
Siang ini Aurora sengaja mengunjungi kantor Edward karena ingin makan siang bersama suaminya. Senyum ramahnya menguar begitu saja saat karyawan Edward menyapanya. Dibelakangnya ada Kevin dan Kevan yang mengantar nona mudanya keruang kerja Bos mereka.
Sampai didepan pintu, Aurora menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap asisten suaminya yang ikut mengantarnya.
"Apa suamiku sedang ada tamu?"
"Bukan tamu nona, tapi karyawannya nona, apa perlu saya konfirmasi kedatangan anda nona?" tanya Lukas .
"Tidak perlu, lagi pula ini sudah waktunya istirahat, kalian lanjutkan kegiatan kalian. Aku akan menemui suamiku sendiri."
"Baik nona."
Aurora membuka pintu ruang kerja Edward. Ia merasa Deja vu dengan keadaan saat ini. Sesaat Aurora menatap datar dua manusia didepannya. Aurora melangkah mendekati suaminya, sebelumnya ia meletakkan kotak makan di meja tamu.
"Apa kamu lupa ini sudah waktunya istirahat sayang, apa pekerjaanmu tidak bisa ditunda? Biarkan karyawanmu istirahat dulu." ucap Aurora lembut dengan memegang bahu Edward .
"Edward tersenyum mendongakkan kepalanya menatap lembut Aurora. "Baiklah kau keluarlah dulu. Setelah makan siang kita lanjutkan kembali." ucap Edward yang langsung diangguki pegawai wanitanya.
"Baik Tuan, saya permisi." Wanita itu membungkukkan tubuh memberi hormat pada Edward dengan seutas senyum tipis terukir dari bibirnya.
"Cantik, benar benar cantik..!" gumam Aurora yang didengar oleh Edward.
"Apa yang kau katakan sayang, kamu tentu lebih cantik dari wanita manapun." Edward meraih jemari Aurora lalu menciumnya.
"Atau jangan jangan kamu cemburu ya,..?" goda Edward yang gemas dengan Aurora.
"Tidak..! Aku sedikit risih bila mereka dekat dekat denganmu. Kamu sudah seperti madu ya, dimanapun tempatnya, kamu selalu dikelilingi lebah betina. Bisa tidak kalau berbicara jangan dekat dekat...!!? Atau jangan jangan kamu memang sengaja.!!" sebal Aurora, berjalan menuju sofa. Duduk dengan bersedekap dada.
Edward tersenyum geli melihat Aurora yang merajuk. Ia menarik tubuh Aurora dan mendudukkan dipangkuannya.
"Katakan jika kamu cemburu dengan gadis itu.! Ayo Katakan..!" goda Edward mencolek dagu Aurora. Aurora malah memalingkan wajahnya.
"Diam artinya iya. Apa benar seperti itu sayang..?" goda Edward kembali.
"Iya. Aku cemburu..!" ketus Aurora dan beranjak dari pangkuan suaminya.
__ADS_1
Belum sejengkal beranjak, Edward sudah lebih dulu menarik pergelangan tangan Aurora. Hingga duduk dengan posisi yang sama.
Eh..
Edward langsung meraih tengkuk Aurora dan mendaratkan kecupan sayang dibibir Aurora. Rasanya sangat kurang jika hanya sebuah kecupan sayang , ia memperdalam ciumannya menjadi kecupan cinta. Aurora yang semula terkejut dengan mata membeliak, perlahan memejamkan mata menikmati ciuman suaminya.
Decapan terus saja terdengar, rupanya Edward enggan melepas pagutannya. Posisinya sekarang sudah terlanjur enak untuk diakhiri begitu saja. Edward membaringkan tubuh Aurora disofa pelan. Dia sudah benar benar tidak tahan dengan godaan tubuh Aurora. Tubuhnya seakan akan mengajaknya untuk segera mengarungi indahnya samudra.
Walaupun ruangan sudah ber AC , nyatanya Edward merasa gerah akibat ulahnya sendiri. Tindakan implusif-nya menimbulkan gejolak panas dalam dirinya. Sepertinya sebentar lagi dia butuh penyaluran. Tindakannya sudah mengarah kenegatif saja, bahkan tangannya sudah merayap kemana mana. Aih, dasar si Edward memang perayu ulung, mau saja Aurora dikibulin. Nyatanya Edward memang lagi pengen, mumpung ada kesempatan jadi langsung gas pol saja. "-"
Indikator kamera lebah mini berkedip aktif menangkap pergerakan dua manusia didepannya.
Tidak sadarkah mereka jika sedang diawasi sepasang mata kecil yang menatapnya malu malu. Tidak ditonton rasanya penasaran, kalau ditonton dia malu sendiri. Rupanya dua orang itu lupa jika diruang kerja Edward ada kamera cctv aktif disela rak buku. Brian yang melihat adegan mengarah ke hal negatif itu langsung menutup laptopnya,
"Aih, daddy selalu cali kesempatan.Bisa bisanya dikantol melakukan pelmainan apa itu. " ucap Brian geleng geleng.
