa pendapatmu." tanya Edward pelan.


"Biarkan saja, dia masih anak-anak, biarkan dia menyalurkan bakatnya. Aku akan mendukung sejauh apapun impiannya. Dia anak yang membanggakan. Kapan kapan ajak aku mengunjungi makam Yuna."


Edward hanya menganggukkan kepalanya.


Aurora mengulurkan tangan ketika Brian telah menyelesaikan stremingnya. Wanita itu tersenyum cerah. "Bagaimana, apa kamu menyukai dunia barumu? Setelah ini kamu akan digemari kakak kakak cantik. Sudah siap terjun ke dunia entertaiment boy? Mom akan segera mewujudkannya jika kamu sudah ingin."


"Tentu saja aku menyukainya. Ternyata ini lebih menyenangkan dibandingkan dunia koding." Brian terkekeh dengan kalimatnya sendiri.


Willi menghampiri, dia menggeser kursi yang tadi dipakainya. Ia ingin berbincang sebentar dengan kakak iparnya sebelum mereka pulang.


"Jadi adik ipar, berapa kami harus membayarmu." tanya Aurora serius.

__ADS_1


"Haha tidak perlu. Brian punya bakat di bidang musik, dia tidak perlu pansos untuk menaikkan namanya. Aku yakin anak itu bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Aku hanya sedikit membukakan jalan lewat popularitasku. Aku juga sama sekali tidak keberatan jika harus bersaing dengannya." ujar Willi diakhiri kekehannya.


"Jika kamu menyukai pekerjaan di bidang entertaiment, kenapa memilih menjadi artis daripada agensi atau pertelevisian saja. Itu lebih baik ketika kamu sudah menikah."


"Ah aku belum memikirkannya kak Aurora." jawab Willi seadanya.


Baginya, ia masih ingin menikmati dunia yang sedang dijalaninya. Tapi jika popularitasnya sebagai artis mulai menurun, mungkin ia akan mulai memikirkannya. Mungkin ia akan meminta bantuan kakaknya untuk mewujudkannya.


Aurora terus menanyai Willi tentang dunia keartisan. Dia sedikit tertarik tapi ia sungguh tidak minat untuk menjalaninya. Baginya, dunia seperti itu adalah dunia tipu-tipu. Hanya orang yang ingin dikenal banyak orang yang melakukannya. Ia juga tidak pernah berpikir ingin terkenal karena tidak dikenal banyak orang saja kehidupannya sudah penuh dengan banyak masalah apalagi jika dirinya terkenal. Ia sampai tak bisa membayangkan.


Edward masih tampak terdiam dengan semua pemikirannya. Entah mengapa, lebih baik pria itu berbicara panjang kali lebar, melaju dengan kecepatan penuh, daripada diam begini. Diamnya Edward seakan mampu menghanyutkan sekitarnya.


Willi merasakan atmosfer udara yang mulai menipis. Sudah sedari tadi ia berbicara bersama Aurora, tapi reaksi pria itu hanya berdehem dan mengangguk saja. Entah kalimat apa yang akan diucapkan tiba-tiba oleh pria itu. Semoga pertanyaan yang masuk akal.


"Willi, apa sudah bulat tekatmu untuk menikah dengan adikku. Apa kamu benar mencintainya."


Willi terpaku sesaat. Pertanyaan apa itu. Dia sudah menanyakannya saat lamaran itu terjadi. Apa dia sedang meragukannya.


"Kakak harap, kamu bisa selalu menjaga hatinya. Kamu tau sendiri, dunia yang akan kalian hadapi akan sangat berbeda dengan dunia kami. Jadi sebelum melakukan sesuatu, kakak mohon bicarakan dulu dengan Amelia. Apa kamu paham maksud kakak." Aurora menggantikan Edward berbicara.


"Paham kak Aurora. Aku akan menggali potensi untuk meningkatkan popularitasku. Aku tidak akan membuat skandal yang bisa menyakiti hati Amelia."


"Bagaimana dengan agensi yang menaungimu!" tanya Edward datar.


"Eh!"


