Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Apa! Bagaimana bisa terjadi.


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan panjang di udara, akhirnya tepat pukul 7 pagi, pesawat yang ditumpangi Aurora dan rombongan mendarat dengan baik di Bandara Internasional Kansai.


Anggota DQ yang saat itu bertugas melakukan penjemputan, segera ambil posisi ketika Aurora mulai menginjakkan kaki di tanah, siap melindungi dan memberi pengamanan walau disana juga terlihat beberapa anggota GL yang ikut bersama Queen mereka.


Edward memicingkan mata melihat penampilan anggota DQ yang tampak rapi dengan setelan eksklusif serta kaca mata hitamnya. Apalagi mereka tampak masih begitu muda. Entah dari mana Aurora merekrut orang seperti mereka. Ia sedikit tidak suka, tapi berusaha menutupinya.


"Queen, mobil sudah siap." ujar salah satu dari mereka, langsung membuyarkan pemikiran Edward.


"Kita langsung ke rumah sakit." ujar Aurora terdengar datar.


Wanita itu melangkah tergesa. Sedikit lelah, tapi ia mengabaikan rasa itu. Ia juga tidak memikirkan Brian yang berjalan di belakangnya bersama Alex dan Max yang entah merasa pusing atau tidak setelah turun dari pesawat. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu.


Edward segera merengkuh pinggang Aurora. Mencoba memperlambat langkah istrinya seperti dikejar dosa, sangat terburu buru, bahkan wanita itu tak menyadari langkah Brian yang sedikit kesulitan mengimbanginya.


"Ada apa." tanya Edward tanpa menatap Aurora, pria itu berbicara menatap lurus ke depan.


Edward bersikap acuh dengan tatapan aneh dan pendapat dari anggotanya atau pun Max yang berpikiran macam macam tentangnya. Ia tidak peduli. Yang ia pedulikan adalah jawaban dari kegelisahan hatinya. Jika memang ada masalah serius, ia pasti akan segera mengambil tindakan.


"Cepat!"


Aurora hanya mengatakan satu kata tanpa memberi penjelasan. Bahkan wajah itu terlihat sangat serius sekali.


Edward yang melihat itu hanya bisa mengikuti kemauan Aurora tanpa bertanya lagi. Ia jadi berpikir, mungkinkah jadwal kedatangannya telah bocor? tapi bagaimana bisa, bukankah Madam Yora telah terbang ke Indonesia bersamaan pesawatnya yang lepas landas dari bandara HKG.


Oh sial!


Tidak mungkin wanita licik itu membawa seluruh anggotanya untuk meninggalkan Jepang. Pasti dia sudah mengutus orang kepercayaannya untuk menjaga usaha ilegal dan memata matai keluar masuknya orang penting ke negara itu. Apalagi berita kematian Yashimoto begitu santer dan banyak dibicarakan orang akibat ledakan itu. Pastinya akan ada banyak kolega luar negeri yang datang sekedar menyampaikan bela sungkawa. Dan itu bisa mereka gunakan untuk memilah orang mana yang bersekutu atau bahkan berpotensi menjadi bomerang bagi mereka. Apa jadinya jika mereka tau kedatangannya. Edward bahkan sampai tak berpikiran sampai kesana.


.

__ADS_1


.


Di tempat lain.


Yudha terlihat begitu sibuk menyalami tamu yang masih ramai berdatangan bersama kerabat dan orang kantor kepercayaan Tuan Yashimoto di rumah duka yang disewanya hingga berakhirnya acara.


Terlihat juga seorang pria paruh baya bersama istrinya masih sesekali mengusap air matanya, mereka begitu terpukul melihat putrinya sudah terbujur kaku tak bernyawa. Apalagi melihat jenazah Naomi akan segera dikremasi. Mereka tak menyangka jika Naomi akan berakhir seperti itu, walau pada akhirnya kematianlah yang akan memisahkan mereka. Dalam hatinya, mereka akan menuntut balas atas semua kejadian ini.


Yudha yang melihat itu hanya bisa menghela nafasnya, entah bagaimana ia menjelaskan rentetan peristiwa itu pada mereka, pasalnya pria itu juga salah satu orang yang berkuasa. Ia pikir harus mengatakan jujur atau membuat alibi lain agar masalah ini tidak semakin panjang. Madam Yora bukan orang yang mudah di singkirkan begitu saja, ia hanya takut mereka akan terkena imbasnya karena berani bermain dengannya. Aurora saja yang punya banyak kekuatan dibelakangnya memilih untuk diam tidak mengusik untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan, walau wanita itu tau bagaimana perbuatan keji pada keluarganya.