Aurora yang tersadar akan kelakuan suami mesumnya, langsung mendorong keras dada Edward menjauh dari tubuhnya. Ia kemudian duduk dan merapikan rambutnya.
"Apa yang kau lakukan.!!" kesal Edward malah marah mendapat perlakuan kasar dari Aurora. Namanya sudah naik satu oktaf. Junio nya sudah on fire, malah dihentikan begitu saja, kan kesel jadinya...
Aurora langsung mendelikkan matanya. Suaminya ini kalau sudah begitu pasti lupa diri dan tidak tau tempat.
"Ck sialan..!" Edward langsung berjalan mendekati kamera berkedip merah itu, lalu mematikannya.
"Sudah, sekarang ayo..!" kata Edward yang masih merajuk.
"No, aku sedang lapar. Kita makan siang dulu. Bukankah setelah ini kamu masih ada pekerjaan..!" tolak Aurora malah membuka kotak makanan.
"Aih.. ini lebih menyebalkan ketika masih melajang, aku sudah punya pasangannya, e..juga gak bisa diajak main." gerutunya dan duduk disebelah Aurora mengacak rambutnya.
"Jangan menggerutu. Nanti malam dua kali.!" putus Aurora dan menyodorkan sesuap nasi untuk suaminya.
Mata Edward langsung berbinar senang. Raut wajah masamnya berubah seketika.
Dasar Edward yang lagi manja, ia malah makan dengan lahap. Ia sengaja mengalihkan pikiran negatifnya pada makanan. "Dasar, ngambekkan, manja pula. Manjanya melebihi anaknya lagi. Huh..!"
__ADS_1
"Cuma sama kamu sayang.. "
"Jangan menjadi orang menyebalkan..!!"
Edward hanya tersenyum menanggapi sikap Aurora yang ketus padanya. Baginya pasangan kita adalah cerminan dirinya sendiri. Salahnya juga, tadi malah membentaknya. Bagaimana tidak marah, sedang seru serunya malah didorong hingga tubuhnya hampir terjungkal ke lantai. Kalau sampai terjatuh kan malu.. Lagian pria mana yang tidak marah, jika lagi on fire malah dianggurin begitu saja, kan dikepalanya jadi pusing. Apa mereka tidak tau kebutuhan para pria.
"Kak,.."
"Hem.."
"Apa gak apa, Brian kita tinggal sendiri saat kita kerja? Biasanya dirumah kan ada ayah bunda. Apa dia tidak keberatan. Anak itu kan mudah bosanan, sedangkan fasilitas dirumahku tak lebih baik dari mansion Ayah."
"Tenang saja, anak itu mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya. Setelah ini apa kamu masih ada pekerjaan? Kalau tidak ada kamu temani aku bekerja ya..!?" pinta Edward
Aurora memicingkaan matanya. Pasti ada udang dibalik bakwan dengan permintaan Edward. Aurora tersenyum manis menatap mesra suaminya.
"Apa aku sesantai itu hingga aku bisa menemanimu bekerja sayang.. aku pikir kakak juga tau kesibukanku. Baiklah sebaiknya aku kembali kekantor saja setelah ini." putus Aurora
"Oh Ayolah sayang, kau besok tak melihatku lagi, aku besok ada perjalanan bisnis ke Singapura, yakin kamu tak merindukanku .." Edward mengajaknya bernegoisasi
Hati Aurora berdebar debar saat Edward mengucapkan kau besok tak melihatku lagi. Entah apa yang akan terjadi pada suaminya, kenapa dia mengucapkan kata seperti itu. Dipandanginya wajah yang selalu tersenyum tanpa dosa, padahal hatinya saat ini sedang khawatir padanya.
Aurora kemudian duduk disebelah suaminya, memeluk suaminya erat. Ia sangat takut jika harus kehilangannya. Suami yang sangat ia cintai dan kasihi.
"Kenapa bilang begitu? Apa kau sudah tak sayang padaku lagi? Jangan mengucapkan kata perpisahan, aku begitu takut kehilanganmu... kata katamu seakan kamu akan pergi jauh dan tak kembali lagi."
Edward terperangah mendengar kata kata Aurora. Padahal ia tak sampai disitu dalam berpikir. Ia kemudian mengeratkan pelukannya, untuk membuat istrinya merasa nyaman dan terlindungi.
"Maafkan aku. Tenang saja, aku akan berangkat bersama Lukas dan beberapa bodyguard. Apa kau percaya padaku. Aku akan baik baik saja. Aku pastikan aku akan kembali padamu. Memelukmu seperti ini lagi. Aku menyayangimu, I love you my sunshine."
"I love you more."
Begitulah cinta, Ia ditakdirkan menjadi kata tanpa benda, tak terlihat, hanya terasa , tapi dahsyat .
.
__ADS_1
.
.