Willi sedikit gelagapan dengan pertanyaan Edward. Bahkan mereka belum tahu rencana pernikahannya. Ia hanya minta ijin cuti pada manajernya setelah syuting panjangnya yang tidak memberinya kesempatan untuk libur sama sekali. Jadi ia memanfaatkan cutinya untuk menikahi Amelia sebelum syuting lagi dan membuang banyak waktunya. Lagi pula ia tidak ingin ingkar janji pada gadis itu untuk menikahinya.


"Jangan khawatir kak Edward, sesuai dengan perjanjian kerja, aku bisa menikah ketika aku berusia 30 tahun. Tenang saja, tidak akan ada masalah ke depannya. Aku janji." ujar Willi serius.

__ADS_1


"Tapi kak, aku mohon jangan mengundang awak media saat pernikahan kami ya, aku takut membuat Amelia merasa tidak nyaman ke depannya. Dan aku akan membawa Amelia ke Seoul setelah kami menikah, aku akan mengenalkannya pada agensi yang menaungiku. Bagaimana menurut kalian." ujar Willi lagi.


"Tentu saja boleh. Suami istri harus selalu bersama kan sayang?"


Aurora menyenggol lengan suaminya yang sedari tadi berwajah ketat, tak seperti awal pertemuan mereka. Entah mengapa, tapi Aurora tahu jika suaminya sedang mendalami karakter Willi. Sebagai seorang kakak laki-laki yang menyayangi adiknya, ia tidak ingin adik kesayangannya salah dalam memilih pasangan. Ia hanya ingin yang terbaik untuk adiknya. Bahkan jika Amelia disakiti, ia pastikan jika Edward akan menjadi garda terdepan untuk melindunginya. Mungkin orang lain tidak tahu bagaimana perjuangannya dulu ketika ia harus memaksa otaknya untuk mendapatkan nilai terbaik hanya untuk bisa bertemu dengan adiknya. Tapi seperti itulah kenyataannya. Jika mengingat masa kecil Edward, rasanya ia ingin menangis saja. Sekejam itukah mertuanya dulu.


"Ya. Tapi kamu harus berjanji padaku, jangan sekali kali kamu menyakiti adikku atau aku akan membuat perhitungan denganmu. Ingat, dia bukan pengemis cinta, dia punya banyak cinta dalam keluarganya. Dia disayangi dan di hargai sebagai nona besar. Aku merestuimu."


Ah akhirnya kalimat itu berhasil keluar dari mulut Edward. Aurora sudah menunggunya sedari tadi.


Willi mengembangkan senyumnya. Bahagia, tentu saja. Jingmi, kakaknya bahkan mewanti wanti untuk tidak selengekan saat berbicara dengan Edward jika ingin mendapat restunya, karena tidak semudah itu mengubah pendirian pria itu jika ia tidak merestui pernikahannya. Ah ini sangat melegakan pikirnya.


"Ayo boy." Edward menepuk paha Brian yang sedari tadi diam dan sok sibuk dengan ponselnya, tapi percayalah dia mendengarkan setiap detail percakapan tiga orang dewasa itu.


Brian memasukkan ponsel kedalam sakunya dan mengangguk. Dua pria itu segera berdiri. Sudah cukup pikirnya.


"Ah Willi, sepertinya kami harus segera kembali. Masih banyak yang harus kami selesaikan. Jika kamu butuh bantuan kami, katakan saja. Kami siap mengawal pernikahan kalian. Kami menunggu kedatangan rombongan kalian ke Indonesia. Sampai jumpa." ujar Aurora yang ikut berdiri.


"Terima kasih kakak ipar. Hati hati saat kembali, aku ingin kalian menyaksikan pernikahan kami. Jangan ada hal buruk lagi ya."


Willi tersenyum dan menjabat tangan mereka. Edward malah memeluk dan menepuk punggung Willi. Ah bahagia sekali rasanya. Sekarang ia akan memiliki keluarga baru. Ia jadi tidak sabar untuk bertemu kekasihnya.


Amelia, tunggu aku!


.


.


.

__ADS_1


#####


__ADS_2