Akan tetapi itu hanya sebatas pemikiran Yudha. Pria itu tidak mengetahui jika Aurora yang telah memerintahkan para Yakusa untuk melakukan penyerangan pada markas madam Yora, karena saat itu dirinya memang sedang dirawat di rumah sakit akibat luka tembak yang hampir mengenai paru parunya.


Pria itu juga tidak tahu jika Edward dan Alex yang melakukan konspirasi dengan mengkambing hitamkan semua permasalahan ini. Mereka berdua melakukan hal ini dengan sangat rapi hingga Tuan Yashimoto bahkan Kimura pun tidak menyadarinya.


Menurut Edward dan Alex, itu adalah hukuman yang pantas mereka dapatkan karena dulu telah berani mengusik dan membuat banyak keributan. Jangan dipikir ia tidak bisa berbuat licik seperti mereka. Mereka bahkan lebih licik dari perkiraan siapa pun.


Yudha meninggalkan tempatnya dan menghampiri mereka. Ia mengungkapkan rasa bela sungkawa atas kematian Naomi. Bagaimana pun, Naomi adalah istri Kimura, orang yang pernah baik padanya.


Pria itu bahkan tidak tahu jika besannya memiliki musuh yang sangat berbahaya, jika ia tahu perjodohan anaknya berpotensi mengakibatkan sesuatu yang sangat fatal, tentu sebagai orang tua lebih memilih keselamatan putrinya dibanding kekuasaan yang diterimanya, yang pada akhirnya menjerumuskan dirinya sendiri. Ia sedikit menyesal telah menyetujui perjodohan itu.


"Maaf Tuan Takeda, saya tidak tahu bagaimana itu terjadi. Polisi sedang berusaha menyelidiki kasus ini. Kita tunggu saja hasilnya."


Yudha sengaja menyerahkan kasus ini pada pihak kepolisian. Ia tidak ingin melibatkan anggota DQ maupun GL, toh ia juga sudah tau siapa pelakunya. Biarkan saja wanita itu menjadi buronan aparat.


"Lalu bagaimana keadaan cucu dan menantuku. Aku terlalu sedih dan belum bisa melihat keadaan mereka. Apa mereka baik-baik saja?"


Yudha sedikit menundukkan kepalanya, lalu menggeleng pelan.


"Semua orang yang selamat atas insiden itu, masih dinyatakan kritis oleh dokter, termasuk mereka berdua."

__ADS_1


Tuan Takeda menutup bibir dengan tangannya, pria itu mendongakkan kepalanya menghalau bulir air mata yang hendak turun. Pria itu begitu syok dan sedih, apakah mereka juga akan segera menyusul putrinya ke surga. Apalagi kata kritis, itu terdengar mengerikan untuknya. Banyak yang tidak selamat jika dokter sudah menyatakan kritis. Hidup mereka bahkan hanya tinggal menghitung hari. Ia bahkan tak bisa membayangkan bagaimana keluarganya dan keluarga Tuan Yashimoto akan habis dalam sekejap dan entah siapa yang melakukannya.


Ditengah pembicaraan mereka, tiba-tiba Max datang bersama seorang anggota DQ yang mengantarnya. Pria itu selain diminta untuk membantu Yudha, juga diutus untuk memberikan amplop berpita hitam pada Yudha sebagai rasa bela sungkawa karena tidak bisa datang melayat di rumah duka walaupun dirinya sedang berada di Jepang. Yudha segera mengajak Max ke tempat lebih sepi setelah berpamitan pada Tuan Takeda.


"Kapan kalian datang. Dimana Queen." tanya Yudha sembari melongok ke arah dimana para pelayat duduk. Matanya mencari sosok itu, tapi indra penglihatannya tak menangkap wanita itu.


"Tadi pagi." ujar Max seraya mengulurkan titipan Aurora.


"Nona menitipkan ini pada anda Bos. Mereka langsung ke Rumah sakit begitu pesawat mendarat. Anda diminta menemuinya begitu acara disini selesai. Nona juga minta maaf tidak bisa menemui anda disini." Lanjut Max yang mengerti siapa yang sedang dicari bosnya.


"Ah syukurlah. Aku pikir ada disini." Yudha cukup lega mendengar jawaban asistennya.


Jika sampai terjadi sesuatu pada wanita itu disini, ia tidak akan bisa menghindar dari keganasan Alex. Pria itu pasti akan menghajarnya sampai mati. Sudah cukup saat ia berada di penjara GL waktu itu.


"Tapi ada berita buruk Bos."


Yudha mengerutkan dahi. Berita apa maksudnya. Bukankah semua baik-baik saja.


"Alex terkena luka tembak pada bagian lengannya hingga tertembus keluar."


Mulut Yudha bahkan sampai menganga saking terkejutnya.


"Apa! Bagaimana itu bisa terjadi!"


.


.


.

__ADS_1


#####


__ADS_2