
Semua
orang bersiap mendengarkan suara Azan, semua hikmat. Al sudah berdiri di balik
microfon. Mengaktifkannya dan mulai membaca doa sebelum azan yang i abaca
pelan.
“Subhaanallah walhamdulillah wala ilahaillah
wallahuakbar, wala haulawala kuuwata illabillahiladhim, allahummasholli
wasallim ‘ala sayyidina muhammadillahu ya kariim.”
Al mulai meletakkan kedua tangannya di daun telinganya, menutup lubang telinganya dengan
jari telunjuknya seperti yang di lakukan oleh sahabat Bilal bin Rabbah pada
zaman Rasulullah shallalllahu alaihi wasallam.
Al mulai menarik nafasnya agar lebih panjang, Ia pun
memulai azan. Suaranya begitu merdu hingga siapapun yang mendengarnya tak
pernah menyangkan jika itu suara Al.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Asyhadu allaa illaaha illallaah.
Asyhadu allaa illaaha illallaah.
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.
Hingga Al menyelesaikan azannya , orang yang berada di belakang Al masih
terkesima mendengarkan suara azan Al. al menuntupnya dengan do’a.
Setelah menyelesaikan azannya, al segera kembali ke belakan duduk di samping
ayah mertuanya.
“Le …, bapak nggak nyangka lo …, suaramu merdu tenan!” ucap pak Darman.
“Alhamdulillah pak ….!”
“Iyo lo mas …, jan puenak tenan …, uempuk …. [ iya loh mas …., benar-benar
enak …, empuk]!”
Lagi-lagi Al hanya tersenyum menanggapi pujian dari orang-orang yang berada
di dalam, masjid. Tak berapa lama, pria yang terlihat di tuakan segera
mengambil tempatnya sebagai imam, sholat magrib pun segera di mulai.
Al dan pak Darman menunggu hingga selesai sholat isyak sekalian karena jarak
__ADS_1
rumah ke masjid lumayan jauh, di sela menunggu ada yang mengobrol, ada juga
yang membaca al-qur’an hingga waktu shalat isya’ tiba. Dan saat shalat isya’
tiba, Al kembali di tunjuk untuk azan.
Setelah selesai sholat satu persatu orang-orang mulai meninggalkan masjid.
Al menunggu pak Darman di belakang. Tak berapa lama pak Darman menghampirinya
dengan pria yang tadi menjadi imam, pria yang seperyinya sangat di segani di
kampung itu.
“Le …, kenalkan. Ini kyai Hasan, beliau ini modhin di sini!” ucap pak Darman
sambil memperkenalkan pria yang ebrada di sampingnya. [ modin adalah juru azan,
muazin, pegawai masjid, tapi berdasarkan perannya modin di desa-desa sebenarnya
lebih tepat di sebut sebagai pemuka agama, kyai kampung yang secara sosiologis
merupakan kepanjangan tangan dari kyai karismatik di daerahnya, biasanya
tugasnya juga mengurus jenazah, menikahkan orang, dan segala hal acara yang
berhubungan dengan agama].
“Kulo Aldevaro pak kyai!”
“Alhamdulillah …, saya seneng karena di kampung ini kedatangan anak muda
seperti nak Aldevaro, semoga bisa jadi motivasi anak kampung sini untuk bisa
seperti mas Aldevaro ini, kebetulan anak muda di sini jarang yang mau datang ke
“Insyaallah pak kyai …, saya doakan!”
“Amin ….! Oh iya nak Al …, di sini ada rutinan yasinan setiap malam jum’at,
pak Darman yo ikut …, saya harap mas Al juga bisa ikutan rutinan ya …,
kebetulan besok giliran di rumahnya pak Tukiren!”
“Insyaallah pak kyai, saya akan ikut ….!”
“Ya sudah kalau begitu saya permisi ya , Assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam warahmatullah …!” jawab Al dan pak Darman bersamaan.
Pak kyai Hasan pun meninggalkan pak Darman dan Al.
“Ayo kita pulang …, sudah lapar bapak!”
“Monggo pak [mari pak]!”
Mereka pun ikut meninggalkan masjid, sudah tidak sabar ingin segera makan
malam. Sepanjang jalan pulang mereka saling bertukar cerita, Al orang yang
mudah berkomunikasi jadi tidak sulit baginya untuk bisa nyambung dengan apa
yang di bicarakan oleh ayah mertuanya.
Saat sudah sampai di sepen rumah, suara tawa dan percakapan mereka terdengar
__ADS_1
dari dalam rumah membuat Ajeng penasaran, ia pun segera menghempiri suami dan
bapaknya ke teras.
“Ada apa sih pak, kon seru sekali bicaranya?” Tanya Ajeng yang penasaran.
“Assalamualaikum!” ucap pak Darman memberi salam, Ajeng pun segera
menghampirinya dan mencium punggung tangan pak Draman dan Al secara bergantian.
“waalaikum salam!”
“ayo masuk dulu, bapak sudah sangat lapar. Nanti bapak ceritakan!”
Ajeng pun menurut, mereka pun segera kembali masuk. Buk Kasih sudah menunggu
mereka di meja makan.
“Ayo …, ayo .makan!”
“Iyo buk …., bapak wes luwe tenan rasane sampek sholat ae ora konsen tenan
[iya buk …, bapak sudah lapar sekali rasanya sampek sholat saja tidak konsen]!”
“bapak iki koyok cah cilik wae …, isin karo putu [bapak ini seperti anak
kecil saja …, malu sama cucu]!” ucapan bu Kasih membuat semuanya tertawa.
Bu kasih pun segera ,mengambilkan makanan untuk pak Draman, sedangkan Ajeng
mengambilkan makanan untuk Al. mereka pun memulai makan malam dengan lauk yang
sangat sederhana sayur eseng terong campur ikan pindang dengan krupuk, nasi
jagung.
“Pak …, tadi ibuk denger suara azannya bagus sekali loh …, kayak belum kenal
aku sama suaranya!” ucap bu Kasih di sela-sela makan.
“Iya …., Ajeng juga dengar tadi, bagus suaranya …, siapa pak yang azan?
Putranya kyai Hasan ya?” ajeng ikut bertanya, karena sedari tadi Ajeng dan buk
Kasih sibuk menebak-nebak.
“Bukan!”
“trus sopo pak?”
“mantumu buk …!”
“Nak Al?” bu kasih dan ajeng sontak menatap Al bersamaan membuat Al
menghentikan kegiatannya mengunyah makanan. Al terdiam tanpa ekspresi,
sedangkan bu Kasih dan Ajeng masih menatap Al tak percaya.
“Mas Al beneran azan? Bapak nggak bohong?” ajeng masih tidak percaya.
“kamu tuh nduk …, di bilangin kok malah bapak di bilang bohong, memang bapak
ada tampangnya tukang bohong?”
“Nggak sih pak, Cuma Ajeng nggak nyangka aja …, selama ini aku kira mas Al
__ADS_1
Cuma datang ke masjid lalu sholat, mana aku tahu kalau suara mas Al semerdu
itu!”